Wanita Dibalik Cadar

Wanita Dibalik Cadar
Bab 34


__ADS_3

Memasuki kandungan Aisyah yang sudah ke 9 bulan masa-masa dimana repotnya diriku yang terkadang bolak balik rumah sakit karna tidak tau sama sekali yang namanya Kontraksi ada yang palsu yaitu ketika Aisyah merasa sakit dan ingin segera melahirkan namun setiba di rumah sakit kontraksinya hilang gitu aja.


siang itu aku sedang sibuk-sibuknya memasak dan mencuci baju terdengar suara teriakan Aisyah dari ruang Tamu.


 "Massss....sakiiittt, kamu dimanaaa?"


aku buru-buru menyelesaikan tugas dan berlari menuju Aisyah ketika sampai ditempat dimana Aisyah berada betapa terkejutnya diriku melihat ceceran darah di sekitar *sensor* hingga ke kakinya, buru-buru ku gendong Aisyah keluar rumah dan menuju ke mobil, ingin menghubungi Ayah tapi rumahnya jauh.


Setelah menyalakan mobil diriku langsung meluncur ke arah Rumah sakit terdekat di sekitar tempatku tinggal, ku lihat saat itu pucat sekali wajah Aisyah  sedang darahnya menetes terus, aku sangat cemas dan takut dia kenapa-kenapa.


"Aduh maaasss cepetan, sakiiit" rintihnya


"Sabar yah sayang sebentar lagi kita sampai kok" sambil membelai wajahnya yang penuh dengan keringat.


Sesampainya dirumah sakit aku langsung menggendongnya menuju administrasi.


"Mbak tolong cepet istri saya mau lahiran"


"Iyah mas sebentar saya panggilkan dokternya"


Enggak lama datanglah dokter dengan suster membawa ranjang kereta, aku pun menaruh Aisyah di ranjang tersebut dan mendorongnya bersama suster masuk keruang persalinan, tangan Aisyah saat itu terus saja menggenggam tanganku, cengkramannya begitu kuat sehingga aku bisa merasakan sakit seperti sakit yang di alami Aisyah.


Setelah masuk diruang persalinan dokter pun mempersiapkan alat-alat nya begitu juga dengan susternya, sedang aku tetap menemani Aisyah, menyabarkannya dan menganjurkan untuk banyak berdoa, keringat semakin banyak mengucur di kepala Aisyah pegangannya semakin kuat ditangan ku.


"ambil nafas yang dalam Buk terus keluarkan perlahan, ambil nafas lagi, keluarkan perlahan" pinta dokter


Aisyah "aaaahhhhhhhhrrrgg...!!!"


3 jam waktu yang enggak sebentar merasakan sakitnya melahirkan, aku enggak bisa ngebayangin sakitnya seperti apa?, dalam hadist Rasulullah shallallahu'alaihi wassalam bersabda"


"Mati syahid ada 7 selain yang terbunuh di jalan Allah: Orang yang mati karena thaun, syahid. Orang yang mati tenggelam, syahid. Orang yang mati karena ada luka parah di dalam perutnya, syahid. Orang yang mati sakit perut, syahid. Orang yang mati terbakar, syahid. Orang yang mati karena tertimpa benda keras, syahid. Dan wanita yang mati, sementara ada janin dalam kandungannya." (HR. Abu Daud 3111 dan dishahihkan al-Albani).


"UWEEEE...UWEEEE..." suara yang sudah lama aku tunggu-tunggu selama 9 bulan akhirnya terdengar juga, suara seorang Bayi perempuan memecahkan keheningan.


Namun tiba-tiba pegangan Aisyah melemah di tangan ku akhirnya Dirinya tidak sadarkan diri, buru-buru dokter memeriksa apa yang terjadi dengan Aisyah.


"Gimana Dok keadaan istri saya?" ujarku


"Sepertinya istri Bapak kehilangan banyak darah, makanya kondisi nya melemah ketika lahiran"


"Terus gimana Dok?" aku harap-harap cemas


"Golongan darah istri Bapak O harus ada yang mendonorkan darahnya, kalau tidak akan membahayakan kondisi Istri Bapak"


"Dok tolong Dok istri saya, bagaimanapun caranya supaya tidak terjadi apa-apa" aku memohon


"Tenang-tenang, saya check dulu siapa tau dirumah sakit masih ada persediaan darah"


"Terima kasih Dok"


"Sama-sama, silahkan Bapak tunggu diluar biar Istrinya istirahat dulu"


Aku pun keluar dan sesekali melihat keadaan Aisyah yang pucat mukanya, seperti tak berdaya, entah kenapa ada perasaan buruk dihati ku tentang Aisyah namun aku buang jauh-jauh perasaan itu karna aku tak mau was was syaithon menguasai diriku.


Diriku kemudian berjalan dan menanyakan dimana anak ku di tempatkan, suster lalu menunjukan arah dimana anakku sedang di letakkan, kemudian aku mengikutinya dari belakang, lalu suster membawaku memasuki ruang khusus bayi dan terdapat banyak bayi disana, suster menunjukan kalau bayi ku ada di urutan kedua dari belakang paling ujung.

__ADS_1


Aku kemudian mendekat perlahan di tempat tidur kecil khusus bayi dan aku berdiri tepat di posisi dimana anakku sedang tertidur dengan lelapnya, Subhanallah perasaan cape, sakit ditangan Gua yang membiru karna pegangan Aisyah serasa hilang begitu saja ketika memandang anak ku yang lucu sedang tidur, aku lalu mendekatinya dan membelai wajahnya yang mirip sekali dengan ibunya, alisnya, matanya cuman rambut dan hidungnya doang yang mirip denganku.


Air mata ku terjatuh manangis haru didepan anakku, sekarang status ku kini menjadi Bapak, seperti baru kemaren diriku merasakan masa lajang,sekarang aku udah punya anak yang kelak memanggil ku dengan sebutan Ayah.


"Alhamdulillah Ya Allah Engkau telah menitipkan amanah buat hamba yaitu seorang anak bayi perempuan yang cantik seperti ibunya" bathinku sembari mengusap air mata di pipiku


Terkadang aku kasian melihat perjuangan para wanita yang setengah mati melahirkan anaknya dengan penuh perjuangan antara hidup dan mati namun ketika selesai melahirkan si suami bukan menanyakan bagaimana keadaan istrinya melainkan langsung melihat bayinya perempuan atau laki-laki, untuk yang masih mempunyai ibu semoga bisa terus berbakti kepadanya karna demi Allah setetes keringat perjuangan melahirkan kalian itu tidak bisa dibayar dengan harta dunia, maka wajar balasan adzab bagi anak yang durhaka bakal disegerakan di dunia karena ibunya yang melahirkannya rela mati namun anaknya membalas dengan kedurhakaan.


Diriku terduduk di kursi tunggu seraya tertunduk lesu karna belum ada kabar dari dokter tentang keadaan Aisyah, pikiran ku mulai kacau, disatu sisi aku bahagia mempunyai putri yang sangat lucu namun aku juga enggak mau terjadi apa-apa dengan Aisyah.


Aku kemudian menelpon Ayah, Ibu dan juga mertuaku mengabarkan berita bahagia ini ke mereka. "Hallo assalamu'alaikum Yah"


"Wa'alaikumsalam, ada apa Nak?"


"Ayah sama Emak kerumah sakit yah hari ini"


"Hah ! Siapa yang sakit Nak?"


"Enggak ada yang sakit Yah, tapi Aisyah udah lahiran"


"Alhamdulillah ya Allah akhirnya aku punya cucu, kita punya cucu sekarang Buk" terdengar percakapan mereka di telpon


"Yaudah Yah cepetan kesini ya aku tunggu"


"Iya Nak sebentar lagi Ayah kesana"


orang tua ku senengnya minta ampun maklum ini adalah cucu pertama mereka namun tidak ada yang menanyakan gimana keadaan Aisyah, aku sengaja enggak ngabarin ke mereka takut khawatir jadi diriku memprioritaskan berita baik dulu biar mereka melihat sendiri kondisi Aisyah.


Ketikan tangan ku pada keyboard hp terhenti ketika suara Abe seperti tercekat untuk melanjutkan kisahnya, ku pandangi wajahnya seperti terseirat ada kesedihan mendalam didalam hatinya, entah kesedihan apa itu aku tak enak untuk menanyakannya kemudian aku biarkan dirinya untuk diam sejenak sampai kembali terucap kata kata dari mulutnya.


"Ndak usah antum tahan Akhi, kalau mau menangis silahkan supaya hati antum sedikit lega" pintaku seraya menepuk pundaknya


"Afwan Akhi, ana akan lanjutkan lagi, maklum kebawa suasana hehe" ucapnya seraya tersenyum kepadaku


Dengan tarikan nafas panjang akhirnya Abe pun melanjutkan cerita tentang wanita bercadar yang sempat terputus.


3 bulan setelahnya...


"Syah...Aisyah....kamu dimana sayang?" panggil ku pagi itu seraya membaca koran


Dalam benak ku berpikir "ini anak biasanya kalau di panggil cepet datengnya tapi kok enggak dateng dateng?" pikirku


Karna lama tak kunjung menghampiriku aku lalu berjalan kearah dapur mungkin dirinya sedang sibuk hingga tak mendengarkan panggilan ku.


Sesampainya didapur pun tak kudapati dirinya disana, "kemana ini anak?, enggak biasanya dia seperti ini" bathinku


Aku kemudian melangkah hendak keruang tamu namun langkah ku terhenti melihat Ibu ku sedang menggendong Annisa putriku yang kini menginjak umur 3 bulan, dia tumbuh dalam kondisi sehat serta bertubuh montok, kulit berwarna putih siapapun yang memandangnya pasti ingin sekali menggendongnya karna saking gemasnya.


Aku berjalan mendekati putriku lalu membelai wajah dan rambutnya serta menciumnya seraya berkata "hmmm...harumnya anak Abi, udah mandi yah" tanyaku


Annisa hanya memandangiku tanpa ekspresi kemudian tertawa, tingkahnya inilah yang membuatku semakin gemas sembari mencubit pelan di pipinya yang kemerah merahan, kemudian aku menggendongnya sembari berjalan menuju jendela kamar memperlihatkan pelataran rumah yang enggak jauh dari jalan raya agar putriku merasakan sejuknya udara dipagi hari.


Annisa hanya bisa tertawa girang sembari menggerak gerakan kaki dan tangannya seperti ingin berjalan menuju keluar rumah "semoga engkau kelak menjadi anak yang sholeha yah Nak" ucapku sembari mencium ubun ubunnya


"Mak Aisyah mana yah?, kok aku cari dari tadi enggak ada?" tanyaku seraya menyerahkan Annisa kepelukan Ibu

__ADS_1


"Kamu mau Ibu buatkan teh Nak?" tanya ibu dengan wajah yang seperti menyimpan kesedihan


"Ibu ini di tanya apa, jawab apa?, aku tanya Buk Aisyah kemana?, dari tadi kok enggak jawab panggilanku" tanya ku lagi


"Kamu mau ketemu Aisyah Be?" tanya Ayah yang tiba tiba sudah ada didepan pintu kamar


"Lah emang Aisyah kemana Pak?" tanyaku bingung


"Ntar sore Ayah anter kalau memang kamu pengen ketemu Aisyah" ujar Ayahku kemudian berlalu seraya berjalan menunduk


Ini orang rumah pada kenapa sih?hari ini kok aneh semua" bathin ku seraya berjalan keruang tamu untuk melanjutkan membaca koran


Sore harinya dengan menaiki mobil aku, Ayah, Ibu beserta putriku Annisa berangkat menuju ke sebuah tempat dimana Aisyah berada, sopirnya saat itu Ayahku sedangkan aku duduk di belakang sembari menggendong Annisa yang sedari tadi nangis terus enggak berhenti henti, tumben ini anak susah berhenti nangisnya biasanya aku bercandain sebentar sudah berhenti.


Aku sendiri kecewa dan rasanya ingin memarahi Aisyah yang dari pagi hingga sore tak jua kunjung pulang, apa dirinya tak menyadari kalau putrinya sedang mencari dirinya.


"Cup cup...sabar yah Nak, bentar lagi ketemu Ummi" ucap ku


Sedangkan Ibu dan Ayah hanya diam seribu bahasa dari awal berangkat.


Mobil kemudian berhenti tepat didepan pemakaman Muslim, aku terheran "ngapain Aisyah disini seharian sampai enggak inget anaknya?" bathin ku


Rasa penasaranku begitu besar akhirnya menanyakan ke Ayah "Yah ngapain Aisyah kesini sampai enggak inget waktu?" seraya menahan amarah yang memuncak


Seperti enggak memperdulikan pertanyaan ku Ayah hanya berjalan terus aku pun tetap mengikutinya dari belakang sembari membathin "kalau enggak inget Annisa bakal aku marahin si Aisyah"


Langkah kaki Ayah terhenti di sebuah makam lalu beliau berganti dari posisi berdiri menjadi jongkok dan menghadapkan tubuhnya ke arah makam begitu juga Ibu.


"Aisyah nya mana Pak?" tanya ku yang masih kesal


Wajah Beliau kemudian melihatku dan matanya berkaca kaca kemudian jari jemarinya menunjuk ke batu nisan makam tersebut.


Mataku kemudian mengikuti arah telunjuk Ayah dan membaca tulisan yang tertera pada batu nisan tersebut yang bertuliskan Aisyah Binti Abdul Rahman tiba tiba tubuhku bergetar, lutut ku tak mampu lagi menahan berat tubuhku akhirnya aku terduduk tepat di mana Aisyah di kuburkan, ingatan ku tiba tiba pulih mengingat kejadian 3 bulan lalu dimana pertemuan terakhirku dengan Aisyah.


"Mas apakah selama ini kamu ridho aku sebagai istrimu?"


Aku enggak bisa menjawabnya hanya tangisan dan anggukan.


Aisyah "Alhamdulillah yang telah menciptakan dan mematikan makhluknya" sembari jari telunjuknya menunjuk ke atas


Aku "sayang please jangan ngomong seperti itu?, aku yakin kamu bakal sembuh kok"


Aisyah "maaffin Aisyah yah Mas selama ini tidak bisa membahagiakan Mas, semoga mas ridho"


Aku menangis tertunduk disebelah badannya dan tiba2 terucap kalimat Laa ilaa ha illallah Muhammadarasulullah...seraya telunjuknya menghadap kelangit, pegangan Aisyah melemah seiring nafasnya yang tersengal sengal, dan akhirnya terpisahlah ruhnya dari jasad meninggalkan dunia yang Fana ini menuju Alam keabadian.


"syah...syah...bangun syah..." Aku mencoba menggerakan tubuhnya yang sudah tidak bernyawa


Dokter menyabarkanku dan membawaku jauh-jauh dari jasad Aisyah namun diriku seperti tidak rela kehilangannya, butuh 2 orang yang bisa menahan amukan ku yang tidak ingin jasad Aisyah dibawa menjauh dari ku.


Sebelum disholati aku melihat lagi wajahnya untuk yang terakhir kalinya, terlihat wajahnya tenang seperti orang yang lagi tertidur pulas dengan sedikit senyuman di bibirnya.


Setelah disholati jasad Aisyah pun di bawa ke tempat peristirahatannya yang terakhir, aku hanya terpaku melihat Jasadnya yang akan dikuburkan serasa aku seperti manusia yang kehilangan separuh jiwa ku.


Selama seminggu aku diceritakan oleh Ibu kaya orang sakit jiwa, yang kerjaannya menunggu Aisyah didepan rumah, nafsu makan ku berkurang hingga tubuh ku jadi kurus tak terawat.

__ADS_1


Mata ku kembali menangis ketika sadar kalau Aisyah sudah meninggalkan dunia ini, bidadari Dunia ku telah pergi,tiada ada lagi penyejuk mata, tiada ada lagi yang membikin kan teh untuk ku di waktu pagi, tiada lagi canda, manja dan senyumnya yang selalu menghiasi hari hariku, tiada ada lagi suara yang membangunkan ku untuk sholat malam, dan selalu mengajarkan tentang arti kesabaran, Aisyah Engkau sukses membuat bidadari surga cemburu kepadamu, Bidadari dunia memang tidak bersayab namun mereka tercipta bukan dari kata kun fayakun langsung jadi, ujian bidadari dunia begitu berat dari banyaknya batasan batasan yang harus dia jaga agar Allah tidak murka. Maka dari itu wajar ketika wanita dunia masuk syurga kecantikannya akan mengalahkan bidadari syurga.


__ADS_2