Wanita Dibalik Cadar

Wanita Dibalik Cadar
Bab 54


__ADS_3

dengan perlahan tangan ku meraih tangan Nurul lalu ku kecup kemudian berganti mengecup ubun ubunnya, tak henti hentinya aku bersyukur kepada Allah Jalla Jalaluhu karna telah dipertemukan oleh wanita yang selama ini aku idam idamkan.


walaupun kesan pertama pernikahan kami Nurul sedikit canggung dan malu malu untuk mendekatiku namun sifat malunya itu lah yang menarik perhatianku, kemuliaan wanita itu bisa diliat dari sifat malunya, kalau wanita sudah tidak memiliki rasa malu mungkin dia tidak akan tau dan perduli akan syariat yang Allah turunkan untuknya.


ada sebagian wanita yang bercadar namun tak tau tentang fungsi dari cadar itu sendiri, upload foto dengan pose yang bikin Ikhwan yang sudah ngaji sunnah sendiri rada enggak enak melihatnya. Berbeda dengan Akhwat yang sudah tau fungsi hijab dan cadar itu sendiri mereka akan menahan tangan mereka untuk mengupload foto foto di medsos karna semua yang ada di diri mereka hanyalah milik suaminya bukan konsumsi publik.


setelah puas berlama lama mencium ubun ubunnya lalu aku menyapanya sambil mengangkat wajahnya dengan tanganku.


"Nur...?" panggil ku


wajah Nurul yang tertunduk kemudian melihatku "Labaik ya Zauji" sahutnya


tangan ku kemudian memegang ubun ubunnya seraya berdoa ""Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih.(ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya)." (HR. Abu Dawud 2/248, Ibnu Majah 1/617 dan lihat Shahih Ibnu Majah 1/324)


Nurul meng aamiin kan doa ku kemudian tersenyum manis kepadaku kemudia berkata "haadzihi yadii biyadika. laa aktahilu bighomdi hatta tardhoo..(Ini tanganku di atas tanganmu, mataku tidak akan bisa terpejam hingga engkau ridha).


"bagaimana aku tak ridho? jika wanita yang ada dihadapanku mempunyai sifat muru'ah, pemalu dan tau cara melayani suaminya. andai saja bidadari syurga diturunkan Allah kemuka bumi maka mereka tidak akan sanggup menahan rasa cemburunya melihat bidadari dunia yang ada di hadapan ku"


"Subhanallah, afwan Zauji jangan terlalu menilai ku berlebihan, aku tak seperti yang kamu bayangkan, banyak dosa dosa ku yang Allah sembunyikan, kalau saja Allah tampakan niscaya kamu tak akan betah duduk berlama lama dengan ku"


"aku pun juga sama sayang, aku bukan lah malaikat dan kamu bukan lah bidadari yang terpenting adalah sama sama saling mengingatkan ketika kita terjatuh dalam kesalahan"


karna Annisa yang sedari tadi sudah tertidur akhirnya Nurul dengan perlahan membawanya kekamar untuk menidurkan Annisa, kemudian kembali lagi duduk disampingku, posisi kami berganti duduk di bawah kursi sembari memandangi rembulan yang tampak indah menemani malam kami berdua.


ku coba meraih jari jemarinya Nurul namun tak pernah lama tangan kami bergandengan karna Nurul begitu malu.


"kamu kenapa? tangan aku kotor yah?"


"enggak kok, bukan itu maksud ku Zauji, tapi...?"


"tapi kenapa sayang?"


"hmmm...janji yah Zauji jangan marah"


"insya Allah" seraya tersenyum kepadanya


"aku mengagumimu, namun hati ini masih butuh waktu untuk mencintaimu sepenuhnya, jadi tolong ajari aku untuk mencintaimu yah Zauji"


"ndak apa apa istriku, wajar kita baru sehari hidup satu rumah, ingat ungkapan ini Witing Tresno Jalaran Soko Kuliner?"


mendengar pernyataanku Nurul tertawa sembari menutup mulutnya


"lah kok ketawa?" ucapku


"gimana enggak ketawa wong terakhirnya malah kuliner, kulino kali Mas"


"woh, salah yo berarti, pokoknya ntar rasa cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya kok" nyengir kepadanya


ku beranikan tangan ini menjamah wajah cantiknya sedangkan Nurul hanya tertunduk malu membiarkan tangan ku menjamah wajahnya.


"kamu tau ndak matahari itu sumber kehidupan buat aku, bulan itu adalah penerang malam ku sedangkan bintang adalah penghiasnya, namun ada 1 hal yang dapat mewakili itu semua"


"apa itu Zauji?" tanya Nurul penasaran


"memilikimu seutuhnya" ucapku kemudian mencium pipinya


mendengar penuturan ku serta ciuman yang mendadak ku berikan padanya Nurul terkejut lalu memandangku sejenak kemudian menutup wajahnya seraya berkata "Ya Allah Mas, kalau nyium bilang bilang dong, malu ih" ucapnya


mendengar tingkahnya yang malu malu aku hanya bisa tertawa geli melihat sikapnya yang begitu lucu ketika dapat ciuman pertama dariku.

__ADS_1


Keesokan harinya aku menemani Nurul kepasar untuk berbelanja kebutuhan rumah tangga karna jarang paman sayur mampir kekampung halaman Ku jadi terpaksa harus ketempat di mana Allah murkai yaitu pasar.


Aku berjalan di muka Nurul untuk menjadi tamengnya karna banyaknya orang lalu lalang dan berdesakan sehingga rawan bersentuhan, karna Ku tak ingin tubuh Nurul tersentuh akhirnya aku lah  yang menjadi tamengnya.


Kondisi pasar ditempat Ku begitu Kotor Dan bencek sehingga Ku gandeng tangan Nurul agar tak  menginjak kubangan lumpur, karna konsentrasiku hanya tertuju kepada Nurul sehingga tak  kusadari didepan Ku ada seseorang.


"Bughh..!" Badan Ku Dan badan lelaki yang ada didepan bertabrakan.


"Heh kalau Jalan pale mata!" Bentaknya


"Eh maaf mas" sahutku seraya ingin menyalaminya


Namun tangan ku ditepis olehnya smbari berucap "dasar *******"


Kemudian lelaki itu berlalu dengan pandangan sinis kepadaku dan juga Nurul. Aku hanya bisa menghela nafas panjang sembari beristighfar dalam hati.


"Sabar yah Mas" ucap Nurul seraya mengelus dadaku


Aku hanya tersenyum kepada Nurul melanjutkan perjalanan pulang menuju tempat parkiran sepeda motor.


Ketika hendak mengeluarkan motor tiba tiba "cekrek" suara kamera mengalihkan perhatian ku.


Ternyata lelaki yang menabrakku tadi sedang memfoto Nurul, karna kaget Nurul pun bersembunyi dibelakangku.


"Mas tolong jangan foto istri saya" ucapku


"Lah emang kenapa? Hp punya Gue, hak Loe apa larang Gue?"


"Itu hp memang punya Kamu Mas dan terserah mau kamu apain, tapi ini istri saya dan saya tidak ridho Mas ambil foto istri saya"


"Yaelah cuman foto doang ribet banget sih Loe" seraya berlalu dari hadapan ku


"Apa apaan ini" seraya ingin melepaskan cengkraman tangan ku


"Saya minta baik baik, tolong hapus foto istri saya"


"Kalau Gue enggak mau, Loe mau apa?"


"Saya enggak suka kekerasan Mas, jadi tolong hapus foto istri saya" emosi ku mulai tersulut


"Oke Gue akan hapus foto istri Loe dengan satu syarat?"


"Apa itu?" ucapku yang kemudian melepaskan cengkraman tangan ku dilengannya


"Tolong jelaskan kenapa istri Loe berpakaian seperti ini? Karna orang islam yang Gue tau biasa biasa aja enggak terlalu kaya gini banget pakaiannya"


Pertanyaan yang sangat aneh bagiku.


"Kalau ngomong disini rasanya tak enak Mas, mari ikut saya"


"Oke" jawabnya kemudian mengikuti langkahku


Kami pun berhenti di mushola dekat pasar, lalu duduk diterasnya.


Setelah duduk lelaki ini mencerca ku dengan berbagai pertanyaan.


"Di Alquran yang Gue tau enggak ada kewajiban bercadar lalu kenapa istri Loe bercadar?"


"Terdapat khilaf di antara kalangan ulama mas yaitu ada yang mengatakan Sunnah ada juga yang mewajibkan, mas tau ndak umul mu'minin Aisyah Radhiallohu'anha bercadar?"

__ADS_1


"Iyah tau tapi kan itu budaya Arab bukan budaya kita"


"Sebelum islam datang masyarakat Arab tak memakai cadar bahkan tak memakai penutup kepala sehingga tampak rambut mereka, justru islamlah yang kemudian datang kemudian memerintahkan wanita wanita untuk berhijab seperti yang Allah firman kan "Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al Ahzab: 59)"


"Itu tetang hijab kan, lalu cadar gimana?"


"riwayat dari ‘Aisyah


ﻟﻤﺎ ﻧﺰﻟﺖ ﻫﺬﻩ ﺍﻵﻳﺔ : } ﻭﻟﻴﻀﺮﺑﻦ ﺑﺨﻤﺮﻫﻦ ﻋﻠﻰ ﺟﻴﻮﺑﻬﻦ , ﺃﺧﺬﻥ ﺃﺯﺭﻫﻦ ﻓﺸﻘﻘﻨﻬﺎ ﻣﻦ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﺤﻮﺍﺷﻲ ﻓﺎﺧﺘﻤﺮﻥ ﺑﻬﺎ


“Ketika turun ayat ini, yaitu: ‘Dan perintahkanlah agar mereka menjulurukan kain kudung mereka hingga dada-dada mereka.’ Mereka langsung mengambil kain-kain mereka dan merobek ujung-ujungnya, maka mereka berkhimar dengannya.”[3]


Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan maksud “berkhimar dengannya” yaitu menutup wajah mereka"


"Jadi maksudnya itu menutup wajah mereka seperti mana bercadar bukan hanya berjilbab saja" jawabku


Lelaki itu hanya mengangguk sambil mengelus dagunya seperti orang berpikir.


"Saya boleh nanya balik Mas?" ucapku


"Apa itu?" jawabnya


"Di masyarakat kita banyak memakai pakaian kentat seperti jeans, rok mini, pacaran, valentine kenapa ndak Mas larang? Bukan kah itu budaya barat? Bukan budaya kita?"


Lelaki itu kemudian terdiam sejenak kemudian berpikir sambil matanya melirik ke atas.


"Tapi kan itu moderenisasi mas, dan istri mas ini adalah kolot yang enggak bisa ngikuti zaman"


Aku pun tersenyum kemudiam menjawab "justru islam itu muncul untuk memoderenisasi manusia"


"Contohnya apa?"


"Mas tau kan manusia purba yang pernah di ajarkan waktu SMP? Walaupun saya tak meyakini manusia purba itu ada"


"Iya terus apa hubungannya dengan manusia purba?"


"Bukan kah manusia purba itu lelaki dan wanitanya telanjang? Sedang kan Islam datang menyuruh kita untuk memakai baju agar tertutup auratnya lalu moderenisasi yang mana yang mas ikuti? Manusia purba yang terbelakang atau islam?"


Lelaki itu kemudian terdiam dan malu setelah mendengar penjelasan ku.


"Tapi Mas bukan kah pakaian yang Mas dan Istri kenakan itu ciri ciri terteroris?"


"itu tidak benar, mereka hanya menyerupai namun berbeda akhlaq dan akidahnya, dalam islam kita di ajarkan untuk damai, ******* mengajarkan bunuh kafir dimana pun berada sedangkan dalam islam kita tak dibenarkan membunuh kafir kecuali mereka menyulut api peperangan, ******* mengkafirkan pemimpin kita sedangkan Allah dan RasulNya mengajarkan untuk taat kepada ulil amri selama perintahnya tak menyalahi agama. Lalu ciri mana yang Mas tuduhkan itu kepada saya dan istri?"


Lelaki itu menggelengkan kepala.


"Sekarang saya tanya maaf bukan menyinggung, psk mas tau kan ciri cirinya seperti apa? Apakah Mas ridho saya bilang istri mas psk?"


"Ya jelas enggak lah, enak aja bilang istri saya psk"


"Kenapa mas enggak ridho bukan kah pakaian nya sama?"


"Tapi kan beda mas, meskipun pakaian sama"


"Nah itu dia mas, saya pun tak ridho istri saya dan kaum muslimah yang bercadar di bilang *******, mereka berusaha menutup aurat hanya untuk melindungi diri mereka dan agar yang melihat juga terjauh dari dosa zina mata, itulah kemuliaan islam yang syariatnya bukan untuk individu tapi untuk semua manusia"


"Masya Allah baru ini saya bisa klop sama jawaban mu Mas, boleh saya minta nomer hpnya, saya mau belajar agama lebih dalam lagi"


"Maaf mas saya bukan ustadz, tapi kalau mas mau saya bisa arahkan Mas ke pengajian yang sering saya dengar, semoga Mas bisa menerima dakwah sunnah"

__ADS_1


Perdebatan ku dengan lelaki itu pun berakhir dengan sadarnya dia atas pemikirannya tentang cadar yang selama ini di anggapnya sebagai bibit ******* semoga banyak yang sadar atas pemikiran kalau bercadar adalah *******. Fitrah perempuan itu adalah pemalu dan Allah maha tau dan tak akan pernah salah menurun kan syariatnya untuk perempuan, kalau sudah rasa malu itu hilang didiri perempuan maka hilang pula lah fitrahnya dan mungkin akan banyak perzinahan yang merajalela di atas muka bumi ini.


__ADS_2