
malam harinya setelah selesai sholat isya berjamaah dengan warga komplek aku lalu berjalan menuju rumahku, meskipun warga baru dikomplek tersebut namun beberapa ikhwan mau menyahut serta tersenyum ketika ku mengucap salam, beda dengan kebanyakan warga komplek lainnya yang jarang tegur sapa bahkan acuh tak acuh kepada sesama kegiatan mereka hanya kerja pulang tidur enggak ada kepikiran untuk kumpul bersama warga yang lain.
Sesampainya dirumah aku lalu mengucap salam seraya membuka pintu "Assalamu'alaikum" sapaku, namun tak ada jawaban sama sekali dari Aisyah, aku coba mengulangi lagi "Assalamu'alaikum, Syah...kamu dimana Yank?" sahutku
lagi lagi tak ada jawaban darinya "kemana ini anak?, enggak kaya biasanya menyambut ku ketika aku pulang dari sholat" bathinku
aku lalu mencari ke kamar tak kutemui dirinya, kekamar mandi hingga dapur pun tak ada dirinya disana, aku menggaruk kepala aku dan duduk sejenak di ruang tamu seraya merenggangkan ototku yang rada tegang setelah seharian membersihkan rumah.
setengah jam kemudian karna tak kutemui Aisyah aku lalu mencoba mencarinya di lantai atas, ketika sampai di balkon rumah terdengar suara tangisan diringi murotal Alquran yang di bacakan oleh Aisyah, saat itu dirinya sedang membaca surah Al Mu'minun, aku hanya berdiri sembari melipat tanganku dan bersandar didinding seraya mendengarkan suara merdunya yang khas menggema dirumahku, ketika sampai di ayat
"walladzinahum birabbihim laa yusyrikuun(ayat 59)"suaranya tercekat akhirnya menangis sembari menutup mushafnya
aku lalu menyambung ayatnya "waalladziina yu'tuuna maa aataw waquluubuhum wajilatun annahum ilaa rabbihim raaji'uuna(Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka,)sembari tersenyum lalu mendatanginya dan duduk disampingnya
sedikit terkejut Aisyah lalu buru buru menghapus air matanya kemudian tersenyum kepadaku "eh Mas udah pulang?" ucapnya
"iyah udah dari tadi kali syah, aku ucapin salam enggak di jawab eh ternyata disini dianya" seraya menghapus sisa air matanya di pipi
"wa'alaikumsalam waarrahamatullah, maaf yah Mas Aisyah endak denger soalnya"
"iya ndak apa apa, tumben kamu mewek gini?, biasanya enggak" selidikku
mendengar pertanyaanku dirinya lalu berbalik mengarahkan pandangannya menuju kejalan kemudian kembali terdiam.
"loh istri Mas kenapa kok di tanya malah diem?"
"rumah sebesar ini terasa sepi Mas tanpa ada tangisan bayi"
"sabar, dan berkhusnudzon aja mungkin Allah belum mempercayai kita untuk mengasuh anak, berdoa dan banyak bersedekah yah" ujarku memberi pengertian kepadanya
"iri Mas rasanya ketika tadi siang sekilas melihat istri tetangga sedang menggendong dek bayi ,serasa pengen anak itu ada di tanganku"
Aku hanya terdiam mendengar keluh kesahnya, aku sendiri tak mampu berbuat apa apa, awal ketika kami menikah setelah periksa ke dokter kami di nyatakan enggak ada yang mandul.
"Mas" panggil Aisya seraya tangannya menggenggam tanganku
"hmm..." sahutku
"boleh minta sesuatu ndak" dengan senyum yang lebar hingga terlihat giginya yang putih bersih
"minta apa?, minta permen?, atau coklat"
"ih bukan Mass, hmmm... tapi malu eh, tapi boleh yah yah yah...?"
__ADS_1
"dih jawab dulu minta apa?, minta cium?" seraya mendekati nya ingin menciumnya
"iiiih Mas Abe bukaan" seraya mendorong wajahku
"terus apa dong?"
"besok anterin aku ketetangga yah, aku pengen liat dek bayi :D"
aku mengerenyitkan dahi menatap heran permintaan Aisyah
"boleh yah Mas, please... :("
"aku sih terserah kamu Syah tapi apa tetangga mau anaknya di liat kamu"
"asyiiik, soal itu gampang, pasti mau kok" ujar Aisyah sembari melompat kegirangan meninggalkan ku turun menuju lantai dasar
begini nih kalau kemauannya sudah di turutin kadang ampe lupa daratan, suaminya main ditinggal gt aja -_-.
"Syah" panggilku
"iyah Mas?" jawabnya sembari membalikkan badannya
"ada yang kelupaan ndak?" tanyaku
"suamimu Syah -_-, mentang mentang keinginannya udah dikabulin main ninggalin gitu aja"
"Astaghfirullah afwan afwan suamiku sayang, ooouuwwhhh kesian yang Aisyah tinggal, sini sini cup cup" kedua tangannya di meraih tanganku
"kayak anak bayi aja pake cup cup segala -_-"
"emang Bayi kan, bayi gede tapi :D" lalu tangannya memegang kedua tanganku seraya menuntunku menuruni tangga rumah
keesokan harinya seperti janji yang sudah terucap tadi malam akhirnya aku memberanikan diri bersama Aisyah sowan ke tetangga untuk meminjam barang beberapa menit anaknya, entah lah dalam diriku enggak yakin si ibu mau menyerahkan anaknya ke kami, tapi karna janji sudah terucap mau enggak mau suka enggak suka harus tetap jalan.
"assalamu'alaikum" sapaku didepan pintu rumah tetangga
enggak lama pintu pun terbuka "wa'alaikumsalam" sahut lelaki berjenggot lebat dengan pakaian gamis
"mau cari siapa Mas?" tanya lelaki itu
"owh endak, ini kita tetangga baru sebelah rumah, kesini mau silahturahmi aja, afwan kalau di izinin dan ndak mengganggu kesibukannya" ucapku
"oalah antum tetangga sebelah toh, masya Allah mari masuk Mas, silahkan insya Allah ndak ganggu kok" pintanya
__ADS_1
kami pun lalu masuk kerumah nya kemudian dipersilahkan duduk di ruang tamu, lalu lelaki itu kebelakang sembari memanggil manggil istrinya "umii...ada tamu, bikinin minum dong"
"iyah sebentar" sahut istrinya
lalu lelaki itu kembali duduk bersama kami kemudian berkata "sudah berapa hari Masnya tinggal disini?" tanya nya
"baru 2 hari Mas" sahutku
"emangnya Mas asalnya dari mana?"
"dari desa Madinah Mas" sahutku
"owh endak jauh dari sini yah"
"oia kenalin Mas Ana Abe dan ini Istri Ana Aisyah" ujarku
"iyah panggil aja ana Zubair Mas, Masya Allah menikah diusia muda memang berasa yah, yang awalnya malu malu karna tak mengenal satu sama lain, beradaptasi untuk bisa cocok sungguh romantis" ucap Zubair
"hehe, begitu lah Mas, Ana menikah juga kebetulan dijodohin sama Orang tua, sebenernya ingin menikah di usia 25 tahun tapi karna keinginan orang tua jadi di usia 18 udah nikah akhirnya" jawabku
"Masya Allah, semoga Allah memberkahi pernikahan kalian berdua :)"
"aamiin" sahutku
enggak lama datang lah istri Zubair dengan membawa 3 cangkir air Teh lalu dihidangkan kepadaku dan Aisyah, namun belum sempat duduk terdengar suara tangisan bayi dari dalam kamar, istri Zubair bergegas masuk kedalam kamar untuk menenangkan anaknya, sedangkan Aisyah ku liat sedari tadi gelisah seraya melihat kearah kamar dimana suara tangisan bayi terdengar.
"anaknya umur berapa Mas?" tanya ku
"owh si Ahmad baru umur 2 bulan Mas" jawabnya
"masya Allah rame yah ketika mendengar suara tangisan anak, rumah berasa engga sepi" ujarku
"aduh maaf yah anak lagi rewel jadi ditinggal tamunya" sahut istri Zubair yang kini telah menggendong anaknya
"duh lucunya, udah gemuk pipinya chubby banget" sahut Aisyah
tangisan anak Zubair belum juga berhenti meskipun sudah di pangku ibunya, sedangkan Aisyah gelisah seraya menarik narik bajuku sepertinya kode ingin segera memomong anak tersebut.
"maaf Mbak kalau berkenan boleh saya gendong sebentar aja Ahmadnya" pinta Aisyah kepada Istri Zubair
"oh iyah silahkan Mbak, kebetulan saya juga lagi masak, tolong nitip sebentar yah Mbak" pinta istri Zubair
"oh enggak apa apa Mbak, lama pun nedak masalah" sahut Aisyah
__ADS_1
Ahmad kecil lalu diserahkan kepelukan Aisyah, dengan sikap keibuannya Aisyah kemudian berdiri sembari menenangkan Ahmad, lalu di bawalah Ahmad keluar rumah seraya melihat lihat kebun bunga di pelataran rumah Zubair, aku liat Aisyah dengan raut wajahnya menunjukan kebahagiaan bersama bayi yang di gendongnya, walaupun masih muda sifat keibuannya begitu terlihat ketika sedang momong anak orang, bahkan Ahmad yang enggak berhenti menangis ketika bersama Ibunya kini berganti dengan tawa saat bersama Aisyah.