Wanita Dibalik Cadar

Wanita Dibalik Cadar
Bab 35


__ADS_3

ku mengendarai sepeda motor melaju ke arah entah kemana aku akan tuju, rasanya tak ingin lagi aku mengingat kenangan yang dulu pernah aku lalui bersama wanita yang sudah mengisi hari hari ku selama ini, namun hati kecil ku berkata bukan bermaksud meratap atas kematian Aisyah namun aku ingin mengulang kembali kebersamaan yang dulu pernah kami lalui bersama sebelum semua itu akan tergantikan oleh wanita lain di hatiku.


Motor ku terhenti di depan bandara kemudian aku parkirkan lalu aku berjalan pelan menuju pintu kedatangan dimana pertama kali aku bertemu sesosok wanita bercadar yang selama ini telah menemani hidupku, langkah ku terhenti sembari memandang lurus kedepan merasakan orang orang yang sedang sibuk lalu lalang melewatiku dan tepat ditempat aku berdiri ini lah dimana sang bidadari bercadar menatapku dengan tatapan yang tajam hingga menusuk ke dalam hatiku sampai sampai membuat ku sedikit terfitnah gara gara tatapannya, tak kusangka dari awal bertemu sedikit membuat ku kesal namun kini orang yang tak ku kenal tersebut menjadi bagian separuh hati ku bahkan memberikan kado istimewa yaitu seorang putri yang cantik meskipun pada akhirnya aku tak akan pernah lagi menemuinya sampai kapan pun.


Aku hanya bisa tersenyum ketika mengingat itu semua serta membayangkan seolah olah raga Aisyah berdiri didepan ku menyapaku, tersenyum kepadaku dan mengganggam tangan ku sembari bermanja manja seperti tingkah polahnya sehari hari yang dirinya perlihatkan untukku.


Setelah puas aku kemudian membalikkan badan kembali menuju keparkiran sepeda motor untuk melanjutkan perjalanan dimana cerita ku bersamanya pernah terlukis dalam benak ku, kini motorku berhenti tepat didepan kampus dimana dulu Aisyah pernah mengenyam pendidikan disini walau hanya sesaat, bukan cerita tentang pendidikannya namun cerita kebersamaan ku dengannya di waktu bersepeda berdua berboncengan untuk mengantarkannya ke kampus.


Banyak para mahasiswa dan mahasiswi yang memandangku sedang termenung duduk di atas sepeda motor dengan tatapan kosong kedepan namun tak ku perdulikan, diriku tetap menikmati kenangan demi kenangan ditempat ini, hingga satpam kampus menegurku karna dipandang aneh baginya melihat manusia berdiri mematung memandang kosong kedepan.


Perjalanan aku lanjutkan ditempat dimana setiap hari Aisyah menghabiskan rasa penatnya dari rutinitas harian di kampus, yah disini lah ditaman bunga tempat dimana dirinya selalu menyempatkan waktu untuk melihat bunga bunga yang bermekaran karna dirinya begitu hobi untuk memoto bunga bunga tersebut, namun kini tak kudapati bunga bunga sedang bermekaran disana, hanya terlihat beberapa saja itupun terlihat layu dan berguguran di tanah, sama seperti hati ku saat ini.


Air mata yang tak ku harapkan menetes tiba tiba saja menetes mengingat kenangan indah bersamanya kala itu, ketika di usia kehamilannya berumur 5 bulan Aisyah pernah berkata "Mas seandainya ada 2 pilihan Mas pilih dede bayi ini atau aku?" tanya nya tiba tiba terucap


"loh kok istri Mas nanya yang begituan?jangan nanya yang aneh aneh ah"


"tinggal jawab doang kan Mas antara aku atau dedek bayi ini apa susahnya?" desaknya


"kalau seandainya ada opsi 50:50 aku pilih 50:50😁"


"dih dikata kuis apa😒"


"makanya jangan nanya yang aneh aneh, lebih baik berdoa semoga dedek dan umminya sehat wal afiyat kan enak juga didenger" ucapku

__ADS_1


"aamiin, hehe maaf yah mas sayang, cuman bercanda kok"


"makanya hati hati kalau ngomong, malaikat lewat di aamiinin gimana?"


"yah kalau umur Aisyah cuman sebentar insya Allah ikhlas Mas, Aisyah malah berharap meninggal dalam keadaan Syahidah"


Itu lah kata kata Aisyah yang masih terngiang di dalam benak ku, aku hanya bisa membathin "kenapa Syah?kenapa dirimu mengucapkan ucapan itu?, andai engkau tak ucapkan mungkin enggak seperti ini kesedihan yang kurasakan, kenapa disaat kado istimewa yang Allah hadiah kan kepada kita muncul kamunya malah pergi begitu saja"


Beberapa saat kemudian aku lalu beristighfar kata kata berandai andai bagi seorang muslim adalah kata kata dari Sayithon sehingga melemahkan iman dalam hati hingga mendustakan apa yang sudah menjadi takdir Allah Azza Wa Jalla.


Setelah puas akhirnya aku pulang kerumah berharap kenangan tersebut hilang setelah aku menyusuri tempat dimana kami pernah bersama namun tak jua menghilang malah semakin membuat kenangan tersebut menyakitkan.


Sesampainya dirumah aku disambut oleh mertua yang sedang menggendong putri ku Annisa.


"wa' alaikumsalam sayangnya Abi" sembari mencium pipi kiri dan kanan nya


"Anaknya Abi dah minum cucu beyum?" canda ku ke Annisa


"udah dong Abi, nih ampe eyut aku endut" sahut mertua


Setelah puas bermain dengan Annisa, aku lalu pamit dengan mertua ku ke kamar atas untuk beristirahat sejenak, saat hendak duduk pandangan ku tertuju kepada sebuah mushaf Quran yang tergeletak di atas meja, mushaf kepunyaan Aisyah yang selalu dirinya pegang dan mengingatkan diriku ketika dulu kami selalu bermurojaah berdua.


Aku lalu berdiri dan mengambil mushaf tersebut yang kini mulai berdebu karna sudah 7 bulan tak pernah lagi tersentuh oleh tangan Aisyah.

__ADS_1


Tiba tiba dari belakangku ada yang menepuk, ketika aku membalikkan badan ternyata mertua laki laki sedang tersenyum kearahku, buru buru ku hapus air mata ku agar tak terlihat sedang bersedih dihadapan Beliau.


"ikhlasin Nak" ucap Beliau


"insya Allah Pak" sahutku


"memang berat kehilangan orang yang kita sayangi tapi pasti ada hikmahnya atas musibah ini"


"iya Pak"


"kamu ada keinginan untuk mencari pengganti Aisyah ndak?" tanya Beliau


Pertanyaan tersebut membuat ku sedikit terkejut, tak ku jawab pertanyaan Beliau aku hanya bisa melihat wajah nya saja.


"kenapa kok diem Be, kamu takut Bapak sama Ibu endak terima kamu nyari wanita pengganti Aisyah?"


"bukan begitu Pak, tapi...?"


"tapi apa?. udah endak usah mikir tentang itu, Bapak sama Ibu berharap kamu mencari Akhwat yang penyayang dengan anak kecil supaya Annisa ada yang merawat, apa kamu mau ditanya kelak sama Annisa waktu besar dimana Ibunya?"


"iya juga sih Pak, entar aja deh aku masih ingin sendiri dulu Pak" ucapku sembari menunduk


"yasudah yang penting jangan sampai kesedihan kamu membuatmu berputus asa yah" ucap Beliau kemudian berlalu dari ku

__ADS_1


Walau omongan beliau ada benernya namun entah lah apakah ada wanita pengganti Aisyah yang mau merawat Annisa dan membesarkannya dengan tulus, rasa rasanya sangat sulit mendapatkan wanita seperti itu.


__ADS_2