Wanita Dibalik Cadar

Wanita Dibalik Cadar
Bab 47


__ADS_3

Mata ku terbuka, entah ada dimana aku sekarang? Ketika hendak bangun kurasakan sakit yang teramat sangat di bagian kepala ku, saat ku raba raba ternyata kepala ku sudah di perban, kejadian malam itu sangat susah ku ingat hanya sedikit ketika pukulan benda tumpul mengenai bagian kiri kepalaku setelah itu aku tak ingat apa apa lagi.


Sekali lagi aku mencoba bangun meskipun terseok seok bak seperti suster ngesot, aku berjalan merangkak keluar dari kamar yang entah ini rumah siapa, namun saat kepala ku sudah di ujung pintu kamar pandangan ku melihat sesosok laki laki dari arah kiriku yang menantang ku duel malam tadi namun dirinya saat itu sedang duduk di muka rumah sembari menghisap rokok, sedangkan dari arah kanan ku terlihat Ibu Ibu setengah baya sedang menonton televisi.


Aku melanjutkan berjalan merangkak untuk mendekati Ibu Ibu tersebut untuk bertanya dimama keberadaan Wulan sekarang karna tujuan ku kesini adalah untuk menjemput Wulan. Mengetahui aku mendekatinya, Ibu Ibu tersebut kaget lalu sontak mendekatiku lalu menduduk kan ku di kursi.


Ibu Ibu "Masnya kalau belum sembuh betul mending istirahat dulu deh" pinta Beliau


Aku "Alhamdulillah saya tidak apa apa Bu, saya kesini hanya untuk bertemu Wulan, saya ingin meminta maaf kepadanya, mohon izinkan saya untuk bertemu dengannya"


Ibu Ibu "Masya Allah Mas, baru aja sebelum kamu sampai kesini Wulan bertolak menuju bandara mau balik ke jawa katanya"


Aku "hah? Kejawa?" terkejut entah apa maksud Wulan melakukan hal seperti ini, kami bak seperti kucing kucingan


Ibu Ibu "iya, awal kesini dia curhat tentang suaminya, dia sengaja jauh jauh datang kesini hanya untuk meminta pendapat Ibu tentang masalah rumah tangga kalian, karna Ibu di anggap orang tua keduanya setelah Ayah dan Ibunya, kenapa dia kok curhatnya ke Ibu yang notabennya bukan orang tua kandung? Karna dia enggak mau Mas di mata orang tuanya jelek jadi dia memilih curhat sama Ibu"


Dalam hati ku mensucikan nama Allah karna Dia tidak salah memilihkan jodoh buat ku, aku kira Wulan sama seperti Abg labil pada umumnya yang terkadang sifat emosinya berubah ubah ternyata pemikirannya begitu dewasa dari umurnya, meskipun Wulan kecewa dan sakit hati namun dirinya mencoba untuk tetap menjaga kerahasiaan hubungan kami berdua dari Ayah dan Ibunya agar diriku tak di pandang jelek oleh orang tuanya, aku membathin "Masya allah, maaffin suamimu sayang, yang tak peka akan perasaan mu, aku janji akan selalu menjagamu dan menjaga hatimu, dan tak akan pernah mata ini memandang kecuali hanya memandang wajahmu"


Diriku buru buru mengambil hp yang ada di saku namun tak kunjung aku dapatkan, seingat ku terakhir ini hp aku taruh di saku tapi kemana?.


Ibu Ibu "cari apa Mas?"


Aku "oh ini Buk apa ada lihat handphone saya?"


Ibu Ibu "oh iya sebentar Ibu tanyakan sama anak Ibu" seraya berdiri kemudian berjalan kearah lelaki yang masih duduk santai di teras


Enggak lama Ibu Ibu tersebut kembali mendekati ku dengan wajah khawatir kemudian menyerahkan hp yang ada di tangannya kepadaku.


Ibu Ibu "maaffin ank Ibu yah Mas, gara gara kelakuan dia Hp nya pecah gini, apa perlu Ibu ganti? Berapa harga hpnya?"


Aku pun melihat kondisi Hp ku yang sudah retak di bagian LCD nya hanya sebagian terlihat dibagian bawah ada beberapa pesan namun susah untuk aku buka di karnakan LCD nya tak berfungsi secara maksimal.


Aku "oh enggak usah Bu, anggap aja ini musibah" ujar ku seraya ingin berdiri


Ibu Ibu "Masnya mau kemana? Enggak istirahat dulu?"


Aku "maaf bu, saya harus selesaikan masalah ini, makasih atas bantuannya saya pamit pulang dulu,


Assalamu'alaikum warrahmatullah"


Ibu Ibu "yasudah hati hati dijalan, sekali lagi maaffin kelakuan anak Ibu yah Mas, wa'alaikumsalam warrahmatullah"


Aku pun mengangguk kemudian kembali berjalan sembari berpegangan pada tembok rumah untuk menyeimbangkan berat tubuhku, diriku berjalan pelan hingga sampai didepan rumah kemudian pandangan ku terarah kepada sosok yang hampir membuat ku gegar otak yah lelaki yang mengaku kakak angkat Wulan.


Aku tersenyum kearahnya kemudian berucap "permisi Mas, saya pamit untuk pulang"

__ADS_1


Namun kata kata ku tak jua dijawab olehnya, wajahnya pun seperti tak mau memandang ku, akhirnya aku melanjutkan hingga sampai ke tangga depan rumah.


"TUNGGU" suara dari laki laki tersebut mencegah ku


Aku pun berbalik "iyah Mas?" jawab ku


" aku meminta maaf atas kejadian tadi malam"


Aku "enggak apa apa Mas" seraya tersenyum kepadanya


"aku melakukan ini karna aku enggak mau adik angkat ku di sakiti lelaki lain, dan aku harap kau lelaki yang baik yang bisa menjaga dia, ingat jangan sampai kau buat adik ku sakit hati, kalau sampai kau melanggarnya kemana pun kau akan ku cari"


Aku "insya Allah" seraya menganggukan kepala ku


Aku pun menurini tangga kemudian berjalan mendekati mobil avanza dimana sopir mertua ku masih tiduran didalam mobil, setelah sampai aku lalu mengetuk pintu kacanya, beliau kaget lalu dengan sigap membuka kan pintu untuk ku.


Sopir "kamu enggak apa apa Mas? Apa kamu baik baik aja?"


Aku "seperti yang Bapak liat, aku enggak apa apa" jawab ku


Sopir "Alhamdulillah, aku enggak bakal di pecat sama Bos" ucap beliau


Aku "pak bisa antar saya ke bandara dekat sini? Soalnya saya buru buru mau ke jawa hari ini juga" pinta ku


Sopir "apa enggak pulang dulu kerumah mertua kamu Mas?"


Sopir "oke beres Mas"


Mobil kemudian meluncur kearah bandara terdekat karna untuk kembali ke kalimantan selatan membutuhkan waktu yang lama, maka dari itu untuk mempersingkat waktu aku meminta sopir untuk mengantar kebandara disekitar kalimantan tengah walau tak etis sebenernya enggak pamit sama mertua.


Kini kaki ku sudah menginjak didepan rumah ku, tak sabar rasanya untuk bertemu bidadari dunia ku, ketika membuka pintu rumah ku lihat Wulan sedang duduk menonton tv seraya menyuapi makanan untuk putriku, lega rasanya akhirnya Wulan benar benar ada dirumah sekarang.


Aku "Assalamu'alaikum warrahmatullah"


Wulan kemudian melihat ku lalu dengan tampang yang heran melihat keadaan ku yang sedikit kumuh serta berantakan kemudian mendatangiku dan tiba tiba memukul dada ku seraya berucap "kamu kemana aja sih Bi, tak telpon, sms nggak juga si jawab jawab, seneng apa bikin istrinya khwatir gini?"


Aku "dijawab dulu lah salam ku" seraya membelai pipinya


Wulan "wa'alaikumsalam warrahmatullah"


Aku "maaffin suamimu yah Mi? Yang belum bisa peka akan perasaan mu, aku janji disetiap langkah ku ketika keluar rumah hanya jempol kaki ku yang aku lihat, dan doakan selalu agar suamimu ini tetap bisa menjadi Imam yang baik buat kamu dan anak anak kita"


Tanpa menjawab ucapan ku, tangan Wulan kemudian memeriksa perban yang masih menempel di kepalaku.


Wulan "ini kenapa kok kepalanya di perban, kamu abis dari mana? Mana hp mu"

__ADS_1


Aku pun menyerahkan hp ku yang LCDnya sudah tak utuh.


Wulan "ini hp mu kenapa Yang? Kamu abis kecelakaan?"


Aku "menggelengkan kepala"


Wulan "terus apa? Jawab dong aku enggak paham kalau hanya gelengan kepala doang, Ibu sama Ayahmu pun tak mau menjawab pertanyaan ku dimana keberadaan mu, pulang pulang kok tiba tiba keadaan mu seperti ini gimana ceritanya?"


Aku "aku abis mencari bidadari dunia ku yang sempat kabur tanpa pamit" dengan nada bercanda kepadanya


Wulan "kamu ngikutin aku? Sampai ke kalimantan tengah?" dengan ekspresi wajah tak percaya


Aku "iyah dari bandara aku panggil panggil kamu nggak mendengar panggilan ku, dirumah mu juga aku enggak menemukan mu hingga ke kalimantan tengah tak kunjung jua aku mendapatkan mu"


Wulan "maaffin aku Bi" tertunduk sedih


Aku lalu mencium keningnya kemudian menjawab "kamu enggak salah sayang, kalau bukan karna cinta aku enggak akan sampai sejauh ini mencarimu untuk meminta maaf Mi, dengan kejadian ini kamu sudah melihat dan tahu betapa takut nya aku kehilangan kamu, tolong jangan lakukan hal ini lagi yah Mi"


Wulan "iya Bi, maaffin atas sikap kekanak kanakan ku yah, tapi jangan lagi kejadian yang Akhwat sampai jatuh cinta sama Abi terulang lagi" pintanya


Aku " bagaimana mungkin Aku mencintai perempuan lain kalau aku mempunyai bidadari dunia yang kini ada di depan mata ku" rayuku


Mendengar kata kata ku barusan, Wulan senyum senyum seraya tertunduk malu, terlihat dari wajahnya yang memerah dibalik putih kulit nya.


Wulan "apa Abi pernah terucap kata kata ini juga ke Aisyah?"


Aku terdiam sejenak, kata kata Wulan mengingatkan aku kembali kepada kenangan dimana saat itu kata kata bidadari dunia pernah aku ucapkan kepada Aisyah ketika kami pergi menuju ke Mall dengan mengendarai sepeda motor, kenangan itu seakan memyeruak kembali dalam pikiran ku, kesedihan itu pun kembali mencabik cabik hati ku namun aku berusaha untuk tenang didepan Wulan.


Aku "tak pernah aku ucapkan kecuali setelah bersamamu Mi" aku berbohong hanya agar dia senang karna berbohong untuk menyenangkan hati istri itu tidak mengapa


Wulan "makasih Bi, Alhamdulillah kalau Abi baru pertama kali mengucapkannya untuk ku" seraya mendekat dan memeluk ku.


Akhirnya keluarga kecil ku kembali utuh lagi, aku tak perduli rasa lelah, sakit yang ku rasakan saat ini yang terpenting adalah aku tak mau kehilangan orang yang aku sayangi untuk yang kedua kalinya.


Tepat di jam 12 malam aku terbangun, kemudian ku lihat Wulan masih nyenyak dalam tidurnya sedangkan putri ku pun masih larut dalam mimpinya, diriku kemudian berjalan menuruni tangga untuk keluar menemui seseorang yang dulu pernah ada dalam kehidupan ku.


Aku melakukan sebagaimana Nabi Muhammad shallallahu'alaihi wasallam pernah lakukan yaitu berziarah ke pekuburan, ketika sampai di depan pekuburan kaum muslimin aku kemudian memberi salam.


ASSALAMU 'ALAIKUM YA AHLAD-DIYAAR MINAL MU'MINIIN WAL MUSLIM, WA INNA INSYAA ALLOOHU BIKUM LA-LAAHIQUUN, WA AS-ALULLOOHA LANAA WALAKUMUL 'AAFIYAH.


"Semoga keselamatan tercurah kepada kalian, wahai penghuni kubur, dari (golongan) orang-orang beriman dan orang-orang Islam. Kami insya Allah akan menyusul kalian, saya meminta keselamatan untuk kami dan kalian."


Hadits di atas dari Sulaiman bin Buraidah, dari bapaknya. (HR. Muslim, no. 975).


Aku kemudian melepas sandal ku untuk adab kepada penghuni kubur, kemudian berjalan pelan mencari kuburan dimana makhluk yang pernah hadir dalam kehidupan ku, setelah sampai kemudian aku mencabut rerumputan yang ada disekitar kuburannya, membersihkan nya kemudian mulai mendoakan untuk nya agar di beri tempat terbaik di sisi Rabbnya, di luas kan kuburnya serta di terima amal ibadahnya, semoga dengan keridhoan ku dirinya mendapat nikmat kubur.

__ADS_1


Aku "sayang, kamu lagi ngapain disana? Semoga Allah memberikan kelapangan untuk mu di sana, aku tak pernah berhenti selalu berdoa untukmu agar dipertemukan lagi kelak di alam keabadian. Tak henti henti nya aku bersyukur kepada Allah Jalla Jallaluhu karna pernah memiliki istri seperti kamu Syah, walau kini kita tak lagi bersama, antara diriku dan dirimu kini terhijab alam yang berbeda namun cerita kita akan tetap aku simpan rapi dalam buku ini, kelak ketika diriku merindukan mu maka akan selalu ku baca buku ini dimana perjalanan cinta ku bersama Wanita di balik cadar pernah terukir di dalam buku ini"


__ADS_2