
Sore itu, di indomaret yang letaknya tak jauh dari sekolah. Dua orang murid yang mengenakan seragam khas Starla high School itu terlihat berdiri di depan freezer.
Awalnya niatnya mau beli pembalut, memanfaatkan jam istirahat kedua yang sedang berlangsung. Namun entah kenapa mereka malah berujung di tempat ini. Membeli minuman.
"Mua beli kiranti Ge?"
"Diam lo" Kata Gempi galak.
Yohan diam lagi.
"Nih, nanti elo harus ngasih ini sama Reno" Gempi memberikan satu kotak susu vanilla. "Minta maaf sama dia"
Yohan mengernyit menerima itu."Geu emang mau minta maaf tapi Ge, kenapa harus ngasih beginian sih, geli anjir"
Gempi melotot gemas."Ck ah, ikutin aja saran gue, Reno itu suka susu Vanilla"
Yohan langsung mengangkat sebelah alis mendengar itu."Kok elo tau?" Tanyanya menyipitkan mata curiga."Lo perhatiin dia banget ya?"
"Ha?" Gempi mengerjap cepat."Lah elo gak tau kalau dia suka susu Vanila?"
Yohan menggeleng.
"Tuh anak sering beli susu vanila woy, anak kelas pada tau kok" Kata Gempi sambil melipat tangan di depan dada."Udah ah, pokoknya lo kasih dia ini, minta maaf ya jangan buka sesi tonjokan lagi"
Yohan mencebik pelan, lalu dengan ogah-ogahan memasukan susu vanila itu di kantong celananya."Iya-iya"
Gempi tersenyum manis, lalu merangkul bahu Yohan sok asik."Gitu dong, yaudah yok balik"
Yohan mendegus lalu dengan pasrah membiarkan gadis mungil itu menariknya pergi menuju tempat kasir.
Setelah membayar, kedua orang itu keluar menuju parkiran. Yohan lebih dulu naik ke atas motor, namun sebelum mengenakan helm pemuda itu menyempatkan menoleh pada Gempi yang sedang sibuk dengan hpnya belum juga naik ke motor Yohan. "Ge, gak usah ya"
Gempi sontak mengangat kepala dan mendelik tajam. "Udah hampir seminggu ya elo gak teguran sama Reno, Yo" Katanya mengomel.
Yohan merapatkan bibir tak dapat membantah lagi."Yaudah naik, chatingan sama siap sih serius amat?"
Gempi yang awalanya sibuk mengetik chat balasan di hape jadi mengangkat kepala menatap Yohan yang terlihat menunjukan gurat kesal.
"Dih napa sih?" Gempi mendelik."PMS juga lo?"
Yohan memajukan bibir bawah tak bisa membantah.
"Bentar ini si Banu lagi bawel, kalau gak gue ladenin bakal ribet" Jelas Gempi mengomel pelan.
Yohan melongos pelan, lalu tanpa kata mengenakan helm nya dan menyalakan motor.
__ADS_1
"Dasar cupu, katanya suka tapi gak ada pergerakan" Gempi kembali mengomel sambil memasukan hape nya di dalam tas lalu naik ke atas motor."Gak heran sih kalau Karina di tikung orang" Lanjutnya.
Yohan mengangkat alis mendengar itu, lalu jadi terkekeh geli melihat bibir mungil Gempi mencuat-cuat kecil dari kaca spion motor.
**
"Cepetan sanaa" Gempi sejak tadi terus mendorong pelan tubuh tegap Yohan agar masuk ke dalam kelas.
Yohan menggeleng dengan wajah memelas. "Males Ge"
"Gengsi mulu di pikirin" Kata Gempi melotot gemas."Ayo sana, tuh si Reno" Kata Gempi menunjuk sosok pemuda yang sedang berjoget gila.
Yohan menghela nafas berat, lalu dengan berat hati melangkah masuk ke dalam kelas menghampiri temanya itu."Heh!"
Suasana hening seketika, Semua orang sontak menoleh ke arah Yohan.
Yohan sendiri mencoba masa bodo berlagak tenang.
Namun hanya beberapa saat, hingga akhirnya anak-anak kelas heboh kembali, Ayu langsung turun dari atas meja yang berada di tengah kelas pindah ke depan kelas sambil terus bernanyi dengan Toni, Maya dan Yono juga Sofi mengikuti.
Meninggalkan Reno sendiri yang kini berhadapan dengan Yohan.
"Apaan? Langsung intinya aja gue sibuk" Kata Reno sok-sok an.
Gempi yang berdiri cukup jauh di belakang Yohan mengumpat pelan mendengar itu.
Sementara itu teman-taman sekelas mereka masih terus melanjutkan aktifitas seolah tidak peduli, namun diam-diam sudah pasang telinga penasaran.
Reno langsung mengangkat alis tinggi, ia diam lama menatap susu vanilla itu. Hingga akhirnya ia menyeringai menunjukan wajah tengil membuat Yohan mendengus melihat itu.
"Yahhh oke deh gue maafin, tapi lain kali susu Vanilla jangan cuman satu dong elo kan banyak duit" Kata Reno ngelunjak tak tau diri.
Yohan mengumpat tertahan."Bacot"
Reno tertawa puas sambil merangkul bahu Yohan akrab.
Kelas langsung rusuh bersorak heboh, seolah baru saja terjadi suatu hal yang luar biasa.
Wenda bahkan sudah tersedu-sedu tanpa air mata seolah terharu.
Toni dan Sofi sudah melepas seragam dan menyisahkan kaus di tubuh, memutar-mutar seragam itu heboh seolah menonton sebuah pertandingan sengit.
Dasar manusia-manusia alay.
Gempi menggeleng lelah melihat itu.
__ADS_1
"Permisi"
Di tengah kehebohan itu, seseorang tiba-tiba datang membuat semua orang di dalam kelas langsung menoleh ke arah pintu kelas. Di mana terlihat sosok pemuda jangkung berdiri di sana.
"Eh Pak Ketos" Sapa Yono sok akrab.
Panji tersenyum kalem menanggapi itu, ia lalu melangkah masuk."Ge" Katanya kini jadi fokus pada gadis yang berdiri di samping Yohan."Ke kafetaria yuk, ada menu baru katanya"
"Hm?" Gempi mengernyit heran."Kenapa ngajak gue? Cewek lu kan ada ege"
Tiba-tiba suara batuk yang jelas di buat-buat itu terdengar nyaring dari beberapa teman-temanya. Gempi memutar bola mata jengah.
Panji membasahi bibir bawah canggung, mengerti dengan respon yang di tunjukan teman-teman Gempi. "Gimana Ge, Mau? Gue traktir kok" Katanya tidak menanggapi pertanyaan Gempi.
Gempi diam tak langsung menjawab, gadis itu terlihat berpikir. Sebenarnya merasa tidak enak jika hanya pergi makan berdua dengan Panji walau pun mereka adalah teman akrab dari dulu, tapi masalahnya saat ini pemuda itu telah memiliki pacar.
Gempi perempuan, dia sangat paham.
"Gege"
Gempi tersentak pelan saat puncak kepalanya di sentuh lembut oleh cowok yang berdiri di sampingnya ini.
Gempi menoleh membalas tatapan Yohan yang nampak tak terbaca itu."Ya?" Sahutnya.
"Gue lapar"
"Hn?" Gempi mengakat alis tinggi.
"Gue lapar Ge" Ulang Yohan dengan intonasi datar."Sama gue aja"
Gempi langsung mengulum bibir ke dalam, hampir saja menjerit.
Panji yang melihat itu jadi mengernyit terusik."Gue yang ngajak duluan"
Yohan melirik sekilas, namun kembali fokus pada Gempi tidak peduli."Sama gue, Ge" Ucap Yohan lagi dengan intonasi penekanan yang kentara."Lo gak boleh nolak karena gue maksa" Lanjutnya sambil menautkan jemari tangannya dan Gempi. Menggengamnya erat.
Gempi mengerjap dua kali, berdehem pelan lalu menatap Panji.
YAKALI GUE TOLAK!!–Teriak Gempi dalam hati sudah kesenangan.
"Maaf ya Ji" Kata Gempi menolak tanpa rasa sungkan sama sekali.
Hal itu membuat kedua sudut bibir Yohan tertarik, tersenyum puas. "Ayo" Ajaknya langsung menarik Gempi pergi tanpa menghiraukan tatapan tajam yang di layangkan Panji padanya.
"Yohan lapar?" Beo Ciko saling pandang dengan Toni bingung.
__ADS_1
"Bukanya tadi pas jam istirahat pertama udah makan bareng kita?" Balas Toni ikut heran.
***