
"Ibu enggak bercanda kan?, masa Wulan harus nikah sama lelaki ini?" ucap wulan
"oalah Nduk Ibu enggak bercanda, ini contoh undangannya" ujar Beliau yang membuka hpnya lalu memperlihatkan contoh undangan di hp tersebut
"tapi Buk, calon ku yang kemaren kan TNI" dengan wajah murung
"kebahagiaan mu apa mesti harus menikah dengan seorang perwira?. Ibu dan Bapak itu enggak pengen kamu bahagia di dunia tok, tapi Ibu dan Ayah pengen kamu juga bahagia di akhirat"
"okey kalau memang yang namanya Abe ini bisa membahagiakan aku di akhirat tunjukin sekarang juga, dia punya apa sih sehingga Ibu dan Ayah ngotot banget nikahin aku dengannya" tegas wulan seraya menatap tajam kearahku
Pernyataan Wulan sontak membuat ku sedikit terkejut kemudian menundukan kepalaku karna beberapa pasang mata kini tertuju padaku, ingin ku jawab pertanyaan Wulan tapi diriku takut ada kesombongan didalam hati tapi kalau aku tetap berdiam diri Wulan akan terus terusan membully ku, akhirnya aku memilih untuk diam dari pada menimbulkan mudharat untukku.
"tuh liat cuman diem kan Buk?, bukti kalau dia itu enggak punya apa apa untuk bisa bahagiakan aku didunia dan akhirat"
"orang diam belum tentu bodoh, orang banyak ngomong belum tentu pintar" timpal Ayah Wulan yang keluar dari kamar dan mendalekati wulan seraya mengusap pundaknya
"Nak...apa mungkin Ayah sembarangan milihkan calon imam buat anak Ayah sendiri?, Ayah tau kamu dari dulu memang menginginkan menikah dengan seorang perwira tapi yang harus kamu tau pangkat dan jabatan itu hanya duniawi saja dan Ayah enggak mau anak Ayah cuman bahagia di dunia namun sengsara di akhirat, Ayah harap kamu mengerti yah"ujar Beliau kemudian mencium ubun ubun Wulan
Wulan kemudian terduduk lesu dengan pandangan yang kosong menatap kedepan, diwajanya seperti tersirat rasa kesedihan yang mendalam atau kekecewaan yang dirasakan dirinya ketika kemauannya ternyata tak direstui orang tuanya, sedangkan diriku hanya bisa diam dan terpaku, wallahu'alam kedepannya apakah aku akan bahagia seperti pertama dengan Almarhumah Aisyah. Sedangkan wanita yang bakal jadi calon ku kelak seperti terpaksa mau menikah dengan ku dan yang terpenting dari itu semua adalah apakah dirinya mau menerima putriku?, sebuah pertanyaan yang terkadang membuat ku ingin menyudahi pencarian seorang Ibu untuk anak ku.
__ADS_1
Malam harinya setelah sholat isya aku duduk di kursi depan rumah Wulan sembari video call dengan putriku melalui hp mertua, saat itu putri ku sedang duduk di pangkuan Ibu mertuaku. Annisa yang melihat Abinya senyum senyum sendiri dan membuat ku gemas ingin menciumnya.
"Abi kapan pulang?. Annisa kangen" ucap Ibu mertua yang mewakili Annisa
"sabar yah Nak, sebentar lagi Abi pulang kok, doain Abi yah semoga urusan Abi disini lancar" sahutku
"Aamiin, jangan lama lama yah Bi, Annisa kangen"
"iya sayang, Abie juga kangeeeen banget sama anak abi"
"yaudah Annisa mau bobo duyu yah, Assalamu'alaikum Abie" sembari tangannya di gerakkan oleh ibu mertuaku
"oh ternyata kamu duda yah?, baru tau aku" tiba tiba suara dari arah belakangku mengejutkan ku
"sejak kapan kamu disana?" ucapku
"sejak tadi" jawabnya singkat
"terus kalau aku duda emang kenapa?" tanyaku
__ADS_1
"yah wajar aja kali, mungkin istrimu minta cerai gegara memang kamu enggak punya sesuatu yang bisa membuatnya bahagia, makanya dia pergi dari kamu"
Omongan Wulan benar benar membuat emosiku naik, tanpa tanya dahulu dirinya main vonis sesuatu tanpa sepengetahuannya, namun aku mencoba beristighfar dalam hati dan mencoba untuk duduk dan diam tanpa menjawab omongan pedas yang keluar dari mulutnya.
"enggak bisa ngejawab pertanyaan ku yah?, yah pantes sih dan kayaknya butuh waktu untuk ku berpikir ribuan kali untuk mau menikah dengan duda macam kamu"
"anak yang kamu lihat tadi telah kehilangan Ibunya 4 bulan yang lalu" jawab ku tanpa melihat kearahnya
Sontak membuat Wulan terdiam cukup lama atas jawaban yang aku berikan barusan.
"tapi kalau kamu beranggapan bahwa aku lelaki yang enggak bisa di andalkan sehingga kamu menyangka bahwa aku gagal dalam berumah tangga its oke, aku faham karna kebanyakan manusia hanya menilai yang terlihat dimatanya saja tanpa mau bertabayun terlebih dahulu, kalau pun kamu kelak akan membatalkan pernikahan ini aku juga enggak memaksakan kehendak karna menikah yang didasari karna keterpaksaan akhirnya akan berakhir sia sia" ucapku
Wulan masih berdiri terpaku di tempatnya tanpa sepatah dua patah kata yang terucap, aku kemudian berinisiatif untuk pamit pulang ke hotel.
"oia makasih sudah mengajak ku dan mengenalkan ku akan keindahan kota Banjarmasin yah, insya Allah besok aku akan pulang, nitip salam sama Ibu dan Ayahmu Assalamu'alaikum warrahmatullah" ucapku seraya pergi menjauh darinya menuju keluar rumah.
Di perjalanan pulang ke hotel aku berjalan gontai, ku sangka mencari pengganti Aisyah itu mudah namun nyatanya tak semudah yang aku bayangkan, apalagi cap duda beranak 1 membuat kaum hawa mungkin berpikir seribu kali untuk menerima duda macam diriku
"Maaffin Abi Nak, kali ini Abi gagal untuk mendapatkan seorang Ibu yang benar benar mau menerima mu dan menyayangimu seperti anaknya sendiri, andai Ummi mu masih ada mungkin kamu enggak akan menderita dan Ayah enggak akan capek capek mencari pengganti Ummi"bathin ku seraya merebahkan tubuhku di kasur
__ADS_1