Wanita Dibalik Cadar

Wanita Dibalik Cadar
Bab 27


__ADS_3

ditengah keheningan malam sehabis sholat isya berjamaah dengan Pakde di imami anak Beliau yang baru menyabet gelar sarjana di universitas Madinah mengambil jurusan Aqidah, aku merenung dan terdiam di balkon rumah Pakde, dalam hatiku berkata "sangat pantas beliau mencelaku dengan sebutan pemalas, karna Beliau sendiri mempunyai anak yang sudah mengerti dengan ilmu Aqidah sangat jauh ketimbang diriku yang fakir ilmu ini, di umurku yang sudah menginjak usia 20 tahun namun belum tau apa apa tentang agamaku sendiri, malu sungguh malu" sembari mengusap wajahku


"ngelamunin apa Mas?" tiba tiba dari arah belakang Aisyah mengagetkanku


"eh..engg...enggak kok Syah"


"hayo pake rahasiaan segala, oia ini minumnya sama kuenya" ujar Aisyah sembari meletakkan nya di meja sebelah aku duduk


"makasih sayang" ucapku


"Emmm...Mas abe masih memendam apa yang di katakan Pakde tadi siang yah?" tebak Aisyah


aku lalu memandang wajah Aisyah yang tersenyum tenang ke arahku


"memang begitu adanya kan Syah?, aku ndak bisa menyembunyikan aibku kalau aku ini memang pemalas?" ucapku seraya berpaling dari Aisyah


Aisyah lalu memegang tanganku seraya berkata "Mass..."


"apa kamu juga sama menilaiku seperti Pakde?" kembali menatapnya


Aisyah menggelengkan kepalanya seraya tersenyum


"kamu membelaku karna memang kamu istriku, tapi dalam hatimu apa kamu enggak malu punya suami macam aku?"


"kok Mas Abe jadi pesimis gitu?hanya karna perkataan Pakde ?, mana suami Aisyah yang dulu pantang menyerah?, mana suami Aisyah yang dulu selalu tegar?, seharusnya kata kata Pakde itu menjadi penyemangat untuk Mas Abe menjadi manusia yang lebih baik lagi bukan malah berputus asa kaya gini" tegas Aisyah


"Maaffin suamimu ini Syah, seharusnya memang begitu, hmmm...apa kamu masih mau menemani aku untuk terus belajar agama"


Aisyah tersenyum sembari menyandarkan wajahnya di pundakku "itu sudah menjadi kewajiban aku Mas, dan yang harus Mas tau walau Pakde berkata demikian aku enggak pernah malu Mas mempunyai suami seperti kamu"


aku melihatnya lalu tersenyum kemudian mengusap wajahnya seraya berkata "subhanallah yang telah menganugrahkan kamu menjadi istriku, semoga dengan kesabaranmu Allah Azza wa Jalla menaikan derajatmu kelak, makasih sayang" ujarku seraya memeluknya

__ADS_1


betapa beruntungnya diriku yang memiliki istri macam Aisyah yang mampu membuat cahaya iman ku awalnya futur kini bercahaya kembali, selain pintar mengambil hatiku dirinya juga mempunyai kata kata yang dapat membangkitkan ku dari keterpurukan.


"TOK...TOK..." terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar


"kamu sudah tidur Be?" suara Pakde terdengar dari balik pintu


"belum Pakde" sahutku sembari berjalan menuju arah pintu untuk membukakannya


"kalau kamu ndak sibuk temuin Pakde di ruang tamu" pinta Beliau kemudian berlalu meninggalkanku


Entah apa yang ingin Pakde bicarakan, semoga sesuatu yang baik karna dengan sifat dingin beliau kepadaku menjadi tak enak berlama lama tinggal dirumahnya.


"udah Mas tenang aja ngadepin Pakde endak usah terlalu kaku, gih temuin Beliau jangan berlama lama jangan sampai beliau menunggu" pinta Aisyah yang menata kerah bajuku


aku lalu mengangguk kemudian berlalu dari Aisyah berjalan menuruni tangga menuju ruang tamu, ternyata Beliau sudah duduk sembari menonton acara berita di tv, ketika mendengar ku berjalan mendekat beliau lalu mematikan tvnya kemudian membetulkan posisi duduknya lalu mempersilahkan ku duduk di depannya.


"kamu tau Be kenapa Pakde nyuruh kamu kesini?" pertanyaan awal beliau lontar kan kepadaku


"hmmm...ndak tau Pakde" jawabku


aku hanya manggut manggut mendengarkan perkataan Beliau.


"kamu endak mau melanjutkan sekolah ke Madinah?" tanya Beliau


aku terkejut kemudian memandang wajah serius Beliau kemudian menjawab "ingin Pakde tapi biaya dari mana juga ?" ujarku


"kalau kamu mau Pakde bisa berangkatin kamu kesana, soal biaya kamu ndak usah khawatir yang penting kamu ada kemauan apa ndak?" tegas Beliau


aku hanya bisa menggaruk kepalaku karna bingung ingin menjawab iya enggak enak menjawab enggak juga enggak enak


"kenapa?, di tanya kok malah diem?kamu ndak mau?"

__ADS_1


"sebenernya mau Pakde tapi?"


"tapi apa?, kamu ndak bisa ninggalin orang tuamu?"


"ii...iya pakde" jawabku lirih seraya tertunduk


"yaudah Pakde endak bisa maksa kamu, toh kalau menuntut ilmu karna terpaksa juga bukan ilmu yang didapat, tapi satu pinta Pakde sama kamu, jangan pernah sekali sekali meninggalkan Alquran karna Alquran adalah pedoman hidup buat kamu, ibarat kita belajar naik mobil kalau kita ndak tau pedoman cara memakainya kita akan celaka dan satu lagi janganlah kamu terlena dengan memiliki istri sholeha bisa jadi istri kamu itu menjadi fitnah buat kamu"


"terimakasih Pakde atas masukannya, doakan Abe supaya bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi dari sebelumnya" ujarku


Beliau lalu menepuk pundakku seraya tersenyum "itu pasti Nak, oia sebentar ada sesuatu buat kamu, ini amanah dari Almarhum Mbah" ujar Beliau kemudian berlalu dari ku dan masuk kekamar, enggak lama kembali lagi dengan membawa amplop berwarna coklat besar.


"ini amanah dari Mbah, tapi yang pasti Pakde enggak mau liat kamu kalau kesini masih jadi pengangguran, buat lah benda ini menjadi tabungan untuk masa depan kamu dan Aisyah" pinta Pakde seraya mengeluarkan surat berupa cek bernilai sangatlah fantastis yaitu 1,7milyar rupiah


Masya Allah aku sungguh tercengang melihat cek sebesar itu, dan seumur umur enggak pernah yang namanya meliat uang sebanyak itu, seraya tergagap aku berkata "ii...iini untuk Abe ?"


"iya, dan Pakde berharap kamu bisa memakainya dengan bijak karna ini amanah, inget jangan sampai uang sebesar ini menjerumuskan mu kedalam Jahannam, ambilah dan pakai untuk membangun usaha kamu"


sedikit gemetar tanganku lalu memegang kertas tersebut kemudian memandangnya lagi, seperti mimpi tapi ini nyata, "bagaimana caranya diriku mengolah uang sebesar ini Ya Allah" keluh ku dalam hati


"sekarang Amanah dari Embah sudah Pakde tunaikan terserah kamu mau kamu apain, yaudah Pakde mau tidur udah malem" seraya menepuk pundakku dan berlalu dariku yang masih mematung memandangi cek tersebut


Aku lalu berjalan pelan menaiki tangga menuju kamar, ternyata Aisyah terlihat masih belum tidur dengan tangannya yang memegang mushaf Alquran, lalu berdiri menyambutku, dengan wajah yang bingung Aisyah menegurku "Mas kenapa?, kok mukanya gitu?, Pakde marah lagi?" tanyanya


tanpa menjawab pertanyaannya aku lalu memberikan kertas berisikan cek uang tersebut ke Aisyah dengan terkejut Aisyah berucap "MASYA ALLAH...BESAR BANGET MAS, UANG SIAPA INI?"


"itu uang punya Mbah Syah yang diwariskan ke aku"


"ini terlalu banyak Mas, buat apa uang sebanyak ini?"


"aku juga bingung Syah, tapi Pakde menyuruhku untulk membuka usaha dengan uang itu" jawabku

__ADS_1


"Aisyah sebenernya enggak nyangka Mas dapet uang sebesar ini tapi Aisyah ikuti kemauan Mas Abe aja mau di apain ini uang, semoga Mas bisa memenuhin amanah dari Mbah untuk menggunakan uang ini kejalan yang berkah yah" ujar Aisyah kemudian memasukan cek itu kembali ke amplop


aku hanya terdiam duduk di atas kasur seraya memikirkan peristiwa peristiwa yang barusan terjadi didepan mataku, sembari membathin "Ya Rabb jangan lah engkau palingkan aku dari MU dan jauhkan lah Hamba dari fitnah dunia, kalau uang ini menjadi fitnah buat hamba dan menjauhkan hamba dariMu maka ambil lah segera namun apabila membuat hidup hamba menjadi berkah dan menjadikan manusia yang bersyukur maka berkahilah uang ini"


__ADS_2