
Keesokan harinya, aku dan Aisyah sudah berkemas kemas memasukan pakaian kedalam tas ingin segera meninggalkan rumah Pakde, bukan karna aku enggak betah namun semakin lama tinggal ditempat beliau semakin malu, apalagi berhadapan dengan Kak Anwar anak Beliau yang kini menyandang gelar sarjana di universitas Madinah, kalau dipikir pikir seharusnya ini lah kesempatanku untuk menyicipi ilmu dari seorang pelajar lulusan Madinah namun karna rasa malu dan minderku akhirnya aku urungkan niat itu.
"Kamu beneran Le endak mau berlama lama tinggal tempat Pakde?" tanya Beliau
"Makasih Pakde, sebenernya pengen berlama lama disini, belajar ilmu tauhid dari Kak anwar tapi engak enak lama lama ninggalin rumah" ucapku
"Yaudah ndak apa apa, Pakde ndak mau maksa kemauanmu, pintu rumah Pakde terbuka terus buatmu kalau mau mampir kerumah, namun ada syarat?"
"Apa itu Pakde syaratnya?" tanyaku
"Pertama wajib hafal 30 jus Alquran bukan jus 30, kedua kamu harus sukses dengan membuka usaha, ketiga kasih Pakde cucu :)"
"Insya Allah Pakde aku akan berusaha keras untuk memperbaiki diriku lagi, makasih Pakde udah mau menerima Abe dirumah Pakde, Abe pamit assalamu'alaikum warrahmatullah" ujarku sembari memasukan tas kedalam mobil
"Wa'alaikumsalam warrahmatullah, nitip salam buat Bapakmu yah" ujar Beliau
Itulah sekelumit cerita singkatku bertandang kerumah Beliau, walau sebentar namun cukup membuat ku semakin giat lagi untuk berbenah diri dan merasa kurang dalam menuntut ilmu syar'i, dan yang paling membuat ku sedih setahun setelah aku bertemu dengan Beliau ternyata Rabbul 'alamin telah memanggilnya menuju ke alam keabadian, jazakallahu khair Pakde walau sebentar namun nasehatmu begitu berharga buatku semoga Beliau Rahimahullahu ta'ala digantikan di tempat yang terbaik disisiNya.
Sesampainya dirumah aku dan Aisyah disambut Ayah dan Ibu yang kebetulan mereka habis selesai dari sawah, dengan tersenyum Ayah mendudukkanku lalu berkata
"Bagaimana Nak?, apa yang kamu dapetin sepulang dari rumah Pakde"
__ADS_1
"Banyak Yah, ternyata Agama Pakde sangat kuat, Abe malu Yah berlama lama disana, tapi kata kata motivasinya membuat Abe ingin menjadi manusia yang selalu haus akan ilmu dan tidak berpuas diri dari ilmu yang sebelumnya Abe dapetin"
"Masya Allah, enggak sia sia berarti kamu kesana Nak" ucap Ayah sembari menepuk pundakku
"Ada lagi Yah yang Abe dapetin"
"Apa itu?" tanya Beliau
Aku lalu membuka Tas dan memberikan selembar cek yang Pakde berikan kemaren malam, sejumlah uang yang fantastis untuk orang desa seperti ku
Setelah memegang cek tersebut lalu Ayah memberikannya lagi kepadaku seraya berkata "ini kamu simpan aja, untuk istri dan anakmu kelak Nak, Ayah dan Ibu endak minta apa apa dan Ayah percaya kamu bisa mengelola ini uang peninggalan Kakekmu"
"Jadi Ayah tau soal amanah dari Kakek?"
"Abe pengen kalau rumah ini di renovasi aja gimana?, supaya lebih muat untuk kita berempat tinggal" saranku kepada Beliau
"Gini Nak bukannya Ayah ndak mau, tapi rumah ini penuh dengan kenang kenangan bersama Ibu puluhan tahun, ayah lebih nyaman dengan rumah ini tanpa harus direnovasi lagi, ayah cuman mengharapkan kamu bisa cari tempat tinggal di luar kota dan membangun usaha sendiri bersama Istrimu" pinta Ayah
"Tapi Yah,"
"Nak...kamu sudah besar, sudah punya tanggung jawab sendiri yaitu membimbing istrimu, memberikan nafkah untuk dia dan anakmu kelak, Ayah lebih bahagia melihat Anak Ayah lebih mandiri, enggak mungkin kan kehidupan kamu begini terus?, ini adalah jalan yang Allah berikan untukmu jadi jangan disia siakan" ujar Beliau lalu masuk kerumah meninggalkan ku sendiri yang termenung mencerna kata kata yang Beliau berikan kepadaku
__ADS_1
Aku sebenernya tau dari awal Beliau sangat berat untuk mengirimku kerumah Pakde, aku tau Beliau sebenernya ingin di masa tuanya bisa tinggal bersama anak dan cucu namun Beliau begitu bijak semua karna ingin diriku serta istriku bahagia tidak seperti kehidupan mereka.
Akhirnya seminggu setelah kepulangan ku dari rumah Pakde uang tersebut aku belikan sebuah rumah komplek di perkotaan, rumah yang cukup nyaman dengan ukuran 7x11 meter bertingkat dua lalu sisanya ku gunakan untuk usaha yang entah masih belum terpikirkan olehku mau usaha apa.
Malam sebelum kepindahan ku keluar kota aku pamit kepada orang tuaku, berat rasanya meninggalkan mereka yang merawat aku semenjak kecil hingga sekarang, berat rasanya meninggalkan kampung halaman yang telah membesarkanku dan lingkungan yang telah mendidik ku menjadi pribadi yang lebih baik.
Sedangkan dirumah baru ini adalah awal diriku memulai segalanya bersama istriku Aisyah dari Nol beradaptasi lagi dari awal dengan tetangga yang belum ku kenal, namun ada nilai tambahnya yaitu komplek tempat ku tinggal rata rata masyarakatnya satu manhaj dengan ku bahkan mesjidnya selalu di isi dengan ceramah oleh ustadz ustadz sunnah hingga tak salah aku membeli rumah disini.
Setelah seharian lamanya berbenah rumah aku lalu duduk di teras seraya menghirup udara segar di sore hari, enggak lama Aisyah datang membawakan secangkir teh hangat bersama kue jajanan lalu meletakkannya disampingku.
"Kira kira usaha apa yah Syah?, kamu ada masukan ndak?" tanyaku
"Hmmm...apa yah?, Aisyah juga bingung Mas" sembari jarinya diletakkan didagunya
"Kalau jual busana muslim gimana?" ujarku
"Wah bagus itu Aisyah juga kepikiran pengen jualan baju gamis muslim dan Muslimah "
"Lah tadi katanya ndak tau yo opo kamu ini -_-"
"Hehe, endak mau mendahului kamu aja Mas, eh endak taunya kita sepemikiran"
__ADS_1
Akhirnya kami pun berlangganan membeli baju baju gamis yang ada di jakarta lalu dikirim ketempat kami, kemudian kami jual secara Online, untuk masalah butik atau toko kami belum kepikiran untuk membangunnya, menunggu hasil dari penjualan awal kalau laku keras kami baru akan membeli sebuah ruko kecil dipinggiran jalan kota, yah semoga Allah mudahkan usaha awal ku ini.