Wanita Dibalik Cadar

Wanita Dibalik Cadar
Bab 33


__ADS_3

Siang itu ketika badan ku sedikit meriang karena habis ujan ujanan waktu subuh gegara permintaan Aisyah yang hendak makan mie Ayam, Alhamdulillah saat itu Aisyah sedang bermalas malasan tidur di ranjang sedang tak ingin meminta apa apa dari ku.


Iseng saat itu diriku menyalakan laptop untuk mengecek apakah ada pelanggan yang hendak memesan baju gamis namun penjualan saat itu sangat sepi tak ada chat masuk dari pembeli, karna bosan akhirnya aku membuka youtube karna lama tak mengikuti kajian online dari ustadz favorite yaitu ustadz Syafiq hafidzhahullah semoga Allah menjaganya serta ilmu yang diberikan bermanfaat untuk umat.


ku lihat di beranda youtube ada sebuah video berdurasi belasan menit dari ustadz Syafiq, Beliau saat itu menceritakan seseorang pada zaman Rasulullah shallallahu'alaihi wassalam, pemuda yang tak di kenal oleh penduduk bumi namun terkenal oleh penduduk langit, dia bukan lah hafidz Quran, dia bukan lah penghafal hadist dan beliau juga bukan lah sahabat Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam kenapa begitu?, padahal Beliau hidup di zaman Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam masih hidup?, karna ketika banyak orang orang berbondong bondong menuju madinah untuk mendapatkan Fadhillah menjadi sahabat Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam namun beliau memilih menemani Ibunya yang sudah tua renta.


Karna baktinya kepada Ibunya ini lah sehingga penduduk langit mengenalnya, karna baktinya ini lah Allah azza wa jalla ridho kepadanya, meskipun beliau adalah tabi'in namun beliau adalah tabi'in yang paling mulia dari pada tabi'in yang lain. Namanya adalah Uwais bin amir al qarni seorang pemuda yang banyak diremehkan oleh orang lain, bahkan dianggap tak ada namun apa bila dia berdoa atas nama Allah, Allah akan kabulkan doanya bahkan manusia Mulia setelah Abu bakar Assidiq yaitu umar bin khattab pun di minta Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam untuk beristighfar untuknya, tak dapat di bayangkan Amirull mu'minin meminta istighfar kepada Uwais bin Amir, seorang khalifah yang adil dan mampu membawa islam sampai Azerbaijan yang islam mulia ketika beliau masuk islam.


Itulah fadhilah ketika kita berbakti kepada orang tua, namun kebanyakan anak zaman sekarang lupa kepada Ibunya, rela pergi jauh jauh hanya untuk mendapatkan pekerjaan sampai Ibunya sendiri ditinggal, mereka tidak ingat selama 9 bulan Ibunya mengandung dengan kepayahan namun tak pernah sedikitpun mengeluh, bayangkan berjalan dengan membawa beban berat 2x lipat perutnya, tidur terasa tak nyaman, semakin membesar kandungan, semakin berat pula beban seorang Ibu, ketika bayi yang ada di kandungan sedang menendang perutnya betapa bahagianya seorang Ibu karna respon dari bayinya mengalahkan rasa sakit dan kepayahan yang di alami selama 9 bulan, Wallahi jangan pernah merasa bahwa kita sudah berbakti kepada Ibu kita karna setiap tarikan nafas yang Beliau hembuskan untuk mengeluarkan kita kedunia tak dapat di bayar dengan perhiasan dan harta di dunia, sampai mati pun kita akan tercatat sebagai anak yang berhutang nyawa kepada Ibu kita.


Ustadz Syafiq mengakhiri ceramahnya dengan deraian air mata mengingat jasa jasa Ibu yang di curahkan kepada anaknya, aku pun setelah menonton video yang Beliau sampaikan tak terasa membuat air mata ku terjatuh, karna merasa selama ini belum sama sekali berbakti kepada orang tuaku aku juga akhirnya menyesal telah mengrutu kepada Aisyah yang selalu meminta hal hal yang aneh dari ku, bukan terimakasih kepadanya yang telah tulus dan ikhlas membawa janin yang juga anak ku didalam tubuhnya.


Setelah selesai menonton ceramah singkat dari Beliau, laptop aku matikan lalu berjalan kerah kamar dimana Aisyah sedang tiduran, terlihat olehku bahwa perut Aisyah membesar dari sebelumnya, aku lalu duduk dan mengusap perutnya sembari berdoa.


Robbiy habliy mil ladunka dzurriyyatan thoyyibatan innaka sami'ud du'a'(Ali imron 38)


"Aamiin" jawab Aisyah lalu bangun dan memberikan senyuman kepadaku


Aku kemudian memeluknya lama sekali sehingga Aisyah bingung lalu bertanya "kamu kenapa Mas tumben gini banget?"


"Maaffin aku yah Syah belum bisa menjadi suami yang siaga, seharusnya aku siaga 24 jam untuk mengurus kamu sama buah hati kita namun hanya grutuan yang keluar dari mulutku, aku enggak bisa merasakan betapa lelahnya menjadi dirimu yang kini membawa badan dua, andai di tukar mungkin aku tak akan pernah sanggup membawa janin ini" ucapku


Sembari mengelus perutnya Aisyah berkata "tumben Nak, Abimu udah tobat, abis kena angin apa yah Nak?" ucap Aisyah tertawa geli


"Kamu pengen apa Syah?" tanyaku


"Hmmm...apa yah?, masih belum pengen apa apa sih" jawabnya sembari memutar matanya ke atas

__ADS_1


"Bilang aja, aku siap jadi suami siaga 24jam" ucapku dengan tegas


"Bener nih?, pengen siaga 24jam untuk aku?" selidiknya


"Insya Allah bi'idznillah aku siap" jawabku meyakinkannya lagi


"Ada yang aku pengenin sih tapi apa Mas sanggup?"


"Apa itu?" tanya ku lagi


"Kelapa muda, aku pengen kelapa muda tapi yang harus dipetik dari pohonnya langsung Mas" pintanya


"Siap boss!!" jawabku sembari berdiri memberi hormat kepada Aisyah


"Beneran bisa manjat kamu Mas?, tinggi loh pohonnya?"


"Untuk istriku tercinta rasanya susah untuk nolak" ucapku sembari berkedip genit kepadanya


"Sekarang?" ujarku bingung karna belum ada kesiapan


"Iya buktikan dengan perbuatan jangan ngomong doang, iya enggak Nak" ucap Aisyah seraya mengelus perutnya


Akhirnya aku dengan semnagat 45 berganti pakaian dengan menggunakan kolor agar lebih mudah untuk memanjat batang kelapa, padahal seumur hidup enggak pernah berpengalaman naik pohon kelapa, lalu setelah berganti pakaian dengan hanya memakai kolor aku keluar rumah menuju ke belakang rumah yang kebetulan tubuh 1 pohon kelapa dengan tinggi 4 meter di ikuti Aisyah dari belakang.


Setelah sampai didepan batang pohon kelapa ku lihat dari bawah ke atas aku hanya bisa menelan ludah sembari membathin "Ya Allah tinggi banget, gimana caranya aku manjat?" seraya menggaruk garuk kepala lalu melihat kearah Aisyah sembari nyengir


"Berani ndak?, kalau nyerah endak usah di paksa Bi" ucap Aisyah

__ADS_1


"Oh tentu berani dong" ucap ku sembari menepuk dada


Aku kemudian berancang ancang menaiki batang kelapa tersebut, lama aku ndak manjat pohon sehingga membuat sakit kedua kakiku, namun aku harus bisa demi Aisyah dan Anakku.


Sedikit demi sedikit ku panjat batang kelapa tersebut hingga akhirnya sampai juga di atas lalu ku raih buah kelapa yang paling muda tersebut dan ku jatuhkan ke bawah tanah.


"Mau berapa buah yank?" ucapku kepada Aisyah


"Udah Bi, 2 udah cukup" teriak Aisyah


akhirnya selesai juga memetik buah kelapa, namun yang membuat ku bingung gimana caranya turun?, sedangkan selangkanganku sudah begitu linu tak tertahankan lagi, dengan pelan aku merosot menuju kebawah sembari memejamkan mataku karna aku takut ketinggian, sampai di pertengahan "KREEKKK!!!" Aku terkejut dan melihat kearah celanaku ternyata celana ku robek selebar 2 kepalan tangan karna ada paku yang tertancap di batang pohon kelapa tersebut "sial bener aku hari ini" bathin ku sembari meneruskan turun dari pohon kelapa.


"Kamu kenapa Bi?" ujar Aisyah yang mendekat kepadaku


"Oh enggak apa apa kok" senyum senyum tanpa memperlihatkan insiden yang terjadi barusan


"Tapi kok jalan nya kaya orang lagi kebelet pipis?" selidik Aisyah


"Janji yah jangan ketawa?" pintaku


"Kenapa sih?"


"Celana ku sobek" sembari memperlihatkan sobekan di celana yang sebesar 2 kepalan tangan


"Astaghfirullah" ujar Aisyah sembari menutup mulutnya menahan tawa


"Tuh kan aku di ketawain :("

__ADS_1


"Hahaha afwan Bi, abis lucu" tertawa lepas yang akhirnya tak dapat di tahan lagi


Enggak apa apalah tragedi yang menimpaku hari ini yang terpenting bisa membuat Aisyah senang walau entah kapan sembuhnya rasa linu yang ada di selangkanganku di tambah sobeknya celana kolor kesayanganku.


__ADS_2