Wanita Dibalik Cadar

Wanita Dibalik Cadar
Bab 26


__ADS_3

"aku bersedia Mas, walau tak sekalipun cicin ini terpasang di jari manis ku, aku bersedia menemanimu disepanjang waktuku hingga dipenghujung tua kita dan aku berharap ketika Allah memasukan ku kesyurga kamu lah yang menjadi pangeran ku kelak"


"owhhh so sweet" ujar seseorang yang menonton adegan ketika kami sedan berdua


aku kaget dan enggak nyangka karna menjadi pusat perhatian beberapa pengunjung Mall, akhirnya aku tarik tangan Aisyah untuk pergi dari keramaian menuju keluar Mall, Aisyah sedari tadi nunduk terus ntah lah apa yang dirinya rasakan saat itu.


sesampainya dirumah Ayah dan Ibu saat itu sedang nonton tv diruang tamu, meliat kedatangan kami Ibu menyapa "wah yang lagi mejeng nih yee,mana oleh olehnya buat Ibu" goda ibu


"oh iya ini ada bawa martabak asin kesukaan Ibu" ujarku seraya memberikan bungkusan


"eh tuh istrimu kenapa Be dari tadi nunduk terus" telisik ibu


"oh enggak tau tuh Buk, dari tadi juga nempel nempel mulu kayak ulet bulu" candaku


"iiisshh Mas Abe ini apaan sih malu ah" ujarnya sembari menyenggol badanku


"oia be ntar Ayah mau ngomong sesuatu berdua sama kamu"


"ngomong apa memang Yah?" ujarku sedikit penasaran


"kamu anter istrimu dulu kekamar, Ayah tunggu di teras rumah yah" ujar Beliau


aku pun mengiyakan, lalu Aisyah ku gandeng untuk masuk kerumah karna keliatannya dirinya sedang letih dari perjalanan jauh, saat masuk kamar Aisyah lalu bertanya kepadaku


"emang apa Mas yang mau di omongin Ayah?, tumben berdua aja mau ngomong sama kamu?"


"ndak tau Syah, lagian kepo aja kamu ini, yaudah tidur gih kamu capek kan?"


"capek sih enggak Mas, yaudah gih sana di tunggu Ayah entar" pinta Aisyah


"yaudah aku keluar dulu, jangan tidur yah i'm comeback to u" ujar ku seraya menunjuk kearahnya


aku lalu keluar kamar dan berjalan menuju keluar rumah, terlihat Ayah sedang duduk dengan ditemani secangkir teh hangat di sampingnya, saat melihatku Beliau lalu mempersilahkan ku duduk disampingnya.


"ada apa ya Yah?. tumben Ayah pengen ngomong berdua sama Abe?" ujarku yang duduk di samping beliau


Beliau enggak langsung menjawab, hanya helaan nafas panjang yang keluar dari mulutnya, kemudian menatapku lalu tangannya menepuk pundakku.


"Pakde kamu tadi siang telfon Ayah"


"Pakde yang mana Yah?" ujarku


"itu Kakaknya Ayah yang paling tua yang tinggal di karawang, kamu paling lupa soalnya pas kamu kecil Pakde kesini, setelah itu jarang kesini lagi"


"emang ada Masalah apa Yah kok tumben Pakde telfon Ayah?" tanyaku


"masalah sih endak ada cuman dia marah aja soalnya saat kamu nikah dia endak di undang"


"oh gitu" seraya manggut manggut mencerna omongan Beliau


"terus Pakde mu nyuruh kamu sama istrimu dateng kerumahnya di karawang, kata Beliau ada sesuatu yang mau di kasih kekamu"


"sesuatu apa itu Yah" tanyaku penasaran


"Ayah juga endak tau Nak, nih tiket pesawat berdua untuk kamu dan istrimu, besok kamu disuruh berangkat, ntar dijemput sama sopir nya Pakde di bandara Soeta"


"hah?, secepat itu kah Yah?"


"iyah, pokoknya harus nurut sama Pakde soalnya orangnya keras, entar kamu disana harus jaga sikap yah" ujar Ayah lalu masuk kedalam rumah

__ADS_1


sedangkan diriku masih duduk sembari memikirkan tentang Pakde, apa yang mau dikasih Beliau kepadaku?. sepenting ini kah hingga Beliau repot repot membelikan tiket berdua untukku dan Aisyah?. aku lalu masuk kamar seraya masih memandangi tiket tersebut yang aku pegang.


"kertas apa itu Mas yang ada ditanganmu?" tanya Aisyah


"tiket" jawabku singkat


"tiket?, buat?"


"buat kita Syah, besok pagi siap siap packing yah, kita berangkat kekarawang" pintaku


"karawang?, tempat siapa?" tanyanya lagi


"ketempat Pakde ku Syah"


"oh yaudah entar habis subuhan aku siapin koper deh buat baju kita, oh iyah enggak nyangka ternyata kamu punya Pakde juga dikarawang mas?"


"aku juga belum tau banyak tentang Beliau Syah, yaudah tidur yuk entar subuhnya kesiangan loh" pinta ku sembari merebahkan tubuhku di kasur.


keesokan harinya setelah pulang dari sholat subuh berjamaah di masjid kampungku aku lalu berganti baju bersiap siap untuk pergi menuju bandara internasional adi sumarmo untuk bertolak dari jawa tengah menuju bandara Soeta di jakarta, ku liat Aisyah sudah mempersiapkan baju bajuku dan bajunya di koper sedangkan Ayah dan Ibu menungguku diruang tamu.


"kamu sudah telfon Ayah sama Ibumu?" tanyaku pada Aisyah


"sudah kok Mas, kata Ayah Beliau engga bisa nganter kita soalnya lagi sibuk"


"owh ndak apa apa kita pake motor aja biar cepet"ujarku


kami berdua pun keluar kamar, aku lalu membawa koper lalu kuletak kan di sepeda motor matic, kemudian kembali kerumah seraya menemui Ayah dan Ibu untuk pamit, tangan Ayah dan Ibu lalu kucium seraya pamit "Abe pamit Yah, Buk"


"iyah ati ati dijalan" sahut Ibu


"inget ya Nak pesen Ayah tadi malam" pinta Beliau kepadaku


"enggih, Abe berangkat assalamu'alaikum"


"Aisyah juga pamit Yah, Buk assalamu'alaikum"


"wa'alaikumsalam, hati hati yah nduk" jawab Ibu


diperjalanan diriku hanya terdiam memikirkan kata kata Ayah tadi malam, entah kenapa dari wajah Ayah tersirat sangat berat membiarkan ku untuk pergi ketempat Pakde, seperti ada sesuatu yang beliau rahasiakan dariku, ah sudahlah mungkin ini hanya was was syaithon, buru buru ku tepis pikiran buruk itu dalam benak ku.


sesampainya di bandara Adi sumarmo cuaca saat itu sangatlah panas membuat Aisyah sepeti kepanasan ketika berjalan menuju bandara hingga akhirnya ku lepas jaket untuk menutupi wajahnya, Aisyah lalu melihatku kemudian menyipitkan matanya tanda dirinya sedang tersenyum.


saat check in hingga sampai dipesawat pun aku tetap diam hanya sesekali tersenyum melihat tingkah Aisyah yang sibuk dengan melihat kejendela ketika pesawat sudah mengudara, 45 menit perjalanan yang ku tempuh menuju jakarta akhirnya sampai juga, bandara internasional soeta, bandara terbesar di indonesia yang luasnya mungkin kalah dengan bandara di kota kelahiranku.


setelah sampai aku dan Aisyah berjalan mencari tempat duduk untuk beristirahat sejenak sembari menunggu mobil jemputan untuk membawa kami kerumah Pakde, beberapa menit kemudian telpon ku berdering yang entah dari siapa yang menelponku karna tak ada dalam daftar nama dikontak hpku.


"assalamu'alaikum" sapaku


"wa'alaikumsalam, ini Mas Abe yah?" sahut suara lelaki


"iyah ini saya sendiri, ini siapa?"


"ini Supirnya Pak Joko Mas, aku udah di bandara, masnya posisi dimana?" tanyanya


"oh ini saya didepan starbuck cofee Mas"


"oh yaudah aku kesana Mas, tunggu yah" ujarnya lalu telpon terputus


beberapa menit kemudian datanglah lelaki berumur sekitar 30an tersenyum melihatku sembari melambaikan tangannya, aku dan Aisyah lalu mendatanginya, dengan sigap beliau lalu membawa tas yang aku bawa.

__ADS_1


kami lalu memasuki mobil yang cukup mewah bagi ku yang anak desa yaitu mobil ayla berwarna orange, mobil pun melaju kearah karawang yang mungkin sekitar 3jam perjalanan.


"kamu capek yank?" ujarku


"hmmm enggak sih pengen liat kota besar aja yang selama ini hanya bisa aku lihat dari tv" ujarnya sembari memandang kearah kaca mobil


aku hanya tertawa gemes melihat tingkahnya seraya mengusap kepalanya, pikiranku kembali menerawang kedepan "gimana yah reaksi Pakde yang melihatku menggandeng istri kerumahnya?apa yang harus aku katakan ketika awal bertemu dengan beliau?semoga semua diluar dugaanku" sembari membathin


"kamu mikir apa sih Yank?" tanya Aisyah


"mikir apa?, enggak kok" ujarku


"dari bandara di kota kita sampe sekarang kok kamu diem terus?"


"mikirin kamu syah" godaku


"aku?, apa yang Mas pikir?"


"aku mikir aja kok tambah hari istri ku tambah cantik" rayuku


"ishh ditanya bener bener kok, enggak malu apa sama Mas sopirnya ?" ujar Aisyah


"hehe maaf yah Mas mohon di maklumi" ujar Aisyah berkata kepada sopirnya


"oh enggak apa apa kok Mbak, pasangan muda memang wajar begitu seraya dunia milik berdua" ujar sopir seraya tersenyum


"kira kira berapa jam lagi yah Mas kita sampe?" tanya ku


"udah mau sampe kok, itu gang masuk kompleknya sudah keliatan" tunjuk beliau kearah kanan jalan yang bertuliskan komplek Galuh MAS


Aku tercengang ketika melihat gang masuk komplek yang begitu besar sepertinya ini komplek perumahan mewah, dengan pos satpam yang dibangun untuk berjaga jaga.


setelah membuka kaca mobil kami pun dipersilahkan masuk, kami disuguhi pemandangan yang serba hijau, rumah mewah yang terpajang di sisi kanan dan kiri kami hingga membuatku tak bisa berkata apa apa begitu juga Aisyah.


mobil lalu terhenti didepan rumah bertingkat yang enggak kalah dengan yang aku lihat barusan tadi, ini kah rumah Pakde joko?, sangat besar dengan halaman yang cukup luas terparkir mobil satu lagi namun bukan mobil mewah melainkan mobil kijang tahun 1994, kami berdua pun keluar dari mobil dan masih berdiri didepan rumah Pakde, rasa minder menghantui diriku hingga tak sanggup rasanya melangkah maju kedepan rumah beliau hingga seseorang yang berusia separuh baya namun penuh dengan wibawa berjalan mendekatiku dan Aisyah.


"assalamu'alaikum" sapa orang tua tersebut


"wa'alaikumsalam" jawabku dan Aisyah


"15tahun Pakde tinggal sekarang kamu udah besar yah?" sahut orang tua yang enggak lain ternyata Pakde Joko


"eh eng...enggih Pakde" ujarku terbata bata seraya mencium tangannya


"ini siapa Be?, istri kamu yah?" tanya Beliau


"Iyah Pakde, namanya Aisyah" ujarku 


"udah berapa Juz Alquran yang kamu hafal?" ujar Beliau


aku terkejut mendengar pertanyaan dari beliau, lidahku seperti tercekat untuk menjawabnya, namun akhirnya aku menenangkan diri lalu menjawab "baru 8Juz Pakde"


"umur kamu berapa sekarang?" tanya Beliau lagi


"hampir 20tahun Pakde" jawabku 


"terus ngapain aja selama ini?cuman hafal 8 Juz doang?, dikemanain Alquran nya?, buat pajangan doang dirumah yah?" sembari menggelengkan kepala serta tersenyum sinis kepadaku


aku hanya tertunduk malu tak dapat berbuat apa apa, memandang wajahnya pun segan.

__ADS_1


"ternyata manusia yang mampu melihat namun Alquran tak pernah ada di hatinya, lalu dengan apa kamu mendidik istrimu kalau Alquran saja kamu abaikan?"


kata kata beliau sungguh mengena sekali dan menjadi cambuk buat ku yang akhir akhir ini memang sedikit menyetop hafalan quran ku ketka menikah dengan Aisyah, sungguh benar benar malu diriku menghadap Beliau, kalau bisa aku pulang kembali kerumah mungkin lebih baik aku pulang dari pada menghadapi Pakde.


__ADS_2