
Mau tidak mau, suka tidak suka aku harus menelpon istriku. Daripada aku berjalan berdua dengan wanita ini dan Nurul melihat ku yang ada malah dirinya berpikiran yang macam macam tentang diriku.
"Halo Assalamu'alaikum zauji"
"Wa'alaikumussalam Warrahmatullah, kamu sudah tidur sayang?"
"Belum nih, kenapa zauji?"
"Bisa kesini sebentar?, diperbatasan kampung dekat kebun tebu?"
"Iya mas, sebentar lagi aku kesana"
"Fii amanillah" kemudian menutup telpon ku
Aku pun mendekati perempuan tadi yang masih tertunduk lesu. Ku lihat dari tatapan katanya terseirat sebuah kesedihan dan keterputusasaan.
"Sabar yah Mbak, sebentar lagi istri saya akan datang menjemput"
"Mas..?" tegur nya kepadaku
"Iya?" aku pun berbalik
"Apakah Tuhan masih menerimaku?"
Aku pun tersenyum kemudian kembali bertanya "apakah Mbak masih bisa bernafas?"
Dirinya hanya menatapku dengan heran.
"Selama nafas Mbak masih ada, Allah akan selalu memaafkan hambaNya asal Mbak bersungguh sungguh taubatan nasuha"
"Tapi aku sudah murtad dari agamaNya, aku berzina dan diriku begitu kotor"
"Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS. Az Zumar: 53-54).
"Allah malah murka kalau Mbak berputus asa begini, Allah tidak suka hambaNya itu lemah karna dengan lemahnya seorang hamba maka pintu saython akan terbuka dan membisikan kepadanya agar berputus asa dari rahmat Allah, kalau hamba tersebut kuat maka otomatis dia punya keyakinan yang tinggi bagaimana bisa aku berputus asa selama Allah bersamanya"
"Lalu bagaimana caranya Mas supaya aku bisa kembali kepadaNya?"
"Ucapkan lagi syahadat, bertaubat dan berjanji kepada diri sendiri untuk tidak mengulanginya lagi"
"Maukah Mas membimbing saya untuk bertaubat?"
"Nunggu istri saya dulu Mbak, ntar biar dia yang bimbing mbak" ucapku
Tiba tiba dari arah depan kami ada sorot lampu sepeda motor dari kejauhan menyilaukan kami berdua. Ternyata dari Nurul yang memakai motor tersebut kemudian mendekatiku.
Setelah melepas helm dirinya menatapku sebentar kemudian menatap perempuan yang bersamaku lalu terdiam sejenak seperti ada yang dirinya pikirkan.
"Ini siapa Mas?" tanya Nurul
"Tadi sepulang aku nganterin si Usuf tiba tiba di jalan ada yang minta tolong, ternyata Mbak ini"
"Emang dia kenapa Mas?"
"Udah nanya nya entar aja yah, bawa dulu Mbaknya kerumah dan kasih baju untuk menutupi dirinya" pintaku
Nurul pun menuruti perintahku kemudian dengan perlahan tangan Nurul memegangi tangan perempuan tersebut lalu mereka berboncengan meninggalkan ku sendiri.
Diperjalanan pulang dalam hati ku berdoa semoga Nurul tidak berpikiran yang aneh aneh tentang aku dan wanita tersebut.
Sesampainya aku di teras rumah. Kulihat istriku dan wanita tersebut sedang bercakap berdua, bedanya kali ini wanita tersebut memakai pakaian syar'i dan bercadar.
"Assalamu'alaikum" sembari masuk kedalam rumah
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam warahmatullah" jawab Nurul
"Bagaimana keadaannya Mbak?, apakah sudah membaik?" ujarku
"Sudah Mas Alhamdulillah aku juga sudah bersyahadat kembali yang di bimbing Mbak Nurul" jawabnya
"Alhamdulillah 'ala kulli hal (segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan)"
"Tapi...?" ujarnya tertunduk
"Tapi kenapa Mbak?" ucap Nurul
"Bagaimana bisa aku pulang kalau orang tuaku mencoret nama ku dari keluarga"
"Insya Allah saya dan istri akan mengantarkan Mbak dan menjelaskan kepada orang tua Mbak" jawabku mantap
"Tapi Ayah ku orangnya keras Mas, aku enggak mau Mas dan Mbak dapet imbasnya"
"Udah Mbak endak usah mikirin itu, sekarang Mbak istirahat aja" jawab ku yang kemudiam kedalam mengambil kasur kecil yang ada di kamar.
"Loh Masnya tidur diluar?" tanya nya penasaran
"Untuk menghormatimu dan menjaga perasaan istri saya Mbak" ucapku sambil tersenyum kemudiam keluar meninggalkan mereka berdua.
Sebenernya bisa saja aku tidur didalam namun aku menghindari fitnah, lebih baik badan ini penuh dengan gigitan nyamuk daripada harus satu atap dengan yang bukan istriku.
Keesokan harinya setelah selesai sholat subuh, diriku duduk di teras rumah dengan ditemani secangkir teh hangat buatan Nurul. Tak berselang lama keluarlah Nurul dan perempuan tersebut dari dalam rumah kemudian duduk agak jauhan dariku.
Kami pun bertiga berbincang bincang banyak tentang kehidupan wanita tersebut yang ternyata bernama Indah, dirinya terlahir dari orang tua yang kaya raya namun jauh dari Agama. Sedari kecil Indah jauh dari kasih sayang orang tuanya, karna kedua duanya sibuk dengan bisnis masing masing hingga Indah seperti anak yang ditelantarkan dalam rumahnya sendiri.
Sungguh miris memang orang tuanya berpikir bahwa uang bisa membuat anaknya bahagia hingga mereka lupa bahwa anak juga butuh kasih sayang. Betapa banyak kasus kriminal yang sering terjadi bukan karna faktor lingkungan saja yang mempengaruhi seseorang jadi pelaku kriminal melainkan orang tuanya yang salah dalam mendidik anak-anak mereka.
"Aku menyesal Mas, aku baru tau ternyata Agama islam itu sangat memuliakan perempuan" ucap Indah
"Karna saya sudah melihat dan membuktikannya, perlakuan Mas terhadapku dengan perlakuan mantan pacarku itu jauh berbeda"
Aku hanya mengangguk seraya membelai janggutku mengamati dirinya berkomentar.
"Pertama kali aku berpacaran dengan dia begitu indah Mas. Dirinya bisa menjagaku, melindungiku dan menyayangiku, bahkan ketika aku sakit dirinya dengan setia menemaniku dirumah sakit hingga aku sembuh. Dia selalu menguatkan ku ketika diriku sedang down dan ada masalah dengan orang tua" Kemudian Indah terdiam sejenak lalu mengucurlah air matanya.
Dengan sigap Nurul memeluk dan menenangkan Indah.
Dengan terbata bata Indah melanjutkan ceritanya "Saat...saat dirinya mendapatkan kesucian ku. Sikapnya tiba tiba berubah dari yang perhatian disetiap saat kini hilang sudah, rasa sayangnya pun kini berganti dengan sikap arogannya, terkadang aku di pukul dan di rendahkan olehnya"
"Ya Allah, kenapa Mbak masih bertahan?" tanya Nurul
"Aku sudah tidak mempunyai tempat tinggal mbak, orang tuaku mengusirku saat aku murtad, makanya dari itu aku mencoba bertahan walau tiap hari mendapat caci dan makian darinya"
"Kenapa Mbak Indak enggak ngelapor polisi atas penganiayaan yang Mbak terima?"
"Aku takut mas, dia orangnya nekatan, aku bahkan di ancam akan di bunuh kalau mencoba kabur darinya"
"Astaghfirullah" ucapku
"Sungguh sifat Mas Abe sangat berbeda jauh darinya, Mas bisa menjaga dari kecemburuan istrinya, Mas bisa menghargai perempuan hingga rela tidur di teras agar hati istri tak tersakiti, sangat jarang aku menemukan lelaki seperti suami Mbak Nurul"
"Jangan terlalu berlebihan Mbak dalam menilai ku, aku sama seperti manusia pada umumnya yang pernah terjatuh dalam dosa"
"Tapi tidak sebejat mantan pacar saya Mas, bagaimana bisa saya dapatkan lelaki seperti Mas, eh maaf maksudnya yang mengerti agama" ucap indah yang hampir keceplosan dan membuat wajah Nurul sedikit berubah.
"Mbak lebih baik dalami dulu Agama islam dengan cara menghadiri majelis yang didalamnya membahas Al Quran dan As Sunnah, agar benteng keimanan dalam diri Mbak kuat. Nanti akan saya bimbing mbak untuk mencari kajian khusus akhwat" ucap Nurul
"Alhamdulillah makasih banyak, atas jasa kalian yang menyadarkan ku kembali kepada agamaku. Entah bagaimana aku harus membayar jasa jasa kalian"
__ADS_1
"Cukup pahaldari Allah saja yang kami harapkan" balas Nurul
Pagi itu aku bersepakat untuk memulangkan Indah kerumah orang tuanya, apapun resikonya.
Indah ketika didalam mobil begitu gelisah seperti ada ketakutan dalam dirinya untuk bertemu orang tuanya, sedangkan Nurul terus meyakinkannya agar tetap berdoa supaya melembutkan hati orang tuanya.
Mobil ku terhenti didepan rumah yang cukup besar dengan pekarangan yang luas. Indah pun keluar untuk menemui satpam yang menjaga rumah itu agar membukakan pintu pagarnya.
Ketika sampai didepan pintu rumahnya. Indah lalu menekan bell dan tak berselang lama dibuka lah pintu rumah oleh seorang pembantu.
"Eh Mbak Indah?" ucap pembantu tersebut
"Ibu sama Bapak ada Bi?" tanya Indah
"Oh ada Mbak, saya panggilkan sebentar yah" ucap pembantu tersebut kemudian berjalan masuk kedalam rumah
Aku dan Nurul pun menunggu sambil duduk di teras rumahnya, sedangkan Indah ku lihat sedari tadi gelisah berjalan mondar mandir seperti ada ketakutan dalam dirinya.
"MAU APA KAMU DATANG KEMARI!!!" tiba tiba suara lelaki terdengar dari arah belakang ku
Tanpa di komandoi Indah kemudian datang dan bersimpuh dikaki pria paruh baya tersebut.
"Maaffin Indah Yah, Indah sudah melakukan hal yang Ayah benci"
"Minggir...!!" ucap Ayah Indah yang mendorong nya hingga terjatuh
"Kalian ini siapa!" tunjuk beliau kepadaku
"Saya Abe Pak dan ini istri saya, niat kami kemari untuk memulangkan Indah"
Namun bukannya diterima dengan baik tiba tiba Ayah Indah datang mendekatiku kemudian mencengkram kerah bajuku dengan kuat hingga kancing bajuku putus.
"Bruakk..." dengan keras beliau menghempaskan ku di badan mobil
"Bugghh" pukulan keras mengenai bibir ku hingga darah segar menetes melalui mulutku
Nurul datang untuk menarik tangan ku namun sia sia karna cengkraman tangan Ayah Indah sangat kuat. Akupun mengisyaratkan Nurul untuk menjauh agar dirinya tak di lukai oleh Ayah Indah
"Sudah kau apakan anak ku hah!"
"Saya tidak apa apakan anak Bapak, liat sendiri penampilannya dari sebelumnya" jawabku
Ayah Indah pun menoleh kearah indah sembari mengamati dari bawah hingga ke atas, akhirnya cengraman tangan beliau yang hampir mencekik ku terlepas.
Dengan deraian air mata Indah pun mengungkapkan isi hatinya yang selama ini dirinya pendam.
"Ayah tau kenapa aku begini?, itu karna Ayah hanya mementingkan diri sendiri dan tidak memperdulikan anak!, sedari kecil hingga besar sekarang Ayah selalu memberiku uang, uang dan uang, aku tak butuh itu Yah!, yang aku butuhkan kasih sayang bukan uang!"
"Sepasang suami istri ini telah mengajarkan aku tentang agama islam yang sesungguhnya yang tak pernah aku dapatkan dari Ayah dan Ibu, kalian kemana saat aku membutuhkan kasih sayang!, kalian hanya mementingkan bisnis dan bisnis tanpa perduli anaknya. Bukan kah fungsi Ibu adalah sebagai madrasah untuk anaknya? Mana peran seorang Ibu untuk mengajarkan agama untuk ku? Tak ku dapati sosok seorang Ayah yang menjadi imam dirumahku maka wajar apabila aku berpindah agama dikarnakan ke egoisan kalian!" ucap indah sambil terisak
Mendengar curahan hati anaknya, Ayah Indah pun terduduk kemudian terdiam sejenak.
"Maaffin Ayah Nak, Ayah berpikir dengan uang kamu bahagia, ternyata Ayah salah"
Indah pun berjalan mendekati Ayahnya lalu bersimpuh sambil mencium tangan Ayahnya, sedangkan Ayahnya memeluk Indah dengan erat mereka pun menangis berdua.
Aku dan istriku hanya tersenyum melihat kebahagiaan keluarga Indah yang pernah hilang kini bersemi kembali. Aku pun berbalik untuk segera pulang dari rumah tersebut bersama Nurul namun langkah kami dihentikan oleh Ayah Indah.
"Maaffin saya yang telah kasar kepadamu dik, berapakah biaya yang harus saya keluarkan untuk membiayai luka lukamu ayo katakan" pinta Ayah Indah
"Saya ikhlas membantu Indah Pak, tak perlu di obatin ini hanya luka kecil kok" jawab ku
"Masya Allah, entah bagaimana saya bisa membalas jasa kalian"
__ADS_1
"Kepada Allah saja kami meminta balasan Pak" ucapku sambil mengucapkan salam kemudian berlalu meninggalkan rumah Indah.