
Tangan ini bergetar melihat apa yang tak ingin ku lihat, hati ini begitu sesak setelah tau apa yang di lakukan Wulan di dunia maya, kecewa, kesal dan marah campur aduk menjadi satu namun aku mencoba untuk tetap tenang karna bertabayun dengan di iringi amarah datangnya dari syaithon, dan aku enggak mau syaithon mempengaruhi isi pikiran dan hati ku.
Wulan pun akhirnya muncul dari balik kamar kemudian terdiam sejenak ketika tau hpnya ada di tangan ku, namun kembali berjalan mendekati ku sembari menenangkan tangisan Putriku yang di gendongnya.
Aku "owh sayang, anak abi kenapa kok nangis gitu?"
Wulan "tau nih kayaknya abis pipis deh,bau ecing Ummi...au ecing ummi" canda Wulan seraya menggelitik perut Annisa, annisa pun akhirnya tertawa
Aku "ganti gih popoknya Mi, sini celananya biar aku masukin ke ember cucian" pintaku
Aku pun membawa celana Annisa ke kamar mandi kemudian merendamnya dengan deterjen kemudian kembali lagi duduk disamping Wulan sembari membawa gelas yang berisi minuman dingin.
Wulan "kamu buka apa aja tadi Bi di hp ku"
Aku "ah enggak kok, bukan apa apa" jawab ku
Wulan "jangan bohong, dari wajahmu nampak seperti menyimpan sesuatu" selidiknya
Aku "bahasnya ntar aja yah abis Isya" sembari tersenyum kepadanya
Wulan pun mengangguk, namun ku lihat wajahnya seperti terlihat cemas, mungkin dia mengira aku sudah tau medsosnya karna selama menikah sampai sekarang Wulan sangat tertutup soal medsosnya aku pun tak pernah mempertanyakan soal itu.
Aku sebenernya ingin marah namun aku berpikir lagi untuk melakukan itu, melihat kondisi Wulan yang masih terbilang labil yang ada bukan nyelesaikan masalah malah nambah masalah, apalagi dia wanita pasti ngejawabnya make hati tanpa berpikir bahwa apa yang dirinya lakukan di medsos dapat menjerumuskan aku juga kedalam neraka.
Setelah selesai sholat isya aku berjalan pulang menuju rumah sembari berpikir bagaimana caranya bersikap tegas kepada Wulan, tegas namun tak menyakitinya karena kata ustadz perempuan itu peka, terlalu sensitif apabila kita salah ngomong terkadang perempuan salah tafsir padahal demi dirinya dan rumah tangga juga, "ah bingung rasanya, bismillah deh semoga enggak terjadi apa apa malam ini" gumam ku
Aku "Assalamu'alaikum warrahmatullah" sembari membuka pintu
Wulan "wa'alaikumsalam warrahmatullah" sahut Wulan yang sudah duduk di sofa ruang tamu
__ADS_1
Wulan lalu menyabut dengan mencium tanganku, momen begini nih yang bikin aku enggak tega mengintrogasi dirinya, namun mau enggak mau, suka enggak suka aku harus mempertanyakan masalah medsosnya karna kalau ku biar kan terus menerus. Aku takut ancaman yang di sabdakan Rasulullah shallallahu'alaihi wassalam :
"Ada tiga golongan manusia yang tidak akan dilihat oleh Allah (dengan pandangan kasih sayang) pada hari kiamat nanti, yaitu: orang yang durhaka kepada kedua orangtuanya, perempuan yang menyerupai laki-laki, dan ad-dayyuts.." [HR. An-Nasa-i dan Ahmad]
Dayyuts sebagaimana disebutkan dalam Al Mu’jam Al Wasith adalah para lelaki yang menjadi pemimpin untuk keluarganya namun dia tidak punya rasa cemburu dan tidak punya rasa malu, membiarkan keluarganya bermaksiat tanpa mau mengingatkan.
Selain tidak pernah memiliki perasaan cemburu terhadap istrinya, terkadang seorang suami tipe dayyuts ini juga tidak keberatan ketika sang istri mencoba menarik perhatian dari laki-laki lain atau bahkan digoda oleh laki-laki lain.
Aku "Annisa udah bobo?"
Wulan "sudah Bi" dengan wajah tertunduk tak berani menatapku
Aku "sayang, kenapa wajahnya nunduk gitu, coba liat aku deh"
Wulan "menggelengkan kepalanya"
Aku "aku bau yah? Atau kurang ganteng? Yaudah tak ngaca dulu" canda ku seraya ingin berdiri namun tangan Wulan memegang tangan ku dan mencegah ku untuk pergi
Aku pun berpaling menghadap Wulan lalu perlahan duduk disampingnya.
Aku "iyah..."
Wulan "kamu sudah tau semuanya yah?" wajahnya kini menatap wajahku dengan tatapan sedih
Aku "mengangguk seraya tersenyum"
Wulan "kamu marah sama aku?, kamu kecewa sama aku?, maaffin aku Bi, aku bukan istri seperti Aisyah"
Aku "masih ada kesempatan untuk merubah diri kita menjadi lebih baik lagi kok, dan kamu juga enggak harus jadi seperti Aisyah"
__ADS_1
Wulan "aku dulu pernah pacaran sementara kamu dulu enggak pernah pacaran, aku suka mengumbar foto di medsos sementara medsos kamu isinya kajian dan enggak satu pun ada foto dirimu terpajang disana, kita beda Bi..kita beda jauhhh, apa pantes aku bersanding denganmu?"
Aku "Sayang, aku enggak perduli masa lalumu seperti apa, karna setiap manusia itu pasti berbuat salah dan aku tau kamu adalah muslimah yang pintar karna kamu sudah bisa menutup diri kamu dengan hijab dan cadar itu adalah kemulian bagi wanita tapi...?"
Wulan kemudian menatapku dan menunggu jawabn dariku, terlihat matanya basah akibat menangis dari tadi.
Wulan "tapi apa Bi?" dengan suara yang serak dan lirih
Aku "wanita salafiyyah tak akan menampakan wajahnya di medsos, apalagi dengan kata kata islami, cukup dengan kata kata islami saja tanpa foto kan bisa"
Wulan "berarti aku salah yah?"
Aku "(menggelengkan kepala) tapi aku cemburu sayang, aku enggak mau wajahmu tampil di medsos lalu dinikmati ikhwan ikhwan yang menjadi followers kamu"
Wulan "maaffin aku yang belum sempurna buat kamu Bi, aku janji akan hapus semua foto fotoku"
Aku "yang foto pegangan tangan sama lelaki itu siapa?"
Wulan "itu mantan aku Bi" kemudian menangis memeluk tubuhku
Aku pun mendiamkannya dan membiarkannya menangis sampai dirinya nyaman dulu.
Wulan "aku kotor Bi, aku enggak bisa menjaga apa yang di amanahkan Allah sama aku😭"
Aku "“Kullu Bani Adam khotto’un’, wa khoirul khottoina attawaabun”.
: “setiap anak cucu Adam pasti berbuat Dosa, dan sebaik-baik orang yg berbuat dosa adalah yang bertaubat”. (HR. At Tirmizi & Ibnu Majah)"
Wulan "tapi tetap aja aku merasa malu Bi, aku sudah durhaka sama suami, daripada bikin kamu marah mending pulangin aja aku Bi" dengan wajah ditundukkan
__ADS_1
Aku "bukan begitu caranya mengatasi masalah Mi, aku pun bukan lah manusia yang sempurna, aku bukan malaikat yang tak pernah terjatuh kedalam dosa, dosa ku banyak bahkan kalau bukan karna Allah yang menutup dosa dosa ku mungkin kamu enggak akan mau duduk bersamaku, aku mau ketika aku salah kamu menegurku begitu juga ketika kamu berbuat salah aku akan menegur kamu itu bukan karna aku enggak sayang, itu lah cinta Mi, karna aku enggak mau cinta ini hanya berakhir di dunia, aku mau cinta ini sampai ke syurga Allah jalla jalaluhu😊"
Wulan lalu menatap ku kemudian tangannya menutupi mulutnya, air matanya sudah deras mengalir hingga membasahi wajahnya, lalu tiba tiba dirinya memeluk ku, yah pelukan malam ini entah enggak bisa aku gambarkan dengan kata kata karna aku telah menemukan cinta yang sebenarnya di malam ini, yaitu hubungan yang berlandaskan saling mencintai karna Allah subhanahu wa ta'ala.