
Pagi harinya aku terkejut kemudian menengok kearah jam dinding ternyata jam menunjukan pukul 10 pagi, lalu dengan cepat aku membuka amplop yang berisikan tiket kepulangan ku ke jawa tengah ternyata pesawat yang aku pesan berangkat jam 7 pagi "ah sial, kenapa aku jadi bangun kesiangan gini? padahal enggak kaya biasanya setelah sholat subuh pasti diriku sempatkan murojaah Quran namun hari ini entah kenapa rasa kantuk menyerang ku hingga aku tertidur pulas setelah sholat shubuh" bathin ku seraya meremas tiket tersebut lalu membuangnya ke tong sampah.
Dengan perasaan masih gedeg sama diri sendiri yang enggak biasanya bangun kesiangan kaya gini, diriku kemudian berjalan menuruni tangga hendak berniat mencari tiket untuk keberangkatan di waktu siang namun langkahku terhenti ketika di depan ku terlihat Wulan dan Ayahnya sedang duduk di lobby.
"ada apa lagi yah?" diriku membathin dan masih berdiri dari arah belakang mereka
Aku kemudian berinisiatif mendekati mereka lalu menyapa " Assalamua'laikum"
"wa'alaikumsalam" jawab keduanya seraya menoleh kearahku
"udah lama Pak?, kok enggak suruh reseptionis telpon Abe?" pintaku
"baru aja nyampe Le, mau bangunin kamu enggak enak tak kira masih tidur" sahut Beliau
Aku hanya mengangguk kemudian duduk berseberangan dengan Pak Jamal dan Wulan, ku lihat sesekali Wulan sedang menyenggol tangan Ayahnya entah seperti ada sesuatu yang ingin di bicarakan namun aku memilih diam sembari memainkan hp ku.
"hmm...jadi gini Nak, maksud Bapak dateng kesini untuk menanyakan kepastian dari kamu, apakah kamu siap seminggu lagi meresmikan hubungan mu dengan Wulan" tanya Beliau
Wulan saat itu seperti malu malu sendiri dari tinggkahnya yang hanya menunduk tak sedetikpun berani menatapku, sedangkan aku sendiri terdiam sejenak seraya berpikir, kemudian menjawab pertanyaan Beliau "Maaf Pak, bukannya Wulan sudah punya calon yang katanya perwira?, enggak enak Pak ngerebut calon saudaranya yang beriman" jawabku
"iyah Bapak juga minta maaf atas kelakuan Wulan tempo hari yang mungkin membuat Nak Abe kecewa"
"apaan sih Yah?, ngapain mesti di omongin lagi?, malu tau ih" sela Wulan
"Ayah ngomong gini supaya jelas Nduk, biar Nak Abe tau kalau lamaran dari lelaki kemaren udah Bapak tolak" sahut Ayahnya
"jadi gimana Be?, apa kamu siap?, atau mau nadzor lagi?, kan kemaren kamu ndak banyak nanya tentang Wulan, mumpung Bapak disini jadi kamu bisa nanya sesukamu" pinta Beliau
Diriku berpikir sejenak seraya mengharuk kepalaku kemudian menatap Wulan meskipun dirinya tetap pada posisi tertunduk.
"aku sebenernya enggak terlalu cerewet masalah fisik, yang aku cari adalah yang agamanya Baik serta mau menerima putriku seperti anaknya sendiri, apakah kamu bersedia menikah dengan duda anak satu?"
"insya Allah" jawab Wulan
"dan aku ingin kelak perempuan yang jadi istriku mau untuk tidak bekerja, aku ingin istriku hanya menyibukkan diri dirumah mengurus suami dan anak apakah kamu bersedia?"
"insya Allah" jawabnya lagi
"bukannya kamu lulusan bidan?, apa enggak sayang dengan ijazahmu?" tanyaku lagi
__ADS_1
"insya Allah ilmu yang aku pelajari di kampus enggak akan sia sia, untuk merawat anak yang sehat kan perlu ilmu dan ilmu yang aku dapat enggak akan percuma kan untuk ku gunakan dirumah tanpa harus bekerja"
"Alhamdulillah kalau begitu" ucapku
"apakah kamu mau bersabar dalam membimbing ku yang terkadang masih labil?"
Lalu ku jawab "labil wajar kok, insya Allah aku sanggup asal kamu mau belajar"
Wulan kemudian mengangguk tanda mengerti lalu kembali menundukan pandangannya, sedangkan Pak Jamal tersenyum seraya berucap "bagaimana Nak Abe?, apa ada yang di tanyakan lagi?" ucap beliau
"insya Allah enggak ada Pak" jawabku
"kamu Nduk?, apa udah bisa nerima Abe jadi suamimu kelak?" tanya Beliau
"iya Yah" jawab Wulan
"Alhamdulillah" ucap Beliau sembari mengusap wajahnya dengan kedua tangannya
Sedangkan di hati kecil ku masih ada yang mengganjal, ada rasa enggak yakin apakah hubungan ku kelak bersama Wulan akan bisa berjalan dengan mulus?, karna sepertinya Wulan harus butuh penyesuaian lagi apalagi dalam hal mengasuh bayi namun was was itu segera aku tampik karna setiap lelaki dan perempuan itu diciptakan sama sama punya kekurangan sedangkan menikah itu lah yang bisa menutupi kekurangan satu dengan yang lain seperti yang Allah Azza Wajalla firman kan " mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka(al baqarah 187)" karna fungsi pakaian itu lah bisa saling menutupi kekurangan masing masing, betapa banyak mereka yang mencari kesempurnaan dalam hal jodoh namun mereka tidak mengetahui bahwa tak ada gading yang tak retak. Suami mu bukan lah malaikat yang tanpa dosa sedang istrimu bukan lah bidadari.
Seminggu setelahnya akhirnya hubungan ku dengan Wulan sah melalui KUA serta Negara, Ayah ku dan Ibu dateng karna acara walimahannya di adakan di Banjar masin dengan menyewa sebuah aula yang cukup besar yang sanggup menampung ratusan tamu undangan, sebenernya aku sendiri enggan untuk di rayakan momen bersejarah ini namun dari pihak Pak Jamal mertuaku yang ingin bahwa walimahan ini di meriahkan.
Setelah selesai dengan acara walimahan yang begitu sangat melelahkan bagiku dan membuat ku tertidur dikamar hotel hingga memasuki waktu Ashar. Saking lelahnya hingga aku sedikit terlambat untuk sholat berjamaah di masjid namun Alhamdulillah Wulan saat itu mau membangunkan ku.
seusai sholat berjamaah aku kembali ke hotel saat memasuki kamar ku dapati Wulan sedang termenung memandang kosong ke arah jalan raya, entah apa yang dirinya pikirkan saat itu.
Diriku kemudian berinisiatif kembali kelantai dasar untuk membeli minuman kemudian kembali kekamar mendekati Wulan yang masih di posisi yang sama tanpa bergerak sedikitpun sembari tangannya menempel di dagunya.
"kok bengong aja?" sapaku seraya menawarkan sebotol minuman Teh kearahnya
Wulan kemudian melihat sekilas kearahku lalu mengambil botol yang ada di tangan ku kemudian berucap " terimakasih"
"melihat matahari terbenam dari sini sepertinya tepat sekali yah" ucapku ngasal karna aku tak tau harus ngobrol dari mana, meskipun kami sudah sah jadi pasangan halal masih aja ada perasaan canggung.
Karna omongan ku tak juga di tanggapi oleh Wulan akhirnya aku juga ikut terdiam sembari menikmati matahari yang sedikit demi sedikit mulai terbenam, kami berdua terdiam cukup lama hanya terdengar suara mobil dan motor yang lalu lalang lewat didepan kami,hingga akhirnya badan Wulan kemudian berbalik menghadapku.
"Be?" sapanya
"hmmm..." jawabku seraya menoleh kearahnya
__ADS_1
"aku boleh yah minta waktu sebentar aja, kejawanya bisa ditunda beberapa hari kan?" pintanya
"boleh" ucapku seraya mengangguk
"maaf yah, kamu tau kan wanita itu tak mudah untuk beradaptasi di tempat yang baru, jadi aku ingin di momen terakhirku di banjarmasin ini aku habiskan berjalan jalan ketempat dimana pernah aku kunjungi"
"boleh aku ikut?" tanyaku
Wulan lalu menoleh keheranan seraya keningnya dikerutkan.
"kenapa?, enggak boleh ya?" ucapku
"kalau bukan sama kamu terus sama siapa Be?, pertanyaannya enggak ada yang lebih aneh lagi yah" seraya tersenyum mengejek
"yah siapa tau mau ketemu pak TNI" candaku seraya meringis didepannya
Namun bercandaan ku bukan membuatnya tersenyum malah merengut seraya berucap " bercandamu enggak lucu" jawabnya kemudian meninggalkan ku seorang diri di balkon dan masuk kekamar.
Keesokan paginya kami berdua sudah siap siap ingin pergi ketempat dimana Wulan pernah menghabiskan hari harinya dulu bersama teman temannya, lokasinya aku sendiri kurang mengetahuinya namun Wulan berucap nama lokasi tersebut adalah Danau seran Banjarbaru, kata Wulan didanau tersebut sangatlah jernih airnya saking jernihnya sampai sampai dasar danau tersebut terlihat dari permukaan.
diperjalanan kami layaknya bukan pasangan karna Wulan duduknya agak jauh jadi enggak ada yang namanya peluk pelukan sebagaimana orang lagi pacaran, dan yang lebih lucunya lagi bukan diriku yang membonceng Wulan melainkan Wulan yang membonceng ku,itu juga permintaan yang sedikit memaksa darinya hingga diriku membiarkannya memboncengku.
Setengah jam kemudian sampailah kami berdua di tempat yang berjuluk danau kaca.
Pandangan pertama saat aku melihat suasana didanau tersebut membuatku terdiam,
Aku speechless dengan pemandangan yang aku lihat saat itu, danau yang tak sebesar danau toba, tapi airnya begitu bening seperti kaca, hingga siapa saja bisa melihat hingga kedasar danau, selain itu disisi danau di tumbuhi tanaman hijau serta hutan akasia yang enggak begitu banyak hingga terkesan begitu indah dipandang mata.

"bagus enggak pemandangannya?" ujar Wulan seraya duduk di pinggir danau dan menceburkan kakinya
"ini bukan bagus lagi Lan, tapi subhanallah banget" jawabku sembari duduk disampingnya
"itulah kenapa alasanku pergi dari sini berat karna disetiap aku ada masalah atau sedang gundah bawaannya pengen kesini terus" ujarnya seraya tertunduk lesu
"yah kalau kamu mau kita kan bisa setahun sekali pulang kebanjarmasin"
Wulan kemudian menatapku lalu perlahan tangannya tiba tiba memegang tangan ku dan menggenggam jari jemariku,entah kena angin apa ini anak tiba tiba megang tangan ku tanpa ku suruh namun aku sendiri begitu senang kalau dirinya mulai nyaman dengan ku,dalam hati ku berkata "semoga aku enggak salah mencarikan pengganti buat anak ku" seraya tersenyum kearahnya.
__ADS_1