Wanita Dibalik Cadar

Wanita Dibalik Cadar
Bab 49


__ADS_3

Pagi pagi buta sebelum adzan subuh berkumandang aku terbangun karna mendengar suara sedikit gaduh, setengah sadar ku liat Wulan sedang melipat pakaian, gumam ku "Alhamdulillah istri hamba sudah berubah ya Allah"


Aku pun berdiri dan menyapanya "tumben istri Mas rajin pagi2 sudah lipat lipat pakaian" sambil mencium ubun ubunnya


"Iya lah Bi, emang Abi kira ummi ini males kerjaannya"


"Enggak sih, tapi sedikit jorok" canda ku sembari menghindari dari cubitannya kemudian menuju kekamar mandi untuk mandi bersiap sholakhawatir.


Setelah usai sholat subuh diriku langsung pulang kerumah dan mendapati Wulan tak ada disana, kucari cari dari kamar sampai k wc pun tak kudapatkan dirinya disana, sambil garuk kepala ku bergumam "kamu kemana sih Lan? Pagi pagi gini sudah main ilang aja?".


Ku mencoba menghubungi hp nya ternyata yang menjawab hanya operator telpon, ku coba tetap husnudzon mungkin Wulan sedang ke warung.


Ku rebahkan tubuhku di sofa sembari membaca kitab para ulama sampai jam menunjukan waktu setengah 8 pagi Wulan tak jua menunjukan batang hidungnya, ingin ku menelpon ayah mertua namun takutnya wulan ga ada disana dan membuat beliau jadi khawatir.


Kepercayaan ku mulai goyah ke Wulan, pikiran ku mulai menerawang kemana mana, kemana gerangan Wulan pergi? Dan salah apa diriku hingga membuatnya pergi? Ini adalah kali keduanya Wulan pergi dari rumah tanpa sepengetahuan ku, dan haram hukumnya seorang istri yang pergi dari rumah tanpa sepengetahuan suaminya.


Hingga jam 11 siang Wulan tak jua kunjung kembali dan membuat kesabaran ku hampir habis, tak ku ketahui apa sih kemauan nya itu sehingga dirinya melakukan perbuatan nekat seperti ini.


Aku pun teringat akan Email dan password wulan, diriku kemudian berinisiatif untuk log in akun Gmailnya hanya itu lah alat satu satunya untuk melacak dimana keberadaan Wulan, ku buka aplikasi google foto dan mata ku menerawang aktifitas terbarunya pagi sekitar pukul 9 muncul sebuah foto lapangan bandara di kota ku.


Ga salah lagi Wulan memang pergi dan sebelum subuh tadi memang sudah dirinya nya siapkan baju nya untuk pergi.


"Ya Allah Wulan, mau mu itu seperti apa sih?" bathin ku


Setelah itu diriku berinisiatif mengecek timeline mapsnya, mudahan ketemu dimana dirinya terakhir berada, dan Alhamdulillah di jam 10pagi dirinya landing di bandara spinggan kaltim, diriku berpikir sejenak, Kaltim? Mau ngapain dirinya kesana? Bukan kah sanak saudaranya tidak ada disana? Terus siapa yang dirinya temui?.


Tak banyak mikir akhirnya aku bergegas menggendong Annisa dan membawanya kerumah Ayah untuk menitipkan sebentar kemudian diriku bertolak dari rumah Ayah menuju bandara menyusul jejak dimana Wulan berada.

__ADS_1


Saat sedang menunggu antrian tiket pesawat, kusempatkan untuk mengecek update di google mapsnya Wulan, dan ku dapati dirinya ada di hotel dekat bandara spinggan kaltim, logikanya kalau Wulan ada sanak keluarga endak mungkin dia nginep di hotel.


Akhirnya pesawat yang ku tumpangi terbang ke kaltim dan sejam kemudian pesawat yang ku tumpangi landing dengan selamat di bandara kaltim, sambil berjalan terburu buru diriku memanggil taksi bandara dan meminta mengantarkan hotel yang tak jauh dari bandara.


Sesampainya di hotel aku memesan dan bertanya apakah ada nama Wulan yang menginap disini, dan yang keluar dari mulut receptionis adalah "Iya ada dan check in dua jam yang lalu"


Diriku sangat marah, sedih bercampur jadi satu, namun aku tetap menahan emosiku dan sengaja aku tak menemuinya langsung, aku memesan kamar untuk memata matai aktifitas Wulan.


Ba'da isya aku keluar dari kamar ku dan duduk di luar kamar sambil baca koran, penampilan ku saat itu susah di kenali dengan masker hitam serta kaca mata hitam, kamar ku saat itu tak begitu jauh dari kamar Wulan hingga aku bisa memantaunya.


Beberapa saat kemudian keluarlah seorang wanita yang sangat ku kenal meskipun dirinya bercadar tapi aku sangat mengenalinya, yah dialah Wulan.


Aku pun dengan perlahan membuntutinya hingga didepan lift, Wulan tak curiga sedikit pun bahwa yang naik lift di sampingnya adalah suaminya.


Tiba tiba Wulan mengambil hp yang ada di Tasnya lalu namun mengangkat telpon yang entah dari siapa.


Wulan : oh tunggu bentar lagi aku kebawah


Telpon pun ditutup, setelah lift berhenti Wulan mulai berjalan ke arah loby hotel, aku pun membuntutinya dari kejauhan.


Bagai petir yang menyambar ku, yang ku lihat Wulan menemui lelaki lain, tubuh ku serasa mematung beberapa saat, tak dapat ku ungkap kan perasaan ku saat itu antara marah karna di khianati dan sedih kenapa Wulan tega menghianati ku?, kalau tidak menyukaiku kenapa dari awal menerima pinangan ku?.


Dan yang lebih parahnya lagi tangan Wulan dan lelaki itu saling bergandengan sambil berjalan keluar hotel, sedangkan diriku sekuat tenaga kembali mengikutinya hingga di parkiran hotel Wulan dan lelaki itu menaiki toyota rush hitam.


Dengan setengah berlari ku menuju ke arah ojek yang ada disekitar hotel kemudian meminta untuk membuntuti mobil toyota rush tersebut.


Selang setengah jam kemudian mobil tersebut berhenti di sebuah rumah mirip kontrakan karna disana banyak terparkir sepeda motor, dengan posisi yang sama wulan dan lelaki itu bergandengan tangan memasuki rumah tersebut.

__ADS_1


Aku hanya bisa mengelus dada serta beristiqhfar entah apa yang dilakukan istri ku sudah nelampaui batas, bertemu yang bukan mahrom, memegang tangan lelaki yang bukan bagian dari keluarga serta kerumah lelaki lain tanpa sepengetahuan suaminya ini adalah harom hukumnya.


Sejam lamanya ku menunggu Wulan akhirnya dirinya keluar dengan lelaki itu sambil ketawa ketiwi wulan berjalan sambil kepalanya nempel di pundak lelaki itu tak lupa juga ku memoto adegan mereka yang seperti di mabuk cinta, "perbuatan bejat macam apa Lan yang kamu lakukan oleh lelaki itu" gumam ku yang sudah gusar melihat pemandangan menjijikan yang ada didepan mataku.


Setelah puas membuntuti mereka berdua aku kembali berjalan ke hotel dengan langkah berat, sakit hati karna di khianati tak mungkin sudah terobati, Wulan yang ku harapkan jadi wanita terakhir dan Ibu bagi Annisa kini telah menghianati ku, seharusnya aku lebih selektif memilih namun aku percaya bahwa takdir Allah azza wajalla itu tak pernah buruk dan mungkin ini adalah pelajaran untuk ku serta penghapus dosa dosa yang tak ku ketahui hingga Allah menggujiku seberar ini.


Tubuhku yang sedikit lelah akhirnya ku rebahkan di atas kasur kemudian memandang langit2 kamar hotel merenung sejenak "kalau memang ini ujian bagi hambaMu untuk menjadi pribadi lebih kuat hamba mohon untuk di kuatkan hati hamba, dan gantikan lah yang lebih baik dari sebelumnya" ucapku lirih dalam doa.


Pagi harinya ku duduk sembari menunggu Wulan keluar, hari ini adalah hari terakhir ku membuntutinya dan hari ini juga aku harus bertemu dengannya, selang beberapa menit kemudian Wulan keluar dari kamar kemudian berjalan ke arah lift, sengaja ku lewat tangga darurat agar tak di curigai olehnya.


Setelah menuruni tangga aku sibuk mencari cari wulan dan akhirnya kudapati dia sedang di restoran didalam hotel tersebut, aku pun mengikutinya dan duduk di meja yang tak jauh dengannya.


Selang beberapa saat kemudian datanglah seorang lelaki yang sama mendekat kearah Wulan, Wulan pun menyambutnya dengan senyuman kemudian mereka cipika cipiki, dan membuat darah ku naik ke ubun ubun melihat pemandangan bejat tersebut.


Aku harus grebek mereka yah meskipun hati ku sudah tak karuan rasa melihat kejadian didepan mataku, perlahan ku dekati Wulan dan saat mendekat ku ucapkan salam.


"Assalamu'alaikum"


Wulan pun menoleh kearahku dan membalas salam ku "wa'alaikumsalam" jawabnya yang sejenak memandangiku tanpa tau bahwa suaminya telah didepan matanya


"Ada apa yah Mas?" tanya Wulan


"Engga ada apa apa" jawabku sembari melepas topi dan masker


Dengan mata yang melotot Wulan terkejut ternyata yang didepannya saat ini adalah suaminya, lelaki yang menikahinya beberapa bulan yang lalu.


 

__ADS_1


 


__ADS_2