WAKETU GAMON (SHS 1)

WAKETU GAMON (SHS 1)
Yohantu


__ADS_3

Hari Jum'at...


Di Starla high School, hari jumat itu adalah hari full ekstrakurikuler, tidak ada mata pelajaran sama sekali di hari itu, bagi murid yang telah selesai dengan ektra nya, bisa langsung pulang jika ingin.


Makanya bagi anak-anak SHS, hari jumat itu, hari favorit.


Semua murid sibuk berkeliaran di area sekolah, mungkin hanya ada beberapa saja yang masih stay di dalam kelas, sekedar tiduran atau mojok main game. Murid yang begitu biasanya cuman sekedar titip absen terus ngacir.


"Udah siap?"


Gempi mengangguk, netranya menatap lurus pada cowok berahang tegas yang duduk di seberang sana tengah mengacungkan tiga jari memberi aba-aba.


"Satu"


"Dua"


"Mulai" Katanya sembari menurunkan jari terakhir, bersamaan dengan itu Gempi menarik kedua sudut bibirnya tersenyum lebar.


"Hai Hai haiii, hari yang indah dengan langit cerah Kembali lagi bersama gue Gempita Julianti di SHS radio" Kata Gempi menyapa ceria.


"Kami punya cerita seru hari ini dari 'Hanya pengagum'–owh oke cukup tau saja yang kawan-kawan" Katanya terkekeh pelan."baik dan ini cerita yang pertama" Kata gadis itu mulai membaca inti cerita.


"Gue punya teman dekat, kita udah dari kecil sama-sama, tumbuh bareng, sering masuk di sekolah yang sama juga, gue ngerasa nyaman, kita udah saling tau baik-buruk masing-masing"


"Awalnya semua baik-baik aja, sampai tiba saat dimana akhirnya gue menyadari perasaan gue sendiri" Gempi memberi jeda, matanya menatap lekat secarik kertas di tangannya itu. Ia menelan ludah, merapatkan bibir tiba-tiba cari canggung sendiri.


"Iya, gue suka sama dia, teman gue sendiri, perasaan asing yang datang tiba-tiba itu, agak buat gue kewalahan, awalnya gue coba buat ngelak karena ngerasa kalau ini gak benar"


"Tapi semakin gue tahan, semakin gue pendam, gue malah semakin suka sama dia" Gempi merapatkan bibir sesaat, lalu kembali melanjutkan.


"Dia lagi apa? Dia di mana? Dia mikirin gue juga gak ya? dia suka juga gak ya sama gue?, pemikiran-pemikiran semacam itu mulai muncul di otak gue, pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa terjawab karna gue memilih diam dan pendam sendiri"


"Tapi akhirnya, dua hari yang lalu pertanyaan-pertanyaan itu terjawab tanpa perlu gue lontarkan"


"Dia bilang sama gue kalau, dia lagi suka sama 'seseorang', seseorang yang yang gue tau dia siapa, seseorang yang berada di dekat gue, seseorang yang gak bisa gue benci"


"Apa gue udah kalah, apa gue cuman bisa berdiri di tempat yang sama tanpa bisa ngelangkah maju semakin dekat, apa tidak ada kesempatan?"


Gempi mendesah pelan, hanya sesaat, sesaat saja senyuman gadis itu luntur dengan sorot mata yang sendu tanpa ada yang menyadari. Namun sedetik kemudian ia dengan lihai segera menguasai garis wajah kembali tampil ceria.


"Wah wah wahhh...friendzone emang meresahkan sekali ya guys ya, kalau udah terjebak bakal susah buat bebas soalnya ini gak bisa pake tembusan, beda lagi kalau terjebak tilang" Kata Gempi mulai nyerocos.


"Dari saya sendiri, buat kamu si pengagum, jangan nyerah kalau belum mencoba, masih ada kesempatan kok, ayo tunjukan taring mu" Kata Gempi menggebu."Dan untuk elo teman dari si pengagum, tolong segera peka, kalau udah peka tolong bersyukur, jangan ngejauh dari si pengagum karena dia gak salah, dia jatung cinta gak sengaja, tau-tau udah naksir aja"


"Oke selanjutnya lagu cinta dan rahasia dari Yura Yunita feat Gleen friedly.. Semoga perasaan mbak pengagum bisa tersampaikan lewat lagu ini ya"


***


"Kenapa lo?" Tanya Gandi menoleh horor pada Reno yang tiba-tiba tertawa gila di sampingnya.


"Anjirr hahahahAHAHAHAHAHA" Tawa Reno semakin keras, membuat semua cowok yang duduk di dekatnya jadi menoleh kemudian bergerak menjauh dari cowok itu, jaga jarak aman takut-takut jika Reno sudah kemasukan jin.


"istighfar woy" Kata Oja mengingatkan, menendang kaki Reno kesal.


"Itu si Gege mentalnya aman gak sih?" Tanya Reno masih tertawa.


"Ha? Heh mental lo yang patut di pertanyakan sekarang" Balas Yohan melotot ikut sewot.


Reno langsung diam, kemudian mencibir pelan. "Elah lo mah tau apa sih" Katanya yang kemudian kembali tertawa lagi mengingat apa yang di bicarakan Gempi di Radio sekolah tadi.


Yohan hanya dapat menggeleleng, lelah dengan sikap aneh temanya itu.


***


Manda: Gue buatin dia bekal makan siang Ge


Manda: Menurut lo dia bakal risih ga?


Manda: gue mau ngasih, tapi gugup banget


"Hm?" Gempi memandang lama layar HP yang menampilkan personal chat dengan Manda itu.


Gempi: sory Man, baru gue baca


Gempi: aman aja udah, cuman orang tolol yg di kasih makan gratis malah risih


Read


Gempi mengangkat sebelah alis saat pesannya langsung di baca orang itu.


Dia nungguin?


Manda: iya Ge gak papa, tadi lo siaran radio pasti sibuk hehehe


Manda: Btw bekalnya udah gue kasih


Gempi: Terus gimana?


Manda: dia bilang makasih, gue seneng banget anjir, di senyumin lagi, manis banget sksksksksk


Gempi tertawa membacanya, bisa ia bayangkan bagaimana susahnya Manda menahan diri untuk tidak jumpalitan di depan orang yang dia sukai itu.


Manda: Gue mau ajakin dia pulang bareng, menurut lo gimana?


Manda: gue agresif banget gak sih:'(

__ADS_1


Gempi menyeringai, kemudian segera menggerakan jemarinya di atas keyboard HP.


Gempi: gass, pepet aja terus


"Udah mau pulang?"


Gempi agak terlonjak keget, menoleh spontan ke arah pintu ruang OSIS yang terbuka. "Iya nih"


Pemuda yang berjalan masuk ke dalam ruangan itu mengukir senyum manis. "Gue anterin ya?" Katanya meminta, diam-diam berharap kali ini tidak lagi mendapat penolakan.


"Gak usah Ji, elo masih ada kegiatan kan? Masa habis nganterin gue langsung balik lagi ke sekolah" Gempi terkekeh pelan."Elo mah suka banget ribetin diri sendiri" Lanjutnya yang kemudian beranjak dari sofa di ruangan itu.


Gempi datang ke ruang OSIS emang cuman numpang ngadem sama Wi-Fi an doang.


"Gue pergi ya, jangan lupa istirahat lo" Pesan Gempi sebelum beranjak pergi, meninggalkan Panji yang lagi-lagi hanya dapat diam memandang sendu punggung gadis itu yang menjauh pergi.


"Gue payah banget" Gumam pemuda itu tersenyum miris.


......................


Gempi melangkah tenang menyusuri koridor kelas sebelas yang nampak sepi saat itu, bibir mungilnya bersenandung pelan menatap lurus ke arah parkiran sekolah yang mulai terlihat.


"Hm?" Saat jaraknya dengan parkiran sekolah semakin dekat, Samar-samar bisa ia lihat beberapa orang familiar tengah berdiri di balik pot bunga tampak heboh entah kenapa.


"Woy, ngintipin apa lo pada Ha!?"


Orang-orang itu sontak menoleh kaget, kemudian sama-sama melebarkan mata melihat sosok Gempi tengah berlari mendekat ke arah mereka.


"Anjir, tahan woy cepat" Salah satu pemuda di situ tampak panik mendorong teman di sampingnya untuk bergerak. "Kalau ketahuan bisa gawat"


"Lah gimana bego?!" Balas cowok yang satunya juga ikut kalut.


Yolan yang ada di antara keduanya jadi ikut pusing."Jangan panik jangan panik, Heh heh yang natural dong bego, tambah curiga nanti Gegenya" Katanya sambil mengamankan kedua cowok itu yang sudah saling dorong.


Zeno yang sejak tadi diam, hanya menatap itu datar tidak peduli banyak. "Hai Ge?" Sapa cowok itu saat Gempi kini berdiri di depanya, Satu-satunya orang yang lebih bersikap santai dari yang lain. "Gue pikir lo dah pulang duluan, nongki di ruang OSIS dulu ya?"


Gempi mengangguk."Iya, sekalian mau download Anime baru"


"Sekalian ngapelin Pak Ketos ya Ge" Ciko langsung menyeletuk.


"Gempi mah mainya sama cogan mulu" Timpal Toni. "Termaksud gue" Lanjutnya membuat Ciko dan Zeno mengumpat kasar.


"Panji udah punya pacar ya, jangan sinting lo dua" Kata Gempi mendelik tajam."


"Ah yang benerrr?"


"Affa iya?"


Tanpa perlu repot, Yolan langsung turun tangan menabok dua orang itu keras mewakili Gempi.


Toni dan Ciko mengumpat.


"Btw, ngapain kalian sembunyi di belakang pot bunga gini? Ngintipin apa sih, mau join juga dong"


Keempat orang itu sontak mendelik, dengan cepat bergerak merapat satu sama lain tanpa di kumando.


Gempi mengernyit, heran dengar reaksi tiba-tiba dari teman-temannya itu.


Aneh..


Gempi jadi curiga.


"Apaan sih? Latihan baris berbaris ya?" Tanya Gempi sengit, tubuh mungilnya berusaha memisahkan tubuh Ciko dan Toni yang malah semakin merapat. "Gue juga mau liat ihh"


"Gak boleh!"


Gempi agak termundur kaget saat nada suara Toni naik satu oktaf."Dih apaan sih?!"


"Anak kecil gak boleh liat" Kata Ciko beralasan, gurat wajahnya terlihat mencurigakan.


Gempi kemudian memandang Yolan dan Zeno, kedua orang itu ikut mengangguk membenarkan.


"Yaudah" Ucap Gempi akhirnya pasrah, membuat keempat orang itu saling melempar pandangan tak terbaca kemudian menghela nafas pelan bersamaan.


Kan...


KAN!


Gempi diam sesaat, memainkan lidah di dalam mulutnya.


Ciko berdehem pelan. "Ge kita–GEGE!"


"ANJ–!"


"KYAAAAAAA"


Ciko langsung berlari cepat mengejar Gempi yang tiba-tiba kabur melesat melewati Zeno yang diam cengo tidak siap.


Toni dengan Yolan sudah melompat-lompat rusuh di tempatnya, memandang gemas Ciko yang kewalahan meraih tubuh Gempi.


Gempi yang tengah berlari. tertawa kencang sampai matanya menyipit lucu, merasa senang bisa mengelabui teman-temannya itu.


Hingga tiba-tiba.


"Ge?"

__ADS_1


"Eh?!"


Gadis itu tercengang, senyumnya memudar seirama dengan langkahnya yang memelan hingga akhirnya berhenti tepat di depan dua orang yang tengah memandangi nya dengan sorot yang berbeda.


"Jangan lari-lari nanti jatoh" Kata Yohan menasehati, kemudian menggerakan mata pada cowok yang tadi berlari di belakang Gempi. "Elo ngapain lagi sih?" Tanya pemuda itu garang, pada Ciko yang meringis kikuk di tempatnya.


"Kagak elah, tadi gue sama Gege lagi main kucing dan tikus, Gue kucingnya, Gege tikusnya" Katanya asal.


Yolan, Zeno dan Toni tak berani mendekat, hanya bisa memandang itu dari jauh. "Mampus" Bisik Toni yang bisa melihat atmosfer di depan sana mulai memanas.


"Kalian–" Ucapan yang menggantung itu, membuat Yohan yang hendak mengomel kembali pada Ciko jadi terurung, kini jadi menatap Gempi tepat. "–mau pulang bareng?" Tanya Gempi dengan sorot mata kosong ke arah Manda yang tampak memias.


"Ge, Gue –"


"Hm? Apa?" Gempi langsung menyela, perlahan menarik sudut bibir tersenyum tipis. "Ini ya...orang yang lo maksud itu?" Tanya Gempi penuh arti.


Manda menggeleng lemah. "Bukan Ge"


Gempi diam sesaat, merapatkan bibir mencoba mengendalikan diri. Gadis itu melirik, menyadari jika Yohan tampak kebingungan menatap mereka.


"Ah elo mah, gak usah malu-malu napa sih" Suara gadis itu kembali riang begitu saja, tanganya terulur menepuk pelan lengan Manda akrab."sok rahasia-rahasiaan"


Ciko yang melihat itu hanya dapat melongos pelan.


Manda menuduk, entah kenapa tidak sanggup menatap langsung kedua mata Gempi saat ini.


"Lo kenapa sih cebol, makin random gak jelas, kebanyakan gaul sama Ciko nih" Kata Yohan sambil menoyor pelan kepala Gempi."Kenapa baru pulang, bukanya ekskul Radio udah selesai tadi siang?"


Gempi memajukan bibir, menatap kesal Yohan."Ck! ke ruang OSIS dulu tadi" Jawabnya agak nyolot.


Yohan mengangkat sebelah alis, diam sesaat kemudian mengangguk pelan."Rajin bener lo ke sana, kenapa gak sekalian masuk OSIS aja"


"Ribet"


Yohan tertawa, kemudian tanpa aba-aba menarik pipi kanan Gempi gemas. "Pulang sama siapa?"


Gempi mendelik, mengusap pipinya yang terasa nyeri. "Mark"


"Ha?"


"ASEKKKKK GEGE MULAI BERANI YA" ini si Ciko,  tiba-tiba langsung melompat maju sudah pasang wajah tengil di depan Gempi. "Baru lagi ya Ge? Dewa udah di eliminasi, makanya lo nambah yang baru lagi ya?"


Gempi melotot, dengan kesal langsung menabok kepala Ciko keras. "Berisik lo upil badak"


"Mark siapa?" Tanya Yohan, tidak peduli dengan Ciko yang mengadu lebay di sampingnya.


Gempi berdecak pelan, kemudian melongos. "Supir gue anjirr, udah punya istri, anaknya delapan" Jawab Gempi malas.


"Ebuset, kuat bener"


Gempi mendelik tajam."Mikirin apa sih lo?!"


"Udah-udah" Yohan dengan segera mendorong wajah Ciko menjauh sebelum Gempi melompat maju menjambak rambut cowok itu. "Udah dateng?"


"Bentar lagi paling?" Jawab Gempi santai, lalu menoleh lagi pada Manda yang sejak tadi diam saja. "Man, napa lo, pusing?" Tanya Gempi melihat Manda yang terus menunduk dalam.


"Ck bodoh, itu namanya hening cipta" Timpal Ciko belum mau diam.


"Mending lo MUSNAH AJA!" Kata Gempi hilang kesabaran.


Yohan menggeleng pelan melihat itu. "Lo temenin Gempi nunggu sampe jemputnya dateng, jangan pulang duluan awas aja lo" Pinta Yohan menatap Ciko yang pasrah iya-iya aja."Bilangin juga sama Toni, Yolan, Zeno juga" cowok itu memberi jeda. "gue gak bisa soalnya mau nganterin Manda pulang dulu"


Manda diam-diam menggigit bibir bawahnya resah, melirik Gempi yang diam saja dengan gurat wajah datar tak terbaca.


"Ayo Man"


Manda terhenyak, agak linglung melihat Yohan telah naik ke atas motor sambil menyodorkan helem padanya.


Manda diam sesaat, kembali melirik Gempi yang terlihat tenang di samping Ciko yang terus berbisik tidak jelas entah apa.


Manda menelan ludah getir, lalu dengan kikuk menaiki motor hitam besar milik Yohan itu.


"Gue pergi dulu, Ko titip Gempi" Kata Yohan sebelum akhirnya menarik gas begi dari perkarangan sekolah.


Gempi hanya bisa menatap itu nanar, mulutnya terasa kelu.


Hatinya lagi-lagi terasa aneh.


SAKIT BANGET ANJ!


"Hal paling bodoh yang gak boleh lo lakuin itu, baper-baperan sama teman sekelas"


Tiba-tiba, Gempi kembali mengingat ucapan Wenda di malam itu.


Malam saat Wenda menelfonnya tiba-tiba dengan alasan takut Gempi sedang tidak baik-baik saja karena tidak nimbrung di gc kelas seperti biasa.


Gempi menghela nafas, kemudian tanpa kata berbalik arah menghampiri tiga temanya yang masih berdiri di tempat awal, menatap Gempi dengan sorot yang sama.


Entah apa yang mereka pikirkan.


Gempi mengumpat dalam hati.


ANJ LO YOHANTU!!


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2