WAKETU GAMON (SHS 1)

WAKETU GAMON (SHS 1)
Lupakan Saja


__ADS_3

"Huhuhuuu gue nyeselll"


Hendra melirik jengah, lalu kembali fokus pada martabak di depannya. Martabak yang di beli Gempi dan Yohan tadi.


Setelah dari tempat martabak, Gempi bukanya pulang malah belok mampir di rumah Hendra sambil tersedu-sedu lebay tanpa air mata.


Yohan katanya sudah pulang setelah mengantarkan Gempi.


"Setelah gue ungkapin perasaan gue, dia jadi diam gak ada reaksi sama sekali" Gempi menelungkupkan wajah pada bantal sofa di ruang tengah itu.


"Bagus lah, dari pada dia marah gak terima terus ngata-ngatain elo"


Gempi mengakat kepala menatap Hendra nyalang."Yohan gak mungkin kayak gitu"


Hendra mendengus. "Lo beneran mau move on?" Tanya Hendra dengan intonasi meremehkan. "Boong banget"


Gempi mendelik tajam."Gue serius ya" Balasnya sensi.


"Cupu"


Gempi mengumpat tertahan, lalu melongos kasar tidak mau menanggapi. Gadis itu tersedu-sedu kembali.


Hendra menghela nafas membiarkanya.


"Kenapa kok gue jatuh cinta bukanya senang malah makan ati" Gempi melempar bantal sofa ke lantai, belum mau tenang.


"Soalnya lo naksirnya sama cowok gamon, bahaya Ge" Balas Hendra dengan tenang mengunyah martabak, tidak peduli dengan Gempi yang sudah rusuh bukan main. "Mending lo makan nih, biar kalem"


"Gak napsu makan" Kata Gempi ketus.


"Yaudah, buat gue aja semuanya kalau gitu" Kata Hendra kesenangan.


Gempi mencibur sinis."Dasar penikmat gratisan"


"Bodo" Balas Hendra cuek.


Suasana menjadi hening.


Sampai akhirnya Gempi tiba-tiba menyeletuk sedih."Menurut elo gue harus gimana nanti pas ketemu Yohan di sekolah?"


"Biasa aja" Jawab Hendra santai, Gempi jadi merapat penasaran."Usahain jangan ada yang berubah, haha hihi aja kek biasanya"


"Gitu?" Gempi mengerjap dua kali.


Hendra menganggukan kepala pelan."Dengan kayak gitu, hubungan pertemanan kalian gak akan terganggu"


Gempi diam tertegun, kenapa hal seperti itu tidak terpikirkan olehnya?


Teman.


Gempi seenaknya menyatakan perasaan tanpa memperdulikan hubungan pertemanan mereka yang sudah lama terjalin.


Gadis itu merapatkan bibir, lalu perlahan menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyuman tipis yang tampak lemah. "Lo benar"


Hendra menoleh saat telinganya samar-samar menangkap nada aneh dari suara Gempi.


"Makasih Hen" Gempi tertawa sumbang.


***


Hari itu, aktifitas murid-murid di Starla high School berjalan seperti biasanya.


Kelas 11 MIPA 2, seperti biasa sudah rusuh bukan main di jam istirahat pertama.


Gempi terlihat sedang tertawa lepas hingga lesehan di lantai menikmati pertunjukan drama yang di lakukan oleh teman-teman kelasnya.


"Rasakan itu bawang putih, makanya jangan temenan sama Cinderella" Reno pura-pura mendorong tubuh Ayu hingga jatuh ke lantai dengan lemahnya.


Ayu memulai akting nya, menangis tersedu-sedu. Dia berperan sebagai bawang putih yang tersakiti.


Tiba-tiba Raya melompat datang langsung merangkul tubuh Ayu sambil menatap tajam ke arah Reno."Bawang merah apa yang elo lakuin sama bawang putih? Dasar jahat!"


Reno tertawa kencang seperti antagonis sejati."Diam lo Cinderella, mending elo pergi bawain semua baju kotor gue di laundry" Katanya bertolak pinggang, dengan tatapan angkuh.

__ADS_1


Gempi sudah tertawa tanpa suara melihat itu.


"Apa lo bilang, jangan seenaknya ya!" Raya berdiri lalu pura-pura menampar pipi Reno, sampai cowok itu menjerit lebay."Peri Elsa cepat bekukan mulut jahanam dia yang bau ba*gke itu"


"Baik Cinderella" Balas Ciko yang datang mendekat ke depan Reno lalu melakban mulut Reno yang sudah meronta-ronta.


Semua murid di kelas itu tertawa lepas.


Semua?


Mungkin tidak, untuk satu cowok yang duduk diam termenung di bangku pojok depan yang sejak tadi diam-diam menatap lekat gadis yang tengah sibuk haha hihi di tengah kelas sana.


"Yo, Gue suka sama lo"


"Gue 'suka' sama lo"


Yohan menghela nafas ucapan Gempi semalam kembali muncul di kepalanya, cowok itu kemudian membuang muka ke arah jendela kelas "Apa dia bercanda ya?" Bisik Yohan kebingungan sendiri. "Dia kelihatan biasa aja, malah gue yang gak berhenti kepikiran"


"Yo ke kantin" Ajak Hendra tiba-tiba nongol menepuk bahu Yohan pelan.


Yohan agak tersentak kaget, cowok itu menoleh linglung."Ha?"


Hendra mengernyit."Mikirin apa sih?"


Yohan diam sesaat kemudian menggeleng cepat dan berdiri."Ayo" Ajaknya yang lebih dulu berlalu pergi keluar dari kelas, tidak mau menghindari pertanyaan itu.


Meninggalkan Hendra yang memandangi Yohan dengan sebelah alis terangkat tinggi. Pemuda itu diam sebentar, lalu jadi menoleh pada Gempi yang kini sudah berhenti tertawa, dan terlihat jelas menatap lekat ke arah pintu kelas.


Hendra mecibir pelan lalu ikut beranjak pergi menyusul Yohan.


"Dia beneran ikutin saran gue ternyata" Gumam Hendra mengingat tingkah Gempi hari ini.


***


"Hen"


"Hm" Gumam Hendra menjawab itu.


Yohan diam merapatkan bibir, ia melirik Hendra sekilas lalu kembali menatap bakso di depannya yang belum ia sentuh sama sekali. "Menurut lo, kalau misalnya ada teman sekelas yang tiba-tiba ngomong kalau dia suka sama lo, elo bakal gimana?"


Yohan mengumpat."Gue serius"


Hendra terkekeh."Yaaa gak gimana-gimana sih kalau gue" Katanya santai."Kenapa, cewek di kelas kita ada yang confess ke elo sampai lo tiba-tiba nanya gue gini?"


Yohan mengerjap gelagapan, berusaha menghindari pandangan Hendra."Gak, cuman nanya doang"


Hendra mencibir pelan."Ikutin aja kata hati lo"


Yohan mengakat alis, menatap kembali Hendra yang tengah meneguk segelas air putih.


Namun Yohan jadi mencebik kesal saat Hendra kembali makan dengan santai tidak mengatakan apapun lagi membuat Yohan penasaran.


"Maksu–"


"Yohan"


Kedua cowok di meja itu sontak menoleh. Melihat sosok Manda tau-tau sudah berada di samping meja mereka.


"Gue mau ngomong sesuatu" Kata Manda pelan. "Soal yang kemarin"


Yohan merapatkan bibir, diam tak tau harus bereaksi apa.


Hendra sendiri hanya menatap sekilas lalu kembali melahap bakso di depannya tidak peduli banyak.


"Yo" Panggil Manda lagi saat Yohan hanya diam saja.


"Ngomong aja" Yohan menelan ludah."Di sini"


"Tapi–" Manda melirik Hendra sekilas, membuat Yohan mengerti."Sebentar aja Yo"


Yohan diam sesaat menimbang-nimbang, lalu kemudian mengangguk setuju.


Namun saat ia sudah berdiri dan nyaris keluar dari kursi, entah kenapa seolah ada magnet, kedua matanya bergerak ke arah pintu kantin begitu saja.

__ADS_1


Mendapati Gempi berdiri di sana bersama Wenda, Yolan dan kesya yang terlihat membisikan sesuatu pada Gempi.


"Kenapa Yo?" Tanya Manda bingung, lalu jadi ikut menoleh ke arah sesuatu yang tengah di pandangi oleh pemuda di sampingnya ini.


"Maaf Man" Yohan menoleh pada Manda. "Gue gak bisa" Katanya menolak, lalu langsung beranjak pergi menghampiri keempat teman cewek kelasnya itu.


"Yo–" Manda tidak sempat menahan, ia menatap sendu saat Yohan terlihat menggenggam tangan Gempi lalu menarik gadis itu pergi bersamanya entah kemana.


"Mending lo pergi dari sini"


Manda menoleh spontan pada Hendra yang tiba-tiba menyeletuk dengan intonasi datar."Ha?"


"Noh tiga teman cewek gue mau ke sini, mending lo pergi sebelum di amuk sama mereka"


Manda menggigit pelan bibirnya, lalu segera beranjak pergi dari situ.


****


"Yo kita mau ke mana?" Tanya Gempi saat tubuhnya masih terus di tarik Yohan menyusuri koridor yang cukup ramai ini. "Gue mau makan Yo"


Yohan diam saja tidak menanggapi, ia terus menarik Gempi dengan gurat wajah yang datar tak terbaca.


Gempi mendengus, akhirnya pasrah saja tubuhnya terseret-seret berusaha mengimbangi langkah panjang Yohan.


Hingga akhirnya kedua orang itu berhenti tepat di bawah tangga menuju rooftop sekolah.


Tempat yang paling jarang di lewati murid-murid sekolah ini.


"Kenapa?" Tanya Gempi berusaha menarik tanganya dari genggaman Yohan, namun yang ada Yohan malah semakin mempereratnya tak mau melepas.


"Gue mau ngomong"


"Iya tau, tapi ini lepas du–"


"Gak mau" Ucap Yohan malah menarik tangan Gempi, membuat tubuh gadis itu maju mendekat padanya.


"Yo?" Gempi menegak kaku."Lo kenapa?"


"Lo yang kenapa?"


"Gue?" Gempi menunjuk dirinya sendiri dengan gurat polos."Gue baik, sehat-sehat aja kok"


Yohan menghela nafas menahan diri."Bukan itu maksud gue"


"Terus?"


"Lo..." Yohan memberi jeda, ia menatap lekat kedua mata Gempi."Lo berneran suka gak sih sama gue?"


"Suka" Jawab Gempi begitu saja dengan santainya."emang kenapa?"


Yohan tertegun, dadanya berdesir aneh."Tapi kenapa hari ini lo biasa aja, seolah gak ada yang terjadi?" Tanya Yohan.


Gempi tersenyum simpul, lalu terkekeh pelan."Emang lo maunya gue kayak gimana? jadi pendiem, canggung kalau ketemu elo? Atau lo mau gue ngejauh?"


Yohan merapatkan bibir mendengar itu.


Gempi memandangi wajah Yohan lamat-lamat."Udah gak ada lagi kan? Kalau gitu gue pergi"


"Gege"


Gempi berhenti, kembali berbalik menghadap Yohan. "Apa?"


"Lo bilang, lo gak mau baper-baperan sama teman sekelas, menurut elo aneh"


Gempi tertegun, diam jadi hilang kata. Garis wajah gadis itu berubah perlahan.


"Lo juga bilang kalau itu terasa ribet buat elo" Yohan membasahi bibir bawahnya."Kenapa sekarang–"


"Yohan" Gempi langsung menyela, gurat wajahnya nampak datar."Kita lupain aja?"


Yohan langsung mengeryit dalam, bingung dengan ucapan gadis itu."Lupain apa?"


"Lupain aja kalau gue pernah bilang suka sama elo"

__ADS_1


***


__ADS_2