
malam hari setelah ba'da Isya mesjid di komplek rumahku sedang kedatangan tamu dari jakarta yaitu ustadz Firanda Andirja seorang ustadz dengan ilmu yang mumpuni dan sering mengisi kajian di masjid nabawi madinah, tak ku sia siakan kesempatan itu untuk menimba ilmu dari Beliau, saat itu tema kajian "pesona Bidadari Surga" pembahasan yang sangat ilmiah dan sangat memotivasi untuk jamaah agar berlomba lomba mengejar akhiratnya untuk mendapatkan fadhilah nikmatnya menjadi ahli surga.
diriku sendiri setelah mendengar kajian tersebut serasa ingin bersegera mengamalkan apa yang Beliau sampaikan, setelah kajian selesai di akhiri dengan sesi tanya jawab dari jemaah kepada Ustadz, dan ada satu yang menarik dari pertanyaan seorang Akhwat, dia bertanya "ustadz apakah tercela apabila seorang Akhwat mengajukan diri untuk di nikahi oleh seorang Ikhwan?"
ustadz lalu menjawab "tak ada celaan sama sekali bagi Akhwat yang ingin mengajukan diri ke Ikhwan untuk di nikahi sebagaimana Ibunda kita Khadijah Radhiallahu'anha mengajukan diri kepada Nabi kita Muhammad shallallahu'alaihi wassalam dan ada juga dalil
Dari Tsabit al-Bunani bahwa Anas bin Malik pernah bercerita,
جَاءَتِ امْرَأَةٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – تَعْرِضُ عَلَيْهِ نَفْسَهَا قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَكَ بِى حَاجَةٌ
Ada seorang wanita menghadap Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menawarkan dirinya untuk Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Dia mengatakan, "Ya Rasulullah, apakah anda ingin menikahiku?"
Mendengar ini, putri Anas bin Malik langsung berkomentar,
مَا أَقَلَّ حَيَاءَهَا وَاسَوْأَتَاهْ وَاسَوْأَتَاهْ
"Betapa dia tidak tahu malu... sungguh memalukan, sungguh memalukan."
Anas membalas komentarnya,
هِىَ خَيْرٌ مِنْكِ رَغِبَتْ فِى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَعَرَضَتْ عَلَيْهِ نَفْسَهَا
"Dia lebih baik dari pada kamu, dia ingin dinikahi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, dan menawarkan dirinya untuk Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam." (HR. Bukhari 5120)
"jadi tak ada celaan bagi Akhwat untuk mengajukan dirinya agar di nikahi seorang Ikhwan namun lebih baik melalui perantara misal mahromnya"
setelah mendengar jawaban dari Ustadz kajian pun selesai karna pertanyaan tersebut adalah pertanyaan terakhir dari jemaah,aku lalu keluar masjid dengan beberapa jemaah komplek, lalu berjalan beriringan bersama beberapa tetanggaku termasuk Zubair.
"siapa yah Akh Ikhwan yang disukai Akhwat penanya itu?, beruntung nian kayaknya" tanya Zubair
"ana juga ndak tau Akhi, emang antum mau?" candaku
"hehe...satu aja udah syukur akhi, takut endak bisa adil yang ada rusuk ana jatuh di hari pembalasan kelak" jawab Zubair
sedang santai berjalan diiringi obrolan ringan bersama Zubair tiba tiba dari belakang terdengar suara lelaki sedang menyapa kami "assalamu'alaikum warrahmatullah"
"wa'alaikumsalam warrahmatullah" kami berdua menyahut bersamaan seraya memalingkan badan kearah belakang
__ADS_1
terlihat seorang lelaki berumur 40-45 tahun sedang berdiri di belakang kami dengan tersenyum ramah, lalu kemudian tangannya ingin menjabat tanganku seraya berkata "nama Ana Toha, kalau boleh tau nama antum?" tanya nya
"oh iyah Ana Abe Pak, kalau ini Zubair" ujarku memperkenalkan diri
"oh kalau Mas Zubair memang sudah kenal, Ana hanya ingin mengenal Antum lebih dekat,kalau ada waktu bisa Ana sowan kerumah?"
"oh na'am na'am Pak, tafadhol kalau ingin kerumah Ana" jawabku
"jazakallah khairon Akhi, insya Allah besok Ana sowan kerumah Antum" ujar Beliau lalu berlalu dari hadapanku
dalam perjalanan pulang diriku bertanya tanya apa yang akan di omongin beliau?, dan tumben tumbenan ada orang yang ingin kenal dekat denganku padahal aku bukan lah orang yang terkenal.
saking memikirkan kejadian barusan aku hampir menabrak Aisyah yang sedang memasukan motor ke garasi "BUUUKK...ADUUHHH" desah Aisyah
"lah kamu ngapain Syah kok disini?" tanyaku
"seharusnya Aisyah yang tanya Mas itu jalan pandangannya kemana?tau istrinya segede ini di tabrak juga" Aisyah mendengus kesal
"hehe maaf, tadi jalan pandangannya cuman liat jempol kaki ku doang kok Syah"
"bener nih enggak lirik lirik Akhwat lain" telisik Aisyah seraya alisnya di naikkan sebelah
emang keliatan kalau wajah suamimu ini abis ngeliat sesuatu yang di haramkan Allah?"
"hehe maaffin istrimu yah Mas, cuman becanda doang kok" seraya gelejotan di pundakku
aku pun duduk diruang tamu sedangkan Aisyah kedapur untuk membikinkan teh buatku, aku masih saja tetap kepikiran tentang kejadian tadi, aku berharap Bapak tersebut membawa kebaikan bukan keburukan kerumahku.
"heh Mas, kamu ngelamunin apa toh?, dari tadi mandangin lampu terus?, ada yang mau diceritain ndak?" ujar Aisyah yang datang membawa teh yang di hidangkan didepanku
"oh ndak kok yank, cuman nginget kejadian tadi aja sepulang sholat ada seorang Ikhwan berumur 40-45 tahun datang pengen kenal sama aku, katanya besok mau bertandang kerumah, entah mau ngapain" ujarku
"oalah mau kedatangan tamu toh, lah emang kenapa?, kan cuman tamu doang yang pengen silahturahmi sama tetangganya"
"Iyah juga sih yaudah lah mikir yang lain aja, ngomong ngomong gimana penjualan baju kita Yank?" tanya ku
"hmmm,,ada sih tadi Mas 2 orang Ikhwan mesan gamis, yang satunya dari jogja satunya di jawa barat, baru aja selesai aku bungkus tinggal dikirim besok" ujar Aisyah
__ADS_1
"Alhamdulillah ada juga yang mesen baju, semoga tambah rame deh yang mesen" ucapku seraya mengusap pipinya
"aamiin" jawab Aisyah
keesokan paginya sekitar jam 10 pagi saat itu aku sedang santai sembari memainkan laptopku mendengarkan kajian sambil memasarkan produk gamis yang hendak ku jual di Instagram, karna masih baru menjual baju secara online sehingga pelanggan sangat jarang komen atau pun ngeDM untuk memesan, wajar mungkin mereka belum sepenuhnya percaya dengan seller baru walaupun produk yang ku tawarkan sangatlah bagus.
"ASSALAMU'ALAIKUM" terdengar suara dari luar pintu masuk rumah
saat itu aku sedang duduk diruang tamu sehingga terdengar jelas suara orang yang sedang memberi salam dari balik pintu.
"wa'alaikumsalam warrahmatullah" sahutku seraya bangkit dari tempat dudukku menuju kepintu depan
saat pintu ku buka ternyata Bapak tadi malam yang ingin berkenalan dengan ku secara intens yang datang untuk memenuhi janjinya tadi malam, namun beliau ternyata tak sendiri, beliau bersama seorang Akhwat bercadar yang bersembunyi di balik badan Bapak tersebut, aku menyangka Akhwat tersebut adalah istrinya namun terlalu muda untuk menjadi istri dari Bapak tersebut, cocoknya seperti Anak dan Bapak.
"Masya Allah ahlan wa sahlan Pak, mari masuk, tafadhol... tafadhol" pinta ku
"jazakallahu khair Akhi, maaf kalau mengganggu aktifitasnya di pagi ini" ucap Beliau
"oh enggak kok Pak, kebetulan saya lagi santai aja dirumah" jawabku
Beliau kemudian masuk kerumah dan duduk sedangkan Akhwat tersebut mengiringi dari belakang dan duduk di samping Bapak tersebut, aku lalu kedapur untuk meminta Aisyah membikin kan minum untuk tamu kemudian balik lagi menghampiri Bapak Toha, terlihat jelas oleh ku si Akhwat seperti menggoyangkan lengan Pak Toha seperti layaknya anak yang hendak meminta sesuatu, entah lah aku enggak terlalu memikirkannya.
"udah lama Akh pindah kesini?" tanya Beliau
"baru kok Pak, belum juga seminggu" jawabku
"emang Akhi asalnya dari mana?"
"ana asli tinggal di desa madinah Pak" jawabku
"oalah ana juga punya sanak sodara disana, adik dan Kakak saya tinggal disana juga soalnya" ujar Beliau
aku hanya terdiam seraya memperhatikan beliau berbicara, sampai satu ucapan yang begitu sangat serius terlontar dari mulut Pak Toha.
"hmmm...sebenernya begini Akh, maksud dari kedatangan Ana kesini adalah baik yaitu ingin bersilahturahmi, dan selain itu juga ingin menawarkan anak Ana Umi Kalsum kalau Antum berkenan untuk menikah"
mendengar pernyataan dari Bapak tersebut aku tercengang tak menyangka kata kata tersebut telontar dari mulut beliau, dan yang lebih membuatku terkejut lagi Aisyah ternyata berdiri mematung seraya tangannya masih membawa minuman, sepertinya dirinya mendengar apa yang di katakan Bapak tersebut.
__ADS_1
tak bisa ku bayangkan apa yang Aisyah rasakan ketika mendengar ada seseorang Ayah menawarkan seorang Akhwat kepada suaminya.