Wanita Dibalik Cadar

Wanita Dibalik Cadar
Bab 45


__ADS_3

"Ya ikhwan, pertama kali Ana melihat Antum sungguh hati ana begitu tertarik, tidak hanya rupawan namun Antum lelaki yang begitu menjaga sholatnya di masjid sehingga Ana sangat ingin sekali menjadi bagian di hidup antum, namun Ana wanita yang hanya bisa menyebut nama Antum selalu di dalam doa Ana, berharap Allah Jalla Jallaluhu kelak mempertemukan kita.


Namun hati Ana begitu kecewa ketika tahu Antum sudah memiliki Istri, akhirnya Ana membuang jauh jauh harapan yang dulu membuat Ana patah semangat .


Ketika tahu Istri Antum wafat, semoga Allah merahmatinya dan mengampuni dosa dosanya, harapan itu kembali datang, namun tetap Ana adalah wanita yang malu untuk mengungkapkan bahwa ana tertarik dengan Antum, berbagai cara Ana lakukan hingga akhirnya Ana sengaja memesan baju gamis, karna ini lah jalan satu satunya agar surat ini sampai kepada Antum, Ana berharap Antum bisa kerumah menemui Ana dan kedua orang tua Ana.


Ana tunggu jawaban Antum, Baarakallahu fiik"


Surat tersebut akhirnya ku tutup kemudian memandang kearah kamar dimana sedari tadi Wulan tak kunjung menampakan dirinya untuk keluar, aku kemudian berdiri dan berjalan mendekat kearah kamar namun langkah ku terhenti karna mendengar isakan tangis dari dalam kamar.


Aku kemudian mendekatinya yang sedang tidur tengkurap wajahnya di benamkan di bantal, kemudian dengan perlahan tangan ku menyentuh bahunya, Wulan pun bangkit dan terkejut setelah tahu diriku kini duduk di sebelahnya.


Wulan pun bangkit dari tempat tidur sembari mengelap air mata, kemudian pandangannya menatap wajahku.


Wulan "seneng yah yang lagi di puja puja Akhwat" masih mengeluarkan air mata


Aku "dia suka sama aku, tapi Ummi enggak nanya bagaimana perasaan Abi?"


Wulan "udah lah Bi, aku tau lelaki itu kalau di sukai wanita pasti ada rasa senengnya, udah sana di tunggu kan sama tuh Akhwat" berpaling membelakangiku


Aku "terus kamunya?" canda ku


Wulan "aku pergi dari rumah ini" ancamnya


Aku "enggak gitu juga dong Mi nyelesaikan masalahnya"


Wulan "udah ah sana sana, aku pengen sendiri" seraya mendorong ku hingga tubuh ku mundur kebelakang sampai di luar kamar


Aku " mi dia suka sama aku tapi aku enggak suka"


"BLAKK!!" Pintu pun di tutup Wulan tanpa mau mendengarkan pejelasan ku


Dengan nafas berat aku berbalik berjalan menuju ke arah kursi ruang tamu kemudian duduk sesaat seraya berpikir sejenak "Ya Allah bantu lah hambaMu ini untuk menyelesaikan masalah rumah tangga hamba"

__ADS_1


Semenjak kejadian itu sikap Wulan terhadapku menjadi dingin, ngomong pun hanya sekedarnya saja kepadaku, aku merasa seperti sendiri dirumah ini walaupun makan, tidur hingga bangun Wulan tetap ada namun dengan sikapnya yang berubah seperti ini begitu menyiksa ku, hingga akhirnya aku berkonsultasi dengan ustadz yang rumahnya berdekatan dengan rumah ku.


Selesai sholat isya aku tidak langsung pulang karna menunggu ustadz selesai berdzikir dan berdoa, setelah melihat Beliau hendak berdiri buru buru aku mendekatinya.


Aku "Assalamu'alaikum warrahmatullah ustadz"


Ustadz "wa'alaikumsalam warrahmatullah wabarakatuh, eh Antum Be? Ada apa?"


Aku "afwan ana ganggu Antum ndak?"


Ustadz "oh enggak Be, yaudah kita ngomong di pelataran aja" pinta beliau sembari berjalan merangkul pundak ku


Setelah mendapat tempat yang nyaman akhirnya aku dan Ustadz duduk di depan masjid.


Ustadz "ada apa Be? ada yang bisa Ana bantu?"


Aku "hmmm...begini ustadz, ini tentang permasalahan rumah tangga Ana" seraya tertunduk


Ustadz "ada apa Be dengan rumah tangga Antum?"


Ustadz "masya Allah, lalu antum terima keinginan Akhwat yang ingin bertaaruf dengan antum akh?"


Aku "ndak ustadz, ana tolak soalnya ana takut poligami tapi enggak bisa adil, sedangkan hati ana masih mencintai istri ana tadz"


Ustadz "hmmm...thoyyib, mengenai istri antum tiba tiba dingin itu wajar Akhi, perempuan mana yang tahan ketika suami yang di cintainya ternyata ada yang suka, antum harus kudu bersabar rayu lagi dia lama lama kan luluh juga, masih inget kan cerita Ummul mu'minin Aisyah Radhiallahu'anhuma yang menampar piring yang berisi makanan dari sofiyyah,


Apa jawaban dari nabi 'alaihissalatu wassalam? Ghorot ummukum(ibu kalian sedang cemburu)"


Aku "mengangguk memperhatikan penjelasan beliau"


Ustadz "Akhi Fillah, wanita itu pecemburu, kadang dirinya lebih mendahulukan perasaannya ketimbang akalnya, tapi ini lah kelebihannya, jangan kan kepada wanita lain kadang dengan adik bahkan mertua pun dirinya akan cemburu kalau Antum terlalu perhatian kepada mereka ketimbang istri Antum"


Aku "jadi Ana Mesti bagaimana ustadz?"

__ADS_1


Ustadz "(menepuk bahuku) bersabarlah karna tulang rusuk itu tak bisa dikerasin atau di lemahin tetap lah bergaul dengan cara yang ma'ruf, semoga Allah memudahkan urusan Antum"


Aku "na'am, baarakallahu fiik ustadz"


Ustadz "wa fiikum baarakallah"


Aku pun kembali kerumah, tak lupa aku membawakannya martabak manis kesukaannya, setelah sampai dirumah aku terkejut karna pintu rumah terbuka dan banyak sandal yang tak asing bagi ku, aku pun bergegas masuk kerumah kemudian menemukan Ayah dan Ibu ku sedang mengendong putriku.


Aku "Ibu, Ayah? tumben kesini?"


Ibu "iyah kangen sama cucu Be, masa nggak boleh Ibu sama Ayah kesini?"


Aku "yah kaget aja kaya dadakan gitu enggak telfon Abe dulu"


Ayah "tadi sih Wulan yang telfon Ayah dan akhirnya Ayah dan Ibu kesini"


Aku "oh gitu, terus Wulannya kemana?"


Ayah "tadi sih pamit sebentar mau kewarung katanya"


Bathin ku "tumbenan keluar rumah tapi enggak pamit sama aku, biasanya mau kawarung saat aku tak ada dirumah sms dulu"


Aku pun mengabaikannya, kemudian duduk sembari melihat Ayah dan Ibu sedang bermain dengan Annisa, 30 menit tak kunjung jua Wulan menampakan dirinya hingga waktu menunjukan pukul 10 malam, ini sudah di batas wajar kenapa sampai semalam ini Wulan tak jua pulang, kemana perginya?, aku telpon pun hpnya tak aktif.


Rasa khawatir menghantui diriku, akhirnya aku bertekad untuk keluar rumah menyusul Wulan kewarung dekat rumah ku, namun tak kudapati Wulan ada disana bahkan yang punya warung tak melihat Wulan sama sekali, aku pun kembali kerumah untuk mengambil sepeda motor kemudian keluar rumah kearah Alun alun kota.


Mata ku arahkan kekanan dan kiri jalan berharap Wulan ada di pinggir jalan namun hingga sampai di Alun Alun tak jua kudapati dirinya.


"kamu kemana sih Lan? Kenapa mesti tiba tiba menghilang begini? Tak berpikir kah dirimu betapa khawatirnya aku mencari keberadaanmu yang entah kemana?"


2 jam lebih aku berdiri di bawah lampu penerang jalan di alun alun kota, puluhan lebih motor melewatiku tak jua kunjung aku mendapatkan Wulan, hp adalah satu satunya alat komunikasi ku dengan Wulan jua tak kunjung berguna karna nomernya tak jua aktif, dengan badan yang lesu putuskan untuk kembali kerumah.


"kenapa kamu tega meninggalkan suamimu tanpa ada kabar, berita Lan? Beginikah perlakuan mu kepada suamimu? Kenapa kamu enggak pernah memberi kesempatan untuk mendengarkan ungkapan hati ku, bahwa dirimu lah wanita yang aku cintai"

__ADS_1


 


 


__ADS_2