
"Afwan Ukh, kan anti lulusan pondok, dan seharusnya juga yang kelak jadi suami adalah yang berilmu lebih di atas anti, sedangkan ana sendiri hanya orang awam"
"Afwan jangan berlebihan menilai ana akh, ana juga sama seperti perempuan biasa yang enggak ma'sum, yang terpenting bagi ana Agamanya baik, mencintai Sunnah Rasulnya"
"Hanya itu?"
"Na'am, kalau Sunnah Sunnah Rasulnya aja dia jaga apalagi istrinya" tersenyum
"Tapi banyak tuh orang orang yang tak mengerti sunnah Rasul hidupnya tetep bahagia kok" aku berbalik mengetesnya
"Na'am shohih apa yang anta bilang tapi tidak untuk di akhirat"
"Dalilnya?" diriku kembali mengetes
"Al Munafiqun 63:9 : Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang membuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang merugi"
Nurul kembali menjelaskan "Walau mereka berbahagia di dunia namun Istri/Suaminya telah menghalang halanginya untuk bertaqwa kepada Allah azza wajalla dan kelak di akhirat mereka akan saling bermusuh musuhan dengan dalih istriku melakukan seperti ini hingga membuat ku lupa kepada Rabb ku/ Suamiku telah melalaikan ku dari perintah Rabb ku sebagaimana firman Allah disurah 'Abasa 34-37 Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari isteri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya".
Aku yang mendengarkannya hanya manggut manggut dan takjub atas jawabannya.
"Mereka bahagia namun semua itu hanya fatamorgana karna di yaumul akhir akan berbalik saling serang bahkan mereka akan merelakan anak, istri atau suaminya masuk nereka yang terpenting dirinya selamat"
"Baarakallahu fiiki" ujarku
"Afwan" jawabnya
Kemudian kami sejenak terdiam lalu Nurul kembali bertanya.
"Anta sendiri kenapa ingin bertaaruf dengan ana?, bukan kah banyak wanita yang lebih terbuka auratnya yang disukai kebanyakan lelaki zaman now?"
"Na'am tapi ana ingin perhiasan dunia yang ana miliki kelak tetap hanya ana yang tau bukan orang lain atau di umbar ke khalayak ramai, karna wanita itu bagaikan mutiara dalam cangkang dan tidak ada satupun yang bisa melihatnya kecuali si pemilik mutiara tersebut"
"Dalilnya coba kenapa perhiasan dunia itu tidak boleh di umbar ke khalayak ramai" pinta Nurul
__ADS_1
"Dan hendaklah kamu tetap tinggal di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu. Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya( al ahzab: 33)
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa'di rahimahullah menjelaskan bahwa makna dari ayat (wa qarna fī buyụtikunna) yaitu menetaplah kalian di rumah kalian sebab hal itu lebih selamat dan lebih memelihara diri kalian. Sedangkan makna ayat (wa lā tabarrajna tabarrujal-jāhiliyyatil-ụlā ) yaitu janganlah banyak keluar dengan bersolek atau memakai parfum sebagaimana kebiasaan orang-orang jahiliyah sebelum Islam yang tidak memiliki ilmu dan agama. Perintah tersebut bertujuan untuk mencegah munculnya kejahatan dan sebab-sebabnya. (Lihat Taisir Al Karimirrahman surat Al Ahzab 33)." jawabku
"Jamil jiddan(bagus sekali)" ucap Nurul
"Boleh ana tanya lagi?" pintaku
"Tafadhol akh" jawabnya
"Hmmm..., Perempuan kan identik dengan perhiasan, shopping dan pokoknya ndak jauh dari materi, nah kalau misal Anti kelak nikah sama lelaki miskin pekerjaannya hanya buruh, tani atau tukang angkut sampah apakah anti mau?"
"Realitanya memang kebanyakan begitu tapi apakah kebahagiaan itu sendiri selalu di nilai dengan uang akh?, anta tau ndak kenapa sumber kebahagiaan itu letaknya di hati?"
Ku berpikir sejenak sembari mengelus jenggot ku. Karna tak mendapatkan jawabannya akhirnya hanya gelengan kepala yang bisa ku lakukan.
"Itu bukti maha adilannya Allah kepada hambaNya, coba kalau kebahagiaan itu ada di uang atau harta benda yang paling tersakiti adalah orang yang ndak punya" jawab nya
"Ayah. diterima aja belum tentu udah main tanggal nikah aja, afwan ukh kadang Ayah emang suka becanda"
Nurul hanya tersenyum sambil menundukan pandangannya
"masya Allah liat senyumnya walau sebentar saja sudah membuat hati ini deg deg ser, apalagi kelak menjadi suaminya, anugrah terbesar bagi ku" bathin ku
Akhirnya obrolan antara aku dan Nurul selesai juga, karna waktu sudah menunjukan akan di mulainya sholat dzuhur.
Sebelum pulang Nurul menyampaikan tentang kelanjutan taaruf ini, dirinya meminta waktu 1 minggu untuk ber istikharah mencari petunjuk dari Allah untuk pasangan yang terbaik baginya.
1 minggu bukan lah waktu yang sebentar bagi ku, namun aku tetap bersabar dan berdoa meminta yang terbaik kepada Allah untuk diriku, karna aku tak bisa membolak balik hatinya, aku tak bisa memerintah Nurul untuk mencintaiku, hanya pemilik hatinya lah yang mampu berbuat demikian.
Seminggu selama penantian, ku isi waktu dengan terus beribadah bersujud, merengek, meminta jodoh yang terbaik bagiku, karna aku tak mau kejadian seperti Wulan terulang kembali.
sudah cukup menjadi pelajaran untuk ku agar lebih berhati hati untuk memilih pasangan hidup.
__ADS_1
Setelah seminggu lamanya akhirnya waktu pun tiba, namun diriku bingung dengan cara apa Nurul memberikan jawaban iya/tidaknya, sedangkan nomer hpnya saja aku tak punya, kecuali nomer Ayahnya, itupun di simpan di hp Ayahku.
"Bee...Abee..." tiba tiba panggilan dari Ayah mengagetkan ku dari lamunan
"Iyah Yah" ujar ku setengah berteriak karna posisi ku dirumah sedang Ayah diluar rumah
"Kesini gih, ini ada telfon dari Pak Ibrahim, katanya mau ngomong sama kamu" sambil menyerahkan hpnya kepadaku
Akupun mengambil hp ayah kemudian ku ucap salam "Assalamu'alaikum warrahmatullah Om"
"Wa'alaikum salam warrahmatullah, gimana kabarnya kamu Be?"
"Alhamdulillah baik, Om sendiri gimana?"
"Alhamdulillah baik juga, oia ini Om mau menyampaikan pesan dari Nurul"
"Enggeh Om, maaf pesan tentang apa?"
"Katanya sih jawaban tentang taaruf kalian seminggu yang lalu"
"Oh enggeh pak, maaf kalau boleh tau jawabannya bagaimana?"
Ku tunggu beberapa menit, tak sabar diri ini menunggu kabar itu, namun hingga 10 menit berlalu tak kunjung jua ada suara dari Pak Ibrahim.
"Gimana Be?, apa kata Pak Ibrahim?" ujar Ayah
Karna tak kunjung ngomong aku pun melihat hp Ayah dan menepok jidatku.
"Kenapa Be?" ujar Ayah
"Gimana mau dapet jawaban wong hp ayah mati, batre nya low -_-)"
Ayah pun menggelengkan kepalanya akibat kecerobohan lupa mengacharge hpnya.
__ADS_1