
Malam harinya aku dan Wulan sedang sibuk mempersiapkan segala sesuatu seperti pakaian untuk di taruh di koper karna hari ini adalah hari terakhir Wulan berada di Banjarmasin, karna keesokan paginya kami akan berangkat menuju kembali kerumah ku.
Kulihat dari raut wajahnya tersirat seperti berat untuk meninggalkan kota kelahirannya, wajar sih dari bayi tinggal disini hingga besar akhirnya harus berpisah dengan kampung halamannya dan yang lebih berat lagi terpisah dari Ayah dan ibunya beserta teman temannya, tapi apa boleh buat kewajiban seorang istri adalah mengikuti kemana pun suaminya berada walau harus terpisah dengan orang orang yang dicintainya termasuk Ayah dan Ibunya sendiri karna setelah perjanjian suci yang terucap didepan penghulu maka kebaktiannya akan teralihkan kepada suaminya serta syurga dan neraka seorang istri akan terletak kepada ridho dari suaminya.
Setelah selesai bercengkrama dengan teman temannya, Wulan kemudian duduk di teras muka rumah sendirian sembari memandang kearah jalan raya, aku tak tahu apa yang sedang dipikirkannya?. aku pun berinisiatif untuk berjalan mendekatinya kemudian duduk disampingnya.
Merasa bahwa ada diriku yang sedang duduk diaampingnya Wulan kemudian menengok sesaat lalu kembali lagi menatap kedepan.
"masih pengen disini Lan?, masih berat ninggalin kota ini?" ujarku
"hmmm..." seraya mengangguk
"kalau mau aku batalin aja tiket penerbangannya besok"
"eh jangan Be, udah kita berangkat aja besok, enggak usah perdulikan kemauanku, kalau berlama lama disini yang ada malah tambah berat"
"yasudah kalau gitu" ucapku seraya ingin membelai hijabnya namun tak ada keberanian menyentuhnya padahal kami sudah halal
"kamu kenapa Be?, kok aku lihat tingkahmu aneh gitu?🤔" selidik Wulan
"oh...ehh...enggak kok Lan, biasa aja" tepis ku seraya tangan yang menyentuh Wulan kini kuarahkan kerambutku pura pura menggaruk kepala yang enggak gatal aslinya😂
"hayo ada yang di umpetin yah?" menatap tajam kearahku
"enggak ada Lan, beneran" jawabku sembari gugup
"coba sebut Wallahi, kalau kamu bener bener enggak ada yang di umpetin" ujarnya
Karna bawa bawa nama Allah akhirnya aku tertunduk tanpa bisa berhujjah lagi karna bersumpah atas nama Allah berat kalau aslinya diriku berbohong.
"tuh kan enggak berani, berarti ada yang di simpen kan?. Apa sih yang pengen kamu bilang?, bilang aja ngapain mesti sungkan sih"
"janji yah jangan marah?" pintaku
"iyah" jawab wulan dengan posisi menghadap didepan ku
"aku itu sayang pengen, hmmm...?"
"Masya Allah Be kalau ngomong jangan setengah setengah kenapa sih, ngantuk nih nunggu kamu ngomong lama banget, udah ah aku kekamar" ujarnya seraya ingin bangkit dari tempat duduknya
"Tunggu Lan" tangan ku kemudian memegang tangannya
"boleh enggak aku membelai pipi kamu?" pinta ku yang masih tertunduk
"Masya Allah Abe, kamu itu siapa aku sih?" tanyanya
"suami kamu" jawabku
"coba kalau ngomong jangan nunduk gitu napa sih?, kalau di ajak ngomong ditatap kenapa muka istrinya, aku jelek yah sampai kamu nunduk gitu ngomongnya?"
"enggak Lan, kamu enggak jelek, kamu cantik makanya aku minder jadi nunduk deh😁" ujarku kemudian menatapnya
"nah gitu dong kan enak kalau ngomong sambil tatap tatapan, yaudah gih katanya pengen membelai pipi aku" ujar wulan seraya tersenyum sembari mendekatkan wajahnya
__ADS_1
Dengan perlahan tangan kanan ku angkat lalu kudekatkan kewajahnya, saat tangan ku menyentuh pipinya subhanallah begitu halus sekali hingga aku tak sanggup untuk berlama lama menyentuhnya.
"iihh kamu ini cowok aneh yang baru aku kenal, dimana mana kalau sudah halal enggak akan sungkan kalau minta apapun kepasangannya, ini pegang pipi aja ampe gemeteran gitu tangannya😆" ujar wulan tertawa kemudian mencubit pipi ku lalu masuk kerumah meninggal kan diriku yang masih salah tingkah akibat kejadian yang barusan aku alami.
Jujur memang sebelum dengan wulan waktu masih bersama Aisyah aku enggak begini amat pake malu malu segala, tapi entah kenapa dengan Wulan aku begitu beda. "kemana wibawamu sebagai pemimpin rumah tangga Be, seharusnya kamu yang buat Wulan segan kepadamu tepi kenapa kebalik" gumam ku seraya berdiri dari tempat duduk kemudian menyusul Wulan kekamarnya.
Sesampainya di kamar Wulan aku dapati dirinya sedang membuka hp ku, entah apa yang dirinya sedang lihat?, aku kemudian mendekat kearahnya lalu bertanya" kamu lagi liat apa Lan?"
"liat galeri kamu Be, ini anak kamu yah?" tanyanya seraya memperlihatkan foto Annisa yang sedang aku gendong
"iya itu putri aku Lan" jawabku
"hmmm...lucu yah, bulet ngegemesin" ujar Wulan
"iya mirip kaya Abinya yah?" candaku
Wulan kemudian menatapku kemudian tertawa sambil ditahan kemudian berucap "jauuuhhh banget, Abinya jelek gitu😆😜"
"jelek tapi nerima aja pinangan ku😑"
"yeee pede an, orang kepaksa juga😆"
"oh kepaksa yah, yaudah deh" ujarku seraya berdiri kemudian mengangkat tas yang berisi baju bajuku
"eh mau kemana?" ujar Wulan
"mau pulang, abis enggak di anggep juga"
"dih ngambek dia, becanda Abe masa ambekan gitu sih jadi cowok"
"Bee...Abee...tunggu ihh...jadi gini yah seorang suami main ninggalin istrinya gitu aja"
Aku tetap berjalan dan masih pura pura enggak memperdulikannya padahal udah enggak tega sebenernya mendengar rengekannya kayak anak bayi.
"Bee...Yaaaannnnkkkkkk" teriaknya hingga suaranya bergema keseluruh ruangan dan sukses membuat Ayah dan Ibunya terbangun lalu mendatangi wulan
"ada apa ini?, kok ribut ribut Nduk?" ucap Mertuaku
"tuh liat calon yang Ayah carikan masa istrinya cuman salah dikit ditinggal pergi"
"enggak mungkin lah Abe kaya gitu kalau enggak ada penyebabnya, paling kamu yang iseng tuh makanya Abe marah" ujar Beliau menasehati Wulan
"Wulan itu enggak ngomong apa apa Yah, tiba tiba ngambekan gitu aja ke aku, masa cowok kaya gitu ngambek main pergi aja" dirinya membela diri
Aku kemudian mendekati Wulan seraya menarik tangannya kemudian berbicara kepada mertuaku "maaf Yah kami tadi hanya bercanda kok" ucapku
"haduh dasar pemuda pemudi zaman sekarang kadang suka aneh aneh" ucap Mertuaku
"alah kaya Ayah enggak pernah muda aja" sahut Bu Aminah
"Ssstttt jangan buka buka kartu to Buk e" ujar Beliau
Kami berdua tertawa melihat kelakuan mertua laki dan bini yang ternyata humoris juga, aku lalu menggandeng Wulan untuk keluar rumah lalu mendudukkannya di kursi.
__ADS_1
"masih ngambek enggak?" tanyaku
"masih" jawabnya sembari mengalihkan pandangannya dariku
"ngambek kok bisa ngomong?"
"ya karna aku bukan orang bisu😡"
"kamu mau apa?, biar ngambeknya ilang?"
"enggak mau apa apa😒"
"coklat?"
"enggak"
"permen?"
"enggaakk"
"cinta???"
"iiihhhhhh aku itu lagi ngambek dan enggak mau apa apa aahhh" seraya mendorongku
"KRUCUK...KRUCUKKK..." Tiba tiba terdengar sesuatu dari arah perutnya dan membuat ku sedikit tertawa namun ku tutupi mulutku supaya enggak kelihat sedang mentertawakan nya.
"tuh nada deringnya bunyi" sahutku
Wulan kemudian wajahnya tampak tersipu sipu malu ketika tau kalau perutnya tiba tiba memberikan signal bahwa dirinya sedang laper.
"ngapain cengangas cengengesan gitu?, katanya tadi ngambek😒?"
"laperrr,,,beliin martabak" pintanya
"oh ternyata ngambek dari tadi itu karna kelaperan toh?, pantes"
"abis kamunya juga sukses menguras tenaga aku jadi laper deh"
"preet, yaudah aku keluar sebentar"
Aku kemudian berjalan kaki keluar rumah menuju tempat dimana penjual martabak berada, tempatnya yang enggak terlalu jauh hanya berkisar 100 meter dari rumah jadi ku putuskan untuk berjalan kaki dari rumah, namun sebelum sampai ditempat penjual martabak langkah ku terhenti saat melihat seseorang yang berperawakan tinggi namun kurus sedang menghadang ku, entah siapa dan apa maunya sehingga jalan ku seperti di halangi olehnya.
"Assalamua'laikum warrahmatullah" sapaku
"wa'alaikumsalam warrahmatullah" jawabnya
"permisi Mas, boleh saya lewat?" pinta ku
"kamu suaminya Wulan yah?" tanya pria tersebut
"iyah Mas, benar saya suaminya Wulan, ada apa yah?" tanyaku
"saya mantan calonnya Wulan, wanita yang Mas rebut kemaren" ujar pria tersebut
__ADS_1
Pernyataan pria tersebut sukses membuat ku terkejut ternyata dihadapanku sekarang adalah lelaki yang sempat nadzor Wulan tempo hari,apa sebenernya maunya terhadapku?
Semoga dirinya ridho dan ikhlas ketika wanita yang pernah dirinya sukai kini sudah berstatus istri orang" bathinku.