
"Yohan!"
Kumpulan cowok-cowok di pinggir lapangan itu sontak menoleh bersamaan, menatap kedatangan seorang gadis cantik yang membawa sesuatu di tangannya.
"Nih" Gempi menyerahkan kotak bekal makanan itu tepat di depan wajah Yohan, mati-matian ia menjaga garis wajahnya agar tetap biasa saja."Katanya mau nasi goreng buatan gue" Ucapnya tenang mengungkit chat mereka semalam.
Yohan terdiam lama, matanya mengerjap memandangi Gempi dan bekal makanan itu bergantian.
Hingga..
"WADIDAW GEGE UDAH BERANI YAHHH" Roni tiba-tiba heboh di tengah keheningan itu.
Gempi mendelik tajam ke arahnya."Berisik lo"
Yohan yang tersadar karena kehebohan Reno, jadi tersenyum manis sambil meraih bekal itu dari tangan Gempi. "Makasih ya, padahal gue pikir gak bakal di buatin loh" Ucapnya terkekeh pelan, membuat Gempi mengakat sebelah alis melihat itu. "Soalnya chat terkahir gue semalam, cuman di read doang" Lanjutnya pelan.
Reno langsung heboh lagi.
Gempi mencibir, sebenarnya berusaha mengendalikan diri tetap tenang. "Makan aja tuh, gue balik dulu"
"Loh Ge, buat gue gak ada?"
Gempi yang nyaris beranjak jadi terurungkan dan menoleh, manatap Reno jengah."Gak ada"
Reno mencibir pelan.
"Duduk dulu sini" Kata Yohan menepuk tempat kosong di sampingnya. "Udah makan?"
"Udah tadi" Jawab Gempi seadanya, ia kemudian duduk di samping Yohan mengikuti pinta cowok itu."enak?" Tanya Gempi saat Yohan menyiapkan makan itu ke mulutnya.
Yohan menoleh, diam tenang mengunyah sambil menatap kedua mata Gempi tepat. "Hendra gak bohong ternyata" Katanya yang kemudian kembali memasukan sesuap makanan ke dalam mulut.
Gempi mengangkat alis, diam sesaat lalu mengulum bibir bawahnya ke dalam menahan senyum.
"Ge, tadi gue dengerin siaran radio lo"
Gempi yang awalnya sibuk memandangi cowok di sampingnya itu kini jadi mengalihkan pandangan tepat pada cowok yang duduk di samping Reno itu. Kalau tidak salah namanya Gandi.
Seenggaknya, Gempi hanya pernah berbicara denganya sekali. "Eh oh ya, makasih" Balas Gempi menyeringai cantik.
Gandi di buat terpanah tepat melihat itu."Bagus Ge, asik banget gak ngebosenin" Katanya semangat.
"Gak ada yang nanya" Reno tiba-tiba menyele tuk, membuat Gandi mendelik ke arahnya."modus dia Ge" Lanjutnya menunjuk Gandi.
__ADS_1
Gandi mengumpat.
"Eh bekal makanan lagi Yo?" Tanya seorang cowok yang baru saja ikut bergabung. "Dari manda la–" Intonasi bicaranya berubah seirama dengan kepalanya yang menoleh ke arah cewek yang duduk di samping Yohan."–gi?"
Gempi diam, merapatkan Bibir membuang muka, membuat Reno yang menyadari itu mendesah pelan melotot ke arah Oji."Manda mulu, ini Gempi yang ngasih"
Oji terhenyak, garis wajahnya berubah perlahan merasa tidak enak, apa lagi saat melihat wajah Gempi yang tidak terseyum sama sekali. "Yaa maap, gue gak tau" Katanya meringis.
Gempi menipiskan bibir, perlahan mengukir senyum manis."Gue pergi dulu, bentar lagi anak radio siaran lagi" Katanya sambil berdiri, nyaris saja beranjak pergi sebelum sebuah tangan terulur meraih pergelangan gadis itu, menahanya.
"Sama gue" Ucap Yohan ikut berdiri, melangkah di samping Gempi.
Gempi mengerjap, kedua matanya bergerak melirik ke arah bekal makanan yang di pegang Yohan."Eh? Udah?"
Yohan mengangguk, tersenyum kalem. "Hm, nasi gorengnya enak, makanya cepat gue habisin" Balasnya.
Ketiga pemuda yang menyaksikan itu berseru heboh. Reno sendiri sudah menciptakan suara-suara aneh.
Gempi berdehem pelan, menghindari pandangan Yohan yang menunduk menatap tepat ke arahnya."Yaudah ayo" Katanya berlalu pergi meninggalkan Yohan yang sempat diam sesaat di tempatnya menatap lekat punggung Gempi, namun kemudian jadi berlari menyusul gadis itu dan berjalan beriringan meninggalkan lapangan futsal itu.
***
"Kenapa Ge?" Cewek cantik dengan rambut yang di kepang itu, Yuna. Menepuk pelan bahu Gempi yang sejak tadi diam sambil terus memijat pangkal hidungnya.
Anak-anak radio sedang rapat saat ini.
Dan dari awal di mulainya Rapat, Gempi sudah merasakan perutnya yang terasa mual, juga kepalanya yang pusing.
Pandangannya mulai berkunang, hingga membuat gadis itu berkali-kali memejamkan mata mencoba menahanya.
"Magh lo kambuh itu" Kata Yuna pelan."tadi lo belum makan kan? pas selesai siaran radio gue ajakin lo ke kantin tapi lo nya gak mau, malah langsung ngacir ke lapangan futsal" Lanjutnya mulai mengomel. "Pacaran mulu lo"
Gempi melirik sinis kemudian mencebik pelan tidak mau membalas.
"Jadi menurut lo gimana Ge?" Tanya cowok yang duduk di sebrang meja tepat di depan Gempi, meminta pendapat gadis itu selalu ketua ekskul radio.
Gempi meringis, tidak mampu menjawab, matanya sulit untuk di buka karena pandanganya yang makin tidak jelas.
"Ge?" Panggil cowok itu heran saat tidak mendapat jawaban.
"Kepalanya pusing Vin, magh nya kambuh kayaknya" Yuna dengan cepat menjawab, melihat gurat keheranan di wajah cowok bernama Kelvin Samuel itu.
Kelvin langsung menegak, anggota radio yang lain juga langsung menatap Gempi khawatir.
__ADS_1
"Bawa ke UKS aja" Salah satu anggota menyeletuk, di angguki yang lain setuju.
"Lanjut aja lanjut, gue masih bisa nahan" Ucap Gempi pelan."apa tadi Vin? Gue kurang fokus, bisa lo ulangi?" Lanjutnua sambil memperbaiki posisi duduk.
Kelvin diam sesaat, kemudian mendesah pelan melihat itu."Jadi gini Ge, rencananya–"
BRUK!
Tubuh Gempi ambruk, nyaris terjungkal kebelakang bersama dengan kursi yang ia duduki jika Yuna tidak dengan sigap langsung menahannya. "Ge? Heh lo pingsan?" Tanyanya panik melihat kedua mata gadis itu sudah terpejam rapat.
Semua orang di situ langsung bangkit berdiri, ingin mengerumbungi namun segera di suruh menjauh oleh Kelvin yang datang mendekat langsung meraih tubuh ringkih gadis itu ke dalam gendonganya. "Rapatnya sampe sini dulu nanti di lanjutin lagi, Yuna lo ikut gue ke UKS"
Yuna mengangguk kemudian mengikuti Kelvin yang berjalan keluar dari ruang penyiaran itu.
****
Tiba di depan ruang UKS, Yuna dengan cepat membukakan pintu hingga mempermudah untuk Kelvin membawa Gempi masuk.
"Eh itu kenapa? Loh Gempi?" Seorang gadis dengan lambang PMR di bagian seragam lengan kirinya datang mendekat ke arah tiga orang yang memasuki ruangan itu.
"Pingsan, Man" Jawab Yuna panik.
Manda melebarkan mata, ia melirik Gempi kemudian menatap cowok jangkung yang mengendong Gempi dengan erat. "Sini-sini, bawa sini" Katanya melangkah duluan ke arah tempat tidur UKS.
Kelvin mengikuti, hingga akhirnya meletakan tubuh Gempi di atas tempat tidur itu. "Magh nya kambuh" Katanya tanpa intonasi, menatap lurus ke arah Gempi yang masih memejamkan mata.
Manda mengakat alis melihat itu."Di antara kalian berdua beliin bubur sama buatin teh anget, biar pas bangun Gempinya bisa langsung makan" Manda pergi menuju lemari kaca yang berisi banyak obatan.
Yuna dan Kelvin saling pandang."Lo ke kantin sana, minta teh anget sama mas Adi" Pinta Kelvin pada Yuna."Biar gue yang keluar sekolah cariin bubur buat Gempi" Lanjutnya mengingat bila di kantin sekolah tidak ada penjual kantin yang membuat bubur.
Yuna mengangguk, lalu segera ke luar dari ruangan itu.
"Gue titip Gempi bentar, Man" Kata Kelvin pada Manda yang hanya melempar senyum sambil mengaangguk pelan menanggapi itu.
Kelvin menyempatkan menatap Gempi sesaat, hingga akhirnya berlalu pergi.
Hingga menyisahkan Manda dan Gempi yang tidak sadarkan diri di dalam ruangan itu.
Manda menghela nafas, menatap obat di tangannya kemudian menoleh ke arah Gempi. "Gue harus jelasin hari ini juga" Bisiknya lirih, kemudian merogoh HP di saku roknya lalu mengirimkan personal chat pada seseorang.
****Manda****: Gempi di UKS sekarang
Manda: magh nya kambuh, Yo
__ADS_1
...****************...