
di perjalanan pulang, dengan lembut tangan Nurul dengan lembut mengusap luka di bibirku yang sedikit robek akibat pukulan Ayah Indah. dirinya begitu khawatir akan keadaan ku hingga akhir nya kutahan tangannya untuk berhenti mengobati luka di bibirku.
"sudah sayang, Mas ndak apa apa" ucapku
"Beneran endak apa apa?, tapi bibirmu luka loh Mas"
"cuman luka kecil kok, tak seberapa sakitnya ketika melihat keluarga Indah yang bersatu kembali" tersenyum kepadanya
sebulan setelah peristiwa kebahagiaan kembalinya keluarga Indah siangnya tiba tiba pintu rumah ku di ketuk oleh seseorang. diriku yang dari tadi sibuk dengan laptopku menganalisa penjualan baju muslim ku bulan ini akhirnya ku matikan laptopku lalu berjalan kearah pintu.
ketika pintu ku buka diriku sedikit terkejut melihat Indah, dan yang lebih membuatku sedikit bertanya tanya adalah Indah datang tidak sendiri melainkan dengan keluarga lengkapnya.
"Assalamu'alaikum" sapa Indah
"wa'alaikumussalam Warrahmatullah" jawabku
"maaf Mas, apakah aku mengganggu aktifitasmu?"
"oh endak kok emang ada apa yah?" tanya ku heran
"kami mewakili keluarga ingin bersilahturahmi Mas Abe" ucap Ayah Indah
"oh Fadhol Om, Silahkan masuk" pintaku
mereka pun masuk dan duduk di ruang tamu sedangkan aku berjalan kebelakang memanggil Nurul untuk membikin kan minuman lalu kembali lagi menghadap mereka.
"hmm...maaf kalau boleh tau ada apa yah Bapak dan Indah datang kemari" aku membuka obrolan
"sebelum membicarakan ke masalah inti, Bapak sekali lagi meminta maaf kepada nak Abe atas peristiwa sebulan yang lalu"
"masya Allah ndak apa apa Pak, itu sudah aku lupain. saya beranggapan mungkin Bapak memang salah faham saja" jawab ku
"Alhamdulillah" beliau mengelus dada sambil tersenyum lega.
Tak berselang lama datang lah Nurul dengan membawa minuman dan makanan ringan kemudian disodorkan ke meja lalu duduk disebelahku.
__ADS_1
"Maaf sebelumnya Bapak boleh tanya sesuatu yang sedikit sensitif nak?"
"Silahkan Pak selama saya bisa jawab insya Allah akan saya jawab" sahutku
"Islam model seperti apa sih yang nak Abe ikutin?" tanya Beliau
"Islam yang di ajarkan oleh Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam" jawabku
"Bukan itu maksud Bapak, golongan mana yang kamu ikutin"
"Tidak ada golongan dalam islam Pak, yang ada islam di turunkan Allah melalui malaikat Jibril 'alaihisallam kemudian disampaikan kepada Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam di ajarkan kepada sahabat Radhiallohu'anhum ajm'in, tabi'in, tabi'ut tabi'in, ulama hingga sekarang"
Beliau kemudian mengangguk lalu bertanya lagi "soalnya beda dengan apa yang Bapak ketahui dari penampilanmu yang memakai celana cingkrang, jenggotan dan juga selalu kemasjid tepat waktu"
Aku pun tersenyum dan balik bertanya kepada beliau "Bapak punya seseorang yang Bapak gemari? Atau istilahnya fans berat?"
"Iyah punya" jawab Beliau
"Lalu apa yang Bapak lakukan kepada orang yang Bapak kagumi tersebut? Mengikutinya kah?"
"Seperti itu lah saya Pak, Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam menyuruh memanjangkan janggut saya pun ikut, Rasulullah menyuruh jangan isbal pun saya ikuti dan saya berharap di padang mahsyar kelak Rasulullah memberi syafaat kepada saya walaupun ilmu saya hanya setipis kulit ari paling tidak saya akan dikumpulkan kepada orang yang saya kagumi seperti hadist yang diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu anhu bahwa ada seorang lelaki penduduk pedalaman mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bertanya,
“Wahai Rasûlullâh! Kapankah hari kiamat itu akan datang?” Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Celaka engkau! Apa yang telah engkau persiapkan untuk menyambut kedatangannya?” Orang itu menjawab, “Saya tidak menyiapkan apappun, hanya saja saya mencintai Allâh dan Rasul-Nya.” Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersada, “Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.”
Beliau hanya manggut manggut sambil mengelus dagunya, diriku kemudian bertanya lagi kepada Beliau.
" apakah orang yang Bapak kagumi itu sanggup memberi jaminan syurga sebagaimana Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam menjamin bagi umatnya yang taat dan patuh mengikuti sunnahnya"
"Berapa juta atau miliaran duit yang dia bisa kasih ke Bapak kalau Bapak ngefans sama dia? Padahal perumpamaan dunia ini bagi Allah seperti bangkai kambing yang tak ada artinya ketimbang kehidupan akhirat"
"Masya Allah kamu ini masih muda namun seperti berilmu Be"
"Maaf Pak saya masih penuntut ilmu, saya hanya menjelaskan yang saya tau dari para ulama saja tidak lebih"
"Endak salah nduk kamu pilih calon suami" bisik Ayah Indah
__ADS_1
"Deeghh" pernyataan Beliau kepada Indah membuat ku begitu terkejut. Jadi niat mereka kesini untuk?.
Belum sempat bathin ini menjawab rasa penasaran ku tiba tiba Ayah Indah mengucapkan satu kata yang membuat ku dan Nurul terkejut.
"Apakah Nak Abe ingin beristri lagi?"
Belum sempat ku menjawab Indah menimpali "aku enggak masalah dengan status Mas Abe yang sudah beristri, dan aku pun akan menerima jika mas Abe lebih mementingkan mbak Nurul, yang terpenting adalah mas Abe bisa membimbingku yang buta dalam agama ini. Aku butuh sosok imam yang bisa mengayomi diriku Mas, dan aku dapatkan ciri ciri lelaki itu ada di kamu" ucap Indah
"Tapi...?" belum berkata kata Ayah indah kembali memotong perkataan ku
"Soal rumah, biaya nikah dan sebagainya Bapak yang jamin, yang terpenting nak Abe siap lahir bathin"
Lidah ku terasa kelu untuk menjawab pernyataan dari Indah dan Ayahnya. Ku tatap Nurul ekspresi mukanya tak menunjukan kesedihan hanya ketenangan beda halnya dengan ku.
"Tapi Pak, bukan saya ndak mau. Saya hanya takut tak bisa adil dan saya ingin menjaga hati istri saya"
"Bukah nak Abe cinta sunnah nabi, nabi saja poligami loh"
"Tap...tapi"
"Kalau Nak Abe ingin dikasih waktu untuk memikirkan silahkan, Bapak dan Indah juga tak ingin tergesa gesa juga kok" ucap beliau yang kemudian pamit pulang.
Mobil mereka pun pergi menghilang meninggalkan rumah ku yang tertinggal kini hanyalah aku dan Nurul yang terdiam seribu bahasa. Memang tak ada larangan dalam islam untuk berpoligami namun banyak syaratnya bahkan seorang ulama yang ingin berpoligami saja harus membaca kitab tebal tentang poligami sedangkan aku yang baru lahir kemaren sore berani untuk berpoligami?.
"Mas. Sepertinya tawaran dari Ayah Indah bagus juga" ucap Nurul
Pernyataan Nurul kini semakin membuat ku bingung belum selesai masalah dengan Indah kini dirinya tanpa ekspresi kesedihan atau keterpaksaan berucap demikian.
"Astaghfirullah, sayang kamu sadar ndak sih yang barusan kamu katakan tadi?" ujar ku sambil memegang tangannya
"Sadar Mas, insya Allah Nurul sadar atas ucapan Nurul, ini bukti kebaktian Nurul sama suami jadi terserah Mas Abe semua keputusan ada ditangan Mas, dan apapun itu asal Mas ridho aku ikuti Mas"
Aku terduduk lemas sambil menutup wajahku dengan kedua tangan ku. Pernyataan mereka tidak salah namun yang aku takutkan adalah ketika diriku tidak bisa adil dan hanya condong kepada salah satu istri ku kelak tulang rusuk ku akan jatuh di akhirat kelak. Dan semua manusia akan melihat ku sebagai manusia yang di cap tak adil kepada pasangannya, apa hujjah ku kelak ketika Allah mempertanyakan ketidak adilan ku kepada istri istriku.
Manusia sekelas Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam yang ma'sum saja istri Beliau kadang merasa tidak adil lalu apalah artinya diriku ummatnya akhir zaman yang keimanannya setipis kulit bawang berani berpoligami.
__ADS_1