
"Kalem Yo kalem" Ciko meringis, pelan-pelan menjaga jarak dari cowok yang sejak tadi terus mengumpat kasar dengan jari-jari yang sibuk menekan kasar tombol stik pees.
Anak-anak cowok MIPA 2 seperti biasa datang berkumpul di rumah Hendra setelah pulang sekolah.
"Emang beneran si Gege ngomong gitu?" Tanya Sofi masih penasaran setelah mendengar cerita dari Yohan dan Hendra tadi.
Fakta bahwa Gege beneran suka sama Yihan dan sudah menyatakan perasaanya di kedai martabak.
Dan juga tentang kejadian di sekolah tadi, saat Gempi dengan santainya menyuruh Yohan melupakan saja apa yang sudah terjadi antara mereka.
Yohan tidak menjawab, gurat wajahnya begitu dingin saat ini.
"Gege mah sok cantik" Celetuk Toni sambil mengatur senar gitar.
"Lah emang cantik kok" Balas Reno tak santai.
Yohan langsung melirik ke arah Reno, begitu juga dengan anak cowok yang lain langsung menyoraki cowok itu.
"Noh Yo, si Reno belum moveon dari Gege, dah jelas kan alasan dia nolak Manda kemarin" Ucap Ciko kompor.
Reno mendelik tajam."Bacot lo" Balasnya sambil melempar bantal sofa ke arah Ciko yang dengan cepat menghindari itu."Bukan gitu Yo, jangan salah paham" Lanjut Reno menjelaskan panik.
"Ck berisik lo semua" Kata Yohan kesal sambil melempar stik pees begitu saja.
Hendra langsung melotot melihat itu."Woy!"
Yohan tidak peduli.
"Lah gue diam aja Yo" Kata Zeno yang duduk tenang di atas sofa menanggapi ucapan Yohan tadi.
"Gue juga" Timpal Yono sambil fokus pada hapenya membalas chat degem- degem (dede gemes sebutan untuk adik kelas cantik).
Yohan mendengus ia diam sesaat lalu menyeletuk kesal. "Kenapa sih cewek itu hobi banget mainin perasaan orang"
Mereka semua yang ada di situ kecuali Yohan jadi saling pandang, namun memilih diam saja mendengarkan keluhan temanya itu.
"Lupain aja?" Yohan terkekeh sumbang mengingat ucapan Gempi di sekolah tadi."Gampang banget dia nyuruh-nyuruh" Katanya sewot.
"Tapi Yo" Ciko tiba-tiba menyeletuk."Kenapa lo tersinggung, kan gak ada ruginya juga buat elo" Katanya heran."Lo kan gak suka sama Gege, kenapa di bawa ribet sih"
Yang lain mengangguk setuju.
Yohan sendiri jadi tertegun, tiba-tiba menyadari itu. "Eh?" Beonya.
"Lo baper ya?" Tanya Yono curiga.
Yohan mengerjap, lalu membuang muka."Enggak" Katanya mengelak.
"Ahhh yang benerrr" Goda Reno iseng, mambuat Yohan langsung melayangkan tatapan tajam.
__ADS_1
"Udah minkiem aja lo" Hendra langsung membekap mulut Reno dengan telapak tangannya.
"Menurut gue, Gege punya alasan ngomong kayak gitu" Zeno tiba-tiba menyeletuk.
Yang lain langsung meoleh ke arahnya.
Zeno berdehem pelan."Mungkin aja kan, atau kalau mau tau lebih jelasnya tinggal lo tanyain langsung sama Gege" Katanya menatap ke arah Yohan.
"Nah itu Yo?" Reno menjentikan jari."Mending lo tanyain langsung sama Gege, alasan dia ngomong gitu tuh apa"
Yohan termenung, cowok itu jadi memikirkan ucapan dari Zeno itu."Gitu?"
Teman-temannya mengangguk kompak.
Yohan menelan ludah, ia diam lama. Lalu tiba-tiba berdiri meraih jaket di atas meja dan berjalan menuju pintu keluar.
"Mo kemana lo?" Teriak Hendra keheranan.
"Nyamperin Gege" Balas Yohan tanpa menoleh. Terus melangkah hingga keluar dari rumah besar Hendra itu.
Cowok itu keluar dari pintu pagar, kemudian berjalan ke arah rumah di depan sana.
Masuk ke dalam, Yohan kini berdiri di depan pintu rumah yang tertutup rapat lalu menekan bel tiga kali.
Tak lama setelahnya, muncul seorang wanita cantik paruh baya yang terlihat menatap Yohan penuh tanya.
"Temanya Gempi ya?" Tanya wanita itu saat melihat seragam sekolah yang Yohan kenakan.
Wanita itu tersenyum lembut."Gempi nya belum pulang"
"Ha?" Yohan menatap heran, ia lalu menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganya yang menunjukan pukul tujuh malam.
"Katanya ada rapat ekskul radio" Kata wanita itu menyadari gurat khawatir yang nampak jelas di tunjukan Yohan.
Yohan langsung ber-oh panjang, mengangguk pelan sambil tersenyum kembali."Kalau gitu aku pamit dulu tante, em...." Yohan nampak memikirkan sesuatu."Kalau Gegenya dateng, gak usah kasih tau kalau saya mampir ya tante"
Wanita itu mengangkat alis lalu terkekeh pelan."Iya aman" Katanya."Tapi kalau boleh tau nama kamu siapa nak?"
"Yohan tante" Jawab Yohan tenang.
Wanita itu nampak diam sesaat lalu tiba-tiba terkekeh pelan."ohh jadi kamu toh"
"Ya?" Tanya Yohan bingung.
Wanita itu menggeleng pelan."Gak kok lupain aja" Ucapnya menahan tawa.
Yohan meringis lalu akhirnya pamit undur diri.
Namun saat ia berbalik pergi dan keluar melewati pintu pagar rumah Gempi. Sebuah motor besar berwarna biru berhenti tepat di depannya.
__ADS_1
Seorang cowok yang yang entah siapa, Bersama Gempi di boncengannya.
"Makasih Vin" Ucap Gempi turun dari motor itu, belum menyadari kehadiran orang lain di depan rumahnya itu.
Cowok bernama Kelvin itu melepaskan helm lalu tersenyum manis pada Gempi yang sibuk merapikan rambutnya. Namun saat merasa tengah di pandangi seseorang, Kelvin jadi menoleh dan tertegun.
Mendapi Yohan tengah berdiri diam di depan pintu pagar rumah Gempi.
"Ge"
"Hm?"
"Itu bukanya teman elo?"
"Siapa?" Gempi mengernyit, bersamaan dengan itu kepalanya menoleh.
Dan tepat saat itu juga, tetapan mereka bertemu.
Gempi langsung menegak, dengan kedua mata melebar kaget. "Yohan?"
Yohan menelan ludah, entah kenapa tiba-tiba merasa tersinggung. Cowok itu kemudian menggerakan langkah mendekat ke arah dua orang itu.
"Baru pulang?" Tanya Yohan dengan intonasi datar pada Gempi.
Gempi mengerjap, lalu mengangguk kaku."I-iya" Jawabnya sambil menggaruk kepala canggung."Lo kok di sini, nyariin gue ya, Kenapa?"
Yohan membasahi bibir bawahnya."Tadinya mau ada yang gue tanyaiin" Katanya.
"Apa?" Tanya Gempi gugup melihat sorot mata berbeda dari cowok di depannya ini.
Yohan menggeleng."Gak jadi" Cowok itu tersenyum tipis."Soalnya gue udah tau jawabnya" Lanjutnya sambil melirik sekilas ke arah Kelvin yang diam tak paham.
Gempi merapatkan bibir, membalas tatapan Yohan yang nampak dalam.
Gempi tidak mengerti, namun saat ia nyaris membuka mulut untuk melontatkan pertanyaan, Yohan malah langsung melongos kasar dan berlalu pergi dari hadapan Gempi menuju ke rumah Hendra.
Gempi terdiam kaku di tempat, tak dapat menahan pemuda itu.
Hingga tak lama setelahnya, dari arah dalam rumah Hendra, Yohan keluar mengendarai motor besar hitamnya, melaju cepat begitu saja tanpa menoleh pada Gempi sama sekali.
Gempi juga bisa melihat beberapa teman cowok kelasnya yang keluar ramai-ramai dari rumah Hendra, melihat kepergian Yohan.
"Tuh anak kenapa tiba-tiba pulang gak ada pamit?"
Gempi samar-samar bisa mendengar pertanyaan bingung Toni itu.
Kelvin yang sejak tadi diam saja menyaksikan jadi menatap Gempi tidak enak."Ge?"
Gempi terhentak pelan."Eh Ya?" Sahutnya agak linglung.
__ADS_1
"Gue..kayaknya buat salah deh" Ucapan Kelvin itu membuat Gempi tertegun, dan terdiam seolah hilang kata.
***