WAKETU GAMON (SHS 1)

WAKETU GAMON (SHS 1)
Kalah Telak


__ADS_3

Pagi itu, sebagian dari anak 11 MIPA 2 terlihat sedang berkumpul di bangku pojok depan dekat pintu kelas. mendiskusikan sesuatu.


Wenda duduk di tengah, yang lain duduk mengelilinginya, ada Reno yang duduk di atas meja, tepat di bawahnya ada Toni yang lesehan dengan Ciko, Ayu duduk di bangku tepat di belakang Wenda sibuk menyalin tugas dari buku Zeno namun tetap ikut mendengarkan bahkan sesekali sempat menyeletuk, Raya dan Kesya berdiri dekat pintu kelas jaga-jaga jika ada yang datang, Suli berdiri samping kursi Wenda nampak serius walau sesekali terusik dengan gangguan-gangguan kecil dari Yono yang berdiri di belakangnya.


"Pokoknya kalau Gege nya datang kita harus kelihatan happy, gak usah ada yang nanya 'lo gak papa Ge' atau 'masih Galau?' paham kan?" Wenda berbisik-bisik menyarankan, yang lain mengangguk mengerti.


"Anak-anak cowok mulutnya di lakban aja teh biar diam" Balas Raya serius, mengingat jika cowok-cowok di kelas ini sering menghancurkan suasana dengan celetukan sampah mereka.


Reno mengangkat alis, kemudian menyeletuk."Lah Yohan juga dong, tapi kan dia yang jadi pelaku utamanya sekarang?"


Toni mengumpat tertahan. "Ren, bego lo jangan kumat dulu"


"Lah gue? Cacing kremi noh yang mulai" Balas Reno tak terima.


"Siapa yang lo maksud cacing kremi?"  Tanya Raya langsung tersulut.


"WOHUUUU AYO BERANTEM AKU GAK SUKA KALIAN DAMAI" Kata Yono langsung berseru heboh membuat Suli yang sempat terperanjat kaget dengan telinga yang berdengung sakit langsung berbalik segera membekap mulut cowok itu agar diam.


"Udah-udah, kalem dulu" Kata Wenda langsung menengahi saat Raya sudah bersiap maju menjambak rambut Reno.


Raya mendengus, melotot tajam pada Reno yang menarik diri bersembunyi di samping Ciko. "Tuh kan, ini nih yang gue maksud"


Wenda menghela nafas. "Kita bersikap biasa aja kayak biasanya, seolah gak ada apa-apa". Katanya kemudian menatap serius anak cowok yang ada di situ. "Kalian jangan buat ulah, nanti ingetin Sofi kalau udah dateng"


Semuanya diam, mengangguk menuruti ucapan itu.


"Eh tapi si Gege emang beneran galau?" Tanya Ciko tiba-tiba, memandang teman-temannya penuh tanya."Gue sebenarnya agak heran, kenapa kita harus sampe kayak gini?"


"Ck, lo gak liat kemarin tuh anak nahan nangis, jelas banget njir" Sahut Ayu tidak menoleh, matanya fokus membaca barisan kalimat di buku Zeno kemudian lanjut lagi menyalin di bukunya sendiri.


"Ho-oh, suaranya ampe getar gitu kek nada dering nokia" Balas Kesya sudah ngasal.


Ciko menipiskan bibir, melihat teman-temannya jadi diam kini memandanginya lurus. "Coba kalian mikir-"


"Si Reno gak usah di ajakin mikir, dia gak punya otak"


Reno yang tadinya sudah serius jadi mengumpat langsung mendelik tajam pada Yono yang tersenyum meledek.


Toni tertawa senang melihat itu, kemudian kembali melihat Ciko."lanjut Ko"


"Coba kalian mikir, selama ini Gege gak kelihatan baper sama Yohan kan?tuh anak lempeng-lempeng aja walau Yohan sering ngasih perhatian lebih ke dia, siapapun pasti nyadar kalau perlakuan Yohan sama Gege melebih batas wajar dalam hubungan pertemanan" Jelas Ciko panjang lebar.


"Tapi Gege kelihatan biasa aja selama ini, cuman orang-orang di sekitar mereka aja yang suka nebak-nebak dan nyimpulin sendiri, Gege aja sering ngomong kalau dia sama Yohan gak ada apa-apa, kita kayak gini gak berlebihan?"


Semuanya diam, jadi mikir.


"Tapi reaksi Gege yang kemarin itu bikin kepikiran loh" Kata Ayu yang kini manganggurkan buku di depannya. "Tadi malam aja dia gak ikut nimbrung di gc kelas kayak biasa, seolah lagi ngehindar"


"Habis kuota kali" Balas Yono santai. Yang lain langsung diam lagi.


"Tapi menurut gue ya" Raya kali ini jadi merapat, menjauh dari pintu kelas. "Gege beneran baper deh, bisa jadi dia baru nyadar sama perasaanya pas kita ngomongin Yohan sama Manda kemaren atau, bisa jadi sebelum itu". Kata gadis itu mulai mengeluarkan opini nya, yang lain langsung ikut merapat mendengarkan seksama."Bisa jadi Gege gak bohong pas bilang dia gak baper sama Yohan, secara tuh anak kan emang hatinya batu, kalau gampang ambyar mah udah dari lama si Gege pacaran sama cowok-cowok yang deketin dia." Raya merapatkan bibir memandang teman-temannya yang terlihat mengangguk-angguk seolah setuju.


"Lah kalian paham? Kok gue enggak?" Ciko menyeletuk heran, menghancurkan suasana serius yaang sudah tercipta.


Yang lain langsung menatapnya penuh hujatan, sebagian mengumpat kasar.


"Karena lo bego" Jawab Ayu pedas yang kembali menulis.


Ciko mendelik, lalu mencibir."lagian Si siren ini ngomongnya belibet, muter-muter dari tadi" Katanya membela diri.


Ohiya, satu fakta yang tidak penting, gadis bermata bulat dengan garis wajah lembut yang bernama asli Raya Ananda, itu sering di kaitkan dengan nama tokoh pemeran di sinetron putri duyung, Indah-Astrid-Raya. Ya, hanya karena namanya Raya.


Tapi kata Ciko. 'Bukan putri duyung woy, putri duyung mah bae, dia tuh Siren, Raya siren yang jahat'


Dan akhirnya anak cowok lain jadi mengikuti karena setuju.


Yah nggak heran, semua cowok MIPA 2 kan satu otak.


Raya langsung ingin maju menerjang Ciko namun langsung di tarik mundur Kesya menenangkan gadis itu.

__ADS_1


"Kalem Ray kalem, istighfar astaghfirullahalazim" Kata Reno mengingatkan dengan heboh.


"Gak usah di tanggepin Ray, lanjut aja" Ucap Wenda setelah menabok pelan kepala Ciko, menyuruhnya diam saat cowok itu hendak kembali menyeletuk belum mau diam.


Raya mendengus, kemudian mendesah pelan menenangkan diri. "Mungkin aja baru-baru ini, ada satu hal yang di lakuin Yohan, yang akhirnya berefek sama Gege" Katanya menyimpulkan."Lagian kalian nyadar gak sih? akhir-akhir ini Gege agak lain, setiap kita ceng cengin dia sama Yohan tuh anak kalem aja, gak mengelak kayak biasanya"


Anak-anak kelas tampak melebarkan mata dengan tubuh menegak, saling melempar pandangan tak terbaca.


"lah iya ya, gue baru nyadar"


"Hm, masuk sih" Kata Suli, bergerak melipat tangan di depan dada. "Jadi–"


"Ngapain?"


"HWAHHHHHH!!!"


"ASTAGHFIRULLAH!!"


"Eh ayam ayam!"


Semuanya langsung menoleh kompak, melihat kini sosok Yohan Pangestu sedang berdiri di ambang pintu kelas memandang kumpulan di  meja pojok itu penasaran. "Tumben kalem, biasanya udah rusuh?" Katanya terheran-heran.


Semuanya langsung gelagapan,  Wenda langsung pura-pura membuka buku LKS di atas meja berlagak membaca dengan serius.


Ayu yang sudah selesai menyalin tugas langsung melumpat ke tengah kelas bersama Toni, Roni, dan Yono tiba-tiba heboh konser dadakan.


Ciko berdehem pelan, bingung harus apa, namun akhirnya melangkah ke belakang kelas mengambil sapu ijuk dan bergabung bersama human-human yang sudah menggila di tengah kelas itu.


Kesya terlihat mengacungkan HP ke atas, bersama Suli dan Raya kini sudah say hello di kamera membuat instastory.


Yohan diam memandangi itu lama, namun akhirnya jadi bergerak masuk ke dalam kelas tidak peduli banyak, walau sempat di buat heran dengan keaneh teman-temannya itu, Yohan langsung segera menyadarkan diri kalau ini 11 MIPA 2, memang sejak kapan murid-murid di kelas ini kelakuanya jelas.


"YOOO WASAPPPPP"


Satu orang lagi masuk ke dalam kelas.


Seorang gadis dengan suara cempreng andalanya melangkah masuk dengan riang tersenyum lebar menyapa orang-orang di dalam ruangan itu yang spontan menoleh kaget.


Gempi yang melihat itu tidak melunturkan senyum cerianya. "Kenapa? terpesona ya? sudah ku duga memang gaya rambut baru gue ini mampu membuat rakyat-rakyat jelata yang ada di sini jadi tersihir" Katanya menyerocos santai.


"Iya, lo kan nenek sihir" Seseorang dari arah belakang menyeletuk sinis, Hendra menoyor pelan kepala Gempi lalu berjalan melewati gadis itu dengan santai.


Gempi mendelik, belum juga sempat membalas, satu orang lagi yang tadi masuk ke kelas bersama Hendra langsung menyeletuk iseng. "Lah Ge? Lo bukanya nenek tappasa?"


Gempi mengumpat kasar, langsung menerjang Sofi menjambak rambut cowok itu beringas, kepala Sofi bahkan sampai ikut tertarik-tarik dengan lemahnya.


"ASTAGHFIRULLA" Reno langsung melompat mendekat, membuat yang lain langsung tersadar ikut mendekati kerusuhan itu. "SIAPA KAMU?, DARI MANA ASALMU?, KELUAR SEKARANG JUGA!!" Kata Reno heboh malah jadi ruqyah.


"Ge si Sofi ganteng cuman modal rambut, kalau lo botakin nanti degem degem nya langsung bubar ninggalin dia" Ini Yono bukanya bantu melerai ia hanya melompat-lompat tidak jelas.


"Jambak lagi Ge, siapa tau habis ini begonya Sofi langsung hilang" Kalau ini Toni yang bagaikan iblis berbisik di telinga kiri Gempi.


"Kalem Ge, cewek-cewek MIPA 2 harus anggunly" Wenda berusaha menarik tubuh Gempi menjauh.


"HEH APA NIH, KENAPA?" Maya yang baru datang langsung ikut heboh menyeruak penasaran ingin tau.


"Biasalah, pertunjukan topeng gorila" Jawab Ciko yang mengacungkan HP merekam itu, Kesya juga langsung mengambil kesempatan mengabadikan momen itu di masukan di ig story.


Yohan yang sebelumnya sempat terhenti dan bengong sesaat di depan meja guru, kini langsung bergerak maju menghampiri kerusuhan yang terjadi di pagi hari ini. Cowok itu menyeruak, mendorong wajah Reno mundur, kemudian manarik kerah belakang seragam Toni menjauh dari Gempi, setelahnya barulah Yohan berusaha melepas jambakan erat gadis itu di rambut Sofy yang sudah menjerit lebay.


"Udah Ge" Suara berat yang terdengar serak dari Yohan itu mengalun lembut bagai mantra yang mampu membuat Gempi berangsur-angsur tenang, melepaskan Sofy begitu saja.


"RA-RAMBUT GUEEEE!" Sofy terlihat shock saat melihat beberapa helai rambutnya di telapak tangan Gempi."GE! ELO CEWEK BUKAN?!?!"


Yohan langsung mengusap kasar wajah Sofy menyuruh diam. "Sanah lo, makanya mulut tuh jangan sangpah mulu" Katanya kalem, kemudian menarik Gempi menjauh.


Reno, Yono, Toni dan Ciko menertawai itu dengan puas, membuat Sofy melotot sengit langsung menerjang mereka.


"Ck, elo tuh jangan dikit-dikit jambak Ge" Tegur Yohan halus, masih menggengam pergelangan tangan Gempi menarik gadis itu ke bangku barisan ke tiga di deretan ke dua dekat jendela. Tempat duduk Gempi.

__ADS_1


Gempi mencibir pelan, namun langsung mengulum bibir ke dalam saat Yohan menoleh.


"Kalem dulu, masih pagi juga" Kata Yohan berdiri di samping meja saat Gempi telah duduk di kursinya.


"Ck iya elahh, lagian dia duluan, itu si Hendra sebenarnya mau gue jambak juga" Katanya sensi, kemudian menatap Yohan yang masih diam berdiri di samping mejanya menatap Gempi lekat.


Gempi mengernyit heran."Kenapa? Sonoh ke bangku lo" Katanya mangusir.


Yohan sontak mengangkat sebelah alis, kemudian menarik sudut bibir tersenyum tipis. "Masih pengen di sini" Katanya santai.


Gempi langsung mendelik, kemudian berdehem pelan mengendalikan diri. "Ck, Apaan sih, mau ngegosip? Nanti aja masih pagi nih" Katanya meracau asal.


Yohan diam merapatkan bibir, kemudian tanpa kata memutar posisi kursi di depan bangku Gempi hingga menghadap tepat pada gadis itu kemudian duduk di sana.


"Heh gue mo duduk" Maya yang baru ingin meletakan tas langsung mendelik melihat kelakuan si wakil ketua kelas itu. "Balik ke bangku lo sanah"


"Bentar dulu" Balas Yohan santai kemudian kembali memandangi Gempi, membuat Maya hanya dapat membuka mulutnya tanpa suara seolah kehilangan kata.


Gempi yang sejak tadi melihat itu hanya menggeleng pelan, kemudian mengeluarkan HP dari dalam tas dan mulai menjelajahi akun Instagram seseorang, hingga cowok yang duduk di depannya ini tiba-tiba menyeletuk membuat fokus Gempi buyar dan nyaris menjatuhkan hpnya.


"Lo marah juga ke gue?"


Ucapan yang terdengar memelas itu membuat Gempi yang sejak tadi mencoba tak peduli akhirnya mendongak, menatap Yohan tenang. "Paan?"


Yohan diam sesaat, kemudian berdecak."Kok gue juga di jutekin sih? yang gangguin elo kan Sofy sama Hendra, Ge" Katanya mengeluh.


Gempi mengerjap. "Ha?"


"Gue ada salah?"


WADUHHHH GAK TAU YA, BODO AMAT!!!


Gempi merapatkan bibir, menahan diri. "Gak ada elahhh, eh gimana sama gaya rambut gue, kemarin di ajakin mama ke salon" Katanya langsung berubah drastis, sebenarnya berusaha mengalihkan pembicaraan.


Gadis itu kini meletakan kedua siku di atas meja lalu menopang dagu dengan mata yang di kedip-kedipkan sok cantik.


Gerakan spontan yang membuat Yohan tanpa sadar melebarkan mata memandangi itu lama.


Berbeda dengan anak kelas yang sudah melongo bingung memandangi gadis itu.


"Cantik ga? Kalau kata Mama gue cantik, papah juga sama, cuman abang gue malah ngatain gue kayak dora" Gempi mendengus."Di pikir cuman dora kali yang bisa ponian" Katanya kesal, namun kembali merubah gurat wajah, dengan senyum yang terukir manis."Menurut lo?"


Yohan menipiskan bibir, diam lama memandang wajah itu, makin lama di tatap membuat kedua sudut bibir Yohan tertarik membentuk senyuman manis dengan sendirinya. "Cantik kok" Katanya yang tanpa sadar sudah mengulurkan tangan menyentuh juntaian helai rambut yang menutupi jidat gadis itu. "Lo makin cantik ya Ge" Ucap Yohan santai.


Tanpa menyadari jika yang dia lakukan berefek besar pada gadis di depanya itu.


Gempi diam terpaku, saat jemari cowok di depannya ini menyentuh lembut rambutnya, Gempi spontan menahan nafas.


Tatapan Yohan yang teduh seolah menjerat Gempi hingga tak bisa mengelak.


TEPIS TANGANYA WOY, TEPISSSS!!!!


Otaknya sekarang sudah kacau berteriak menyadarkannya, namun tidak bisa, Gempi tetap diam.


Hatinya sudah terlanjur ambyar tak karuan karena cowok ini.


IYA AMBAYAR!


Soalnya....... INI YOHAN PANGESTU LOH!


BUKAN RENO, SOFI ATAU YONO YANG EMANG ALIGATOR HOBI NYEPIK.


BUKAN JUGA TONI ATAU CIKO YANG BUAYA CILIWUNG!


INI YOHAN, COWOK GANTENG YANG KALEM!


GIMANA GAK BIKIN GEER!


Wenda yang menyaksikan itu dari tempat duduknya hanya bisa menghela nafas, tak bisa berbuat banyak saat melihat jelas Gempi yang terpaku, lagi-lagi kalah telak.

__ADS_1


"Padahal semalam udah gue ingetin panjang kali lebar" Gumam Wenda lelah sendiri mengingat percakapannya dengan Gempi lewat telfon semalam. "lagian tuh anak ngapa malah mancing sih, ujung-ujungnya malah dia yang kalah telak gini, kan?!" Lanjutnya jadi gemas.


***


__ADS_2