Wanita Dibalik Cadar

Wanita Dibalik Cadar
Bab 37


__ADS_3

Ketika masuk waktu maghrib diriku ingin segera keluar mencari masjid terdekat disekitar rumah Pak Jamal namun langkah ku terhenti ketika sebuah tangan memegang pundak ku dan menahan laju langkah kaki ku, saat ku tengok ternyata Pak Jamal.


"mau kemana Be?" tanya Beliau


"mau mencari Masjid Lek, kenapa?" tanyaku balik


"udah sholat disini aja kan ada mushola sekalian imamin kami" pinta beliau


"aduh Pak Lek aku ndak hafal Quran, bacaan ku pun jelek, gimana kalau Pak Lek aja yang jadi Imam" ucapku


"alah ndak usah bohong, Ayahmu sudah cerita banyak tentang kamu luar dan dalam jadi kamu jujur atau bohong Pak Lek tau"


Aku pun tertunduk malu, karna Ayah yang membongkar semua tentang ku akhirnya mau enggak mau aku harus menuruti permintaan Pak Jamal.


"Pak Lek pengen Wulan supaya tau kalau kamu memang pantes jadi imam dia jadi Pak Lek mohon sekali saja jadi imam buat kami yah"


"Insya Allah" jawabku lirih sembari tertunduk lesu


Aku kemudian berjalan menuju mushola sebelah rumah beliau saat itu iqomah sudah di kumandangkan oleh karyawan Beliau, saat itu ada sekitar 20 jamaah yang sudah menunggu waktu sholat disana termasuk keluarga Pak Jamal, aku kemudian berjalan kearah depan menuju tempat Imam dan berbicara untuk mengarahkan para jamaah agar meluruskan dan merapatkan shaf sholat setelah itu aku berbalik dan bertakbir.


Karna sholat Maghrib pendek waktunya aku hanya membaca setelah Al fatihah rakaat pertama surah Al Kafiruun kemudian rakaat keduanya Al ikhlas. setelah selesai salam dan berdizikir sebentar kemudian aku berjalan menjauhi jemaah yang saat itu memandangku namun tak ku hiraukan aku tetap berjalan kearah depan rumah Pak Jamal kemudian duduk di kursi seraya membuka smartphone ku dan melihat galeri foto foto putriku sebagai obat kangen ku dikala berjauhan saat ini.


Tiba tiba suara perempuandari sebelah kiriku mengejutkan ku


"aku kira yang dibilang Ayahku bener kalau lelaki yang bernama Abe itu hafidz, ternyata cuman Hafal three Qul(Al Ikhlas, Al Falaq, An Naas)" tertawa meremehkan


"Alhamdulillah" ucapku sambil terseyum kemudian kembali melihat galeri foto foto putriku tanpa memperdulikannya


"apa yang bisa diharepin jadi Imam buat ku kalau Al Quran aja enggak hafal, mau mengarahkan aku macam gimana?, mending dengan lelaki yang membuat ku takjub sudah hafal 30 juz, hafal hadist pokoknya calon lelaki idaman banget lah" ucapnya


Kemudian aku menyahut tanpa memandangnya "Masya Allah semoga Ukhty berjodoh dengannya" jawab ku


"iya dong kan sebentar lagi dia datang khitbah aku, kalau tau aku mau di khtbah ngapai kamu masih disini?"


"insya Allah besok ana pulang kok, ini juga mau cari hotel dulu" jawabku


"oh bagus lah kalau gitu, jadi nggak ada hambatan untuk lamaran besok" kemudian masuk kerumah nya


Aku menghembuskan nafas panjangku menahan sedikit emosi yang ada di dada, "memang mungkin lebih baik secepatnya aku pergi dari sini" bathin ku seraya berdiri dan masuk kedalam rumah Pak Jamal untuk mengambil tas sekalian pamit.


"Loh Nak Abe mau kemana?" tanya Beliau


"ini Pak Lek aku mau cari hotel dulu buat nginap, sekalian pamit besok mau pulang" jawab ku


"Loh..Loh..Loh, kok cepet banget Nak, baru juga tadi siang datengnya, emang Ayah kamu nyuruh cepet pulang?" tanya Bu Aminah


"enggak sih Bu cuman...?"


"cuman apa?, ini pasti ulah kamu kan Nduk?, kamu ngomong apa sama Abe?" tanya Pak Jamal


"dih ngomong apa?, enggak kok" jawabnya


"lah buktinya Nak Abe kaya enggak betah gitu"


"lagian dia tamu enggak di undang ngapain kesini segala, dah tau kalau aku sudah di nazhor lelaki lain"


"tapi Ayah enggak merestui kamu sama lelaki itu, kamu mau enggak nurut sama Ayah?, ini buat kamu juga Nak" ucap Ayahnya


"tau ah, Ayah nyebelin" ucap Wulan kemudian masuk kedalam kamarnya kemudian menguncinya dari dalam


"udah Pak Lek, jangan terlalu memaksa dia, bukankah calon nya itu hafidz Pak Lek?. kok Pak lek menolak?" selidikku


"alah bohong Be, Pak Lek tau siapa lelaki itu, Pak Lek sebagai orang tua enggak tinggal diam soal jodoh anak Pak Lek, lelaki itu setelah Pak Lek cari tahu Alhamdulillah Pak Lek mendapatkan informasi tentangnya.


dari tetangganya bilang kalau lelaki itu dari subuh sampai isya endak pernah sekalipun ke masjid bagaimana coba Pak Lek mau merestui menjadi mantu Pak Lek"


Aku hanya manggut manggut mendengar ucapan dari Beliau.


"wulan itu anaknya memang begitu Be, gampang percayaan, makanya dari itu Pak Lek nyuruh Ayahmu untuk ngirim kamu kesini supaya Wulan mendapatkan lelaki yang benar benar tau agama dan dapat membimbingnya dunia akhirat, Pak Lek berharap kamu sabar yah ngadepin sikapnya yang masih kekanak kanakan"


"insya Allah Pak Lek" ucapku


"terus kamu jadi tidur di hotel, enggak tidur disini aja Le?"

__ADS_1


"maaf Pak lek aku dan Wulan belum sah daripada menimbulkan fitnah dari tetangga mending aku nginep dihotel aja" pintaku


"Masya Allah, enggak salah kita Bu milihin calon buat Wulan" ucap Beliau


"iyo Pak e, semoga Wulan cepet sadar lelaki yang dia taksir itu pendusta dan enggak baik buatnya" timpal Buk Aminah


Setelah pamit aku kemudian keluar rumah ditemani supir dari Pak Jamal untuk mengantarkan ku menuju ke hotel karna diriku masih buta dengan jalan didaerah ini, sesampainya di hotel aku lalu merebahkan tubuhku sembari mencoba memejamkan kedua mataku.


Kedua mataku kembali terbuka menatap langit langit seraya memikirkan apa yang telah terjadi tadi siang, terutama kepada Wulan sosok wanita yang baru pertama kali aku kenal, meskipun dari segi penampilannya tertutup namun diriku masih ragu apakah dia mau menerima anak ku kelak?, bukan bermaksud sok memilih tapi anak ku pantas mendapat seorang Ibu yang benar benar bisa menjadi madrasah buatnya, menyayanginya seperti anaknya sendiri, mendidiknya agar kelak menjadi wanita sholeha.


Keesokan harinya setelah sholat subuh aku kemudian santai di balkon depan kamarku duduk menikmati sejuknya udara pagi sembari melihat lihat motor dan mobil yang lalu lalang didepan hotel dimana aku menginap, Banjarbaru walaupun cuaca di siang hari begitu panas namun ketika pagi sangatlah sejuk hingga aku begitu betah duduk berjam jam sambil murojaah alquran ku hingga tepat jam 9 pagi tiba tiba telpon berbunyi, aku kemudian menghentikan aktifitasku lalu berjalan mendekati telpon tersebut yang sepertinya dari receptionis.


"Hallo selamat pagi Pak" sapa receptionist


"pagi" sahutku


"maaf Pak mengganggu, ini ada orang yang sedang menunggu Bapak di lobby"


"siapa yah Mbak?" tanyaku lagi


"dari Mbak Wulan Pak"


"oh yasudah kalau begitu saya akan turun, terimakasih Mbak" sahutku seraya menutup telpon tersebut kemudian terdiam sejenak


"Wulan?, mau ngapain dateng kesini?" bathinku.


"kamu ngapain kesini?" tegur ku yang sudah berpakaian rapi


"ga usah pedean aku kesini disuruh Ayahku nganter kamu jalan jalan liat perkotaan, nih tangkep" ujarnya seraya melempar kunci mobil kearahku


Dengan wajah heran aku melihatnya.


"kenapa ngeliat aku segitunya?naksir?" ujarnya cetus


"bukan, tapi kita kan bukan mahrom?"


"sapa juga yang mau duduk satu bangku sama kamu, udah enggak usah banyak omong, cepetan keburu siang panas lagian mau belanja bulanan, sopir juga kebetulan cuti, berhubung ada kamu jadi bisa gantiin supir aku" ucapnya seraya pergi keluar hotel tanpa rasa berdosa


"sopir?, wah mulai semena mena ini orang. aku di bilang sopir katanya😑, sabar sabar deh ngedepin cewek kayak gini" bathinku seraya mengelus dada


"mau kemana kita Mbak?" sapaku


"kok manggil Mbak?, berasa udah tua akunya?"


"bukannya aku di bilang sopir"


"tapi enggak usah panggil Mbak juga kali"


"yaudah kita mau kemana?" ucapku


"ke Duta Mall"


"dimana itu?" tanyaku


"udah ikutin arahan dari aku aja enggak usah bawel deh" jawabnya


Akhirnya mobil meluncur kearah Banjarmasin dimana disana terdapat sebuah pusat perbelanjaan terbesar yang berada di tengah tengah kota, suasana di kota tersebut sangat lah ramai jauh dari perkiraan ku, meskipun ramai namun jalur menuju kekota cukup lenggang berbeda di kota kelahiran ku yang cukup padat dan selalu macet jam jam kerja.


Tepat di Kilometer 2,5 aku kemudian di tunjukkan olen Wulan kalau Mallnya berada di kanan jalan, akhirnya mobil lalu aku belokkan ke arah kanan kemudian mobil memasuki Mall tersebut yang cukup besar bagi ku.


Setelah memarkirkan mobil diriku dan Wulan keluar dan berjalan kearah pintu masuk Mall, meskipun kami berjalan berdua aku tetap menjaga jarak sekitar 2 meter dari Wulan agar tak terjadi sesuatu yang enggak di inginkan.


Langkah Wulan terhenti di pantai 2 lalu bersandar di pagar pembatas kemudian tangannya merogoh sesuatu di kantong jaketnya yang ternyata dirinya mengambil smartphonenya lalu CEKREK, CEKREK, CEKREK... ternyata dirinya sedang foto foto, hal yang paling tak ku sukai dari perempuan apalagi sudah berniqob tapi tetep aja pengen eksis di medsos, dirinya tak tau dari fungsi jilbab dan cadar itu sendiri.


Enggak berselang lama datang lah beberapa teman temannya yang berjumlah 4 orang ada yang berjilbab besar namun tanpa cadar ada juga yang bercadar, aku benar benar seperti sopir baginya hanya bisa menunggu ABG ABG yang sedang asik mengobrol dan bercanda, walaupun jarak ku dengan Wulan dan teman temannya 2 meteran namun aku tetap bisa mendengar pembicaraan mereka.


"sama siapa Ukh kesini?" ucap temannya


"tuh sama supir baru ana Ukh" jawab Wulan seraya menunjuk kearahku


Aku bener bener di buat malu, niat awal pergi mengajak ku untuk melihat kota Banjarmasin berujung bullyan yang aku dapat, aku hanya diam tanpa menunjukan ekspresi apapun ke Wulan ataupun teman temannya sembari melipat tangan ku kedada.


"yang bener Ukh ini sopirmu?, tapi kok masih muda yah?, ganteng lagi" celetuk teman Wulan

__ADS_1


"hush, dijaga mulut anti, hati hati loh bisa kefitnah" tegur Wulan


"eh emang bener kok ganteng, boleh dong ana di kenalin" pinta teman temannya ke Wulan


Akhirnya tanpa Wulan menjawab kemudian keempat temannya datang mendekatiku seraya memberi salam padaku "Assalamua'laikum"


"wa'alaikumsalam warrahmatullah" jawabku


"afwan apa bener antum ini supirnya Wulan?"


"bukan, ana cuman disuruh nemenin Wulan jalan jalan kesini" jawabku


"tuh kan Ukh, tega anti bilang dia supir, bilang aja kalau emang calon kenapa mesti malu, udah ganteng gini" ucap temannya yang enggak bercadar


"bukan yee, ana sudah punya calon kali" ucap Wulan


"kalau gitu Ikhwan ini buat ana aja gimana ukh, ana mau kok jadi Makmumnya" ucap temen Wulan tanpa malu


Aku hanya bisa menggelengkan kepala seraya membathin "ini Akhwat enggak tau yah etika ketika berhadapan dengan Ikhwan yang bukan mahromnya"


"afwan nama Antum siapa?" ucap teman Wulan


"Abe" jawab ku singkat


"kenalin ana Maya, ini Icha, ini Dinda dan ini Indah, kami temen se Genk nya Wulan" ucapnya memperkenalkan diri


Aku hanya membalas senyum kepada mereka kemudian memalingkan wajahku kearah orang orang yang sedang lalu lalang.


Wulan kemudian menarik tangan ke empat temannya untuk menjauhi ku seraya berkata "udah ngapain sih kalian harus ngomong ke dia, yang ada entar bisa gede kepalanya" ucap Wulan seraya memandang ku dengan tatapan sinis.


"lagian ngapain sih Ukh kalau memang dia calon anti bukannya di perlihatkan malah di bilang supir"


"udah entar aja ana jelasin, panjang soalnya kalau ana jelasin ke anti sekarang, yuk temenin ana belanja kematahari" pinta Wulan kemudian berjalan menjauhiku


Aku kemudian mengikuti mereka dari kejauhan, sebenernya diriku sudah mulai jenuh dan ingin rasanya pulang dari pada harus berada di tempat seperti ini, bukan karna aku enggak suka tempat keramaian tapi sebenernya aku paling benci yang namanya pasar apalagi tempat perbelanjaan sekelas Mall, karna banyak mudharat yang aku dapat yaitu mendengar musik dimana mana, melihat aurat sana sini, ingin rasanya kabur tapi enggak enak sama orang tuanya Wulan akhirnya dengan penuh keterpaksaan aku mengikutinya juga.


Hampit 2,5 jam aku menunggu dirinya berbelanja, 1 barang yang Wulan cari terkadang harus berkeliling hingga 5 kali, aku rasa Almarhumah Aisyah enggak gini banget dah semasa dia masih hidup.


Setelah selesai belanja akhirnya kami pulang, aku bersyukur karna aku sudah mulai jenuh berlama lama ditempat seperti itu membuat gendang telinga ku serasa meledak, walaupun aku memakai headset seraya mendengarkan kajian Sunnah tetap aja kalah dengan suara musik dan gaduh di Mall.


Sesampainya di mobil ternyata teman teman Wulan ikut nebeng dimobilnya karna mereka ke Mall hanya menggunakan Taxi, celakanya lagi 1 teman Wulan yang aku nilai agresif duduk di bangku depan menemaniku padahal di bangku belakang masih banyak tempat, apa boleh buat aku tetap menjaga pandangan ku walaupun sedari tadi dirinya terus memperhatikanku.


"Akhi orang sini juga yah atau bukan asli sini?" tanyanya


"ana bukan orang sini" jawabku


"pantes, dari wajahnya kaya bukan Asli sini, terus Akhi orang mana?"


"jawa tengah" jawabku


"owh orang jawa yah?, ngomong ngomng kok Antum bisa ketemu Wulan? . Naik mobil berdua lagi? jarang jarang loh Wulan ditemenin Ikhwan kalau sedang belanja, atau jangan jangan" seraya melihat ke arah Wulan


"jangan jangan apa ukh?, anti jangan soudzon gitu ah" sahut Wulan


"iya deh yang enggak mau menjawab, biarlah surat udangan pernikahan aja yang menjawabnya, iya enggak temen temen" ucap teman Wulan


"yoi" sahut ketiga teman Wulan diiringi suara tawa yang mengejek


Sedangkan diriku hanya fokus kejalan tanpa memperdulikan perkataan mereka, sesampainya didepan rumah Pak Jamal, Wulan dan ke empat temannya pun turun sedangkan diriku mengikuti mereka dari belakang.


"eh teman teman Wulan ikut juga yah ternyata" ucap Ibu Aminah yang menyambut kami didepan pintu


"iya buk, kebetulan kami sudah janjian ketemuan di Mall" sahut teman Wulan


"oh gitu yah, oh yah sekalian biar enggak lupa, minggu depan dateng yah karna Wulan bakal nikah" ucap Ibunya


"hah, Apa Buk?, ibu ngomong apa barusan" ucap Wulan sedikit terkejut


"iya kamu seminggu lagi akan nikah masa lupa sama yang ibu bilang kemaren?"


"jadi Ibu merestui Wulan sama Mas Andi(nama calon Wulan ketika taaruf sebelum kedatanganku)"


"lah ya bukan toh Nduk, sama itu" tunjuk Ibu Aminah ke arahku

__ADS_1


Aku yang sedari tadi santai duduk di sofa sembari memainkan smartphone ku kini menjadi tegang, ditambah tatapan mata dari teman teman Wulan yang terkejut ternyata calon suami Wulan adalah aku, terlebih lagi Wulan yang tak menyangka bahwa calon Imamnya ternyata diriku.


__ADS_2