Wanita Dibalik Cadar

Wanita Dibalik Cadar
Bab 57


__ADS_3

Selama sebulan lamanya tiap malam sehabis maghrib Usuf selalu tak pernah absen untuk berkunjung kerumahku, bukan untuk jalan jalan melainkan belajar tuntunan sholat yang sebagaimana Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam ajarkan. Selain itu dirinya juga ingin di ajarkan Al Quran dan juga ingin menghafalnya.


Disini aku bukanlah seorang guru namun lebih kepada mencek hafalan dan mencek tajwidnya benar atau salah. Karna kesungguhannya Usuf sudah menyelesaikan hafalan surah surah di juz 30.


Bahagia rasanya melihat teman sendiri sangat bersungguh sungguh memperdalam agama, bahkan tanpa harus ku jemput dirinya ketika ada pengajian langsung datang.


"apakah sudah saatnya Be aku mengajak teman teman ku yang pemabuk itu untuk hijrah?" tanya Usuf


"Sabar Suf, belum saatnya, aku saja belum berani berdakwah karna keilmuan ku masih kurang, berdakwah kepada keluarga ku aja belum bisa Suf"


"Terus harus nunggu kapan sih Be?, apa nunggu temen temen ku mati?"


"Bersabarlah kawan ku, perdalam dulu akidahmu. Kalau sudah kuat akidahmu baru kamu bisa berdakwah kepada temen temen mu" bujuk ku


"Iya deh Be" jawabnya dengan wajah lesu


Aku tau mungkin dirinya kecewa, namun aku takut dirinya akan terjerumus lagi karna akidah dan manhajnya belum kuat. Yang ada bukan menyadarkan temannya malah dirinya ditertawakan teman temannya.


Usuf pun kemudian pamit pulang sedangkan aku masuk kedalam rumah kemudian duduk diruang tamu. Tak lama Nurul mendekatiku sambil membawakan teh hangat yang disuguhkan didepan ku.


"Jazakumullah khairan sayang"


"Wa iyyaka mas" jawab Nurul


"Annisa sudah tidur Dek?"


"Iya Mas barusan tadi habis ngedot. Oiya gimana si Usuf?" tanya Nurul


"Alhamdulillah dia sudah menghafal juz 30 Dek"


"Masya Allah termasuk cepet juga ngapalin jus 30 dalam waktu sebulan bagi yang baru hijrah Mas"


"Kemauan dia kuat Dek, niat dia yang ingin meninggalkan dunia jahiliyyah yang kemudian Allah mudahkan untuk menghafal kalamNya"


Ku hembuskan nafas berat sembari memikirkan si Usuf


"Kamu kenapa Mas?, kok kaya sedang mikirin sesuatu?"


"Iya dek, aku mikirin Usuf"


"Loh emang kenapa Mas?"


"Kamu tau sendiri kan jiwa orang yang baru berhijrah dan mengenal manhaj yang haq ini pasti menggebu gebu"


"Shohih, lalu masalahnya?"


"Dia ingin berdakwah ke teman temannya Dek"


"Yah malah bagus to Mas kan ilmu itu wajib di sampaikan walau satu ayat"


"Iya itu benar tapi yang dia dakwahi itu orang orang awam dan pemabuk, takutnya malah diketawain dan yang ada Usuf malah ikut ikutan terjerumus lagi"


"Iya juga sih" ujar Nurul yang kemudian berpikir sembari tangannya menopang dagunya

__ADS_1


"Aku keluar bentar yah dek" ujar ku sembari berdiri dan memasang jaket


"Kemana Mas?, dah malem loh"


"Udah insya Allah ndak apa apa, aku cuman mau ngecek si Usuf aja"


"Oh yasudah hati hati Mas, kalau ada apa apa kabarin yah" sambil mencium tangan ku


Sesampainya dirumah Usuf kemudian Ku ketok pintunya sambil mengucap salam dan akhirnya terbuka pintu rumahnya namun yang aku dapati malah Ayahnya.


"Ada apa Be?" Tanya Beliau


"Usufnya ada Pak Lek?"


"Lah belum pulang ini orange"


"Waduh kemana yah?" Ucapku sembari menggaruk kepala


"Coba deh kamu cari di tongkrongannya Be, di pos kamling, biasanya dia kumpul disitu sama temennya"


"Oh gitu, yasudah Pak Lek saya kesana dulu, terimakasih Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumsalam"


Aku pun berjalan mengendap endap mendekati pos kamling dimana Usuf dan teman temannya sedang kumpul.


Samar samar Ku lihat beberapa pemuda sedang berpesta pora dan saling tertawa, dan mataku tertuju kepada seorang pemuda yang aku hafal ciri cirinya, yah dia Usuf. Kulihat dirinya sedang terbaring tak berdaya.


Ku melanjutkan berjalan perlahan hingga mendekati para pemuda mabuk ini.


"Kumsalam" kemudian ke empat lelaki tersebut menoleh kearahku kecuali Usuf yang masih tergeletak tak berdaya


"Permisi Mas, saya mau jemput temen saya" pintaku


"Ada urusan apa Lu sama Usuf?"


"Dia dicari Ayahnya Mas, dan saya ingin membawanya pulang"


"Kalau bisa bawa aja" dengan sempoyongan berdiri kemudian mendekatiku


Bau Khamer sangat menyengat dan membuatku muak, aku pun dengan pelan mendorong lelaki tersebut agar tak menyentuhku.


"Apa apaan ini main dorong, gede banget bray nyali Lu ndorong Gue?"


"Afwan Mas, saya ndak ada urusannya sama kalian" berusaha merangsek 4 gerombolan lelaki tersebut


"Eh tunggu dulu, berani bener Lu ama Gue?, belum tau siapa Gue?" sambil meremas bajuku


Aku pun kemudian memegang lengan lelaki tersebut dan meremasnya kemudian ku dorong hingga hampir terjatuh.


"Kurang ajar Lu" ujar temannya yang kemudian mengarahkan pukulan kearahku namun bisa ku hindari dan aku hanya mendorongnya hingga terjatuh karna pukulan orang mabuk sangat lemah dan mudah untuk menghindarinya.


Karna tak ingin ada keributan dengan sigap ku tarik tangan Usuf kemudian ku bawa menjauh dari keempat lelaki tersebut.

__ADS_1


"Beee...." sapa Usuf


"Iyah Suf"


"Maaffin aku Be, aku gagal"


"Sudah lah Suf, ndak usah menyalahkan diri sendiri"


"Aku tak mengindahkan kata katamu akhirnya aku jadi ikut ikut lagi"


"Suf, aku melarangmu itu bukan karna aku tak mau semua orang dapet hidayah, tapi liat kondisi kamu yang baru mengenal manhaj pasti akan mudah rapuh dengan rayuan mereka"


"Iya Bee, maaffin aku yang gegabah dalam mengambil tindakan"


"Bertaubat kepada Allah dan jauhi mereka, mulai saat ini berkumpul lah dengan teman teman yang membawamu kepada kebaikan"


Setelah selesai memulangkan Usuf akhirnya aku kembali pulang dengan berjalan kaki. Saat setengah perjalanan langkah ku terhenti indra pendengaranku menangkap suara tangis seorang wanita namun tak kudapati wujudnya ada dimana.


"A'udzubikalimatillahi tammatiminsyarrima khalaq, hey siapa disana? Tunjukkan dirimu" gertak ku sambil mengawasi arah kanan dan kiriku


"Tolong saya Mas..." dengan isakan tangis yang menyayat hati


Saat berbalik kebelakang diriku dikejutkan oleh sesosok perempuan yang terduduk lemas di pinggir jalan.


Aku pun mendekatinya seraya menanyakan keadaannya "mbak kenapa?"


"Hanya menggelengkan kepalanya"


Aku pun berinisiatif melepaskan jaketku kemudian meletakkannya di bagian auratnya karna pakaian wanita tersebut tak pantas untuk ku lihat.


"Makasih Mas" jawabnya sambil menyapu air matanya


"Sekarang saya mau tanya, Mbak ini orang mana? Dan kenapa bisa ada di tempat seperti ini?"


"Saya di tinggalkan pacar saya Mas, dia membuang saya begitu saja setelah merebut kesucian saya"


Miris sekali memang dengan mudahnya seorang perempuan memberikan kesuciannya hanya untuk lelaki bejat yang belum tentu jadi suaminya.


"Mbak rumahnya dimana?"


"Menggelengkan kepala"


"Maaf mbak, kalau hanya gelengan kepala bagaimana saya bisa menolongmu"


"Percuma Mas, saya pergi dari rumah orang tua ku hanya demi pacarku, aku memilih lelaki yang membuangku dari pada orang tuaku sendiri"


"Nah kalau mbak ada orang tua pasti Mbak tau kan alamatnya?"


"Percuma Mas" kembali menangis


"Bicarakan baik baik sama orang tua Mbak, siapa tau mereka bisa faham"


"Mas, aku sudah ndak di anggap lagi di keluarga ku Mas, aku ikut agama pacarku mas dan aku MURTAD"

__ADS_1


Bagai petir yang menyambar, ku terkejut atas perkataan terakhir dari perempuan ini. Sudah merelakan kesuciannya agamanya pun dia gadaikan hanya untuk mendapatkan lelaki idamannya Allahul musta'an, itu lah mengapa Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam melarang wanita muslimah menikah dengan wanita kafir karna wanita itu mudah untuk di bujuk rayu ketika ilmu agamanya kurang hingga jadi mangsa laki laki ahlul kitab untuk menyesatkannya kepada jalan yang lurus.


Aku sendiri sangat bingung, ingin mengantarkan perempuan ini kembali kerumah orang tuanya enggak mungkin, ingin membawa pulang takut Nurul berpikiran yang macam macam.


__ADS_2