WAKETU GAMON (SHS 1)

WAKETU GAMON (SHS 1)
Krim kue


__ADS_3

Sore itu, kedua murid yang masih mengenakan seragam khas SHS tengah berada di tempat perbelanjaan yang sering di kunjungi anak-anak MIPA 2. Soalnya kalau di tempat ini selain bagus-bagus juga lengkap semua.


"Lo mau ngasih hadiah apa?" Tanya Yohan berjalan di belakang Gempi, memperhatikan gadis itu yang sejak tadi belum juga menemukan sesuatu yang menarik di matanya.


"Yang cocok buat Ciko apa ya?" Tanya Gempi pelan dengan kedua mata yang bergerak jeli. Mereka memang tengah mencari hadiah untuk Ciko yang akan berulang tahun besok.


Yohan menggerakan mata ke atas, tampak berpikir."Komik?" jawabnya asal.


Gempi terkekeh. "Itu mah Zeno"


Yohan mencebik pelan."Bola basket"


"Ini ultahnya Ciko Yo, bukan Hendra" kata Gempi kembali meralat."Lagian Ciko itu anak Band, ngapain ngasih bola basket sama dia?"


"Biar sekali-kali tuh anak main basket gak cuman ngejereng-ngejreng senar gitar" katanya ketus.


Gempi menoleh mantap Yohan geli, namun tidak mengatakan apapun dan kembali melihat benda-benda di sekitarnya.


"Makanan aja Ge" Saran Yohan."Tuh anak kan doyan makan"


Gempi diam sesat menimbang-nimbang, namun akhirnya menggeleng juga."Kurang pas, kayaknya yang lebih cocok buat ciko itu album penyanyi favorit nya deh"


Yohan mengakat alis, lalu mengangguk pelan."Iya itu aja" Ia diam sesaat lalu menyeletuk bingung."Emngnya lo tau siapa Penyanyi favorit nya Ciko"


Gempi tersenyum senang."Tau lah, yaudah ke situ ayo" Katanya sambil meraih tangan Yohan, lalu menarinya pergi ke tempat sebelah.


Yohan mengulum bibir, menatap tangan kanannya yang di genggam gadis itu. "Ge"


"Ya?" Balas Gempi tanpa menoleh.


"Kayaknya elo tau semua kesukaan anak-anak cowok di kelas"


Gempi mengerjap, kemudian berhenti dan berbalik. "Lumayan" jawab gadis itu jujur, menyeryit melihat tatapan tak terbaca yang di berikan Yohan saat ini."Kenapa, kok ngelihatanya gitu?"


Yohan tersenyum tipis lalu menyempatkan melirik CCTV yang di sudut ruangan. Cowok itu kemudian melangkah mendekat mengikis jarak membuat Gempi yang tak siap refleks bergerak mundur selangkah.


"Jadi lo tau semua?"


"Hm?" Gempi menelan ludah, matanya bergerak gelisah memandang sekitar takut-takut ada yang melihat dan salah paham. jarak mereka terlalu dekat."I-iya tau"


"Kalau gue?"


Gempi mengakat alis saat Yohan memberikan pertanyaan itu.


"Kalau gue, apa yang gue suka?" Tanya cowok itu berbisik. Gempi menelan ludah membalas tatapan lekat Yohan."Apa yang gue suka?"


Gempi diam sesaat, lalu berdehem pelan menutupi gugup."Apaan sih tiba-tiba nanya gitu? ultah lo masih lama, jangan dulu request hadiah napa"


Yohan menyeryit kemudian mencebik pelan."Bukan itu maksud gue Ge" Katanya mengrengut kesal.


Gempi merapakan bibir, lalu tertawa garing."Maksdunya apa sih, gue gak ngerti"

__ADS_1


Yohan menyipitkan mata, agak lama menatap Gempi menyelidik."Gak ngerti atau pura-pura gak gak ngerti?"


Gempi mengerjap dua kali, memasang muka polos."Gak ngerti, udah yok beliin hadiah buat Ciko" Katanya cepat dan kembali menarik tangan Yohan agar segera beranjak.


...****************...


Malam minggu. Seperti biasa semua anggota kelas MIPA 2 berkumpul lengkap, apa lagi mereka sudah membuat rencana akan memberi suprise tepat di jam dua belas malam, jadi tidak boleh ada yang absen dengan alasan mager atau apapun.


Dan saat ini, para anak-anak muda itu tampak tengah berkumpul di halaman belakang rumah Hendra. Semuanya berjalan natural, tampak seperti biasa.


Wenda, Kesya, Ayu dan Yolan sedang asik berfoto ria, sedangkan Gempi, Raya, Suli dan Fannya sibuk membahas gosip baru di sekolah mereka. Gempi yang membawa info, Raya dan Suli yang heboh menanggapi sedangkan Fannya si gadis kalem itu menyimak dengan serius.


Hendra sedang membakar ayam bersama Yohan dan Yono, sementara di gazebo sana tampak Reno, Toni, Zeno, Sofy dan Ciko sedang bernyanyi. Ciko yang bermain gitar, Reno dan Toni jadi vokalis sedangkan Zeno tampak tenang merekam di suruh sama keempat cowok itu, katanya biar nanti di aplod di feed ig kelas, agar nanti para adik-adik kelas sepuluh bisa pada lihat.


"Kuenya di mana Teh?" Gempi bersama Raya, Suli dan Fannya kini bergabung dengan Wenda dan yang lain. "Bentar lagi jam dua belas pas"


"Tadi gue taroh di kulkasnya Hendra" Bisik Wenda. "Apa gue siapin sekarang aja? tinggal lima menitan lagi soalnya"


"Nanti aja Teh, barengan sama Hendra. Selesai bakar ayam tuh anak bakal masuk ke dalam rumah juga buat matiin lampu" Kata Gempi menyarankan.


Dan tepat saat itu juga Hendra tiba-tiba muncul di antara mereka membuat kedelapan cewek yang tengah berbisik-bisik itu terhentak kaget dan menoleh kesal.


"Siapa yang mau bawain kuenya?" Tanya Hendra santai, masa bodo dengan tatapan sengit yang di berikan cewek-cewek itu padanya.


"Gue" kata Wenda berdiri."Ayo" Ajaknya yang di angguki Hendra, kedua orang itu kemudian melangkah masuk kedalam rumah.


Raya memandangi itu intens sambil menyipitkan mata, ia kemudian menyeletuk."Gue rasa, Hendra sama Wenda makin kesini kok makin lengket ya?"


"Serius, Ge"


Gempi masih tertawa."Iya iya maap"


Suli menggeleng pelan melihat itu, entah di mana letak kelucuanya, tapi karena ini Gempi jadi tidak perlu heran lagi, anaknya memang receh abis."Gue juga mikir gitu, kayaknya bakal ada yang baper-baperan lagi setelah Yohan-Gempi"


Gempi sontak minkem, berhenti tertawa mendengar itu.


Giliran teman-temanya yang jadi menertawai nya. Gempi mendengus saja, pasrah.


Hingga, lampu tiba-tiba mati. Membuat Cowok-cowok yang ada di gazebo sana menjerit nyaring lalu langsung berlari rusuh menghampiri Yohan dan Yono yang sedang membakar ayam.


"Woy woy woy jangan dorong-dorong dong, ini gue hampir nabrak charcoal grill" Kata Reno sewot entah pada siapa sambil menunjuk panggangan bbq yang ada di dekatnya.


"SENTER MANA SENTER??!!" Toni berteriak nyaring, Ciko di sampingnya langsung mengumpat sambil mengusap telinganya yang berdengung.


"JANGAN BERISIK WOY, GELAP NIH NANTI SETANNYA MUNCUL GIMANA, TOLOL LO SEMUA!" Kata Yono tida sadar suaranya juga nyaring bukan main. Sofi langsung turun tangan menabok kepala cowok itu biar sadar.


Zeno sendiri kalem membantu Yohan menyiapkan ayam yang sudah selesai di panggang.


"Hendra mana Hendra, WOY HENDRA LO LUPA BAYAR TOKEN LISTRIK YA?!" Teriak Reno lagi belum mau diam.


"Berisik lo bego" Balas Hendra yang tau-tau keluar dari dalam rumah bersama Wenda di sampingnya yang sudah memegang kue ulang tahun.

__ADS_1


Semua atensi tertuju pada mereka.


Sontak para anak cewek langsung heboh menyanyikan lagu selamat ulang tahun, membuat yang cowok-cowok langsung refleks mengikuti. Walau sebelumnya sempat ngelag sesaat.


Ciko sendiri terdim melihat itu, ia ternganga-nganga menatap kue ulang tahunnya. "Lah.. kalian inget?" Tanya cowok itu saat lagu selesai di nyanyikan, dan teman-temannya sudah berdiri mengelilingi nya.


Ciko melongo, membuat Raya tak tahan langsung mengusap kasar wajah cowok itu agar sadar. "Tiup lilinnya cepat, gak sabar nih mo makan kue"


Ciko mendelik, namun tetap meniup lilin itu. Semuanya bertepuk tangan.


Hendra sendiri kembali masuk ke dalam rumah untuk menyalakan lampu kembali.


Mereka semua kemudian duduk di atas rumput beralaskan tikar. Sudah ada berbagai jenis makanan yang tersedia di situ.


"Gue pikir ini cuman acara malming kek biasanya" Celetuk Ciko masing tidak menyangka, teman-temanya diam saja membiarkan. "Ah terharu gue" lanjutnya sambil berlagak mengusap air mata di pelupuk mata.


Beberapa langsung mengupat, tak tahan melihat tingkah cowok itu.


"Hadiah nya mana, masa gak ada hadiah?" Tanya Ciko meminta tak sabaran.


"Gue hadiahnya besok aja, traktiran bakso lima mangkok" Kata Sofi dengan santai sudah makan duluan.


"Gue lupa bawa, besok aja" Kata Reno membuat Ciko mengumpat, tapi senyumannya kembali terbit saat teman-temanya yang lain sudah menyodorkan hadiah masing-masing pada Ciko.


Ciko tertawa lepas, bahagia.


"Kuenya potong woy, ketawa mulu awas robek pipi lo" Kata Hendra menoyor pelan kepala Ciko.


Ciko cengengesan, kemudian segera memotong kue beberapa bagian.


Setelahnya, suasana kembali rusuh seperti biasa. Musik koplo sudah di putar, Ayu langsung trun on, bersama cowok-cowok kelas berjoget gila.


Gempi menertawai itu sampai tak ada suara, Membuat Yohan yang duduk di sampinya tersenyum lalu menegur lembut."Napas Ge"


Gempi mengatur napasnya, lalu menggigit potongan kue ulang tahun yang berukuran cukup besar di tanganya itu.


Yohan terkekeh geli melihatnya, membuat Gempi menoleh bingung. "Kenapa?"


"Ini" kata Yohan menunjuk sudut bibirnya sendiri.


"Ha?" Gempi mengerjap tidak paham."Apaan?" Katanya galak mendelik tajam, sudah salah paham.


Yohan menggeleng pelan menahan senyum, tanganya kemudian terulur menyentuh lembut sudut bibir Gempi, meusap krim kue yang tertinggal di sana, setelah itu ia menarik tanganya kembali dan tanpa kata menjilat sisa krim dari bibir Gempi yang sudah berpindah di jarinya itu dengan santai.


Gempi speechless, kedua matanya melebar, tanpa sadar sudah menahan napas.


"Manis"


Satu kata yang keluar dari bibir Yohan, berhasil membuat kedua pipi Gempi memerah padam.


****

__ADS_1


__ADS_2