
Gempi beranjak dari kursi, lalu melakukan perenggan sesaat merasa tubuhnya pegal setelah duduk sejam lebih saat rapat bersama anggota radio tadi.
"Langsung pulang?" Kelvin mendekat, tersenyum simpul pada Gempi yang sedang mengenakan tas ranselnya.
"Iya" Jawab gempi seadanya tanpa menoleh pada Kelvin, gadis itu lalu langsung melangkah pergi keluar dari ruang radio.
"Sama siapa pulangnya? kalau sendiri sama gue aja, kebetul–"
"Dia sama gue"
Kelvin yang mengekor di belakang Gempi sontak berhenti dan menoleh, mendapati sosok pemuda yang sudah berdiri di dekat pintu ruangan ini, tampak melipat tangan di depan dada menatap Gempi dan Kelvin bergantian.
"Loh, ngapain di sini, gue kan bilang nunggu di parkiran aja?" Tanya Gempi mengakat alis bingung, mendekat ke arah Yohan tanpa menyadari sorot tajam dari kedua mata cowok itu.
Yohan merapatkan bibir, kemudian melirik Kelvin sekilas."Elo lama, makanya gue samperin...buat mastiin aja, takutnya lo dah balik duluan sama orang lain"
Gempi mengeryit dalam sambil mengerjap pelan."Gak mungkin lah" elak Gempi. "Ayo pulang" lanjutnya sambil mendorong tubuh Yohan beranjak dari situ.
"Vin, gue duluan ya" Pamit Gempi melambai ke arah Kelvin.
"Eh, iya Ge" balas Kelvin ceria, namun perlahan kedua matanya menyendu menatap punggung dua orang itu yang mulai menjauh. "Gagal lagi" bisiknya pada diri sendiri, kembali menelan rasa kecewa.
****
"Kalian dekat banget?" Tanya Yohan sambil naik ke motornya lalu mengenakan helm.
"Hm?" Gempi mengernyit samar, menerima uluran helm yang di berikan Yohan."Siapa?"
"Cowok yang tadi" Jawab Yohan tanpa intonasi.
"Kelvin?" Gempi mengakat alis, diam sesaat kemudian mengangguk dua kali."Iya dekat, kan anggota radio gue, masa musuhan" katanya tekekeh geli.
Yohan melirik itu malas."Oh" Balasnya tak tertarik. Gempi mengernyit menyadari itu.
"Kenapa lo?"
"Apa?" Tanya Yohan balik dengan nada ketus.
Gempi mendengus melihat itu. "Gue ada buat salah ya?" Tanyanya heran.
"Gak ada" Jawab Yohan datar, kemudian jadi diam membuat Gempi hanya dapat menggeleng pelan di buat bingung dengan tingkah cowok itu.
"Ge"
__ADS_1
Gempi yang sudah nyaris naik ke atas motor jadi berhenti dan menoleh ."Apa?" tanyaanya sambil mengakat sebelah alis.
"Apa yang lo bilang di kafetaria tadi.. gak bercanda kan?" Tanya Yohan tiba-tiba.
Gempi tertegun, kemudian jadi gelagapan."Yang mana sih, lupa gue?" Gempi berlagak bodoh, gadis itu kemudian naik ke atas motor Yohan lalu menepuk bahu cowok itu."Ayo buru, dah mulai gelap nih"
Yohan mencibir pelan."Tuh kan, kebiasaan penyakit lama"
Gempi mendelik mendengarnya.
"Abis bikin baper gak ada tanggung jawab" Kata Yohan kesal lalu menyalakan motor dan menarik gas pergi.
Tidak menyadari senyuman kecil yang terukir di wajah Gempi karena merasa gemas dengan cowok itu.
****
"Dia ngomong gitu sama lo?"
Manda mengangguk, mengulum bibir membalas tatapan penuh tanya yang di berikan kedua temanya itu, saat ini mereka tengah berada di Xiecup, tempat nongkrong nya anak-anak SHS.
"Katanya walau gak pacaran, tapi Yohan itu milik dia" kata Manda.
"Dih gila" cibir cewek yang bernama Cika itu sudah sewot bukan main, setelah mendengarkan cerita Manda tentang Gempi si lambe turah SHS itu.
"Bukan pick me lagi tapi Sasimo juga dia, sana- sini mau" Balas Cika benar-benar kesal.
Manda diam merapatkan bibir tidak ikut berkomentar, namun dalam hati membenarkan ucapan teman-temanya itu.
Dea menolah pada Manda yang sejak tadi diam saja."Elo terlalu baik sih Man sama dia, makanya tuh anak ngelunjak kayak gitu" Katanya menunjuk Manda dengan kentang goreng di tangannya."Si Gempi kalau di bandingin sama elo mah kebanting banget"
Cika mengangguk setuju."Lo pepet aja terus si Yohan, biar si Gempi itu tau posisinya di mana"
"Tapi–" Manda menelan ludah."Yohan kayaknya udah beneran lupain gue deh"
"Ck, perasaan elo aja itu" Kata Cika membantahnya. "Si Yohan cuman lagi marah aja sama elo karena kejadian di perpus waktu itu, elo cuman cukup deketin dia lagi, gue jamin gak butuh waktu lama buat dia luluh"
"Gue rasa si Gempi itu cuman di jadiin pelampiasan deh sama Yohan" Kata Dea berbisik.
Cika mengangguk setuju. Manda sendiri hanya tersenyum tipis mendengar ucapan teman-temanya itu.
"Makasih ya udah ngedukung gue"
****
__ADS_1
Kumpulan cowok tampan yang sebelumnya rusuh bukan main di kamar Hendra itu, sontak menjadi diam dan menoleh ke arah pintu kamar yang terbuka.
Sosok tubuh tinggi Yohan Pangestu muncul di sana, berjalan masuk ke kamar Hendra dengan muka bete yang terlihat jelas.
"Habis nganterin Gege?" Tanya Hendra saat Yohan duduk di sampingnya setelah melemparkan ranselnya ke kasur Hendra begitu saja. "Ada masalah lagi?" Lanjutnya menyinggung gurat wajah Yohan saat ini.
Yohan mencebik pelan."Tadi cowok yang namanya Kelvin itu ngajakin Gege pulang bareng"
Reno, Ciko, Toni, Yono dan Sofi langsung merapat ingin mendengar.
"Gila aja, si Gege berangkat sekolah sama gue pulangnya harus sama gue juga njir" Kata Yohan mendumel."Syukurnya ada gue, kalau engga mungkin udah di tikung kali sama si simbol suhu itu"
"Anak pinter emang beda ya, kalau ngatain orang bukanya ngasih julukan gentong minyak, upil badak, atau keset welkom, ini malah Simbol suhu fisika, mentang-mentang tuh cowok namanya Kelvin" Cibir Reno tak habis pikir.
Yohan tidak menanggapi itu."Gege peka nggak sih kalau tuh cowok naksir sama dia?"
"Kalau kata gue sih, enggak" Jawab Hendra santai."Dia mah gak peka-an orangnya, kenapa lo, takut di tikung sama si Kelvin itu?"
Yohan melongos kasar, enggan menjawab.
"Takut kenapa sih Yo, bukanya si Gege udah bilang kalau olo itu itu milik dia, otomatis dia juga milik elo, aman aja udah" Kata Toni menenangkan.
Yang lain langsung menoleh spontan dengan mata terbelalak. "HA?!"
Toni meringis melihat respon teman-temanya itu."Ck iya, tadi di kafetaria si Gege ngomong kalau Yohan itu milik dia, walau mereka nggak pacaran"
"Anjir!"
"Buset"
"Gege ngomong gitu?" Zeno yang tadinya sibuk sendiri baca komik di pojokan kasur, jadi merapat ikut penasaran.
Toni mengangguk dengan wajah yakin."Iya elah, noh Ciko juga saksinya, iya kan Cik"
Ciko mengangguk sambil mengacungkan jempol entah untuk apa. "Di depan Manda lagi ngomongnya"
Mereka semakin ternganga lebar.
"Wah Yo, si Gege gak pernah mau buat konflik dengan orang lain loh, kalau dia nya udah berani nunjukin taring gitu berarti perasaanya serius sama elo, bukan cuman suka-sukaan biasa" Kata Hendra berdecak kagum.
Yohan mengakat alis, perlahan mengukir senyum miring tersanjung mendengar itu.
***
__ADS_1