WAKETU GAMON (SHS 1)

WAKETU GAMON (SHS 1)
Fakta


__ADS_3

Gadis yang tengah terbaring di atas kasur UKS itu perlahan membuka kedua kelopak matanya, ia mengernyit lalu mengerjap-ngerjap pelan mencoba menyesuaikan silaunya penerangan di ruangan itu.


"Kenapa bisa gini?"


"Gue gak tau, dua temanya yang bawa Gempi kesini cuman bilang magh nya kambuh"


"Teman?


"Iya, anak penyiaran"


Gempi mengernyit, Sama-sama mendengar percakapan dua orang di dekatnya.


Gadis itu menggerakan mata, kini melihat jelas sosok pemuda jangkung familiar yang berdiri membelakangi nya tengah mengobrol dengan....... Manda?


Hm?


"Ini di UKS?"


Dua orang itu sontak menoleh bersamaan, mendapati Gempi yang tampak linglung menyorot lurus mereka berdua. "Ge?"


Gempi mengangkat alis saat melihat jelas wajah pemuda itu."Loh Yohan?" Beo nya bingung.


Yohan mendekat lalu duduk pada kursi yang berada tepat di samping kasur itu."Katanya lo sakit makanya gue langsung ke sini"


Gempi makin mengernyit, nyaris melontarkan pertanyaan kembali namun Yohan dengan cepat memperjelas seolah paham dengan isi pikiran gadis itu hanya dengan melihat dari gurat wajahnya saja.


"Manda yang kasih tau gue"


Gempi diam mengatupkan bibir, ia melirik melihat Manda yang berdiri kikuk di ujung kasur UKS ini. "Makasih Man" Ucap Gempi tulus, bibirnya yang pucat tersenyum manis."Lo jagain gue dari tadi ya"


Manda yang mendengar itu jadi melebarkan mata terhenyak, kemudian mengangguk pelan menanggapi itu. "Dua teman yang nganterin elo ke sini lagi beliin makanan buat lo" Katanya.


"Hm?" Gempi mengerjap dua kali."Siapa?" Tanyanya penasaran.


"Yuna..sama satu cowok gue gak kenal" Jawab Manda.


Yohan yang sebelumnya fokus memandangi wajah Gempi entah kenapa jadi menoleh mendengar itu."cowok? dia gendong Gempi ke sini"


Gempi melirik itu, namun kembali memejamkan mata saat merasa mual kembali.


Manda mengangguk."Iya Yo, yakali si Yuna, yang ada malah gak nyampe ke UKS" Katanya.


Yohan merapatkan bibir, diam saja tidak menanggapi lebih lanjut. Pemuda itu menoleh kembali pada Gempi, yang mana jadi mengernyit panik melihat gurat wajah gadis itu."Mual Ge?"


Gempi mengangguk.


Tanpa kata, Yohan langsung bergerak meraih tubuh gadis itu mengakatnya dengan tenang ke dalam gendonganya.


Gerakan spontan yang tentu saja bukan hanya Gempi, namun juga manda di buat kaget sampai speechless melihat itu.


Yohan membawa Gempi menuju kamar mandi, kemudian menurunkan gadis itu berdiri tepat di depan wastafel.


"Keluar Yo"


"Hm?"


"Keluar, gue gak mau lo lihat gue lagi muntah"


Yohan yang hendak protes jadi terurungkan saat melihat sorot memohon yang di tunjukan Gempi.


Pemuda itu tersenyum, ia mengangguk pelan. Gempi yang awalnya berpikir jika cowok itu akan langsung keluar dari wc jadi melebarkan mata di buat tertegun dengan kelakuan Yohan.


Cowok itu mengeluarkan gelang karet warna hitam dari lenganya lalu dengan telaten mengikat rambut Gempi.


Setelah selesai cowok itu mengusap lembut kepala Gempi, lalu keluar dari wc itu tanpa sepatah katapun.


Meninggalkan Gempi yang terdiam kaku di tempatnya.


Perlahan, Kedua pipi gadis itu menujukan semburat kemerahan dengan jantung yang sudah memompa gila.


Iya Gempi blushing.


Dia baper.


Ambyar lagi.


Karena cowok yang sama.


Bibir Gempi mecebik pelan, kemudian dengan kesal berteriak kencang. "YOHANNNN GUE GAK JADI MUNTAH!"


****


Gempi kembali berbaring di atas kasur UKS, badanya masih lemas.


Yohan masih stay duduk di samping Gempi sambil terus menunduk pada hp, sedangkan Manda sudah pergi kembali ke meja nya anak PMR, hari ini jadwalnya Manda piket.


Di tengah keheningan itu, pintu UKS tiba-tiba terbuka.


Dari sana muncul seorang cowok jangkung dengan satu Cewek yang membawa satu kantong plastik warna putih di tangannya.


Gempi mengernyit bingung.

__ADS_1


Bukan pada dua orang yang baru masuk, tapi pada gerombolan rusuh di belakang dua orang itu.


"Ck, Jangan dorong-dorong gueeee"


Suara cempreng itu memenuhi seisi ruangan UKS.


Gempi memejamkan mata, makin pusing melihat itu.


Kenapa teman-teman kelasnya tidak bisa kalem sehari saja sih?


Ini di UKS loh, sukur nya hanya Gempi pasien di sini.


"Padahal gue cuman minta Reno yang dateng bawain tas elo" Celetuk Yohan juga ikut pusing.


"Udah gue bilang si Mail tuh suka sama Mei-mei, kenapa sih lo ngotot banget Mei-mei sama Upin?" Kata Pemuda gondrong itu sudah mengomel pada cewek di sampingnya.


"Karena Mei-mei lebih cocok sama Upin" Balas Cewek yang memegang tongsis di tangannya itu tak mau kalah.


"Upin botak, rambutnya cuman sehelai"


"Dih yang penting rajin solat"


"Mail uangnya banyak"


"Hedehhhhh udah udah woy gak ada yang cocok, beda agama" 


Gempi mengumpat tertahan melihat Ciko yang langsung datang menengahi perdebatan tak berfaedah antara Kesya dan Sofi.


"Nih tas elo" Reno datang mendekat, berdiri di samping Yohan sambil menyodorkan tas ransel itu pada Gempi.


Yohan langsung meraihnya lebih dulu, membuat Gempi jadi menarik kembali tanganya.


"Kenapa malah ngikut semua sih bego?" Tanya Yohan.


Reno mendengus."Pas tau kalau Gege sakit mereka maksa ngikut, walaupun gue larang mana mau mereka dengerin gue"


"Ge? Udah mendingan?" Seorang pemuda lain lagi datang menemuu Gempi.


Gempi menoleh begitu juga Yohan dan Reno, menatap Cowok bernama Kelvin itu mendekat di samping kasur bersama Yuna.


"Hm, udah gak mual cuman masih pusing dikit" Jawab Gempi.


"Nih Ge, makan dulu" Yuna langsung duduk di sisi kasur, meletakan segelas teh manis di atas nakas dan mengeluarkan bubur dari kantong plastik.


"Tadi Kelvin yang beliin lo bubur" Kata Yuna lagi tanpa di tanya.


Gempi mengangkat alis, lalu menatap Kelvin yang diam saja sejak tadi."Lo keluar sekolah?"


Gempi mengagnguk saja."Makasih ya"


Hingga iba-tiba Reno berdehem nyaring, lalu batuk-batuk tidak jelas di tempatnya.


Membuat Gempi jadi melirik kesal merasa terganggu. "Jauh-jauh lo jangan nyebar virus, imun gue lagi lemah nih"


Reno langsung berhenti dan melotot kesal."Oh. Sory deh se-nga-ja" Katanya yang kemudian melesat pergi bergabung bersama teman-teman kelasnya yang masih heboh.


Gempi mengumpat tanpa suara, kemudian menoleh pada sisi kananya saat merasakan tatapan lekat seolah menarik Gempi untuk membalas menatapnya. "Hm?" Tanya Gempi mengakat sebelah alis pada Yohan.


Yohan mengerjap, nampak agak linglung. "Ha?" Balasnya.


"Mau ngomong sesuatu?" Tanya Gempi mengernyit bingung.


Yohan diam sesaat, namun kemudian tersenyum dan menggeleng pelan."Enggak, tuh makan dulu" Katanya mengerling pada bubur di atas pangkuan Gempi.


Gempi ikut menatap bubur itu, ia diam menggigit bibir pelan, Tiba-tiba suatu ide muncul di otaknya.


"Tangan gue masih lemas nih" Ucap gadis itu mengeluh. "Suapin ya" Lanjutnya menatap Yohan tepat.


Yohan tertegun, matanya melebar perlahan.


"Ge–" Yuna yang hendak mengatakan sesuatu jadi terurungkan saat Kelvin dengan cepat menyentuh bahu gadis itu mencegahnya.


Yuna menoleh, lalu memutar bola mata jengah melihat Kelvin yang lagi-lagi seperti ini.


"Ge" Panggil Kelvin halus.


Gempi menoleh, menatap penuh tanya.


"Kita balik ke ruang radio dulu" Kata Pemuda itu sambil diam-diam menyikut pelan bahu Yuna menyuruhnya beranjak dari kasur itu.


"Iya ge" Yuna mengangguk mendukung kebohongan yang di ciptakan Kelvin.


Gempi mengangguk."iya, sory ngerepotin"


"Hm, capek gue" Balas Yuna santai yang membuat Gempi mengumpat pelan.


Yuna tertawa kemudian beranjak keluar dari ruangan itu menyusul Kelvin yang sudah lebih dulu pergi.


"Gempi ini obat lo, minum kalau udah habis makan" Kata Manda yang tiba-tiba datang, menaruh obat di atas nakas samping kasur.


Gempi menoleh, menipiskan bibir dan tersenyum. "Iya, aman deh" Katanya yang kemudian menoleh lagi pada Yohan. "Mau kan, Yo?" Tanyanya diam-diam berharap.

__ADS_1


Manda yang melihat itu mengakat alis, sebenarnya ingin pergi tapi dia masih ada tujuan lain.


"Iya" Yohan terkekeh pelan, meraih bubur di atas pangkuan Gempi lalu mulai mengaduk nya. "Habisin ya"


Gempi mengagguk dengan kedua bibir yang mati-matian ia tahan untuk tidak tertarik membentuk senyuman lebar.


"Gempi gue mau ngomong"


Gempi terdiam lalu menatap Manda, begitu juga Yohan yang jadi menggantungkan tangan di udara tidak jadi menyuapi Gempi.


"Ngomong apa Man?"


Manda mengulum bibir ke dalam, benar-benar mengumpulkan keberanian untuk mengatakan hal ini. "Elo... Salah paham"


"Hm?"


ELAHHH MASIH DI BAHAS, JANGAN SEKARANG DULU WOY!– Teriak Gempi dalam hati.


Gempi merapatkan bibir, menahan untuk tidak melontarkan apa yang ada di dalam hatinya itu.


"Waktu itu... sebenarnya bukan Yohan yang mau gue ajakin pulang bareng" Manda menelan ludah, ia mengamati gurat wajah Gempi yang tak terbaca.


"Bukan dia orangnya Ge" Ucap Manda penuh arti.


Gempi tertegun, matanya refleks bergerak ke arah Yohan yang terlihat mengernyit bingung mendengar itu.


"Pulang bareng Yohan waktu itu gak sengaja" Kata Manda nampak sungguh-sungguh. "Yang gue bilang mau ngasih bekal makanan sama orang yang Gue suka, itu bukan Yohan"


"Tapi.... " Gempi membasahi bibir bawahnya, ia mencoba mengendalikan diri. "Bekal itu ada sama Yohan"


Manda menggeleng cepat. "Bukan Yohan orangnya Ge, serius"


"Kenapa nih?"


Seseorang tiba-tiba datang membuka tirai yang menutupi kasur UKS itu.


Reno mengerjap bingung, tidak paham situasi. Pemuda itu menatap Yohan yang diam menunjukan gurat datar, lalu pada Gempi yang nampak membuang muka dengan ekspresi tak terbaca, lalu berpindah pada Manda yang balas menatapnya dengan kedua mata melebar seolah kaget.


Memangnya Reno hantu?


"Tegang banget, lemesin aja lah perenggangan dulu coba" Ucap pemuda itu nyerocos asal.


Gempi mendengus malas."kenapa lagi sih lo?" Tanyanya muak.


"Nih Man, brownies buatan elo enak ya ternyata, jualan aja pasti banyak yang beli" Kata Reno sambil memberikan kotak taperwer kosong, mengabaikan Gempi yang sudah mendelik tajam."Tapi khusus buat gue gratis ya" Lanjut pemuda itu di akhiri dengan mengedipkan sebelah mata sok ganteng lalu beranjak pergi begitu saja.


Gempi meringis geli, namun jadi terdiam saat melihat kedua pipi Manda yang memerah jelas dan nampak kikuk berdiri di tempatnya setelah kepergian Reno.


Ha?


HA?!


"Man?" Gempi menatap tak percaya, apalagi saat Manda menoleh balas menatapnya, bibir gadis itu terlihat menahan senyum. "Itu... Orang yang lo maksud?"


Manda tampak merings, kemudian mengangguk pelan nampak malu-malu. "I-iya itu"


Gempi langsung lemas, jadi hilang kata begitu saja. "Lo serius?"


Manda mengangguk lagi.


"Lo bilang bukan anak futsal ya ege" Kata Gempi nyaris mengumpat.


Manda hanya tertawa pelan tanpa dosa. "Yaaa kan biar lo nggak salah paham"


Gempi menumpat tanpa suara.


"Ngomongin apa sih?"


Kedua cewek itu langsung menatap Yohan. Dari tadi pemuda itu mencoba mencerna arah pembicaraan mereka namun dia jadi bingung sendiri.


Pulang bareng?


Bukan Yohan?


Yohan menelan ludah, sebenarnya sempat memikirkan satu hal tapi langsung ia enyahkan dari pikiranya.


"Gue lapar Yo" Kata Gempi mengalihkan, dan berhasil. Yohan langsung teralihkan dan jadi lanjut menyuapkan bubur ke dalam mulut gadis itu.


Manda diam-diam beranjak pergi tanpa Yohan sadari karena sudah fokus sepenuhnya pada Gempi begitu saja.


Gempi diam-diam menghela nafas pelan.


Di satu sisi ia senang mendengar fakta tersebut.


Tapi di sisi lain.


Gempi jadi risau.


Bagaimana jika Yohan tau?


Pemuda itu akan terluka, lagi.

__ADS_1


***


__ADS_2