Wanita Dibalik Cadar

Wanita Dibalik Cadar
Bab 50


__ADS_3

Wajah Wulan seperti menandakan orang yang kebingungan dan serba salah walaupun tersembunyi di balik cadarnya namun ku bisa merasakan kegelisahan yang dirinya rasakan saat itu, sedangkan lelaki yang bersamanya pun sama bingungnya.


Aku pun duduk di tengah tengah mereka berdua sembari melipat tangan ku dan ku sandarkan di atas meja, lalu membuka pembicaraan.


"namanya siapa Mas?" tanya ku membuka obrolan


"Bi..bintang Mas" tergagap


"Mas tau siapa saya? Dan Mas tau siapa Wulan?"


"Iya" tanpa berani menoleh kearahku


"Kalau mas tau kenapa mas lakuin ini ke saya Mas?"


"Tapi aku lebih mengenal Wulan duluan dari pada kamu" jawabnya


"Kalau begitu kenapa tidak mas nikahin aja? Kenapa setelah saya meminangnya Mas malah main belakang dengan istri saya?"


"Terdiam tak dapat menjawab"


"Ku lihat penampilan Mas sudah sesuai sunnah Nabi namun mas jauh dari ilmu agama yah"


"Kok bawa bawa agama mas?" protesnya


"Soalnya tindakan Mas ini sudah melanggar agama Mas dengan melakukan Takhbib, mas tau kan dosa Takhbib?"


"Menggelengkan kepala"


"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengancam bagi pelaku Takhbib adalah bukan dari umat ku siapa yang memonopoli istri orang hingga membuatnya ingin bercerai dari suaminya"


"Tertunduk malu tanpa membantah perkataan ku"


"Baju yang Mas kenakan memang ciri pengikut salaf namun Mas bukan lah pengikut salafiyyin, anda adalah oknum berbaju salaf yang membuat dakwah sunnah ini hancur"


Setelah mendengar perkataan ku, si Bintang mulai seperti emosi dengan mengepalkan kedua tangannya.


"Kenapa Mas?, Anda emosi?, Mau main secara kekerasan?, Kalau saya mau sudah dari tadi ngancurin muka Mas tapi saya enggan mengotori tangan saya untuk menghadapi Anda" tegas ku


"Seharusnya Mas minta maaf dan di sini saya lah yang wajib emosi, tapi saya bukan lah manusia yang lebih mengedepan kan kekerasan".


Setelah puas berbicara kepada lelaki tersebut, kini pandangan ku alihkan ke arah Wulan yang sedari tadi hanya menunduk.


"Coba liat Mas Lan" pintaku.


Dirinya pun perlahan mendongakan pandangan ke arahku


"Mas punya salah apa sih sama kamu Lan?, kekurangan Mas ini apa?, nafkah lahir bathin juga sudah Mas penuhin untuk kamu, tapi kenapa kamu lakuin ini semua Lan?"


"Maaffin aku mas, aku sebenernya menerima pinanganmu itu karna keterpaksaan dan aku tak bisa membohongi hati ku kalau Mas bintang adalah lelaki yang selama ini aku cintai mas bukan kamu" matanya mulai berkaca kaca.

__ADS_1


Hatiku begitu sakit seperti tertusuk duri yang sangat dalam ketika mendengar pernyataan darinya, aku tak pernah menyadari ternyata hubungan kami ini dibangun hanya berlandaskan keterpaksaan.


Ku hela nafas panjang kemudian berucap "kamu tau ndak Lan, ku berharap kamu lah wanita terakhir yang bisa menggantikan posisi Aisyah di kehidupan rumah tangga ku, namun ternyata selama ini cemburu dan kata kata cinta yang terlontar dari mulutmu hanyalah sebuah kepalsuan"


Aku pun menganggukan kepala dan kembali melanjutkan obrolan ku "thoyyib, kalau memang itu yang terbaik, kalau memang kita sudah tak lagi bisa bersama besok insya Allah kita semua menghadap orang tuamu termasuk Mas Bintang"


"Maaffin aku Mas" ucapnya lirih dengan diiringi isakan tangis pelan


"Dan kamu Mas, kalau kamu merasa gentle ikutlah bersama ku untuk menghadap orang tuanya lalu utarakan kemauan mu, jangan kamu memacari anak orang tanpa sepengetahuan orang tuanya"


"Iya mas" jawab Bintang


Aku pun hendak berdiri dan menjauh dari mereka namun tiba tiba lengan ku ditahan oleh Wulan, aku pun memandangnya sejenak ku lihat wajahnya menggelengkan kepala seperti enggan ku menjauhinya namun dengan pelan tangan ku melepaskan tangan Wulan yang menggenggam lengan ku.


Aku pun berbalik tanpa menghiraukan panggilan dari Wulan, ku tetap berjalan menjauhinya menuju kekamar hotel, ku berjalan seperti orang mabuk bumi ini seperti bergoncang tak bisa ku tahan kaki ku untuk meneruskan berjalan aku pun terduduk di muka kamar ku.


Ku usap wajahku dengan kedua tangan ku seraya membathin "gagal sudah hambaMu ini Ya Allah, ampuni hambaMu yang tak bisa menjaga perhiasan yang Engkau amanahkan kepadaku"


Kata kata Wulan "menerima pinanganmu dengan keterpaksaan" terus terngiang di telingaku, hatiku bagaikan ditusuk dan dirobek robek hingga tak lagi berbentuk, aku terpedaya oleh sandiwaranya selama ini ketika cinta dalam hatiku mulai tumbuh untuknya, cinta yang mulai tubuh mengakar dalam hati ku akhirnya harus aku cabut paksa kembali walau sulit rasanya.


Keesokan harinya ku kemasi pakaian ku lalu aku pun keluar kamar dan berjalan menuju kesebuah kamar dan berhenti tepat didepannya, sebuah kamar yang didalamnya ada seseorang yang dulu sempat menghiasi hari hari ku. Tak lama pintu pun terbuka dan keluarlah wanita yang dulu sangat dekat dengan ku namun sekarang seperti ada sebuah tembok pemisah antara aku dan dirinya hingga susah untuk bisa mendekatinya lagi.


"Sudah siap ukh?" tanyaku yang tak lagi memanggilannya dengan panggilan kesayangan.


"Ia Mas" jawabnya kemudian berjalan di belakangku


Dan ketika di luar hotel kami pun duduk menunggu Bintang untuk segera terbang bersama kami menghadap orang tua Wulan. Setengah jam pun berlalu hingga 1 jam lamanya kami tunggu Bintang tak jua menunjukan batang hidungnya.


"Sudah Mas, tapi enggak ngangkat" jawabnya dengan nada lesu


"Yasudah kalau dia ndak berani menghadap orang tua anti, itu bukan urusanku lagi yang terpenting anti ikut ana ntar untuk menjelaskan duduk perkaranya agar masalah ini selesai dan supaya ana cepat untuk memutuskan kata talak" ucap ku sembari berdiri


"Mas..." panggil Wulan


Aku pun menghentikan langkahku tanpa menoleh ke belakang.


"Tak bisakah kita mengulangnya dari awal lagi"


Aku pun tersenyum tipis kemudian menoleh sedikit kemudian menjawab "setelah kamu paksa aku untuk mencabut rasa cinta yang sudah mulai tertancap dalam di hati ini, dan sekarang kamu paksa aku untuk menanamnya lagi?"


Aku pun berlalu setelah tak ada jawaban darinya. Kami pun lepas landas dari bandara spinggan menuju bandara soeta lalu di lanjutkan transit ke bandara syamsudinnoor banjarbaru dikota kelahiran Wulan.


Selama dalam perjalanan tak ada satu patah katapun terucap dari mulut kami. Akhirnya sampailah aku tepat di depan rumah Wulan, sebenernya tak enak untuk mengucapkan kata kata pisah didepan orang tua Wulan namun ku mantapkan diri untuk mengatakannya.


Kedua orang tua Wulan dengan senang menyambut kedatangan kami bagaikan orang terdekat yang lama tak ketemu, namun mereka tak mengetahui bahwa kedatangan ku akan membuat suasanya kebahagiaan itu berubah jadi kesedihan.


"Alhamdulillah anak dan mantu ku akhirnya datang juga, kangen aku sama kalian" ucap mertua laki


"Gimana kabar kalian le, nduk" timpal Ibu Wulan

__ADS_1


"Baik Bu" ucap kami berdua


"Tumben dateng kesini tanpa ngasih kabar? Mau ngasih kejutan yah sama kami?" ucap Ayah Wulan


"Lan sebaiknya kamu ngomong gih" desak ku


Wulan hanya bisa tertunduk tak berani berbicara sepatah kata pun. Sikap Wulan ini lah yang membuat curiga orang tuanya.


"Ono opo sih nduk? Kok jadi diem dieman gini? coba ngomong sama Ayah"


Bukannya menjawab Wulan malah menangis terisak dipangkuan Ayahnya seraya meminta ampun.


"Kamu kenapa sih nduk? Ngomongo? Kenapa minta ampun wong kamu ndak salah"


"Istrimu kenapa to Le?" tanya Ayahnya kepadaku


"Biar Wulan aja Yah, yang jawab karna dia yang tau masalahnya" jawabku


Karna curiga sedang ada masalah akhirnya kedua tangan Ayah Wulan memegang pundak Wulan lalu mempertanyakan masalah yang sedang kami hadapi.


Wulan pun akhirnya menceritakan dengan suara serak dan terbata bata bahwasanya dia telah selingkuh dengan lelaki lain di belakangku. Mendengar hal itu marah lah Ayah Wulan hingga tamparan pun akhirnya tak dapat di elakan lagi.


"AMPUN PAK, WULAN MINTA MAAF" sembari menangis


"Dasar anak tak tau di untung!!! Ayah besarkan kamu, mendidik kamu agar jadi wanita yang sholeha kenapa malah jadi wanita pembangkang!!"


"Sudah sudah Pak e, jangan kasar gitu sama anak sendiri" bela Ibu Wulan


"Bapak Malu sama Ayahnya Abe Buk e liat kelakuan anakmu yang kaya gini"


"Udah Be terserah kamu sekarang mau kaya gimana sama Wulan, mau kamu talak itu hak kamu, Bapak udah pusing mikirin anak Bapak ini" ujar beliau


"Sekali lagi aku minta maaf Pak, mungkin memang salah ku juga yang ndak bisa mendidiknya dengan benar, dan susah juga Pak kalau memang Wulan menerima ku dengan keterpaksaan, dan sekarang dengan cara baik sebagai mana aku dulu melamarnya dan berpisah pun dengan cara baik baik pula"


"Dan Bapak Ibu jadi saksi bahwa aku telah menalak Wulan dengan talak 3" ucap ku tanpa keraguan


"Yasudah kalau kemauan Nak Abe begitu Bapak tak bisa memaksakan kehendak, anak baik kaya kamu memang sepantasnya mendapat istri yanh baik pula, salamkan untuk Bapakmu Be dan permohonan maaf dari Bapak untuk Bapakmu"


"Insya Allah Pak, permisi saya pamit dulu Assalamu'alaikum warrahmatullah"


"Wa'alaikumsalam warraatullah" jawab beliau yang kemudian mengantarkan ku pergi hingga kedepan rumahnya.


Sebulan setelah kepulangan ku dari rumah Wulan, aku memulai hidup baru dengan menjual seluruh aset rumah ku dan kembali kedesa tempat dimana aku dilahirkan, tempat yang jadi awal kisah ku di mulai. Ku bangun lagi rumah sederhana persis disamping rumah orang tuaku dan hidup bersama Annisa putri semata wayang ku.


Terkadang Ibu dan Ayahku merasa iba melihat aku sendiri mengasuh dan membesarkan Annisa tanpa ada yang mendampingi namun aku tetap berusaha tegar didepan mereka walau sebenarnya dalam hati ku yang sedang kosong ini membutuhkan seorang istri yang mampu menemani dan bersama sama mengasuh Annisa hingg besar. Rasa takut kejadian seperti ketika bersama Wulan membuat ku mengurungkan untuk menikah lagi.


Banyak tawaran dari teman Ayah yang datang ketika bertamu ingin sekali mengenalkan kepada anak perempuan mereka namun selalu ku tolak dengan halus. Aku bukan sok kegantengan karna memang enggak ganteng sama sekali, aku hanya ingin butuh waktu untuk membangun kepercayaan dalam diriku agar bisa berumah tangga lagi.


 

__ADS_1


 


__ADS_2