
Kebahagaian yang tak dapat aku gambarkan pada hari itu dimana kelak aku akan menjadi sorang Ayah dari seorang anak, setelah hampir 2 tahun lamanya kami menunggu nunggu amanah dar Allah akhirnya datang juga amanah itu untuk kami, saking bahagianya tanpa memperdulikan orang orang disekitar ku aku peluk Aisyah begitu lama.
"Peluknya udahan Mas, malu tuh di liat orang" pinta aisyah
"Biarin, aku cuman mengekspresikan bentuk rasa bahagia ku saat ini" ujarku menolak permintaannya
Akhirnya Aisyah membiarkan ku memeluknya walau mungkin dirinya malu dengan sikapku yang mencuri perhatian beberapa orang yang ada disana, aku kemudian melepaskan pelukannya dengan pandangan yang serius menatap Aisyah seraya bertanya "kenapa aku kok enggak dikasih tau tentang kehamilanmu?bukankah belum ada sebulan kamu pernah mewek karna tak juga hamil waktu itu?"
Aisyah hanya tertawa terlihat dari matanya, tanpa mau menjawab pertanyaan ku
"Dih ditanya serius malah senyam senyum"
"Udah sebulan lebih" ucapnya
"Jadi maksud mu menutupi kehamilan ini buat?"
"Pengen bikin surprise buat suamiku tersayang" jawabnya sambil kedua jari jemarinya di mainkan ke wajahku
Aku hanya menggelengkan kepala dan tersenyum kepadanya, meskipun di kerjain namun tak pernah menghilangkan kebahagiaanku atas kehamilannya, semoga kelak tak ada halang dan rintangan menuju proses sampai anak ku lahir kelak.
Berita kebahagiaan itu tak ku biarkan sampai ketelingaku saja, orang tuaku serta mertuaku pun aku kasih kabar hingga mereka rela datang jauh jauh hanya untuk menjenguk anak dan mantunya yang sedang hamil, bahkan penjagaan mereka terhadap Aisyah sangat intens dari pola makannya, kebutuhan gizinya hingga perhatian orang tuaku beserta mertuaku mengalahkan perhatian ku kepada Aisyah.
tapi begitu lah mereka menunjukan bahwa mereka begitu menginginkan dan mengidam idamkan seorang cucu dari kami.
sedangkan orang tuaku menyuruhku setiap hari membacakan Alquran minimal 1juz setiap harinya sampai bayi yang ada dalam kandungan Aiysah lahir, walaupun bayi dalam kandungan namun tetap bisa merespon apa yang di lakukan oleh orang tuanya.
Aisyah akhir akhir ini sikapnya berubah, semakin sensitif kadang mudah ngambek, ada kalanya suka nangis sendiri ketika melihat anak kucing mati yang bagi ku biasa saja namun baginya begitu sangat menyentuh.
kadang permintaan yang aneh aneh terlontar dari mulutnya contohnya ketika waktu malam tiba saat itu waktu menunjukan jam setengah 2 malam Aisyah terbangun menangis sembari menggoyangkan tubuhku supaya lekas bangun.
"ada apa sih Syah?" aku sembari mengucek mataku
"pengen mie Maass"
aku lalu melihat jam dinding waktu menunjukan jam setengah 2 kemudian dengan malas aku berucap "udah jam setengah dua loh Syah, warung pada tutup"
"enggak mau tau pokoknya aku mau mie, kalau ada mie ayam yah"
Diriku menggaruk rambut yang sebenarnya enggak gatal aku lalu beranjak pergi untuk mengambil kunci motor, kemudian saat hendak keluar menuju ke teras rumah ternyata saat itu hari sedang hujan, aku kemudian kembali lagi ingin masuk rumah ternyata Aisyah sudah menungguku di muka pintu.
__ADS_1
"Hujan" ucapku sembari menunjuk keluar
"Terus kenapa kalau ujan?" tanyanya balik
"Besok aja yah yah yah" rayuku sembari mengedipkan mata kearah Aisyah
"Enggak mau, pokoknya sekarang yah sekarang"
"Entar kalau aku sakit gimana?" seraya ngeles kek orang minta minta diperempatan kepada Aisyah
"Iiiih seharusnya aku yang manja kenapa jadi Mas ikut ikutan manja sih" mencubit lengan ku
"Astaghfirullah,,,kasih kesabaran yang banyak ya Gusti" ucapku sembari memengusap wajahku
Akhirnya aku masuk kedalam untuk mengambil jaket kulit agar badan ku enggak basah semua karna hujan, lalu kembali lagi berjalan keluar menuju kearah motor, saat sampai di motor aku kembali menatap Aisyah dengan tatapan memelas berharap permintaannya di tunda namun.
"Nah gitu dong, itu namanya suami siaga, mau mengabulkan apa yang istrinya inginkan"
"Siaga sih siaga tapi inget waktu dong"
Motor ku melaju ditengah guyuran hujan yang lebat tanpa ampun wajahku tertimpa air hujan yang begitu menusuk ke kulit, saking dinginnya tak bisa ku rasakan kedua tanganku, sialnya di perjalanan tak kudapati warung atau paman yang menjual mie ayam, iya aja jam segini mana ada yang buka "kalau bukan permintaan mu Nak, Abi enggak mau hujan hujanan kayak begini" bathinku
Sesampainya di alun alun kota aku berkeliling mencari cari paman penjual mie ayam yang biasa mendorong pakai gerobak, akhirnya aku bersyukur karna mendapati satu orang penjual mie ayam sedang berteduh di depan ruko, tak butuh waktu lama aku langsung menghampiri penjual mie ayam karna rasa dingin yang menusuk di badanku mulai tak tertahankan.
"Aduh Pak masa habis?, tolong dong Pak pasti masih ada?, soalnya aku cari cari kemana mana enggak ada yang jual, mana istri ku lagi hamil" ucapku dengab memelas
"Yah maaf Mas, mau gimana lagi, kalau endak percaya nih sampean liat sendiri" menunjukan tempat penyimpanan bakso dan mie
Benar apa yang dikatakan Paman tersebut, mie ayamnya memang udah ludes abis, dengan wajah kecewa aku lalu kembali berjalan menuju motorku, entah kemana lagi mesti nyari mie ayam, namun saat hendak pergi tiba tiba Mas Mas yang membeli mie ayam memanggilku.
"Mas tunggu Mas" ujarnya seraya menghampiriku
"Ada apa ya Mas?" tanyaku bingung
"Ini ambil aja, mungkin Istri Mas sedang membutuhkannya" ucap Mas Mas tersebut
"hah,,,beneran nih Mas buat saya?" ucapku keheranan
"Iyah ambil aja, aku bisa cari kelain kok" ujar Masnya seraya tersenyum
__ADS_1
"Masya Allah Jazakallahu khair Mas, semoga Allah membalas kebaikanmu, ini Mas uangnya" ujarku menyerahkan uang sebagai ganti menebus mie ayam yang dia beli
Aku kemudian melajukan motorku kembali melawan derasnya hujan yang menimpa tubuhku, tak ku perdulikan lagi sakit dan dinginnya hawa malam itu yang terpenting permintaan dari Aisyah terpenuhi.
Setelah sampai rumah aku bersegera memarkirkan motorku di garasi kemudian berjalan masuk kerumah seraya melepas jaket kulitku yang basah kuyup dengan satu tangan membawa bungkusan mie satu tangan lagi memeluk tubuhku yang sedang kedinginan aku berjalan kearah kamar dimana Aisyah sedang menungguku disana.
Namun ku dapati dirinya malah sedang tertidur berselimut dan memeluk guling, aku lalu mendekatinya seraya memanggilnya "Syah bangun, aku udah membawa pesananmu ini" ucapku dengan suara yang serak akibat dingin yang tak tertahan
"hhmmmm...ngantuk Mas" desah Aisyah seraya bangun sebentar kemudian tidur lagi memeluk gulingnya
"Lah aku udah dapet mie nya ini, hujan hujanan masa kamunya tidur malah"
"Yaudah sekalian Mas kedapur yah ambil mangkok sama sendok" pinta Aisyah
"Masya Allah Syah aku kedinginan ini"
"Massss...Aisyah males kedapur, tolong yah sayang please" ucapnya sembari membelai pipiku
Akhirnya dengan berat hati aku mengikuti kemauannya kemudian berjalan kedapur mengambil mangkok, kemudian kembali lagi kekamar namun sekali lagi kesabaranku di uji dengan permintaan yang super duber bikin kesal.
"Kenapa pake mangkok ini, ganti dong mangkok yang ada gambar ayamnya" pinta Aisyah
"Lah apa bedanya sih Syah cuman gambar doang kan?"
"Aku pengen yang ada gambar ayam jantannya pokonya itu yang aku mau jangan komen" pintanya dengan merengek
Untuk kedua kalinya aku kembali lagi kedapur mengambilkan mangkok seperti permintaan Aisyah, sebenernya emosi sudah mulai meledak namun aku tahan demi jabang bayi yang ada di perutnya.
"Nih udah aku penuhin mangkok yang ada ayam jagonya, pelan pelan kalau makan ntar di patok sama ayam" dengusku kesal
"Hehe bisa aja Mas Abe becandanya" ujar Aisyah kemudian memakan mie ayam
Sesuap dua suap hingga empat suapan akhirnya mangkok tersebut di berikan kepadaku kemudian berucap "habiskan yah"
"Masih banyak loh Syah"
"Makanya Mas habiskan yah, kenyang" ujarnya kembali tidur kemudian menarik selimutnya
"Aku hujan hujanan, berebut sama pelanggan lain, kedinginan, kamu cuman makan 4 suapan doang?"
__ADS_1
"Aaahhhh kenyangggg...ngantuk mau tidur ah" ucapnya tanpa rasa bersalah sedikitpun
"Astaghfirullah, baru sehari udah bikin kepala mau pecah gimana kedepannya, sabarkan hati ini ya Allah" gumam ku seraya menghabiskan mie ayam dengan perasaan yang teramat sangat menyebalkan