
Seusai maghrib di mesjid dekat komplek rumah biasa mengadakan pengajian yang di isi oleh ustadz yang rumah beliau enggak jauh dari mesjid, sehingga aku harus menunda untuk pulang karena waktu magrib dan isya sangat mepet jadi nanggung untuk pulang, selain itu juga ilmu yang aku dapat sangat bermanfaat karena beliau berceramah dengan judul Nasehat Pernikahan, ceramah itu sangat penting bagi ku untuk bekal hidup ku kedepannya bersama Wulan, pernikahan itu enggak selamanya bahagia kaya di sinetron yang banyak dustanya, pasti ada kalanya cek cok, kesalah pahaman namun itu semua akan teratasi ketika ilmu berumah tangga ala Rasulullah shallallahu'alaihi wassalam kita terapkan dalam kehidupan sehari hari.
Karna tak sedikit kata kata cerai itu terucap hanya gara gara hal sepele misal seperti kesalah pahaman, mis komunikasi serta ego yang tinggi apalagi pasangan yang masih berumur muda seperti diriku dan Wulan.
Namun pernikahan itu kata ustadz nikmatnya 5% selebihnya nikmat bangeeett😅, karna dengan menikah kita bisa menyalurkan hasrat yang kita miliki dengan cara yang di ridhoi Allah azza wa jalla, apalagi dizaman fitnah sekarang yang semakin parah ketika aurat kemana mana, sehingga untuk menundukan pandangan saja sangat lah sulit tapi ketika sudah menikah kita bisa melampiaskannya ketempat yang halal.
Setelah sholat isya pengajian pun di bubarkan begitu pula aku langsung beranjak pulang kerumah walau pun di cegah oleh teman teman komplek namun aku menolaknya dengan halus karna istri ku sudah menunggu dirumah, aku tak ingin membuatnya menungguku.
Sesampainya didepan rumah aku membuka pagar kemudian terkejut melihat wulan sedang duduk didepan rumah, aku kemudian mendatanginya seraya menyapa.
Aku "Lan, kok kamu duduk didepan?"
Wulan "hehe...enggak apa apa Be, pengen aja di depan nyari angin"
Aku "kan didalam ada kipas angin atau Ac bisa kamu hidupin kan"
Wulan "anu Be..hmmm...ini" seraya tangan nya menggaruk kepalanya
Aku "anu...ini...apa sih? Ngomongnya yang jelas ah"
Wulan tiba tiba mendatangiku lalu memeluk lengan ku, enggak kaya biasanya ini anak meluk diriku, kalau enggak di minta biasanya cuek bebek😒. Aku kemudian mengusap wajahnya yang terhijab oleh cadarnya sembari menenangkannya karna terlihat seperti wajah ketakutan.
Aku "kamu lagi ketakutan yah?"
Wulan "mengangguk"
Aku "takut sama siapa? Hantu?"
Wulan "kembali mengangguk serta semakin mempererat pelukannya di tubuhku"
Aku "yaudah masuk dulu"
Aku kemudian masuk bersamanya dan duduk di meja ruang tamu, lalu aku berjalan kearah dapur untuk membuatkan teh hangat untuk ku dan untuknya karna aku tau dirinya enggak bakal berani berjalan kearah dapur sendirian.
Setelah selesai membuatkan teh aku lalu duduk disampingnya kemudian bertanya apa penyebab dirinya begitu takut berada dirumah padahal tetangga kanan kiri begitu rame.
Aku "apa sih yang membuatmu begitu takut berada sendirian dirumah?"
Wulan "aku tadi nonton film horor Be, makanya aku takut, apalagi tadi sesudah maghrib aku kaya denger suara ketawa di dapur"
Aku "Ya Allah Lan Lan, mungkin aja itu tikus abis honeymoon kali makanya kedengarannya kaya orang ketawa" candaku
__ADS_1
Wulan "iisshhh aku seriusss...nyebelin kamu ini orang lagi ketakutan di bercandain😡"
Aku "sapa suruh nonton film horor, itu yang membuat aqidah seseorang rusak"
Wulan "kok bisa?"
Aku "yah bisa lah sayang"
Wulan "ihh genit panggil panggil sayang😜"
Aku "kalau ngomong jangan di potong napa😒"
Wulan "iya iyah maaf suami ku, gih lanjut" sembari kedua tangan menopang didagunya
Aku "film horor itu merusak akidah seseorang, kenapa? Karna kita akan dibuat takut oleh tontonan tersebut sehingga melebihi takut kita kepada Allah Azza Wajalla dan itu sangat di larang oleh agama, seperti firmanNya
"Sesungguhnya mereka itu tidak lain adalah setan dengan kawan-kawannya yang menakut-nakuti kamu, karena itu janganlah kamu takut kepada mereka tetapi takutlah kepada-Ku jika kamu benar-benar beriman." (Ali 'Imran: 175)"
Aku "kalau orang beriman dia enggak akan takut kepada siapapun termasuk jin, dan musuh Allah itu tidak akan pernah mau berhenti untuk merusak aqidah umat islam dengan cara di takut takuti oleh tontonan film horor macam begituan"
Wulan "jadi?🙄"
Aku "tinggal kan tontonan yang tidak bermanfaat, dari pada nonton film bohongan macam itu lebih baik menonton kajian kajian yang bisa memperkuat iman kita kepada Allah subhanahu wata'ala"
Aku "kamu paham enggak sih sebenernya Lan😒"
Wulan "hehe iya paham paham sayang😘"
Aku "dih genit deh panggil panggil sayang"
Wulan "iihhh...dianya sendiri yang mulai, kalau nggak mau di panggil sayang yaudah aku enggak akan panggil sayang lagi" seraya mengalih kan wajahnya dariku
Aku "bercanda sayang, sini dong jangan membelakangi suaminya" bujuk ku
Wulan "bodo"
Aku "yaudah kalau gitu, aku tidur duluan ah, ngantuk" seraya pergi kearah kamar tidur
Wulan "yannnkk....iihh kok aku ditinggal sih hiks😟"
Sumpah saat itu aku begitu geli melihat kelakuan Wulan yang biasanya sok terlihat dewasa namun ketika ketakutan dirinya seperti anak TK yang lagi memelas minta belikan mainan sama Ibunya, dan sifat manjanya inilah yang membuat ku tak sanggup meninggalkannya sendiri sehingga aku kembali kemudian menggandeng tangannya untuk masuk kekamar.
__ADS_1
Pagi harinya setelah membantu Wulan berberes rumah diriku melihatnya bersama putriku yang ada di pangkuannya sedang menatap sebuah album, yah sebuah album masa laluku bersama wanita yang meskipun kini aku sudah menikah dengan Wulan tetap perasaan rindu dan cinta itu masih ada dan tersimpan rapi didalam hati, walau raga kami tak dapat lagi bertemu walaupun kami berbeda alam namun kenangan demi kenangan itu terasa terus terngiang dalam ingatan.
Aku pun menghampirinya lalu duduk diranjang tepat dibelakang Wulan, sembari berucap.
Aku "dapet dari mana Lan album itu?"
Wulan "tadi kebetulan aku dapet dari gudang pas lagi bersih bersih"
Aku "terdiam"
Wulan "ternyata Umminya Nissa cantik yah, mirip loh sama Nissa, semoga Nissa ntar seperti Umminya yah yang pandai menutup aurat, berbakti kepada orang tuanya dan mampu membawa Abinya kesyurga Allah yah Nak"
Mendengar penuturan dari Wulan, Annisa hanya tertawa dan memukul mukul album tersebut, lalu tangannya terhenti di sebuah foto Umminya sepertinya putriku begitu mengenali siapan Umminya. Melihat pemandangan yang menyesakan dada aku kemudian mengalihkan pandangan ku.
Wulan "bagaimana sih perjalanan cinta kalian berdua Be? Sampai sampai sekarang pun kamu seperti belum ikhlas melepaskan kepergiannya?"
Aku "(menghembuskan nafas panjang kemudian menjawab) panjang Lan dan berliku, namun bagi ku kebersaman bersamanya sangat lah singkat"
Wulan "boleh diceritain?" sembari menutup album tersebut
Aku "buat apa?"
Wulan "pengen tau aja, siapa tau ada sifat baiknya yang bisa aku tiru"
Aku "(dengan nafas berat aku kemudian menceritakan masa laluku bersamanya) kami bertemu tak saling kenal, bahkan aku tak berharap kelak akan menikah dengannya, namun Qadarullah akhirnya kami bertemu lagi dalam satu ikatan pernikahan yang tidak kami sangka sangka karena ayah nya adalah teman ayah ku dan mereka semenjak mondok telah bernadzor untuk menjodohkan anak anaknya" aku menghentikan obrolan untuk sekedar meminum air
Wulan "lalu?"
Aku "aku begitu bahagia dan kebahagiaan itu tak pernah aku dapatkan ketika sebelum menikah dengannya karna aku sedari kecil hingga dewasa tak pernah mengenal yang namanya pacaran apalagi suka dengan wanita yang bukan halal bagiku, wajar kebahagian itu aku dapatkan ketika aku bersamanya dan aku mulai mengenal apa itu cinta dan apa itu rasa kasih sayang yang sebenernya, namun..." aku menghentikan sejenak ceritaku
Wulan "namun apa Be?"
Aku "Allah menguji dengan berbagai cobaan dalam pernikahan kami, Aisyah begitu populer di kampusnya, bukan karna dia orang yang menampakan kemampuannya namun karna hanya dirinya yang di kampus memakai cadar sehingga banyak lelaki yang penasaran dibuatnya, dan ada satu lelaki yang menyukainya bahkan dengan lancang mengganggu rumah tangga kami namun karna Aisyah tidak ingin rumah tangganya terganggu oleh lelaki itu akhirnya dirinya memutuskan untuk berhenti kuliah demi keutuhan rumah tangga kami"
Wulan "masya Allah" air matanya mulai terjatuh
Aku "lelaki itu bukannya berhenti mengganggu malah gangguannya semakin menjadi jadi hingga hampir nyawa ku dan nyawa Aisyah melayang namun Qadarullah kami sama sama masih hidup, aku mengira kami setelah itu akan tetap terus bersama sampai tua nanti namun lagi lagi Qadarullah yang berkata lain, Aisyah merahasiakan penyakit yang dideritanya sehingga aku baru mengetahui dari dokter bahwa penyakit Aisyah sangat kronis dan satu lagi yang membuat ku enggak bisa melupakannya sampai sekarang"
Wulan "apa itu" mulai terisak
Aku "ketika dokter menentukan pilihan antara hidupnya atau hidup anak yang ada si kandungannya dan Aisyah memilih" aku sudah tak sanggup lagi sebenernya meneruskan cerita tersebut
__ADS_1
Wulan "dia lebih memilih anaknya hidup dari pada dirinya sendiri Be?"
Aku mengangguk kemudian mengambil Annisa dari pelukan Wulan seraya memeluknya dengan erat, buah cinta kami, peninggalan Aisyah satu satunya yang sangat berharga bagi ku, karna dengan melihat Annisa aku seperti melihat Aisyah dihadapan ku tersenyum sembari berkata "wahai suami ku, walau cinta ini tertunda di dunia namun aku akan selalu menunggumu di alam keabadian dan kelak kita akan bertemu lagi di jannahNya insya Allah".