
"Tuh anak palingan di ruang Radio, atau nongki di ruang OSIS" Jawab cowok berahang tegas itu santai. "Cari aja di sana Man, Gege mah kalau classmate begini gak netap di kelas." Lanjutnya melirik gadis catik berkulit putih itu. Amanda Aprilia.
Manda menipiskan bibir, mengangguk pelan. Saat hendak beranjak matanya menyempatkan melirik ke dalam kelas seolah mencari sesuatu.
Namun tidak ada.
"Ada lagi?" Tanya cowok itu, beralih dari layar HP nya, kini memandang gadis itu penuh.
Manda terhenyak, spontang menggeleng kaku. "Ha, kagak ini mo pergi kok"
Ciko mengangkat sebeleh alis, menyadari gelagat itu. "Yohan gak ada, kalau gak salah tadi lagi rapat MPK" Katanya nyablak begitu saja, tidak menyadari gurat wajah Manda yang memias.
"Ha? Apa sih lo tijel"
Ciko mendelik. "Ya lagian Gegenya gak ada, lo nengok terus ke dalam kelas, atau lo nyari Roni? Ada sih kalau itu noh lagi konser sama Ayu"
Manda mengumpat tertahan. "Berisik lo, dah gue pergi, kalau nanti Gegenya ke sini bilang gue nyariin"
Ciko tertawa meledek, mengajukan jempol saat Manda berlalu pergi.
"Manda ngapain?" Yolan datang dari arah lapangan basket, menghampiri Ciko yang tengah duduk di depan kelas itu.
Ciko yang kembali fokus bermain game hanya melirik sekilas. "Ohhh itu, nyariin Gege" Jawabnya santai.
Yolan mengangkat alis, diam memandangi punggung Manda yang menjauh pergi. "Gue pikir nyariin Yohan"
Ciko terkekeh mendengar itu."Maybe"
"Ha maksud?" Tanya Yolan langsung sewot.
"Tadi pas udah mau pergi, tuh anak nyuri-nyuri pandang ke dalam kelas, gak tau nyari apa, padahal kan dah gue bilangin Gegenya gak ada"
Yolan menipiskan bibir, lalu mencibur pelan. "Modus kali, sok nyariin Gege padahal mau ketemu mantan."
"ZENOO BINI LOH NIH, GIBAHIN ORANG"
Yolan memutar mata jengah, lalu menoyor jidat Ciko yang tidak mau diam, terus berteriak sampai Zeno akhirnya keluar dari kelas dengan muka bingung.
"Kenapa sih teriak-teriak? Kesurupan lo?"
Ciko mendelik. "IYA GUE KESURUPAN, NIH SETANNYA" katanya menunjuk Yolan yang berdiri tenang memandang Ciko lempeng.
"Buset, ciko kalau adzan subuh di masjid gak usah pake toa, suaranya udah cukup bangunin satu kelurahan" Seseorang yang baru datang langsung menyeletuk julid.
"Berdua mulu, awas kawin" Yolan menyeletuk menyindir Yohan yang berada di samping Gempi.
Udah kek perangko, lengket, kemana-mana berdua.
Gimana orang-orang gak pada salah paham.
"Bertiga mulu, awas jadi segitiga berbudar" Balas Gempi ngasal, tak mau kalah.
Ciko melotot, mencekal pergelangan tangan Gempi saat gadis itu hendak berlalu masuk ke dalam kelas.
Yohan yang berjalan di belakang gadis itu ikut menghentikan langkah.
"Dari mana lo?"
__ADS_1
Gempi mengangkat sebelah alis."dari ruang OSIS"
"Ada yang nyariin"
"Siapa? Gue?" Tanya Gempi sambil menunjuk dirinya sendiri. Ciko mengangguk, menarik Gege mendekat hingga dapat memberi Yohan jalan untuk masuk kedalam kelas.
"Manda nyariin elo tadi, katanya ada yang mo di tanyain"
Gempi diam sesaat, mengernyit samar lalu kemudian berseru heboh. "Oh iya iya, terus Manda nya mana?"
"Dah balik" Jawab Ciko cuek, melepas genggaman tangannya.
Setelah mendapat jawaban, Gempi bukanya masuk ke kelas tapi malah menuju ke arah berlawanan.
"MO KEMANA LO?" Teriak Yolan.
Gempi memutar kepala, menoleh."Ke IPS bentar!" Jawabnya kemudian berbalik pergi.
"Tuh bocah sibuk bener dah"
Ciko ikut menoleh memandang Gempi yang sudah menjauh dari pandangan. "Gege... Tau gak sih Manda siapa?"
Zeno mengernyit. "Tau lah, gak jelas pertanyaan lo"
Ciko melirik jengah, kemudian memiting leher cowok di sampingnya itu. "Minkem aja bisa gak sih" Katanya kesal, namun jadi terdiam saat merasakan jambakan kuat di ujung rambutnya.
"Lepas"
Ciko cengengesan, dengan cepat menuruti perintah itu. Yolan sudah melotot tajam ke arahnya. "Di antara anak-anak cewek di kelas, kayaknya cuman Gege deh yang akrab sama si Manda"
Memang faktanya hampir semua siswi MIPA 2 tidak begitu 'senang' dengan cewek bernama Amanda Aprilia itu, agak tidak suka karena tau cewek cantik dari kelas IPS 3 itu pernah mematahkan hati Waketu panutan mereka, Yohan Pangestu.
Yolang mengangguk setuju.
"Eh eh eh, tapi tumben ya, selama ini kan Manda gak pernah mampir ke sini" Kata Ciko berbisik curiga."atau cuman gue yang ngerasa aneh?"
"Iya cuman lo doang" Sahut Zeno santai, Ciko mengumpat kasar.
Yolan menghela nafas ikut kepikiran, apa yang di katanya ciko tidak salah, yang namanya Amanda itu tidak pernah sekalipun terlihat menunjukan barang hidungnya di area 11 MIPA 2 jelas sekali menghindari seseorang di dalam kelas itu.
Bahkan Yohan pun begitu. Entah karena terlanjur membenci mantanya itu, atau..
...takut jadi goyah ketika bertemu kembali dengan Amanda.
Yolan diam lama, kemudian menoleh saat seseorang tiba-tiba saja keluar dari kelas menatap mereka bertiga penuh tanya.
"Loh Gege mana?" Tanya Yohan heran, perasaan cewek itu baru dia tinggali bentar dengan tiga orang ini. "Tadi katanya mau belajar bareng buat kuis"
Ciko dan Yolan saling pandang, kemudian sama-sama merapatkan bibir diam.
Yakali ngomong kalau 'Gempi barusan pergi nemuin mantan lo'
Namun Zeno dengan polosnya nyeletuk. "Tadi Gege bilang mau ke IPS, nemuin Manda kayaknya Yo."
Ciko mengumpat, Yolan mendesah pasrah.
***
__ADS_1
"Terus gimana?"
Gempi menyedot jus alpukanya sesaat, kemudian menatap cewek yang duduk di depannya ini, tenang."Bentar Man, gue harus tau dulu orang yang mau lo gebet ini siapa, atau minimal modelnya kek gimana biar gue bisa mikir cara bantuin elo gimana"
Dua orang gadis itu sedang berada di kafetaria sekolah.
Manda mengerjap dua kali, menghindari pandangan Gempi sambil membasahi bibir bawahnya kikuk. "A-ah anu, orangnya gak neko-neko, bawaanya kalem gitu." Jelas Manda.
Gempi diam sesaat, alisnya mengernyit samar."emmm anak basket?"
Manda menggeleng.
Gempi tanpa sadar menahan napas begitu saja."futsal?"
Manda merapatkan bibir sesaat, lalu tersenyum manis."Bukan Ge" Ia tertawa cantik. "Yakali futsal mulu" Katanya mencoba bergurau.
Gempi menyeringai mengerti."Yakan siapa tau" Balasnya santai tertawa ringan. Gadis itu berdehem pelan."Gini ya, kalau cowoknya begajulan, titisan aligator, bad boy, elo harus jadi kalem, santuy, dan jual mahal, tapi kalau cowoknya modelan kek yang lo bilang tadi, berarti lo harus lebih sedikit agresif, soalnya cowok modelan begitu biasanya gak pekaan dan lelet, jadi lo sebagai cewek yang harus bergerak." Jelas Gempi panjang lebar.
Manda melongo, lalu mengangguk-anggukan kepala mengerti. "Terus langkah awal gue gimana?"
"Cyeelah langkah awal, kek mo tutorial masak memasak aja lu" Kata Gempi nyerocos garing. Namun Manda yang baik hati ikut menertawai itu. "Kasih perhatian ke dia, lo harus bisa biasain diri nge-chat duluan, bahas apa aja"
"Kalau dia risih gimana?"
"Elahh cuman cowok bego yang risih sama modelan kek elo, palingan ambayar tuh manusia" Kata Gempi meyakinkan.
Manda terseyum cerah, matanya berbinar jadi semangat."Gitu?"
"Iye" Gempi menepuk dadanya percaya diri. "Percaya sama gue".
Manda tertawa melihat itu, tanpa sadar jadi mengingat ucapan orang-orang di sekitarnya tentang seperti apa Seorang Gempo julianti itu.
Kalau Gempi itu, gampang bikin nyaman.
Manda merasakannya sendiri.
"Kok bengong?"
"Ha?"
Gempi mengakat alis, lalu terkekeh geli melihat wajah cengo di depannya itu. "Nih hp lo bunyi"
Manda mengerjap dua kali, kemudian mengerjakan mata melihat deringan hpnya yang di atas meja baru saja mati.
Di susul dengan dua notifikasi beruntung yang muncul di layar, sebelum Manda sempat meraih hpnya.
Ping!
Yohan: Ama
Yohan: Lagi sama Gege ya?
Manda dengan gerakan cepat meraih hpnya, lalu terlihat mengotak atik hp sepertinya membalas pesan.
Tidak menyadari bahwa cewek yang duduk di depannya sekarang tiba-tiba terdiam dengan tubuh menegak kaku memandang Manda tak terbaca.
Gadis itu menelan ludah getir, kedua bahunya melemas.
__ADS_1
Yang tadi itu... Gempi tidak salah lihat kan?
🥨🥨🥨