Wanita Dibalik Cadar

Wanita Dibalik Cadar
Bab 48


__ADS_3

3 bulan setelah kejadian Wulan pergi dari rumah kehidupan rumah tangga ku kembali berangsur baik, namun ada satu sifat dari Wulan yang tak kusukai yaitu sedikit jorok, setiap dirinya makan cemilan sisa sampahnya pasti berserakan di atas ranjang, kadang sampai numpuk di kolong ranjang.


Sengaja ku biarkan karna aku yakin pasti dirinya akan membersihkan sisa sampah bekas cemilannya, namun hingga tiga hari tak kunjung jua dirinya mau membersihkan kamar malah cuek dan membiarkan sampah sampah berserakan dimana mana, karna habis kesabaran aku pun menegurnya dengan lembut.


"Sayang" sapa ku sembari duduk disampingnya.


"Hmm..." sahutnya tanpa melihatku.


"Udahan dulu main hpnya, yuk kita bersih bersih kamar".


"Nanti ah Bi, lagi asyik nih nonton film" sedikit memelas.


"Sudah 3 hari loh yank, kamu ndak risih apa?".


"Bentar lagi deh, nanggung nih lagi seru serunya".


Diriku menghela nafas panjang sembari menggelengkan kepala melihat kelakuan Wulan yang sedikit malas masalah kebersihan, kemudian ku beranjak dari ranjang dan berjalan menuju ruang tamu.


Kusandarkan tubuhku di sofa sembari mengecek jualan ku di instagram namun tak jua ada orderan yang ku terima, hp pun ku letakkan di atas meja sembari mengusap wajahku ku bergumam "kenapa sikap Wulan akhir akhir ini sedikit malas?, dulu awal dia datang kerumah ini kalau ada sampah sedikitpun pasti dengan cekatan membuangnya ketempat sampah, namun sekarang semakin sembrono bahkan debu di lantai pun makin menembal tak ada inisiatif untuk membersihkannya".


Bukan bermaksud merendahkan wanita tapi wanita itu pekerjaan dan tanggung jawabnya dirumah sangat lah besar seperti melayani suami, membuat rumah nyaman, mengurusi anak, 24 jam hidupnya tak ada istirahatnya, pekerjaan yang berat dari pada pekerjaan laki laki yang hanya berangkat pagi pulang sore.


Namun berbeda terbalik dengan Wulan yang terkesan sedikit santai dan sibuk dengan gadgetnya, bahkan betah sampai seharian tidur diranjang sambil memandang gadgetnya sampai terkadang Annisa nangis namun tak jua dia gubris hingga aku sendiri yang turun tangan untuk bekerja membersihkan rumah hingga menenangkan Annisa ketika rewel.


Setelah selesai sholat maghrib di masjid dekat komplek aku berjalan bebarengan dengan Bapak Bapak yang rumahnya berdekatan dengan rumah ku, sedang berjalan santai Zubair ngobrol santai dengan orang disampingnya, yang ku dengar obrolan mereka seperti membanggakan istri mereka seperti jago memasak, jago bebersih rumah dan tak ada satu debu pun yang menempel dirumah kecuali akan dibersihkannya.


Diriku yang mendengarkan obrolan mereka sedikit ada rasa iri, jangan kan memasak atau bersih bersih rumah, istriku malah selalu sibuk dengan Hpnya.


Ku menghela nafas panjang sembari terus berjalan mendengarkan orang orang disamping ku terus mengobrol.


"Be, antum baik baik aja kah?" Sapa Zubair.


"Baik kok" berusaha tersenyum


"Tapi tak liatin dari tadi Antum diem aja, dan kayak nya muka Antum juga sedikit lelah gitu".


"ah enggak kok Akhi, Ana baik baik aja, mungkin memang lelah sedikit" jawab Ku.

__ADS_1


"Thoyyib, kalau gitu Ana duluan masuk rumah yah, oh iya kalau lelah minta pijet tuh sama istrinya" sembari cengengesan.


Diriku hanya sedikit tersenyum kepadanya kemudian melanjutkan berjalan menuju kerumah yang tak jauh dari rumah Zubair, saat membuka pintu masuk rumah kududuk kan diriku di sofa sembari melihat lihat ruangan dirumah ku ternyata tempat sampah dekat dapur sudah penuh hingga tak mampu lagi menampung sampai jatuh kelantai.


Aku pun berjalan menuju kamar dimana Wulan masih tiduran di atas ranjangnya, sembari duduk disampingnya tangan ku mengusap ubun ubunnya seraya berkata.


"Yank, sudah sholat?".


"Sudah" jawabnya.


"Bantuin Aku yuk bersih bersih rumah?".


"Nanti lah Bi, abis isya deh aku bersihin".


"Kenapa harus nunggu isya?".


"Karna filmnya belum habis".


"Daripada Kamu nonton film kenapa ndak baca Al Quran aja agar waktunya enggak mubajir dan dapet pahala".


Tanpa ku jawab argumennya Diriku beranjak darinya berjalan menuju kearah dapur kemudian mengambil kresek besar lalu menumpahkan tong sampah yang berisi banyak sampah menumpuk kemudian mengeluarkannya diteras rumah, kalau menunggu dirinya bangkit bisa bisa jadi hutan lama lama ini rumah.


Setelah sholat Isya Ku bersegera berjalan menuju kerumah berharap Wulan sedang bersih bersih dan Aku bisa membantunya namun harapan itu sirna ketika melihatnya malah tertidur di atas ranjang dengan bungkus camilan masih berserakan


disekitar tubuhnya, dengan menghela nafas panjang Aku pun mendekatinya sembari memunguti sampah sampah yang ada disekitarnya sembari bergumam "kok bisa kamu ini tidur di antara tumpukan sampah bekas camilan".


Setelah selesai membersihkan rumah aku duduk sembari melepas lelah namun tak berselang lama terdengar tangisan Annisa, Aku pun bersegera menghampirinya, ternyata Annisa sedang BAB, dengan cekatan Aku pun mengganti popoknya kemudian membuatkan susu di dot agar Annisa terdiam.


Kemudian aku membuatkan susu untuk Annisa, pandangan ku toleh kan kearah kamar dimana Wulan masih tetap pada posisi tidurnya, padahal tangisan Annisa sangat memekak kan telinga namun Wulan tak jua kunjung bangun.


Setelah menenangkan Annisa, Aku pun bersandar di tempat tidur Annisa yang kecil sambil tangan ku mengelus kepalanya "sabar yah Nak, Ibu tirimu mungkin tidak mendengar panggilanmu, dan doakan yah semoga Ibumu cepat sadar dari sifatnya"


Keesokan harinya aku mendudukan Wulan di ruang tamu, aku tak ingin berdosa membiarkan Istriku melalaikan kewajibannya sebagai seorang Ibu dan Istri.


"Lan" tegurku.


"Iyah" jawabnya sambil memandang Hp.

__ADS_1


"bisa taruh sebentar ndak Hpnya? Aku mau ngomong".


"Ngomong aja Bi". Masih sibuk dengan Hpnya.


"Istri Sholeha itu kalau di panggil Suami sami'na wa atho'na walau sesibuk apapun".


"Iya iya kenapa sih Bi" sembari


meletakkan Hpnya di atas meja.


"Alhamdulillah ya gitu kalau di panggil suami mbok noleh, bukan liatin Hpnya, suamimu itu hp atau manusia?".


"Yah manusia lah, enggak ada pertanyaan yang lebih aneh lagi apa selain itu?" Ucap Wulan sebal.


"Abisnya akhir akhir ini kamu sibuk dengan Hp, suami kamu cuekin, rumah enggak ke urus, anak nangis kamu malah tidur?".


"Terus aku mesti gimana sih Bi?".


Sambil tersenyum ku belai pipinya "jadilah Ibu dan Istri yang baik sayang".


"Yah kalau Aku bukan yang terbaik buat mu dan anak mu cari yang lain aja" sembari mengambil hpnya.


Aku menggela nafas panjang sembari berkata "bukan begitu caranya menyelesaikan masalah sayang, kalau kamu capek kan aku bisa ikut membantu meringan kan urusan rumah, kita bisa bagi tugas kok".


"Udah ah aku capek mau kekamar" ucapnya tanpa memperdulikan ku.


Aku mengelus dada sembari beristighfar "ampuni dosa dosa ku Ya Rabb atas ketidak mampuan ku mendidik istriku"gumam ku dalam hati.


Karna penat dirumah aku pun membawa Annisa tak lupa membawa gendongannya dan pergi berkendara ketempat yang disukai Ibundanya dulu yaitu taman bunga di alun alun kota, setelah sampai aku pun duduk di kursi dimana dulu kursi ini tempat ku dan Aisyah duduk bareng.


Suasana ditempat itu ramai dengan pengunjung yang sedang duduk bersama keluarganya bercengkrama bersama, ada yang sedang duduk berdua menikmati bunga bunga yang sedang mekar di taman namun tidak dengan diriku yang berdua dengan Annisa, walau ramai dengan manusia yang lalu lalang tetap Aku merasa taman ini begitu sunyi tanpa Aisyah, taman ini sunyi tanpa canda guraunya, dan terasa gersang tanpa senyumannya yang selalu melekat dalam ingatan.


"Andai Ibumu masih ada Nak, mungkin engkau akan melihat taman ini begitu indah karna senyuman Ibundamu yang menghiasi bunga yang sedang bermekaran".


Aku pun beranjak mendekati bunga bunga yang bermekaran bersama Annisa yang masih dalam dekapan ku, tiba tiba telunjuk Annisa menunjuk satu bunga berwarna merah, bunga yang dulu pernah Aisyah pegang.


Akupun memetiknya kemudian mendekatkan ke wajah Annisa, ternyata Annisa kegirangan sembari tangannya menyentuh bunga tersebut dan berusaha menciumnya, aku lalu bergumam "lihatlah bidadari kecil kita Syah dia tau bunga yang Ibunya sukai, kalau saja dirimu ada di dekat kami sekarang mungkin saja kebahagiaan itu akan lebih sempurna".

__ADS_1


__ADS_2