Wanita Dibalik Cadar

Wanita Dibalik Cadar
Bab 36


__ADS_3

Pagi pagi sekali aku telah mempersiapkan barang barang ku untuk berkemas pergi menuju kepulau seberang, berat rasanya karna harus meninggalkan putri kesayanganku yang ketika diriku kangen kepada Aisyah pasti aku selalu menatap wajah putriku namun karna permintaan Ayahku akhirnya mau enggak mau aku harus berangkat juga di satu sisi ada seseorang yang menungguku disana yaitu teman Ayah yang kebetulan satu pondok saat dulu sama sama nyantri dipesantren yang sama menginginkan diriku untuk berziarah kerumahnya.


Annisa sedari tadi nangis terus kedua tangannya ingin sekali menggapaiku, karna tak tega akhirnya ku gendong dan ku bawa sebentar ke taman depan rumah sembari duduk didepan bunga bunga milik Aisyah yang pernah dirinya tanam. tak butuh waktu yang cukup lama untuk menenangkan Annisa, sekejap saja dirinya ada di pelukanku akhirnya terdiam bahkan tertawa sendiri melihat bunga yang ada didepannya.


Aku hanya bisa tertawa gemas melihat tingkah polahnya yang membuat ku gemas ingin menciumnya, tak bisa ku bayangkan rasa bahagianya kini memiliki putri yang cantik dan menggemaskan seperti mimpi rasanya, meskipun tanpa ada Aisyah tak mengurangi rasa bahagiaku saat itu.


Aku lalu membalikkan badan putriku kini dirinya memandangku tanpa ekspresi, kemudian kucium ubun ubunnya sembari berucap "Nak, Abi mau pergi dulu yah sebentar, baik baik yah sama mbah kakung dan mbah putri selama Abi enggak ada"


Annisa hanya terdiam namun tangannya memegang pipiku, aku lalu kembali ke Ayah dan Ibuku untuk mengembalikan Annisa karna jam check in di bandara sebentar lagi akan dimulai, meskipun diiringi tangis dari Annisa tak dapat menahan langkahku untuk berangkat kepulau seberang pulau terbesar seindonesia yang terkenal akan hutannya yang lebat dan menjadi ikon paru paru dunia.


"Maaffin Abi Nak, Abi meninggalkanmu untuk mencari seseorang yang mau menerima dan merawat serta menyayangimu, Abi enggak mau kamu nanti besar enggak ada seorang Ibu yang merawat dan mendidikmu" bathin ku seraya melajukan motor kearah bandara


Pesawat akhirnya membawaku lepas landas menuju pulau Borneo tepatnya di Banjarmasin, kota yang berjuluk seribu sungai kota yang baru pertama kali aku kunjungi seumur hidup ku, selain refreshing itung itung membuatku sedikit move on dari bayang bayang Aisyah yang setiap malam selalu memghantui pikiranku.


Penerbangan yang memakan waktu 45 menit akhirnya sampai juga diriku di bandara Syamsuddinnoor Banjarmasin bandara yang enggak terlalu besar daripada bandara di kota ku karna hanya memiliki 2 pintu yaitu kedatangan dan keberangkatan tak sebesar bandara juanda apalagi soeta.


Kedatanganku disambut oleh kedua suami istri yang enggak lain adalah teman dari Ayahku semasa di pesantren, sebut saja namanya Pak Jamal dan Bu Aminah.


"Assalamualaikum warrahmatullah" sapaku sembari menyalami Pak Jamal


"wa'alaikumsalam warrahmatullah Be, Masya Allah udah besar ternyata kamu sekarang yah, dulu Pak Lek pas di rumahmu pertama kali kamu masih kecil" ucap Pak Jamal


Aku hanya tersenyum manggut manggut mendengarkan omongan beliau.


"oia yuk kita kerumah, cuaca di Banjarmasin panas Be, kita lanjut ngobrol dirumah Pak Lek aja" pinta Beliau


Aku pun mengiyakan kemudian berjalan menuju parkiran dimana mobil Beliau terparkir kemudian masuk dan duduk di belakang sedangkan Pak Jamal dan Bu Aminah didepan, Avanza putih kemudian melaju kearah kota Banjarbaru dimana rumah Pak Jamal berada.

__ADS_1


Diperjalanan aku hanya memandang kesisi kiriku melihat suasana kota Banjarbaru yang baru pertama kali aku kunjungi, rumah rumah disana sangat jarang jarang berdempetan berbeda dengan di kota ku yang padat akan perumahan, disini lebih mendominasi hutannya ketimbang rumah warga.


Mobil Avanza akhirnya terhenti di depan rumah yang bercat putih beratapkan asbes warna merah, rumah yang cukup besar juga pelatarannya cukup luas selain itu disamping rumah beliau berdiri sebuah rumah makan khusus masakan jawa yang aku lihat begitu ramai pengunjung yang makan disana, riwayat yang aku dengar tentang beliau dari Ayahku adalah Beliau merantau dari jawa timur ke Banjarmasin hanya bermodal nol kini Beliau menjadi pengusaha sukses disini, aku sendiri sangat mengagumi perjuangan Beliau yang sedari Nol kini menjadi sukses berkat kegigihannya.


Aku kemudian keluar dari mobil lalu berjalan mengikuti beliau menuju rumah nya, beliau kemudian menyuruhku masuk dan menunggu diruang tamu.


Cuaca di banjarmasin saat itu begitu panas sehingga membuat peluh ku berjatuhan dan sedikit membuat bajuku basah akibat peluhku untung beliau menghidupkan Ac hingga terasa segar di badanku.


Enggak lama Pak Jamal kembali dengan membawa secangkir Teh es beserta kue kering yang di hidangkan didepanku.


"ah Pak Lek ndak usah repot repot" ucapku


"siapa yang direpotin to Le, Pak Lek enggak kerepotan kok, monggo di cicipi"


Aku pun mengangguk seraya mengambil cangkir teh kemudian meminumnya sedikit.


"ini siapa Lek?" tanyaku


"itu yah Anaknya Pak Lek, namanya Wulan, baru aja nyelesaikan gelar sarjananya di kebidanan tahun ini" jawab Beliau


"wah aku cuman lulusan SMK loh Lek, beda jauh sama dia" ucapku sedikit merendah


"udah urusan pendidikan enggak usah di pikirin, Pak Lek percaya dari cerita Ayahmu kalau kamu itu lelaki yang bisa dipegang omongannya"


Aku hanya mengangguk kemudian kembali melihat kearah foto, pertama kali aku melihatnya dia memiliki tinggi sekitar 155 dengan berat badan sekitar 55 berwajah kuning langsat, lesung pipit dan wajahnya seperti annisa sub*ndono walaupun aku engga suka artis sebenernya, dengan wajah secantik ini aku sangat minder dan enggak yakin apakah dirinya mau menjadi istriku apalagi dengan setatusku yang mempunyai anak.


"orangnya dirumah Lek?" tanyaku

__ADS_1


"orangnya lagi pergi sama temen temennya, susah memang itu anak di atur, sukanya pasti nongkrong di Mall, makanya Pak Lek pengen cepet cepet nikahin dia supaya enggak salah pergaulan, karna kerjaannya cuman kelayapan terus" jawab Beliau


Aku hanya mengangguk seraya mencoba mencerna kata kata dari Beliau, kesan pertama mendengar kalau wanita yang bakal aku nadzor ini suka penjalan apalagi ke Mall sangat jauh dari harapan ku, tapi apa mau di kata aku berharap kelak kalau jadi menikah semoga dia mau menjadi wanita penurut.


"ASSALAMUALAIKUM" tiba tiba suara wanita yang membuka pintu rumah mengejutkan ku hingga pandangan ku arahkan ke arah dimana suara tersebut berada dan ternyata aku melihat seorang wanita bercadar hitam sedang berjalan mendekati Pak Jamal kemudian mencium tangan Beliau, entah itu Wulan atau siapa karna wajahnya tertutupi oleh cadarnya.


"habis dari mana aja kamu nduk?"


"biasa Yah jalan" jawabnya


"wanita itu mbok dirumah, pakaianmu udah tertutup gini kerjaannya jalan terus"


"sekali sekali Yah, bosen dirumah terus" jawabnya


"sekali sekali apa setiap hari?" ucap Pak Jamal seraya tersenyum kecut


"hehehe" jawab nya seraya cengengesan


"ini loh udah di tunggu sama Nak Abe, lelaki yang Ayah ceritain tempo hari"


"Oh ini toh namanya Wulan, yah kesan pertama melihat dari segi pakaiannya memang tertutup menjadi nilai tambah untuk ku walaupun suka jalan jalan tapi paling enggak dia tau pakaian syar'i itu seperti apa" bathin ku


"aduh Yah bukannya kemaren ada yang sudah nadzor Wulan?, katanya Ayah setuju aja gimana sih?" protesnya


"Nak, Ayah pengen kamu hidup enak dan mempunyai calon suami yang pinter agamanya bukan lelaki yang enggak jelas pekerjaannya" jawab Pak Jamal


"tapi Wulan sudah suka sama lelaki itu yah, udah ah aku gak mau dijodohin lagi pokoknya aku maunya lelaki itu bukan dia" ujar Wulan seraya menunjukku

__ADS_1


Dengan sedikit kecewa akhirnya ku urungkan niatku dalam hati untuk melanjutkan acara nadzor ini karna wanita yang dijodohkan untuk ku ternyata sudah menyukai lelaki lain.


__ADS_2