WAKETU GAMON (SHS 1)

WAKETU GAMON (SHS 1)
Jadi (End)


__ADS_3

"Tumben kalem, gak gabung sama mereka?" Tanya Yohan duduk di samping Ciko yang sejak tadi diam, tidak peduli dengan keributan di dalam kelas itu.


Ayu seperti biasa menjadi vokalis, Reno, Yono, Sofy menjadi penari latar yang sudah berjoget gila.


"Males" Jawab Ciko tanpa intonasi.


Yohan mendelik horor."Lo...mabok?"


Ciko mengumpat, melirik Yohan kesal."Gue rusuh di hujat, diam juga malah di anggap aneh, serbah salah gue jadi orang ganteng" Katanya nyerocos asal.


"Nah gitu dong baru normal" Balas Yohan sambil menghela nafas lega dengan lagak di buat-buat. Membuat Ciko mendelik kesal lalu mencibir.


"Eh Cik, mabar" Toni tiba-tiba datang menarik asal kursi murid lain bergabung bersama Ciko dan Yohan di pojokan kelas.


Ciko memutar bola mata malas."Lain kali aja deh" Katanya menolak, Toni mencebik kecewa."Hari ini gue lagi mau galau dulu"


"Cuih alay" cibir Toni pura-pura meludah, Ciko melotot tajam."Kayak punya cewek aja lo sampe galau segala"


"Ada ya anj*ng!"


"Halu lo"


Ciko mengumpat, alhasil menabok kepala Toni keras tak dapat menahan rasa kesal."Tau apa lo"


Yohan melirik itu sekilas, tidak ada niat sama sekali untuk memisahkan. Pemuda itu kini hanya fokus pada satu cewek yang sekarang tampak tengah tertawa renyah melihat kelakuan teman-teman kelasnya yang berjoget di tengah kelas sana.


"Cantik banget"


"Ha, gue?"


Binar di kedua mata Yohan seketika menghilang, menoleh jengah pada Ciko yang tiba-tiba menyeletuk sembarangan.


Ciko menyengir membalas tatapan tajam yang di berikan Yohan."Bucin mulu lo, jadian kaga"


"Sama kayak lo" Balas Toni santai, Ciko kembali mengumpat.


Yohan tersenyum puas, saling adu tos dengan Toni merasa menang. "Setidaknya gue gak baper sendiri" Kata Yohan meledek Ciko penuh arti, tau benar soal kisah percintaan temanya itu. Hal yang menjadi penyebab Ciko sering uring-uringan tidak jelas seperti saat ini.


"kasihan si Gege di gantungin mulu" Celetuk Ciko belum mau diam."Padahal kalau mau, tinggal noleh ke belakang banyak cowok yang udah buka hati buat dia"


Yohan mendelik, menabok kepala Ciko agar berhenti mengoceh."Bacot banget anjir"


"Lah emang benar kok" Kat Ciko sewot."Kemaren ada anak paskib, nanyain si Gege"


Yohan langsung menegak, menatap serius."Siapa?"


"Si Jaki dari IPS 1" jawab Ciko, kemudian menepuk pelan bahu Yohan."Gak usah tegang gitu dong, tenang aja si Jaki udah gue tempeleng kok kemarin biar gak sembarangan nikung elo, bae kan gue" Katanya tersenyum jumawa. Yohan mendengus pelan.


"Ciko benar Yo" Toni yang sedang asik bermain game tiba-tiba menimpali."Lo gak ada pikiran buat nembak Gege?" tanyanya penasaran.


Yohan merapatkan bibir sesaat, kemudian diam menatap lekat ke arah Gempi yang kini terlihat ikut berjoget gila bersama komplotan Ayu di tengah kelas.


...****************...


"Jadi pulang bareng kan?"


Gempi menoleh, kemudian tersenyum menatap Yohan yang berjalan mendekat ke arahnya. "Hm, tapi gue mau ke ruang radio dulu soalnya ada perlu bentar" katanya mengangguk. Yohan berhenti di depan Gempi, menatap gadis itu dengan sebelah alis terangkat.


"Yaudah, gue temenin"


"Eh gak us–"


"Sama gue, Ge" kata Yohan memberi ultimatum, Gempi diam sesaat akhirnya mengangguk sambil tersenyum geli.


Yohan merapatkan bibir, menatap Gempi yang tengah mengenakan tas ranselnya."Ayo"


Gempi mengangguk kemudian berjalan beriringan bersama Yohan keluar dari kelas MIPA 2 yang mulai sepi hanya tersisa beberapa murid saja.


"Gege"


"Ya?" Gempi menoleh pada Yohan saat mereka tengah berjalan di tengah koridor yang sepi.


Yohan membasahi bibir bawah, ia melirik merasa gugup tiba-tiba. "Gue... nanti, gue..anu–"


"Apaan?" Tanya Gempi terkekeh pelan, Yohan mengulum bibir, akhirnya menggeleng sebagai tanda tidak jadi bicara.


Gempi mengernyit, menatap itu heran sekaligus geli."Ngomong aja sih, kenapa?"


Yohan diam.


"Ada masalah?"


Yohan menggeleng.


Gempi mencebik pelan."Yeee bicara tuh jangan setengah-setengah dong, bikin penasaran aja lu" katanya gereget.


Yohan malah terkekeh, lalu mengusap rambut Gempi lembut kemudian merangkul bahu gadis itu dan menariknya merapat ke arahnya. "Nanti aja" balas Yohan kalem.


Gempi mengajat alis menatap itu, namun tidak mempertanyakan kembali.


****


Tiba di depan ruang radio, kedua orang itu berhenti. Gempi berbalik menghadap Yohan."Mau ikut masuk?"


Yohan menggeleng."Gak, gue tunggu sini"


Setelah mendengar jawaban itu, Gempi mengangguk kemudian berjalan pergi masuk ke dalam ruangan, berpapasan dengan Kelvin yang berjalan keluar kelas.

__ADS_1


Yohan yang tengah berdiri menatap layar HP jadi menoleh saat mendengar pekikan kaget Gempi. Cowok itu mengernyit samar, mendapati Gempi yang tengah mengomel pelan lalu menepuk lengan Kelvin yang tertawa renyah, kemudian tak lama setelah itu Gempi akhirnya kembali melangkah masuk ke dalam ruang radio begitu juga Kelvin yang berjalan ke arah berlawanan.


Yohan diam, mengakat sebelah alis saat Kelvin menoleh ke arahnya lalu berhenti begitu saja.


"Kenapa?" tanya Yohan tenang, memasukan HP ke dalam kantong celananya, lalu melipat kedua tangan di depan dada.


Kelvin diam sesaat, kemudian tersenyum ramah, ia berjalan mendekat menghampiri Yohan. "Nungguin Gege?"


"Iya" jawab Yohan.


"Mau pulang bareng lagi?"


Hm?


Yohan mengakat alis, lalau mengangguk saja.


Kelvin merapatkan bibir, diam memandangi itu.


"Kenapa?" Tanya Yohan balak-blakan, merasa terusik dengan cowok di depannya ini yang banyak tanya.


Kelvin terkekeh pelan menanggapi itu."Cuman mau mastiin aja kok, kalau gak pulang bareng berarti Gege nya bisa sama gue" katanya jujur.


Yohan membasahi bibir bawah, diam-diam berusaha menahan diri agar tidak menonjok wajah cowok di depannya ini. "Oh, gitu" Balas Yohan seadanya, tersenyum tipis sambil mengangguk.


Kelvin agak mendelik melihat respon Yohan, lalu mencibir dalam hati. 'sok iye lo!'


"Gege itu, cantik ya" kata Kelvin tiba-tiba.


Yohan diam sesaat."Iya"


Kelvin tersenyum nampak tenang."Tapi gak peka" katanya terkekeh. Yohan mengernyit."Gue udah kenal sama Gege dari kelas sepuluh, kita akrab karena satu ekskul, Gege anaknya asik"


Gak nanya! kata Yohan dalam hati mendengar itu.


Yohan membiarkan, mendengar ucapan Kelvin, mencoba mencerna maksud ucapan cowok itu.


"Saking asiknya, dia gak sadar kalau udah buat orang lain jatuh cinta sama dia" Kata Kelvin, melirik sekilas ke arah pintu ruang radio, memastikan Gempi tidak sampai mendengar percakapan mereka ini."Dari dulu, sampe sekarang dia gak pernah tau–"


Yohan menelan ludah, saat Kelvin kembali menatapnya, sambil menarik sudut bibir menyeringai tipis.


"–Kalau gue, suka sama dia"


Yohan mendelik tajam, kedua tanganya mengepal nyaris maju ingin memberi bogeman di wajah Kelvin.


Hingga.


"Udah yuk"


Gempi yang baru saja keluar dari ruang radio, langsung menghampiri Yohan, menatap wajah cowok itu berbinar."Lama gak?"


Yohan agak gelagapan, namun berusaha mengendalikan diri dengan tersenyum simpul kemudian menggeleng sambil mengusap rambut Gempi."Ayo pulang" ajaknya.


Kelvin tersenyum miris."Hm, tadi ngomong bentar sama Yohan"


Gempi mengakat alis, menatap Yohan dalam Kelvin bergantian."Gue... gak ganggu kan?" tanyanya, tidak menyadari atmosfer memberat di antara kedua pemuda itu.


"Enggak, Ge" Kata Yohan segera, lalu menatao tepat pada Kelvin."Kita udah selesai ngobrolnya"


Gempi mengerjap, lalu mengangguk."Yaudah, kalau gitu gue balik dulu ya Vin, tatatititutu" katanya melambai, sambil menarik Yohan pergi.


Meninggalkan Kelvin diam terpaku di tempatnya, memandangi itu sendu.


Ya. sudah jelas, siapa yang kalah di sini.


Kelvin terkekeh, miris dengan apa yang baru saja ia pikirkan.


...****************...


"Tadi ngomongin apa sama Kelvin?"


"Hm?" Yohan yang sejak tadi diam, jadi menoleh agak tersentak. "Apa?" tanyanya balik.


Gempi menyipitkan mata curiga."Kalian kelihatan serius gitu"


Yohan membasahi bibir bawah, lalu tertawa kaku."Gak, gak ada apa-apa, cuman ngobrolin e.... futsal! iya futsal"


Gempi semakin curiga, di tambah dengan gelagat Yohan yang seolah menghindari kedua mata Gempi.


"Ge"


"Hm?" Gempi menoleh, berhenti saat Yohan yang berdiri di anak tangga setelahnya, tiba-tiba berbalik menghadap Gempi, membuat tubuh mereka sejajar kini.


Yohan menatap serius."Gue kesal banget"


"Eh.. Ha?" Gempi mengerjap tak paham."Sama gue, kenapa?"


"Sama cowok-cowok yang naksir sama lo"


Gempi melebarkan mata, diam sesaat agak tertegun dengan ucapan Yohan.


Yohan menghela nafas, kepalanya agak menunduk."Ck, yang tadi itu.. pengen banget gue tonjok"


"Ha?" Gempi mendelik."Nyebut woy!" Kata Gempi heboh. Yohan melongos.


Gempi menipiskan bibir, lalu tiba-tiba membekap kedua pipi Yohan dan mengarahkan kepala cowok itu agar mengarah padanya."Dia ngomong apa sama lo. Hm?"


Yohan menatap kedua mata Gempi tepat cowok itu diam sesaat, kemudian menggeleng.

__ADS_1


Gempi mencebik pelan melihat itu."Rahasia ya?"


"Hm" Yohan mengangguk, tersenyum geli melihat wajah merenggut yang di tunjukan Gempi."Intinya, mereka itu cuman bisa ngomong doang"


Gempi mengernyit tak paham.


Yohan kembali melanjutkan sambil menyelipkan helai rambut Gempi ke belakang telinga gadis itu."Jadi gue gak pernah takut"


"Takut apa?"


"Takut kehilangan elo" Jawab Yohan tenang. Gempi yang tertegun, refleks melebarkan mata mendnegar itu. "Gue gak pernah takut setiap kali dengar kalau ada cowok yang ngincar elo, gue gak takut di tikung" kata Yohan santai, mencoba terlihat se meyakinkan mungkin. Berusaha menutupi hal yang sebenarnya ia rasakan.


Gempi mendelik gemas melihat lagak cowok itu."Kenapa?"


Yohan mengakat alis."Kerana elo sukanya sama gue"


Gempi langsung tersedak ludahnya sendiri, lalu melotot pada Yohan."Ha?"


"Emang benar kan lo suka sama gue, jadi mau mereka lakuin apa buat narik perhatian elo tetap gak bakal berhasil, soalnya lo itu cuman milik gue"


"Gak ada ya"


Gantian Yohan yang mendelik protes saat Gempi membantah ucapanya itu.


Gempi melipat tangan di depan dada, menatap Yohan dengan dagu terangkat tinggi."Gue itu bukan milik siapa-siapa"


"Lah Ge–"


"Gue masih jomblo"


Yohan tertegun, mengerjap berkali-kali melihat itu. "Eh?"


Gempi membuang muka, berusaha tetap tenang. Yohan membasahi bibir bawahnya, kemudian tersenyum geli."Yaudah sih"


Gempi spontan menoleh, mendelik protes dengan tanggapan Yohan yang tidak sesuai ekspetasi nya. "Hm, yaudah gini-gini aja terus" katanya sewot dan nyaris melangkah pergi melewati Yohan, namun dengan cepat pemuda itu bergerak menghalau tubuh gadis itu.


Yohan menggengam tangan Gempi, menahan senyum melihat gurat kesal di wajah gadis itu. "Gue belum selesai ngomong loh, Ge"


Gempi menoleh, mengakat sebelah alis penuh tanya. "Tadikan lo ngomong, yaudah. berarti emang cuman sampai di situ kan, elo–"


"Yaudah sih..kalau gitu lo jadi pacar gue aja"


Gempi ternganga-nganga, tanpa sadar sudah menahan napas.


Yohan menggigit bibir bawahnya sesaat, lalu berbisik pelan."Gue... mau ngomong itu tadi, jangan marah-marah dong"


Gempi mengerjap, gugup bukan main."Lo... Barusan elo–"


"Iya" Kata Yohan kalem. Sebenarnya mati-matian menahan rasa gugup, jantungnya sejak tadi sudah berdegup kencang. Tapi sekali lagi, laki-laki itu harus terlihat tenang di hadapan cewek yang dia suka."Jadi pacar gue Ge. Dengan gitu, lo bisa jadi milik gue, gak bakal ada cowok lain yang gangguin elo lagi dan elo bukan jomblo lagi"


Gempi termangu, diam lama menatap kedua mata Yohan.


Yohan mengakat alis."Gak usah sok mikir, tinggal bilang iya aja"


Gempi langsung mendelik."Apaansih?!"


"Lah, emang lo mau nolak? Lo kan suka sama gu–Arghhh Ge!"


Gempi dengan kesal menjambak rambut Yohan, gemas dengan ucapan cowok itu."Gak usah di ulang-ulang"


"Iya ampun" Kata Yohan, membuat Gempi langsung melepaskan jambakanya."Emang kenapa sih, kan fakta"


"Bisa diam gak"


Yohan mencebik pelan."Jadi gimana?"


"Apanya?"


"Ge" Yohan menatap gemas.


Gempi merapatkan bibir, diam sesaat melihat gurat kesal di wajah Yohan."Hm"


"Apaan Hm hm?"


"Iya"


"Iya apa?" Tanya Yohan menahan senyum.


Gempi mendelik, lalu dengan cepat beranjak pergi menuruni tangga. Yohan segera mengikuti hingga tepat saat berjalan di samping gadis itu, Yohan langsung meraih tangan Gempi lalu menggengamnya erat.


"Yang jelas dong, Ge?" Tanya Yohan agak memiringkan kepala, menatap Gempi dari samping.


Gempi mengulum bibir, tidak ingin menoleh, pipinya terasa panas."Tadi udah gue jawab kan"


"Kurang jelas"


Gempi mencebik kesal, lalu menoleh dengan delikan gemas."Iya gue mau jadi pacar lo, sekarang kita pacaran, gue gak jomblo lagi" Kata Gempi."Jelas?"


Yohan menggalang."Belum" katanya membuat Gempi melotot."Sekarang lo milik gue?" Tanya Yohan lagi.


Gempi mengerjap, garis wajahnya perlahan berubah, gadis itu dengan cepat membuang muka. "Iya"


Jawaban itu sontak membuat Yohan tertawa renyah, lalu dengan tiba-tiba memeluk tubuh Gempi erat.


Gempi melotot, dengan panik menggerakan mata ke segala arah, takut-takut jika ada yang melihat. "Yo, lepas ih"


"Gak, gue lagi senang"

__ADS_1


Gempi menahan senyum, tubuhnya terasa lebih rileks, dan akhirnya menggerakan kedua tanganya membalas pelukan Yohan.


...****************...


__ADS_2