
Aku berdiri didepan kaca, pandangan ku menatap pantulan diriku yang ada di kaca tersebut seraya membathin "apa pantes diriku menjadi suaminya?, ilmu ku di banding dengannya belum ada apa apanya, sudah beberapa kitab dia pelajari sedangkan aku hanya belajar ketika ada ustadz sunnah datang ke daerah ku selebihnya hanya membaca kitab ushul tsalatsah karya syeikh Muhammad Bin Abdul wahhab, itu pun belum juga hafal hafal :D.
" Be" sapa Ayah yang mengagetkan ku
"Iya Yah" jawab ku seraya berbalik
"Udah siap kamu?"
"Hmmm...." ku tertunduk sembari menggaruk kepalaku dengan jari telunjuk
"Loh kemaren Ayah liat kamu kaya bersemangat gitu tau mau taaruf sama santriwati"
"Tapi bukan sembarang santriwati Yah, kan Ayah tau dia lulusan pondok As Sunnah, pondok yang di bina Ustadz Fulan"
"Terus kenapa gitu?, takut di tanya macem macem?, bukannya kamu sudah belajar dari ustadz ustadz Sunnah dan kamu paling semangat kalau ada ustadz lagi dauroh kesini masa ilmunya belum kamu fahami juga Be?"
"Terdiam"
Ayah lalu menepuk bahuku seraya berkata "Bismillah yah" kemudian berlalu dari hadapan ku.
"Yasudah lah Bismillah, kalaupun endingnya ditolak, setidaknya aku sudah berusaha dan bertawakal" bathin ku kemudian menyusul ayah keluar rumah.
Diawali dengan doa BISMILLAHI, TAWAKKALTU 'ALA ALLAH, LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLAA BILLAAH, motor pun meluncur kearah rumah santri tersebut yang berjarak 1 jam setengah dari rumahku.
Motor ku terhenti tepat di sebuah rumah sederhana, namun layak untuk di huni, rumah yang hanya berdinding dari kayu, berlantai semen tanpa kramik, beratap seng. Namun bagi ku rumah tersebut seperti syurga karna didalamnya terdapat tholabul 'ilmi yang sudah sukses mengenyam pendidikan dari ustadz senior.
Kedatangan kami berdua disambut dengan hangat oleh Pak Ibrahim orang tua Akhwat tersebut kemudian mempersilahkan ku dan Ayah untuk masuk kerumahnya.
"Bu, bikinin tamu kita minuman gih, soalnya tamu dari jauh ini" pinta Pak Ibrahim
"Gimana kabarnya Mas?" ucap Pak Ibrahim
"Alhamdulillah, baik Mas, kamu sendiri gimana? Lama ndak ketemu semenjak lulus dari pesantren" jawab Ayah
"Iyah nih, kangen sama temen temen seangkatan pengen ziarah tapi waktunya mesti ndak ada"
Aku hanya terdiam mendengarkan obrolan mereka yang begitu menarik, mereka layaknya teman lama yang enggak pernah ketemu jadi diriku hanya mendengarkan cerita masa lalu mereka sewaktu dipondok.
"Ini Anakmu Mas?, udah besar aja yah dulu waktu kesana masih di gendong sama Ibunya" ujar Pak Ibrahim
"Iyah udah besar, udah punya anak juga cewek" sahut Ayah
Sedikit terkejut Pak Ibrahim mendengar kalau aku sudah punya anak.
"Jadi ini rencana mau nambah istri gitu?, kok ustadz ndak bilang yah" ujar beliau sedikit bingung
"Oh ndak kok Mas, Qaddarullah istrinya sudah wafat setahun yang lalu"
"Innalillahi, maaf nih jadi ngingetin lagi sama Almarhumah" ucap Pak Ibrahim
"Oh ndak apa apa Pak" sahut ku sembari mengangguk
"Jadi gimana Mas, aku pengen hubungan kita ini lebih dari hubungan teman lama"
"Aku sih terserah Nurul aja Mas, keputusan ada ditangan dia kalau soal jodoh yang terpenting tanggung jawab dan bisa membimbing anak ku juga dalam berumah tangga" jawab Pak Ibrahim
"Nduukk..." panggil Pak Ibrahim kepada anaknya
"Iya Pak..." sahut wanita dari dalam kamar
"Kesini sebentar gih, ada yang mau kenal"
"Iyah Pak sebentar"
Tak lama muncul lah sesosok wanita berpakaian gamis serba hitam, jilbab besar serta cadar berwana hitam berjalan mendekati Pak Ibrahim lalu kemudian duduk disampingnya, posisi kami saat itu berhadap hadapan hingga aku bisa menatapnya sekilas walau hanya terlihat matanya saja.
"Assalamu'alaikum warraatullah" sapanya
"Wa'alaikumsalam warrahmatullah" jawab ku
"Nah ini anak Om, kalau Nak Abe mau ngobrol silahkan" ujar Pak Ibrahim yang sedikit bergeser menjauhi kami berdua namun tetap satu ruangan agar tidak terjadi khalwat
"Afwan nama anta siapa?" dirinya memgawali obrolan
"Panggil aja Abe" jawab ku
"Oh iya, anta sudah berapa lama ngaji dengan Ustadz Sunnah" dirinya mengawali obrolan
"Ana baru ngaji ukh, jadi masih awam tentang manhaj" jawab ku
"Tapi sedikit tau kan tetang manhaj salaf?" ujarnya
"Insya Allah" jawabku
"Boleh ana tanya sesuatu?"
__ADS_1
Wah ini momen yang tak mengenak kan, mudahan dirinya tak terlalu sulit memberikan pertanyaan padaku.
"Hmm...tolong jelaskan apa itu manhaj salaf"
Aku pun berpikir sesat kemudian menjawab "hmm...manhaj salaf adalah sebuah metode dalam islam yang mengikuti orang terdahulu/para sahabat nabi seperti Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali Radhiallahu 'anhum ajma'in"
Nurul kemudian menganggukkan kepalanya "hmm...sebelum memulai pembicaraan ana mau test coba ana mau denger Khutbatul hajah"
"Deggg...." diriku mulai sedikit down melihat pertanyaan Nurul ini,
"Sebelum anta membacakan coba ana mau denger takrij hadistnya dari siapa aja"
Aku pun terdiam sejenak sembari mengingat ingat, kemudian menjawab "Khotbah ini diriwayatkan dari enam orang shahabat, yaitu Abdullah bin Mas'ud, Abu Musa al-Asy'ari, Abdullah bin Abbas, Jabir bin Abdullah, Nubaith bin Syarith dan Aisyah, serta seorang tabi'in yaitu Az-Zuhri" jawabku
"Thoyyib, sekarang bacakan akh isi Khutbah tersebut" pinta Nurul
Aku pun menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya "bismillah" bathin ku"
Innal hamdalillah
: Sesungguhnya, segala puji bagi Allah
Nahmaduhu wanasta'inuhu wa nastaghfiruhu
: kami memuji-Nya dan kami memohon pertolongan dan ampunan-Nya
Wana'udzubillahi min syururi anfusinaa
: Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami
Wamin sayyi-ati a'malinaa
: dan dari kejahatan amal perbuatan kami
Man yahdihillahu falaa mudhillalah
: Barangsiapa yang Allah berikan petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya
Waman yudhlil falaa haadiyalah
: dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberikan petunjuk kepadanya
Wa asyhadu alla ilaha illallah
: Dan aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah
: Maha Esa Dia dan tidak ada sekutu bagi-Nya
Wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh
: dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya
"Selanjutnya surah apa yang di baca?"
" apa yah" seraya menggaruk kepalaku
"Ali imron 102" jawab Nurul
"Yaa ayyuhalladziina aamanuuttaqullahahaqqa tuqaatih
: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya
wa laa tamuutunna illa wa antum muslimuun
: dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam"
Aku pun sejenak terdiam nafas ku ngos ngosan akibat grogi kemudian menenangkan diri dan mulai melanjutkan.
"Yaa ayyuhannasuttaquu rabbakumulladzii khalaqakum min nafsin waahidah
: Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri
wa khalaqa minhaa zaujahaa
: dan dari padanya Allah menciptakan isterinya / pasangannya
wa batssaminhumaa rijaalan katsiraan wa nisaa-a
: dan dari pada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak
wattaqullahalladzii tasaa-aluuna bihi wal-arham
: Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mem-pergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain,dan (peliharalah) hubungan silaturrahim
innallaha kaana 'alaikum raqiiba
__ADS_1
: Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu
(QS An-Nisa 4 : 1)
Yaa ayyuhalladziina aamanuuttaqullaha wa quuluu qaulan sadiidaa
: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar
yushlih lakum a'maalakum
: niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu
wa yaghfirlakum dzunuubakum
: dan mengampuni bagimu dosa-dosamu
wa man yuthi'illaha wa rasulahu
Dan barangsiapa menta'ati Allah dan Rasul-Nya
faqad faaza fauzan adziima
: maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar
(QS Al-Ahzab 33 : 70-71)
"Amma ba'du"
Qaala Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
: Bersabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
Fainna ashdaqal haditsi kitabullah
: Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah
wa khairal hadyi hadyu muhammad shallallahu 'alayhi wa sallam
: dan sebaik-baik petunjuk, adalah petunjuk Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam
wa syarral 'umuri muhdasatuha
: dan sejelek-jelek perkara adalah sesuatu yang baru yang diada-adakan
wa kulla muhdasatin bid'ah
: dan semua perkara baru yang diada-adakan adalah bid'ah
wa kulla bid'atin dhalalah
: dan semua yang bid'ah adalah sesat
**wa kullu dholalatin finnaar**
: dan semua yang sesat tempatnya di neraka
" mumtaz" jawab nurul menanggapi jawabanku
"Masya Allah, kamu mondok dimana Be?" jawab Ayah Nurul
"Oh ndak Pak, saya ndak mondok, cuman belajar sedikit sedikit" jawabku
"Terus kalau ndak mondok Anta tau isi khutbatul hajah dari mana?" tanya Nurul
"Dari muqoddimah kitab Syeikh Muhammad bin Abdul wahhab Rahimahullah"
"Kitab apa?" tanyanya lagi
"Ushul Tsalatsah"
"Baarakallahu fiik" ujar nurul mengangguk
"Wa fiiki baarakallah" jawabku
"Afwan, sebelum melanjutkan bolehkah ana liat Wajah anti?" pintaku
"Na'am tapi datangkan hadistnya dulu"
"Thoyyib, hadistnya dari al-Mughirah bin Syu'bah radhiyallahu 'anhu, bahwa beliau hendak melamar seorang wanita. Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memberi saran kepadanya, Lihat dulu calon istrimu, karena itu akan lebih bisa membuat kalian saling mencintai. (Ahmad 18154, Turmudzi 1110 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).
Setelah selesai aku menjawab pertanyaan Nurul, dirinya pun perlahan membuka cadarnya dan memperlihatkan wajahnya,
__ADS_1
" Subhanallah" aku berucap dari hati setelah melihat pemandangan indah yang ada didepan mataku, selain santri ternyata Nurul memiliki paras yang begitu memikatku, pandangannya yang teduh, wajahnya yang menenangkan hati ketika dilihat membuat benih benih suka di hatiku, wajahnya lebih cantik dari Aisyah(bukan untuk membandingkan), dan sukses membuatku minder dan sedikit down, apakah aku pantas menjadi suaminya?.