
Malam itu, dengan seragam sekolah yang masih nampak melekat di tubuh, Yohan tiba-tiba datang ke rumah Hendra mengajak cowok itu bermain pees.
"Ck sial!" Umpat Yohan membanting stik pees di karpet berbulu itu saat kalah dalam permainan.
Hendra langsung melotot dan memekik nyaring melihatnya."Mahal itu woy" Katanya pada Yohan yang terlihat masa bodo.
"Kalau rusak siapa yang mau ganti, elo? Manda? atau Reno?"
Yohan mengumpat."Berisik lo"
"Ini rumah gue ya bang*at!" Kata Hendra melotot geram."Ck elo tuh kenapa sih?"
"Maksud?"
"Dari dulu sampe sekarang masih galauin cewek yang sama, gak bosan apa?" Kata Hendra santai."Ganti elahh, dah basi tau gak"
Yohan melongos kasar tidak menanggapi itu.
Hendra meletakan stik pees lalu berdiri, berjalan ke arah meja belajar saat mendengar deringan telefon pertanda panggilan masuk. ia meraih benda pipih di meja itu lalu menyeletuk. "Cari cewek lain gih" Pintanya pada Yohan.
"Males"
Hendra mendengus mendengar jawaban ketus itu, ia kemudian menggeser tanda hijau di layar HP menjawab panggilan."Kenapa?"
"Ke rumah gue sekarang" Ucap orang di telefon itu.
"Males"
"Gue mau curhat"
"Tambah males gue" Ucap Hendra sambil memutar bola mata. "Curhat apa lagi sih?"
Yohan jadi melirik, namun kembali melongos tidak peduli banyak.
"Gue tadi ngelihat Yohan sama manda di perpustakaan"
Hendra diam sesaat, lalu menghela nafas. cowok itu menoleh ke arah Yohan yang terlihat sibuk dengan HP nya.
"Yohan lagi di rumah gue" ucap Hendra membuat Gempi di sebrang sana langsung menjerit tertahan.
"Mau gue ajakin juga?" Tanya Hendra iseng.
Sambungan telefon langsung terputus.
Hendra tertawa puas, lalu memasukan HP ke kantong celana.
"Siapa?" Tanya Yohan menggerakan kepala menatap Hendra penasaran, soalanya tadi namanya ikut di sebut-sebut.
"Gege" jawab Hendra santai."Dia nyuruh gue ke rumahnya sekarang" lanjutnya sambil mengenakan jaket.
Yohan mengakat alis."Ngapain?"
"Mau curhat katanya" Jawab Hendra tanpa menatap ke arah Yohan, diam-diam cowok itu meyeringai tipis."Lagi galau tuh anak, katanya habis mergokin cowok yang dia suka lagi mesra-mesraan sama cewek lain di em... ah lupa gue" Ucap Hendra hampir saja keceplosan.
Yohan mengernyit, ia diam lama memandangi Hendra yang sudah berjalan ingin keluar dari kamar ini. "Terus gue?"
"Ha?" Hendra menghentikan langkah dan berbalik. "Lo mau ikut juga?"
Yohan diam sesaat, lalu bangkit berdiri."Iya" jawabnya.
__ADS_1
Hendra tiba-tiba tertawa geli."Duhh gimana ya, mending jangan deh"
Yohan mengernyit dalam, nampak heran."Kenapa emangnya?"
"Soalnya yang ada tuh anak malah makin galau" ujar Hendra sambil menahan tawa.
Yohan mengerjap dua kali, ia diam sesaat lalu tiba-tiba melangkah pelan ke arah Hendra yang berdiri di depan pintu kamar. "Lo di sini aja" ucapnya sambil menepuk bahu Hendra pelan. "Biar gue yang samperin dia"
Hendra mengakat alis tinggi, tersenyum miring membiarkan Yohan berlalu pergi keluar dari rumahnya.
"Yahhh kelar lu Ge" kata Hendra sudah membayangkan bagaimana reaksi Gempi nanti. "Tuh anak pasti bakal maki-maki gue habis ini" lanjutnya terkekeh geli.
***
Kini pemuda jangkung dengan garis mata tajam itu terlihat berdiri di depan pintu pagar rumah Gempi.
Yohan diam menatap layar ponselnya yang menampilkan sebuah personal chat.
Yohan: Gue di depan rumah elo
Yohan: Mau gue samperin ke dalam atau elo yang keluar?
Read
Yohan tersenyum simpul membaca chat yang baru saja ia kirim pada Gempi itu. Cowok itu kemudian melipat kedua tangan di depan dada, lalu menunggu dengan tenang sambil menatap lekat pintu pagar yang masih tertutup rapat di depannya itu.
Hampir satu menit cowok itu menunggu, hingga akhirnya tiba-tiba pintu pagar itu terbuka dari dalam dan sosok Gempi Julianti muncul dari sana.
Gadis cantik itu terlihat melongo menatap ke arah Yohan yang tersenyum lebar.
"Hai" sapa Yohan kalem.
"Hendra ada di rumahnya, Gue mau ngajakin elo keluar sebentar" Jawab Yohan, cowok itu melirik piyama kimono yang di kenalan Gempi. "Tapi harus make cardigan dulu ya, dingin soalnya" lanjutnya.
Gempi mengakat alis, lalu ikut melihat baju yang ia kenakan. Gadis itu merapatkan bibir, kemudian tanpa kata berbaik pergi masuk ke dalam rumah dan tak lama setelahnya ia kembali lagi dengan sebuah cardigan rajut yang kini ia kenakan. "Kemana?"
"Beli martabak di depan, elo suka kan?"
Gempi mengernyit."lah, napa jadi gue? yang mau beli kan elo"
Yohan terkekeh pelan lalu merangkul bahu Gempi menarik gadis itu pergi."Iya gue yang beli, buat elo" ucap cowok itu, lalu menoleh pada Gempi yang mendongak balas menatapnya. "Kata Hendra lo lagi galau"
Gempi mendelik, mengumpat dalam hati."Dasar mulut rombeng" Cibir Gempi kesal.
Yohan tertawa."Makanya kalau lagi galau tuh curhat ke gue aja, di jamin gak bocor ke mana-mana"
Gempi mendengus pelan tidak menanggapi.
Namun dalam hatinya sudah berteriak gemas sendiri dengan cowok di sampingnya ini.
ALASAN GUE GALAU ITU ELO YA PE'A!!
Gempi menghela nafas, mencoba mengendalikan diri yang hampir khilaf berubah jadi kyubi ekor sembilan.
****
Gempi menopang dagu, dengan jemari tangan kiri nya yang ia mainkan di atas meja kayu itu, gabut menunggu pesanan datang.
Yohan di depannya sejak tadi menatap gadis itu lurus, membuat Gempi mati-matian menahan diri agar tidak menjerit gila.
__ADS_1
"Gak mau ngomong apa-apa?"
Pertanyaan tiba-tiba dari Yohan itu membuat Gempi mengakat alis dan menegak."Ngomong apa?"
"katanya galau"
Gempi mencebik."Lupain aja" katanya malas.
Yohan memajukan bibir bawah mendengar nada ketus itu."Lo galauin cowok yang mana sih, gue jadi penasaran" Yohan memajukan diri."Modelannya kek gimana sampe buat elo sampe segininya"
Gempi melongos menghindari tatapan Yohan."Adaa..ganteng orangnya, kalem, baik"
Yohan mengerjap."Lah... gue?"
Gempi langsung terbatuk-batuk, tersedak ludahnya sendiri."Ngaco lo" katanya melotot galak. sebenarnya panik.
Yohan tertawa puas."Canda elahh"
DIAM NGGAK! –Teriak Gempi dalam hati gemas sendiri.
Gempi menghela nafas."Suka sama dia tuh kadang ada senangnya, ada juga ribet nya" Kata Gempi mulai bercerita."Selama ini setiap dia tanpa sengaja nyakitin perasaan gue, gue salalu gak bisa marah"
Yohan diam mendengarkan.
Gempi tersenyum simpul, kini menatap kedua mata Yohan tepat."Hati gue lemah banget Yo" ujarnya pelan."Gue mau nyerah aja"
Yohan menarik kedua sudut bibir, tersenyum lembut."Makin lo coba buat move on, malah makin susah buat lupain dia" Katanya dengan pandangan kosong."Gue paham rasanya"
Gempi mendelik, lalu melongos kasar."Hm, soalnya kalau sudah terlanjur naksir, satu atau bahakan seribu fakta pun akan kalah dengan secuil harapan yang tercipta dari satu ekspetasi" Kata Gempi sewot."Cinta emang bikin bego, makanya gue mau moveon aja"
Yohan terkekeh geli."Semoga berhasil"
"Tapi–" Gempi kembali menatap Yohan."Sebelum gue moveon, gue mau nyatain perasaan sama orang itu"
"Hn?" Yohan langsung menegak, lalu menelan ludah."Lo..confess?"
Gempi mengangguk mantap, jantungnya bedegup kencang.
Namun Yohan yang melihat itu, entah kenapa..jadi melunturkan senyum di wajahnya, garis wajah cowok itu berubah datar. "Kapan?"
"Sekarang?"
"Hah?!" Yohan melotot."Serius? te-terus gimana kalu misal dia nerima elo, kalian bakal pacaran dong"
Gempi menggaruk kepalanya heran."Gue cuman nyatain perasaan bukan ngajakin dia pacaran"
Yohan mengerjap, lalu tanpa sadar tersenyum tipis dengan dada meringan."Ohhh oke, yaudah sih nyatain aja kalau gitu"
Gempi diam sesaat, kedua tanganya bertaut erat di atas meja menahan gugup.
"Yohan"
"Ya?"
"Gue suka sama lo"
"Eh?!"
****
__ADS_1