
Aisyah ku lihat masih saja mematung tak jauh dari tempat ku, meliaht ku sedang memandang kesebelah kiri Pak Toha pun menoleh kearah belakang dan terkejut melihat seorang wanita yang ada di belakangnya kemudian beliau berkata "afwan itu siapa Akh?. adiknya yah?" tanya Beliau
dengan tersenyum aku lalu menjawab "bukan Akhi, dia adalah Istri ana"
mendengar jawabanku Pak Toha lalu menepuk wajahnya seraya berkata "Astaghfirullah, aafwan ana ndak tau kalau antum sudah punya istri Akh, kamu juga nduk lain kali kalau suka sama Ikhwan diliat dulu Ikhwannya sudah beristri belum" ujar Beliau menasehati anaknya
"mana Umi tau Yah orang Ikhwannya masih muda juga, tapi kalau Ikhwannya mau poligami Umi ndak nolak" ujarnya
aku semakin tak nyaman dengan keadaan ini apalagi Aisyah mendatangiku lalu menyuguhkan minuman kepada para tamu tanpa menunjukan ekspresi marah atau kesal, kemudian Aisyah duduk di sampingku namun agak jauhan sembari tersenyum kepada Pak Toha dan Umi.
"saya sih terserah Mas Abe kalau dia mau poligami, tapi saya harap Mas Abe memperhatikan hadist ini "Siapa saja orangnya yang memiliki dua istri lalu lebih cenderung kepada salah satunya, pada hari kiamat kelak ia akan datang dalam keadaan sebagian tubuhnya miring." (HR. Abu Dawud, An-Nasa-i, At-Tirmidzi)
mendengar penuturan dari Aisyah aku hanya bisa tertunduk tanpa mampu menjawabnya, walau sebenernya aku sendiri tak ada niat untuk poligami, begitu pula Pak Toha hanya mengangguk anggukkan kepalanya kemudian beliau berucap "maaffin saya yah Mbak, Wallahi saya ndak tau kalau Nak Abe udah punya pasangan ternyata"
"oh ndak apa apa Pak, wajar sih di usia Mas Abe yang masih muda jadi ndak keliatan kalau dia punya istri, tapi ndak tau deh kalau Mas Abe diluar sana memang tebar pesona" ujar Aisyah sembari memandangku dengan pandangan sinis
"yasudah kalau begitu saya pamit Mbak, Akh, afwan mengganggu waktunya dan afwan juga atas kesalah pahaman ini"
Aisyah hanya tesenyum menganggukkan kepalanya sedangkan aku hanya bisa tertunduk malu tak sanggup menatap wajah Aisyah. beberapa saat kemudian setelah kepulangan Pak Toha dan anaknya Aisyah lalu mengambil cangkir cangkir bekas tamu begitu pula cangkir yang ada di hadapanku tanpa mau menyapaku atau sedikit ngobrol dirinya main pergi begitu saja, "alamat bakal runyam ini urusan" bathin ku
aku lalu berjalan mengikutinya dari belakang hinga sampai kedapur, kemudian dirinya aku rangkul dari belakang, namun tangan ku malah ditepisnya "wah beneran marah nih Anak" bathinku
"sayang..." panggilku
"hmmm..." sahutnya tanpa mau menghadap kepadaku seperti biasa
"kamu marah yah?"
__ADS_1
"enggak" jawabnya singkat
"jangan marah dong, Wallahi aku enggak ada maksud apa apa, Akhwat yang tadi pun aku enggak kenal apalagi melihatnya Syah"
"oh gitu?" kembali menjawab obrolan ku dengan singkat
"gitu doang jawaban mu?"
Aisyah kemudian berbalik arah badannya yang tadi membelakangiku kini kami berhadap hadapan, aku kemudian memberikannya senyuman namun di balas wajah yang begitu jutek, wajah yang enggak pernah aku lihat sebelumnya.
"masa suaminya di giniin sih?senyum dong?" pintaku
"tau ah, minggir aku lagi sibuk" ujarnya seraya tangannya menggeser tubuhku yang menghalanginya.
aku kemudian keluar rumah untuk memetik mawar yang ada didepan rumahku kebetulan saat itu sedang mekar, sebenernya sih ini tanaman Aisyah yang nanem tapi enggak ada salahnya buat nyenengin dia supaya berhenti ngambeknya, perempuan kalau sudah ngambek kadang susah untuk nenangin, kemauannya apa pun aku kadang kurang peka.
aku kemudian kembali lagi ketempat dimana Aisyah berada, lalu dengan gaya lelaki yang sedang di mabuk cinta aku serahkan bunga tersebut kepada Aisyah seraya merayunya "bentuk mawar ini memang tak seindah wajahmu bahkan harumnya pun tak bisa mengalahkan keharumanmu, terima lah ini syang, tanda cinta dari Abang" ucapku seraya nyengir kuda di hadapannya
"siapa nyuruh metik bunga ini?" tanya Aisyah
"aku" jawabku
kemudian Aisyah membawa bunga tersebut lalu di buang ketempat sampah, lalu kembali kepadaku dengan berkacak pinggang "susah susah aku nanem malah di petik, enggak bisa yah sehari aja enggak bikin aku sebal?" seraya berlalu dari ku kemudian masuk kekamar sembari mengunci pintu dari dalam.
aku pun berjalan dengan lesu menuju kursi ruang tamu sembari merebahkan badanku memikirkan bagaimana caranya agar Aisyah tau kalau aku sebenernya enggak pernah sedikitpun memandang apalagi tebar pesona kepada wanita lain.
sebelum ba'da dzuhur aku terbangun dengan percikan air yang mengenai wajahku, saat membuka mataku ternyata Aisyah yang ku dapati sedang membawa gayung berisikan air, aku lalu terbangun dan menatap Aisyah, namun wajahnya tetap seperti tadi tanpa menunjukan perubahan sedikitpun kepadaku.
__ADS_1
setelah sholat berjamaah di masjid aku berinisiatif mengajaknya ketempat dimana pertama kali kita memadu kasih berdua, yaitu di sebuah taman kota yang banyak tumbuh bunga bunga disana.
"sayang, ikut aku yuk jalan" pintaku
"kemana"
"jalan jalan, kita kan lama ndak jalan berdua"
akhirnya dirinya mau pergi denganku walau dengan wajah datar tanpa ekspresi, diperjalanan pun tangannya yang biasa memeluk pinggangku namun kali tidak sama sekali aku seperti di anggap tukang ojek, tapi tak apa apalah yang penting dirinya masih mau aku ajak pergi.
sesampainya di taman kota aku lalu mengajaknya ke taman bunga dimana dulu disinilah Aisyah melepas penat dari lelahnya belajar saat di fakultas dulu, aku kemudian duduk direrumputan hijau sedangkan Aisyah hanya berdiri memandang bunga yang beraneka ragam sedang mekar didepannya.
setengah jam berlalu tak jua sepatah dua patah kata terucap dari mulut Aisyah, aku memegang tangannya namun perlahan tangan Aisyah ingin melepaskan dari genggamanku, dengan nafas berat yang ku hembuskan kemudian aku berkata "aku tau mungkin kamu kecewa dengan kejadian kemaren, namun aku pengen kamu tahu aku ngajak kamu kesini bukan hanya untuk jalan jalan tapi mengingat kan masa masa kita pertama kali kesini Syah"
"selama hidup ku aku enggak pernah kenal dengan yang namanya wanita kecuali dengan Ibuku, namun ketika Allah mempertemukanku dengan seorang wanita yang sama sekali aku tak mengenalnya bahkan pertemuan yang enggak disengaja waktu di bandara sangatlah berkesan, namun aku pendam perasaan itu karna sangatlah diharamkan oleh agama, entah dalam hatiku ada kecondongan ingin dekat dengan wanita itu dan Qadarallah akhirnya wanita itu ternyata Allah dekatkan kepadaku dan sekarang menjadi bagian dari hidupku, tau ndak bagaimana perasaan ku saat itu Syah?"
Aisyah hanya terdiam namun wajahnya memandangku seperti ingin tau jawaban dariku
"kalau saja ungkapan rasa kebahagiaan itu aku tulis di buku mungkin tak cukup untuk menampungnya, dan kamu tau bagaimana rasanya ketika meliatmu dulu koma membuatku begitu sesak melihat kondisimu Syah, bagaimana sekarang bisa aku akan lari kelain hati saat ini kalau bidadari dunia itu telah ada di hadapanku"
karna tak jua aku mendapat tanggapan dari Aisyah akhirnya aku berdiri, namun sesaat kemudian terdengar tangisan dari Aisyah, iaku urungkan niat ingin pergi dan kembali duduk mendekati Aisyah kemudian perlahan tanganku memeluknya untuk menenangkannya.
"kamu tau ndak mas kenapa aku marah?"
"enggak tau, emang kenapa Syah?" tanyaku
"jujur aku memang cemburu, aku cemburu Mas kamu ada yang suka, aku enggak pengen Suamiku di rebut wanita lain, dan aku enggak mau Bayi yang ada dalam perut ini cintanya terbagi"
__ADS_1
aku memangguk tanda mengerti namun ada satu kalimat yang membuatku sesaat terdiam, "bayi?maksudnya" tanyaku
"aku hamil Mas" ujar Aisyah yang menghapus Air matanya kemudian tersenyum kepadaku