
🥨🥨🥨
"Masih mo nunggu?"
Gempi merapatkan bibir, bingung harus menjawab apa. Grab yang ia pesan sudah sampai sejak tadi.
Gempi udah mau pergi.
Tapi bingung harus memberi alasan apa lagi sama ini cowok satu.
Wenda juga dari tadi terus berdiri di sampingnya menemani tapi sibuk dengan HP di tanganya.
"Sama gue aja ayo, teman lo bakal lama kayaknya" Kata Dewa dengan intonasi memaksa.
BUSET DAH!!
Gempi menghela nafas jengah."Tetap gue tungguin" Gadis itu membuang muka, menghindari pandangan Dewa. "Lo gak pulang?"
"Nanti aja"
PERGI LO!
Ingin sekali gempi meneriaki kalimat itu.
Wenda yang selesai mengirim pesan di grup kelas, kini mendongak, memandang Dewa datar. "Lo juga lagi nunggu seseorang?" tannya gadis itu penasaran, setaunya Dewa ini satu grup band dengan Yono, tapi Yono udah dari tadi pulang duluan karena nggak lagi ada ekstra di sekolah.
Gak mungkin kan, Dewa sejam lebih di parkiran sekolah cuman buat nunggu Gempi?
Dewa menoleh, tersenyum pada gadis jangkung di samping Gempi yang sejak tadi diam, akhirnya mengajaknya berbicara. "Iya"
Gempi mengangkat sebelah alis mendengar itu. "Siapa?"
"Elo"
"Ha?"
"Gue nungguin elo ge, siapa tau temen lo gak bisa nganter lo pulang, biar gue aja kan"
Gempi memutar matanya malas, Wenda meringis samar tidak tau harus mengatakan apa. "Serah elo deh" Kata Gempi lelah, heran kenapa Dewa tidak juga peka jika Gempi dari tadi terus menunjukan kalau gadis itu tidak senang dengan keberadaan Dewa di sini.
Wenda diam-diam mendesah pelan, sebenarnya bingung juga harus bagaimana, dia tidak akrab dengan Dewa, cuman sekedar tau kalau cowok ini menyukai Gempi.
Wenda bukan tipe yang mudah sok akrab, makanya dari tadi memilih diam saja.
"Kok chat gue gak di balas?"
Gempi terhentak pelan, agak kaget cowok ini tiba-tiba menanyakan hal itu.
"Lo gak ada kuota?"
"Ada kok"
"Terus, kenapa?"
Gempi mengumpat dalam hati, langsung putar otak mencari alasan yang masuk akal untuk pertanyaan horor itu.
__ADS_1
"Lo.....marah ya?"
"Ha?" Gempi tampak linglung, menggaruk kepalanya kikuk. "Anu-"
"Karena gue bilang suka sama elo?" Dewa menyorot kedua mata Gempi lekat, ingin tau penjelasan dari gadis di depannya ini.
BISA DIAM NGGAK!! MAU GUE JEJELIN CABE MULUT LO!
"Ge"
"Ck, nanya mulu lo" sahut Gempi ketus tidak bisa menahan diri, merasa ingin cepat-cepat keluar dari situasi seperti ini.
Dewa menghela nafas, diam sebentar kemudian dengan santai mengulurkan tangan mengusap lembut rambut Gempi."Kalau emang lo gak suka balik sama gue, tolong kasih gue kesempatan buat usaha" Katanya.
Wenda merapatkan bibir, melirik Gempi yang tak berkutik.
Gawat nih.
"Sory lama"
Ketiga orang itu spontan menoleh kompak, melihat sosok dua pemuda yang mengenakan baju futsal tengah berjalan beriringan mendekat ke arah mereka.
"Tadi nungguin si Rendi boker bentar"
Rendi yang asik melempar-lempar bola di udara jadi tercengang menatap Yohan yang melontarkan kebohongan dengan santainya.
Wenda bernafas lega, lalu melirik pada Dewa yang terdiam memandang Yohan tak terbaca.
Gempi sendiri masih mencoba memahami situasi sekarang. Apa maksudnya? Sory lama? Yang nunggu dia siapa? Wenda? Atau dewa? "Kalian-"
Gempi mengerjap pelan tersadar, kemudian langsung tersenyum lebar tak bisa di tahan. "Eh enggak kok, dah abis ngobrol tadi" Katanya langsung ceria diam-diam sudah mengucap syukur di dalam hati, gadis itu kemudian menoleh pada Dewa yang diam saja. "Makasih WA udah nawarin gue"
Dewa menatap Gempi, tersenyum pahit dan mengangguk pelan. "Iya"
Wenda berdehem pelan. "Kalau gitu, gue balik ya Ge, Yohan nya udah ada kan, Ren uang kas besok bayar"
Reno mengumpat. "Iya Teh, iyaaa"
"Awas aja, kalau gak gue datangin langsung rumah lo" Ujar Winda mengancam sebelum berlalu pergi.
Reno meringis, ngeri dengan bendahara kelas satu ini.
"Ayo pulang, udah gak ada lagi kan?"
Gempi mengangguk, pasrah saja saat Yohan menariknya pergi, namun jadi berhenti saat seseorang meraih pergelangan tangannya yang lain manahan gadis itu.
"Ge tunggu dulu" Kata Dewa memohon, membuat Gempi mau tidak mau menoleh memandangnya tidak enak.
"Kenapa lagi sih Wa?"
"Balas chat gue ya" Katanya dengan gurat wajah memelas.
Gempi menghela nafas, jengah.
Yohan yang menyadari itu, tau-tau langsung bergerak maju melepas cekala tangan Dewa."udah bro"
__ADS_1
Gempi gelagapan, tidak menyangka kalau Yohan akan ikut campur. Sedangkan Dewa sendiri langsung menegak, dengan raut wajah yang berubah drastis. "Kenapa?" Tanya Dewa dingin.
"Lo berlebihan" Jawab Yohan tenang."harusnya lo sadar, Gempi dari tadi gak nyaman" Katanya menarik Gempi bersembunyi di balik tubuh tegapnya.
Reno yang menyaksikan itu langsung mengacungkan HP siap merekam. Ini merupakan hal seru yang akan dia kirim di grup kelas nanti.
"Urusan lo apa?" Dewa tersinggung, lalu melirik sekilas pada Gempi yang mengintip dari balik bahu Yohan."lo bukan pacarnya kan? Gempi bilang kalian gak pacaran, terus kenapa lo ikut campur"
"Gue temanya"
"Cuman teman kan" Ucapa Dewa dengan nada remeh.
Yohan mengernyit, tanpa sadar jadi memandang sengit cowok di depannya ini. "Dia udah nolak lo, kayaknya itu udah lebih dari cukup buat jadi alasan untuk lo mundur"
Dewa mengepalkan kedua tanganya, egonya tersentil mendengar itu.
"Jangan macem-macem, kalau lo masih keras kepala maksa Gege, bukan cuman gue.. " Yohan memberi jeda. ".. Semua cowok MIPA 2 bakal turun tangan buat mukulin elo"
Setelah merasa Dewa tidak punya bahan lagi untuk berdebat, Yohan langsung segera menarik Gege pergi dari situ, bersama Rendi yang tersenyum ceria berhasil merekam momen epik.
Gempi yang di tarik pergi memilih diam saja, kedua matanya memandang lekat genggaman lembut Yohan di pergelangan tanganya, kemudian beralih ke wajah pemuda itu yang hanya biasa ia lihat dari samping.
Kok.... Ganteng?
Emangnya, Yohan seganteng ini ya?
Kok Gempi baru tau?
"Yo"
"Hm?" Yohan melirik sekilas.
"Lo ganteng banget sih tadi"
"Baru nyadar?"
"Iya anjir"
Yohan tekekeh geli."Awas naksir"
Gempi tertegun, diam seolah hilang kata, entah kenapa tak bisa mengelak.
"Gue anterin lo sampe depan, grab nya udah dateng?"
"Eh ha?" Gempi mengerjap cepat, lalu menganguk Kikuk. "Iya"
Yohan melirik, lalu menghela nafas pelan. "Lo itu tobat aja napa, hobi banget baperin cowok"
Gempi melongos pelan. "Gue gak ada maksud baperin kok, mereka aja yang salah paham"
Yohan diam sesaat, tanpa sadar mengeratkan tautan kematian mereka. "Hati-hati, jangan keseringan, siapa aja bisa naksir sama lo"
Gempi melebarkan mata memandangi Yohan lekat, gadis itu menggigit ujung bibirnya pelan mengenyahkan getaran aneh yang tiba-tiba datang di hatinya.
...****************...
__ADS_1