
Selalu saja ketika hari pertama haid itu rasanya sangat sakit, dan membuat lelah, itulah sebabnya mengapa mood Gempi selalu menjadi sangat buruk setiap hari pertama datang bulan.
Gempi tidak mau melakukan banyak aktifitas, jika boleh dia hanya ingin rebahan seharian saja di kesur empuknya, tapi jika itu ia lakukan Mamanya pasti akan terus mengomel menyuruhnya untuk berangkat sekolah.
Gempi tidak mau berbicara terlalu banyak, entah mengapa hal itu juga jadi sangat melelahkan ketika datang bulan seperti ini.
Intinya Gempi hanya ingin diam menjadi batu, dan tidak boleh ada yang mengganggu.
Anak-anak kelas 11MIPA 2 sudah paham betul akan hal itu. makanya sejak tadi tidak ada yang berani mendekat ke arah bangku pojok belakang di mana seorang Gempi Julianti sedang duduk tenang, meletakan kepala di atas lipatan tangan di atas meja.
Gadis itu, kalau udah PMS, bisa tiba-tiba cosplay jadi macan lepas.
Hari itu Classmate, sebagian murid kelas sudah ngacir entah kemana, hanya beberapa saja yang masih berada di kelas itu tengah melakukan aktifitas masing-masing.
Hanya beberapa saja loh, tapi entah kenapa berisiknya sama saja dengan saat full anggota kelas.
Yohan melangkah masuk ke dalam kelas itu, di susul Toni, Ciko dan Sofy yang mengekor di belakang. "Kalian jangan ada yang ribut, sama itu tuh coba si Reno di rante aja biar kalem" Kata Yohan pada ketiga temanya yang di belakang, lalu menunjuk ke arah Reno yang terdengar sibuk mengumpat bersama Ayu, Suli, Hendra dan Yono tengah bermain Kartu remi.
Yohan menggerakan mata, mencari keberadaan seseorang. Hingga kedua matanya berhenti tepat ke arah pojokan kelas sana, pada seorang gadis yang tengah membenamkan muka di antara lipatan tangan di atas meja.
Cowok itu tersenyum samar, lalu melirik mendapati Toni, Ciko dan Sofy sudah bergabung dengan teman-teman yang lain langsung mengamankan Reno seperti apa yang di perintahkan Yohan pada mereka."Awas aja kalau gak dengarin gue" Katanya berbisik menatap kumpulan teman kelasnya itu.
Setelahnya, kedua kaki Yohan melangkah tenang ke arah pojok kelas menemui Gempi, ia kemudian menarik kursi terdekat lalu menyeretnya hingga menyentuh ujung meja yang di tempati gadis itu. Yohan kemudian duduk di sana mengakat siku di atas meja lalu menopang dagu. "Gege" panggilnya lembut.
Gempi bergerak pelan, perlahan menggerakan kepala menoleh pada Yohan."Apa?"
Yohan tersenyum ganteng, lalu meletakan sebuah kantong plastik di atas meja, yang sejak tadi ia tenteng ke dalam kelas. "Perut elo masih sakit banget kan, itu gue bawain kiranti, di minum dulu biar baikan"
Gempi mengerjap, memandangi Yohan yang dengan telaten mengeluarkan barang-barang yang ada di dalam kantong itu.
"Gue juga ada beliin ini nih, roti bakar kesukaan elo" Kata cowok itu lagi."Tapi ini rahasia kita aja ya, gue tadi gak ada izin keluar sekolah"
Gempi mengulum bibir ke dalam, menatap geli cowok yang duduk di sampingnya ini."Gratis gak nih, takutnya lo minta ganti rugi" ucapnya dengan nada bergurau.
Yohan mengakat sebelah alis, diam sesaat melihat itu, kemudian tersenyum miring. "Karena gue sayang sama elo, jadi semuanya gratis" Jawab Yohan santai. Gempi mendecih pelan mendegarnya.
"Banyak omong lo" cibir Gempi menyembunyikan salah tingkahnya.
Yohan tersenyum simpul, kini jadi diam menatap Gempi yang sudah sibuk mengunyah roti bakar.
__ADS_1
Cowok itu merapatkan bibir, lalu menelan ludah, merasakan jantungnya berdegup kencang. Kalimat tadi itu bukan ucapan yang spontan saja keluar, Yohan bahkan harus menahan rasa gugup setengah mati saaat mengatakannya.
Tapi cowok itu kan harus tetap terlihat tenang di depan walau ambyar di dalam. Makanya sejak tadi Yohan cuman senyum-senyum aja berusaha menahan diri.
"Gue mau ke wc" Gempi tiba-tiba berdiri, Yohan agak tersentak mengerjap tersadar, sejak tadi sudah memandangi gadis ini lekat tanpa berkedip.
"Mau gue temenin?"
Gempi spontan mendelik galak."Apaan ha? ngapain?"
Yohan mengerjap polos."Temenin elo ke Wc, nanti biar gue yang jaga di luar"
"Gak perlu makasih" Kata Gempi jutek kemudian beranjak pergi.
Yohan menggaruk kepala bagian belakangnya bingung, apa dia salah bicara ya?
Cowok itu kemudian meringis, melihat Gempi yang bisa segalak itu hanya karena hal sepele.
"Gemes banget" Bisik Yohan sambil mengusap kasar wajahnya.
Emang orang kalau jatuh cinta itu selebay ini ya, bukanya ngeri habis di galakin, tapi malah kesemsem sambil senyum-senyum nggak jelas.
****
"Gimana, udah lo kasih bekalnya sama Yohan?"
"Udah, dan dia nolak"
Gempi mengernyit, mengenali suara sendu itu. Manda?
"Terus apa lagi, cuman gitu doang?" Tanya Cika penasaran.
"Ya nggak ada, dia langsung pergi gitu aja, sikapnya jadi dingin banget sama gue" Jawab manda terdengar lesu.
Hm?
Manda ngasih bekal sama Yohan?
Gempi tertawa sinis dalam hati. "Udah basi trik elo" katanya berbisik pelan."Harusnya dia nanya gue caranya" Gempi tersentak sadar setelah mengucapkan itu. "Eh, tapi gak bakal gue kasih tau juga sih"
__ADS_1
"Si Yohan kena pelet gak sih?" Tanya Dea menatap kedua temanya.
Gempi mengerjap kaget mendengar itu."Pelet?!"
"Maksud elo si Gempi melet Yohan?"
Pertanyaan Cika itu mendapat anggukan dari Dea.
"Iya, coba lo pikir, masa si Yohan bisa cuekin Manda gitu aja, lo tau kan sebucin apa cowok itu dulu sama Manda"
Gempi mendelik tajam, emosinya langsung naik ke ubun-ubun. "Dasar gila" Umpat nya tak tahan lalu membuka kasar pintu wc itu.
Membuat ketiga cewek yang berdiri di depan wastafel jadi terlonjak kaget dan menoleh spontan. "Gempi?" Beo Manda melotot ngeri melihat Gempi yang berjalan keluar dari wc mendekat ke arah mereka sambil memasang gurat wajah dingin tak bersahabat.
Ketiga gadis itu diam, tanpa sadar jadi menahan nafas saat Gempi dengan tenang menyalakan keran wastafel lalu mencuci tangan.
"E-elo sejak kapan di sini Ge?" Tanya Manda gugup.
Pertanyaan bodoh, Gempi mematikan keran air, lalu berbalik menatap ketiga cewek itu tajam."Menurut lo?" Tanya Gempi balik dengan nada sarkas. ia kemudian melipat tangan di depan dada menatap ketiga cewek itu satu persatu."Elo bertiga, ngomongin gue di belakang karena apa? Iri? merasa tersaingi?"
Cika langsung maju, ikut melipat tangan di depan dada membalas tatapan Gempi."Tersaingi sama cewek modelan elo? dih najis"
Gempi mengangguk pelan."Yohan nolak elo lagi Man?" Tanya Gempi memiringkan kepala menatap Manda yang berdiri di belakang Cika.
Cika mendelik tajam merasa tidak di pedulikan.
Manda menggigit bibir bawahnya, merasa tersinggung mendengar nada meremehkan yang keluar dari bibir Gempi."Lo.. gak perlu tau"
"Yahhh gue udah tau kok, udah denger semua tadi, dari Yohan yang nolak bekal pemberian elo, terus sampe gue yang katanya udah pelet si yohan, gue denger semuanya" Gempi tersenyum manis."Gue nanya cuman buat basa-basi doang kok" Katanya kemudian maju dua langkah mendekat pada mereka tanpa rasa takut.
Garis wajahnya berubah perlahan."Manda" Panggilnya tanpa intonasi."Jangan kayak gini, soalnya–" Gempi memberi jeda, sambil menatap Manda dari bawah sampai atas seolah menilai."Elo jadi kelihatan menyedihkan"
Dea melotot tajam, Tiba-tiba maju nyaris melayangkan tamparan di wajah Gempi, namun tentu saja Gempi tidak mungkin membiarkan itu terjadi, ia dengan sigap langsung menahan tangan Dea dan meremasnya kuat hingga membuat Dea meringis pelan."Maaf-maaf aja ya, gue cuman mau ingetin" Gempi manatap tajam Cika yang hendak maju ingin ikut menyerangnya."Kalau gak mau rambut kalian gue rontok semua mending pergi sekarang juga dari hadapan gue"
Cika tertawa remeh."Elo cuman sendiri, tolol banget sih"
Manda menatap itu dalam diam. Ia jadi mengakat dagu tinggi merasa di atas angin.
Gempi tertawa bengis, emosi yang ia tahan sejak tadi karena rasa nyeri di perutnya ini jadi makin bertambah saat melihat ekspresi songong yang di tunjukan oleh tiga cewek sinting di depannya ini.
__ADS_1
"Oke, gue udah ingetin, kalian yang mau" Kata Gempi dingin.
***