
"Iya-iya elah bawel lo"
Panji menggeleng pelan lalu dengan santainya menyentil jidat Gempi membuat gadis itu menjerit pelan."Elo tuh di khawatirin malah sewot" Kata pemuda itu tak habis pikir.
Barusan mereka berpapasan di tengah koridor, Panji yang sempat mendengar kabar Gempi pernah masuk UKS karena magh nya kambuh langsung mengomeli gadis itu.
"Ck, bodo lah" Balas Gempi masa bodo, lalu melirik sekilas gadis mungil yang berdiri di samping Panji sejak tadi terus memandangi Gempi sinis.
Gempi langsung melotot galak sambil memeletkan lidah membalas.
"Gue pergi dulu" Kata Gempi setelah puas menjahili cewek Panji itu."Tatatititutu" Ucapnya asal kemudian berlari pergi meninggalkan dia orang itu.
"Kak Gempi tadi pelototi aku" Cewek yang berdiri di samping Panji mengadu sambil mengerucutkan bibirnya lucu.
Panji menoleh, ia tersenyum manis saat gadis itu mencengkram erat ujung lengan seragam Panji. "Kamu sih liatin dia sinis banget" Katanya terkekeh geli."Gege emang gitu, jangan di anggap serius"
Cewek itu merapatkan bibir melihat binar di kedua mata Panji saat menceritakan cewek bernama Gempi julianti itu. "Iya deh" Ucapnya jadi dongkol.
Di lain sisi, Gempi yang tengah berjalan santai menyusuri koridor kelas sebelas sambil bernyanyi nyaring tak tau malu itu tidak menyadari jika ada seorang gadis yang datang mendekat dari arah belakang hingga akhirnya ikut berjalan di samping Gempi.
"Biar diaaa rasakan sendiri, betapa gilanya cintakuuuu..asek asek!" Gempi berseru heboh, sampai orang-orang di koridor jadi menoleh dan menertawai itu geli.
"Aku memang pencinta lelakiii namun ku bukan buayaaaa.. " Lanjut Gempi bernyanyi dengan lirik yang ia rubah.
"Yang setia pada seribu priaaa.. Ku hanya mencintai diaaa.. "
"Mantappp"
Gempi sontak berhenti dan menoleh kaget, mendapati kini Manda sudah berjalan tepat di sampingnya sambil tertawa lepas.
"Lah sejak kapan?" Tanya Gempi terheran-heran.
"Barusan" Jawab manda kalem."Pensi nanti lo ikutan tampil aja Ge, seru pasti"
"Eh?!" Gempi mengerjap, lalu menyeringai. "Boleh juga, oke deh nanti gue omongin sama Panji" Ucapnya kesenangan.
Gantian Manda yang melongo, Padahal tadi dia cuman bercanda.
Dasar Gempi.
"Mau kemana lo?" Tanya Gempi pada Manda yang sejak tadi belum juga pergi padahal mereka sudah melewati dua belokan koridor.
"Ke kelas elo" Jawab Manda malu-malu.
Gempi mengangkat alis lalu mencibir pelan."Yakin lo? Reno kalau jam kosong begini pasti lagi konser dadakan sama komplotan koplo nya, awas jadi ilfil lo nanti"
Manda terkekeh pelan lalu menggeleng. "Malahan lucu Ge, gue pengen lihat dia yang heboh kayak gitu"
"Hm?" Gempi mengernyit samar melihat gurat wajah Manda berubah menyendu."emang kalau di depan elo dia gimana?"
"Jutek banget"
Gempi speechless. "Serius lo?"
Manda mengangguk.
"Reno? Jutek?"
"Iya Ge" Jawab Manda tertawa.
Gempi merapatkan bibir jadi diam saat mereka telah tiba di depan pintu kelas MIPA 2 itu.
"Mau ikut masuk?" Tanya Gempi berhenti sesaat, menatap Manda.
"Mau, pengen liat Reno" Jawab Manda apa adanya.
Gempi tersenyum geli lalu mengangguk, gadis itu kemudian melangkah lebih dulu masuk ke dalam kelas.
Namun.
Suasana di dalam kelas itu membuatnya terpaku diam nampak heran.
Hening.
Kelasnya tidak kosong, namun suasana di kelas itu begitu senyap.
Tumben?
__ADS_1
"Napa nih, adem banget" Celetuk Gempi menghampiri Wenda yang duduk di samping Reno.
Tidak ada yang menanggapi.
"Kok diam? Sariawan berjamaah ya lo pada?" Tanya Gempi tak paham, namun jadi mengangkat alis saat menyadari tatapan sinis anak-anak kelas kini tertuju ke arah orang yang berdiri di belakang Gempi.
Manda.
"Ngapain lo kesini?" Raya berdiri datang menghampiri, hingga akhirnya berdiri tepat di depan Manda dengan mata yang sudah melotot galak. "Mau tambah bikin kacau ha?" Tanyanya dengan intonasi sinis yang kentara.
Manda yang tiba-tiba di damprat begini jadi gelagapan tak tau menau."Ha apa maksudnya?"
Gempi mengangguk polos."Iya, apa maksudnya?"
Wenda berdecak pelan, diam-diam melirik pada Hendra penuh arti.
Hendra yang mengerti itu, langsung bergerak maju menarik Raya mundur. "Jangan lagi Ray"
Gempi mulai curiga, apa lagi saat kembali menoleh pada Wenda, ia jadi salah fokus.
Tanpa sengaja menatap wajah Reno yang sejak tadi diam tidak heboh seperti biasa.
Nampak jelas ada lebam di beberapa bagian wajah cowok itu.
"Lo habis tubir?" Gempi tanpa sadar meninggikan suara, membuat Manda jadi menoleh kaget ke arah Reno. "Sama siapa heh?!"
Tidak ada yang menjawab. Reno semakin menunduk dalam menyembunyikan wajah.
Gempi menggeram pelan, matanya bergerak mencari seseorang."Yohan mana?"
Hendra yang melihat itu jadi tak tahan akhirnya menyeletuk membuat anak-anak kelas langsung menoleh menatapnya tajam.
"Yohan pergi, barusan habis tonjok-tonjokan sama nih anak satu" Kata Hendra santai sambil menunjuk Reno tanpa beban.
Gempi melebarkan mata, jantungnya mencelos begitu saja mendengar itu.
"Terus... Kenapa kalian semua ada di sini?" Tanya Gempi seolah tak percaya. "Satu orang aja, gak ada yang pergi nyusul Yohan?"
"Ge–" Ucapan Wenda terpotong begitu saja saat Gempi langsung berlari cepat keluar kelas tanpa mau mendengar alasan apapun dari teman-temanya.
Meninggalkan Manda yang diam termangu, menerima sorot tajam yang di berikan murid kelas MIPA 2 padanya.
***
Namun tidak ada.
Di mana cowok itu?
"Nyari siapa Ge?"
Tanya seorang Pemuda saat Gempi melewati lapangan basket.
Banu, si kapten basket itu datang menghampiri.
Gempi menelan ludah, tenggorokanya terasa kering, ia haus. "Minta minum dong" Katanya melihat botol minuman yang di pegang Banu masih penuh, sepertinya belum di sentuh oleh cowok itu.
Banu mendelik. "Ogah, Punya gue" Katanya dengan lagak persis bocah SD tengil.
Gempi mengumpat, lalu melotot tajam. "Cepetan!"
Banu memajukan bibir bawah, lalu dengan pasrah memberikan botol itu pada Gempi dengan ogah-ogahan."Jangan sampe kena bibir, awas lo" Katanya mengancam.
Gempi mendengus, lalu minum dengan tenang.
"Nyari siapa?" Tanya Banu lagi, Kepo.
Selesai meneguk air di botol itu, Gempi kini memandangi Banu tak berminat. "Yohan"
"Hm?" Banu mengangkat alis."Tadi gue sempet lihat dia jalan ke arah kantin"
"Udah gue cariin ke sana, gak ada" Kata Gempi malas.
"Yaudah sih, biasa aja dong muka lo" Cibir Banu, lalu dengan iseng menusap kasar wajah Gampi dengan telapak tangan nya.
"ANJ–WOY!" Teriak Gempi kesal saat Banu sudah berlalu cepat menghindari amukan Gempi.
"Dasar upil badak" Cibir Gempi sambil beranjak dari situ, namun baru mengambil dua langkah.
__ADS_1
Gadis itu berhenti.
Dengan garis wajah perlahan berubah.
"Kantin?...Gue belum cek di belakang kantin" Ucap nya berbisik, lalu kemudian langsung berlari cepat menuju kantin.
Tiba di sana, Gadis itu segera bergegas ke belakang kantin tanpa memperdulikan beberapa orang yang menyapanya.
Dan Ya.
Ada Yohan di sana.
Sedang merokok.
Dengan penampilan yang kacau.
Seragam yang selalu tampak rapi kini terlihat acak-acakan.
Gempi menggigit bibir bawahnya melihat itu.
Seorang Yohan yang sering menolak jika Hendra mengajaknya merokok dengan alasan tidak suka dengan bau asap rokok.
Sekarang berani mengisap batang nikotin itu tanpa beban.
"Gue cariin elo, malah mojok di sini"
Yohan sontak menoleh dengan kedua mata melebar kaget. "Ge?" Cowok itu gelagapan, lidahnya terasa kelu, kemudian dengan gerakan spontan melempar barang rokok itu begitu saja.
Gempi tidak menanggapi itu, gadis itu mendekat kemudian berdiri tepat di depan Yohan yang duduk bersandar di dinding kantin. "Uang lo habis?"
"Ha?" Yohan mengerjap tidak paham.
"Lo patah hati, bukanya ke kafetaria atau bolos ke Xiecup, ini malah mojok di belakang kantin" Cibir Gempi santai. Ia kemudian menekuk kedua lutut, jongkok berhadapan dengan Yohan. "Kenapa sih, elo bukan orang yang gampang kemakan emosi" Ucapnya lembut.
Yohan merapatkan bibir balas menatap tepat kedua mata Gempi, perlahan cowok itu menarik kedua sudut bibir tersenyum lemah.
"Gue... Sayang sama Manda Ge"
Gempi tanpa sadar menahan napas, hatinya mencelos mendengar itu.
"Makanya, pas tau kalau Manda suka sama Reno.. Gue gak bisa nahan diri" Ucap Yohan terdengar begitu sakit.
Gempi diam, menggigit sudut bibirnya mengendalikan diri.
"Gue ngerasa bodoh, selama ini dari bekal makanan yang sering dia kasih ke gue, mulai mau gue anterin pulang. Gue jadi mikir mungkin aja masih ada harapan, tapi Ge–" Mata Yohan menyendu. "...semua itu ternyata bukan buat gue, Perhatian yang dia kasih bukan buat gue, selama ini gue cuman salah paham"
Yohan terkekeh hambar."Gue bodoh banget"
Gempi menelan ludah, ia perlahan tersenyum tipis menenangkan, tangan kanannya terulur mengusap lembut kepala Yohan. "Yo, Reno gak tau kalau Manda suka sama dia"
Yohan diam, kepalanya menunduk dalam.
"Setiap Manda ngasih dia bekal makanan, Reno mikirnya itu buat elo dan dia cuman perantara aja, jadi dia malah ngasihnya ke elo, tuh anak emang tolol sih" Gempi membasahi bibir bawahnya."Reno juga selalu nolak setiap Manda ngajak pulang bareng karena, dia ngejaga perasaan elo"
Gempi tersenyum miris."Jangan berantem ya, habis ini harus baikan"
Yohan mengangkat kepala, menatap Gempi cukup lama hingga akhirnya perlahan kedua sudut bibir pemuda itu tertarik membentuk senyuman manis.
"Nanti aja deh pas lebaran"
Gempi mendelik."HEH!"
Yohan tertawa, suasana hatinya membaik begitu saja.
"Makasih ya" Ucap cowok itu tulus.
Gempi diam, mengangguk saja menanggapi itu.
"Gemes banget sih" Kata Yohan dengan santainya mengacak pelan puncak kepala Gempi sambil tersenyum ganteng.
Gempi langsung membeku, terpahan tepat. Dia ambyar lagi.
Sial!
Gak jadi galau.
"Ge" Yohan memanggil lembut membuat Gempi langsung mengerjap cepat tersadar."Bolos Yuk"
__ADS_1
"Eh?"
****