WAKETU GAMON (SHS 1)

WAKETU GAMON (SHS 1)
Cemburu (2)


__ADS_3

Gempi tertawa lepas, menikmati acara komedi di TV yang tengah ia tonton sekarang.


Rumah ini lagi-lagi terasa sepi, orang tuanya sedang pergi keluar kota, hanya ada Bi Ija yang sudah tidur sejak sejam yang lalu.


Gempi menggaruk perutnya sesaat, kemudian menatap HPnya yang ada di atas meja saat tiba-tiba mendapat notifikasi masuk.


Ada nama Hendra yang muncul di layar hpnya yang menyala, Gempi meraihnya lalu membuka isi chat itu.


Hendra: heh upil!


Buset, baru nongol langsung ngatain dasar simpanse. Dumel Gempi dalam hati, kemudian segera mengetik pesan balasan.


Gempi: APA!!!!???


Hendra: jari lo bintitan ya sampe gak bisa bales chat?


Gempi mendelik tajam membaca itu.


Gempi: Apaan sih tijel, ini gue balas chat elo ya


Hendra: si Yohan tuh uring-uringan chat nya gak elo bales, gue yang di teror dari tadi suruh nanyain keadaan elo


Gempi tertegun, ternganga-nganga setelah membaca itu. Memang sejak tadi Gempi sengaja menganggur kan chat masuk dari Yohan, hanya karena masih kesal dengan kejadian tadi sore saat melihat cowok itu yang akrab dengan gadis bernama Olivia. Di tambah Yohan yang dengan santainya mengatakan pada Olivia itu bahwa hubungan mereka hanya sebatas teman.


Ya benar memang hanya teman, tapi kan, mereka dekat, terus–ARGHHHHHH!!!


Gempi memejamkan mata erat, kembali di buat bad mood memikirkan itu, padahal dia sudah berhasil mengalihkan rasa kesalnya dengan menonton acara komedi.


Hendra: WOY BALAS BUSET!!


Hendra: itu chat nya Yohan


Gempi menggeram, melempar HP nya di atas sofa tidak mau peduli. "Gak bakal gue bales" katanya sambil melipat tangan di depan dada.


Hingga semenit berlalu, sejak tadi hpnya terus berbunyi, Gempi menghela nafas lalu melirik HPnya yang lagi-lagi menunjukan notifikasi masuk.


Gadis itu berdecak kesal, kembali meraihnya.


Hendra: Yohan otw ke situ sekarang


Gempi sontak melotot kaget, cepat-cepat mengetikan pesan.


Gempi: heh jangan boong lu


Hendra: Mampus lo di samperin


Gempi menelan ludah, dengan cepat melompat dari sofa ruang tengah, lalu ngacir berlari menaiki tangga menuju ke kamarnya.


Gadis itu berdiri di depan kaca, melihat penampilanya takut-takut berantakan seperti anjing terlantar."Oke lo cantik" Katanya tersenyum manis, namun sedetik kemudian tiba-tiba merubah gurat wajah seolah tersadar dengan apa yang ia lakukan. "Lo ngapain sih tolol" Katanya melotot ke arah kaca rias.


Gadis itu melongos kasar, kembali keluar kamar menuju lantai bawah. Kali ini kakinya melangkah lurus keluar dari rumah kemudian duduk di kursi yang ada di teras rumahnya itu dan berlagak sibuk bermain hp.


Iya kepalanya saja yang lurus ke arah HP.


Tapi kedua mata itu diam-diam sibuk curi-ciri pandang ke arah luar pagar. Mencari sosok orang yang katanya akan datang menemuinya.


Tiga puluh menit berlalu. Gempi mengulum bibir kedalam. "Dia gak kenapa-napa di jalan kan?" katanya khawatir. "Atau kehabisan bensin? lagi ngantri di pertamina?"


Gempi menggaruk belakang kepalanya, mencoba mengenyahkan pikiran-pikiran itu, ia kembali sibuk dengan hpnya. Menunggu lagi.


Satu jam berlalu. Yohan belum juga datang.


Gempi mencebik kesal.


Gempi: Hendra


Hendra: Ha?


Gempi: si Yohan jadi dateng gak sih?


Hendra: Lah belum nyampe?

__ADS_1


Gempi: Belum ege, lo boong ya


Hendra: Enggak woy


Gempi mencibir pelan, dengan kesal kembali masuk ke dalam rumah. "Ngapain juga gue tungguin sih, bego!"


****


Yohan memarkirkan motor di depan rumah Gempi, membuka kaca helm saat melihat ada orang lain yang sudah lebih dulu darinya.


"Hendra?" Yohan memanggil, cowok yang di maksud menoleh dengan alis terangkat tinggi.


"Loh, ngapain?" Tanya Hendra bingung dengan keberadaan Yohan di depan rumah Gempi pagi ini."Bukan mau jemput Gempi kan?"


Yohan membuka mulut nyaris menjawab namun seorang gadis yang baru saja muncul itu mengambil alih atensi dua orang pemuda itu.


Gempi sontak berhenti, melebarkan mata tertegun sejenak mendapati keberadaan Yohan di sini. Gadis itu merapatkan bibir, kemudian melongos pelan lalu menghampiri Hendra.


"Ayo berangkat"


Hendra kebingungan."Beneran sama gue, Ge?" Tanya cowok itu memastikan."Tuh si Yohan dah ada"


"Gue sama elo" Kata Gempi tenang, menoleh pada Yohan yang diam saja menatapnya lurus."Kenapa Yo?"


Yohan mengkat sebelah alis, akhirnya dia di notice."Mau ngajakin elo berangkat sekolah bareng"


"Kok gak ngabarin dulu, gue udah keburu ngajakin Hendra duluan"


Yohan diam sesaat, melirik pada Hendra yang menggaruk lehernya canggung terjebak di antara dua orang ini.


"Kenapa semalam gak bales chat?" Tanya Yohan membahas topik lain.


Gempi mendelik, terkejut tiba-tiba di berikan pertanyaan itu. ia membasahi bibir bawah berusaha terlihat biasa saja."Em... gak ada kuota" katanya beralasan.


Yohan diam sesaat, kemudian mengangguk pelan."Gak ada kuota, tapi chatnya Hendra bisa di bales" Balasnya tanpa intonasi.


Hendra sampai merinding mendengarnya.


Gempi menelan ludah gugup. Kenapa seolah dia tengah di adili begini setelah ketahuan selingkuh. "Gak ada yang mau di bahas lagi kan? kita bakal telat ke sekolah loh"


Meninggalkan Hendra juga Gempi yang memandangi itu dengan sorot yang berbeda.


"Lo kalau ada urusan rumah tangga gak usah libatin gue napa sih" Kata Hendra kesal, takut di amuk Yohan setelah ini.


Gempi menoleh, lalu mendengus tak peduli. Gadis itu kemudian naik ke atas motor Hendra lalu menepuk bahu cowok itu pelan."Ayo buruan"


Hendra mencibir pelan, lalu menarik gas pergi, beranjak dari situ.


*****


Yohan diam duduk tenang bersama beberapa teman-teman kelas cowok di pinggir lapangan. Jam olah raga sedang berlangsung untuk kelas MIPA 1 dan 2.


MIPA 1 berada di lapangan voli sedangkan MIPA 2 di lapangan basket.


Yohan melirik, Diam-diam curi pandang ke arah gadis yang tengah tertawa lepas sambil mendrible bola di tengah lapangan sana.


"Liatin doang, gak di samperin" Kata Hendra menangkap gelagak Yohan.


Yohan menoleh sinis."Diam lo" katanya galak.


Hendra langsung minkem.


"Hayo lo Hendra, jadi orang ketiga" Celetuk Ciko sok tau. Hendra mendelik langsung mendang kaki cowok itu.


"Serius Yo, gue gak tau kenapa Gege tiba-tiba diamin elo kayak gitu" Kata Hendra menjelaskan."Semalam tuh anak nungguin elo, elonya gak dateng, kali aja dia ngambek karena itu"


Yohan mengakat sebelah alis."Dia nungguin?"


Hendra mengangguk.


Yohan merapatkan bibir, menoleh kembali pada Gempi yang masih asik menertawai tingkah gila Reno yang berlagak keren akhirnya malah nyungsep.

__ADS_1


"Gue gak jadi" Katanya pelan."Udah gue kabarin Gege lewat Chat, tapi gak dia baca"


Ciko mengerjap, ingin menyeletuk menanggapi itu namun Toni yang duduk di sampingnya dengan segera menyuruhnya diam saja.


"Kenapa gak jadi?" Tanya Hendra penasaran.


Yohan menoleh sekilas, kemudian menggeleng pelan sambil tersenyum tipis."Gak penting" jawabnya seadanya.


Hendra mencibir pelan.


"Eh eh itu si pak ketos ngapain berdiri sendirian di situ?" Tanya Ciko berbisik menunjuk kecil ke arah sisi lain pinggir lapangan basket. Yang lain ikut menoleh.


Tampak seorang Panji berdiri diam dengan kedua tangan yang di masukan ke dalam katong celana, menatap lurus ke arah beberapa murid-murid kelas MIPA 2 yang sedang bermain di tengah lapangan basket.


"Bukanya MIPA 1, di lapangan Voli?" Tanya Toni heran. "Panggil Cik, elo akrab sama dia kan"


Yohan mengernyit, matanya menyipit menelisik. Panji, cowok itu memang tengah melihat ke arah lapangan basket. Namun hanya satu orang yang menjadi titik fokusnya.


Gempi.


"Woy Pan–HMMP"


Sebelum Ciko selesai memanggil Panji, Yohan dengan cepat membekap mulut cowok itu."Gue yang bakal samperin"


Setelah mengucapkan itu, Yohan segera beranjak, melangkah tenang ke arah Panji yang tidak menyadari kedatangannya.


Hendra, Toni dan Ciko memandangi itu tak mengerti. ada hal apa sampai Yohan mendatangi Panji?


"Kelas MIPA 1 udah selesai olahraga?"


Panji agar tersentak, kemudian menoleh pada seorang cowok yang tau-tau sudah berdiri di sampingnya. Yohan.


"Hm, udah pada balik ke kelas semua, guru Penjas gak hadir juga jadi mereka males lama-lama panas-panasan di lapangan" Jelas Panji santai.


Yohan melirik sekilas, lalu kembali menatap ke arah tengah lapangan sana. "Elo sendiri kenala belum balik?"


Uwahhh..


Panji menarik sudut bibir teesenyum kecil, mendapati nada sinis itu."Bentar, masih mau liatin kelas elo main basket"


"Gempi maksudnya?"


Tidak basa-basi, Yohan berucap santai.


Panji terkekeh pelan menanggapi itu, tidak terusik sama sekali."Hm, gue lagi liatin Gempi" Jawab Panji apa adanya.


Yohan diam merapatkan bibir tidak menanggapi.


Panji melirik itu sekilas."Gempi itu... cantik ya"


"Hm, cantik" Jawab Yohan tenang.


Mereka diam lagi.


Hingga akhirnya Yohan tiba-tiba menyeletuk."Gue dengar, cewek lo anak kelas sepuluh yang di juluki junior gila"


Panji menoleh, mengangkat alis tinggi."Iya"


"Dia gak marah kalau lo se perhatian ini sama cewek lain?"


Panji tehentak pelan, ia mengerjap dua kali."Yaaa gitu" Balasnya bergerak canggung, seolah tersadar.


Yohan mengangguk melihat itu."Marah ya, kelihatan jelas sih"


"Maksudnya?" Tanya Panji tidak paham.


Yohan tersenyum tipis, lelu mengerling ke arah koridor kelas sepuluh."Itu yang namanya Megi kan, dari tadi dia di sana ngelihatin elo"


Panji memucat, menelan ludah menatap seorang gadis cantik yang berdiri tak jauh dari lapangan ini tengah balik menatapnya lurus.


Yohan menyeringai tipis, saat Panji akhirnya beranjak pergi ke arah koridor kelas sepuluh, sepertinya menghampiri pacarnya itu.

__ADS_1


"Ck, hari ini kenapa gerah banget sih" Ucap Yohan kesal.


****


__ADS_2