
Dengan sangat terpaksa Aku dan Ayah bergegas kerumah Nurul untuk mengetahui jawabannya "bismillah, semoga jawaban terbaik yang hamba dapatkan" bathin ku
Saking penasaran dengan jawaban dari Nurul aku tak bisa fokus ke jalan raya dan hampir saja menambrak truk yang ada di hadapan ku.
"Astaghfirullah Be, kamu ini kenapa?, fokus to sama jalan, hampir ae nyium truck" protes Ayah
"Maaf Yah" ucapku
"Yaudah sini biar Ayah aja yang bawa, bahaya kalau diterusin" pinta Ayah yang turun dari motor dan menggantikan ku
Kami kembali melanjutkan perjalanan yang akhirnya sampai juga didepan rumah Nurul, namun sepertinya tak ada orang, pintu rumahnya pun tertutup.
Ku iringi langkah Ayah mendekati rumah Nurul, kemudian Ayah pun mengetok pintu.
"Assalamu'alaikum..."
Tak ada sahutan dari dalam rumah
"Assalamu'alaikum..."
Untuk yang kedua kalinya juga tetap sama
"Assalamu'alaikum..."
Tetap sama, memang sepertinya rumah ini lagi di tinggalkan penghuninya, aku pun duduk didepan rumah Nurul dengan menyilangkan kedua tangan ku sambil menunggu.
Pikiran ku mulai su'udzon kepada Nurul, apa mungkin dirinya menerima pinangan orang lain selain aku? Enggak mungkin hanya aku lelaki yang ingin berta'aruf dengannya, maklum anak lulusan pondok terkenal mustahil para Ikhwan tak mengincarnya.
Karna yang ditunggu tak kunjung jua muncul akhirnya Ayah mengajak ku untuk kembali pulang. Aku pun menurut lalu berjalan pelan dengan perasaan yang campur aduk.
Beberapa langkah kaki ini berjalan tiba tiba ada yang memanggil dari belakang "Mas...., Abe...." panggil suara yang tak asing, yah suara dari Pak Ibrahim.
Kami berdua pun menoleh kearah sumber suara yang ada di samping rumah, Pak Ibrahim pun dengan cangkul yang masih beliau panggul di pundaknya, aku merasa lega saat itu ternyata orang rumah sesang berkebun.
"Udah lama Mas nunggu nya?" tanya Pak Ibrahim
"Oh ndak ko, baru aja kami sampai. Tadi ngetok rumah enggak ada yang menyahut kami pikir sampean ada hajatan" jawab Ayah
" enggak Mas, ini lagi habis dari kebon, yaudah yuk masuk" pinta Beliau
Setelah aku masuk dan duduk diruang tamu, enggak lama suara salam dari pintu terdengar, pandangan ku pun ku arahkan ke asal suara tersebut yang ternyata Nurul dan Ibunya yang sedang membawa teko berisi air.
Dirinya hanya melihatku sesaat kemudian berlalu menuju ke dapur.
__ADS_1
"Maaf yo mas tadi hpnya mati soale lupa ngecharge" ujar Ayahku
"Pantes tadi aku ngomong tiba tiba keputus telfonnya"
Pak Ibrahim kemudian menatap ku, tatapan tanpa ekspresi, sebuah tatapan yang susah aku menebaknya apakah ini adalah kabar baik atau kabar buruk bagiku.
"Nak Abe udah siap denger jawabannya?"
"Enggeh Pak" sahutku
"Nduuuk..., sini Nak udah ditunggu tamunya"
"Iya Pak sebentar" jawab Nurul
Tak lama Nurul pun duduk disamping Ayahnya, pandanganya lalu di arahkan ke wajahku, aku tak bisa menebak ekspresi wajahnya karna tertutup cadar.
"Bismillah..." Nurul membuka obrolan
"Mohon maaf Akhi, kalau nunggu jawaban ana terlalu lama. Karna ana butuh petunjuk dari Allah azza wajalla untuk meyakin kan hati ini, karna ini adalah pernikahan pertamaku kalau memang berjodoh"
"Laa' batsa(tak mengapa) Ukh" jawabku
"Kalau memang apapun jawaban dari ana yang anta dengar ana mohon agar tak ada dendam di hati anta"
"Thoyyib, Alhamdulillah 'ala kulli hal, ana hargai anta jauh jauh datang kesini untuk bertaaruf dengan ana, dan hanya lelaki yang mempunyai keberanian saja yang datang kerumah wanita untuk melamarnya bukan memacarinya seperti kebanyakan lelaki zaman now"
Nurul kemudian terdiam dan menghela nafas panjang, sedangkan aku mematung karna ucapan barusan itu membuat ku berspekulasi bahwa Nurul ingin menolak ku dengan cara halus.
"Jawaban ana ada pada hadist at tirmidzi no 1085" seraya menyipitkan matanya menunjukan bahwa dirinya sedang tersenyum
"Apa bunyinya ukh?" tanyaku penasaran
"Cari aja di gugel"
Aku pun bergegas mencari isi dari hadist tersebut dan ternyata bunyinya “Apabila datang kepada kalian seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya (untuk meminang wanita kalian) maka hendaknya kalian menikahkannya dengan wanita kalian. Bila tidak, akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan.”
Aku pun kembali melihat Nurul dan berkata "jadi anti?"
"Na'am, Ana tak bisa menolak lamaran Anta, baarakallahu fiik"
Tanpa di komandoi akupun sujud syukur karna akhirnya doaku telah di kabulkan Allah, tak sia sia selama ini aku berdoa dan merengek untuk dipertemukan oleh wanita Sholeha.
"Alhamdulillah" Ayah dan Pak Ibrahim mengucapkan kata syukur
__ADS_1
"Nah kan sudah tau nih ternyata Nak Nurul menerima Abe, terus kapan khitbahnya" ujar Ayah
"Kalau bisa secepatnya Mas, pengen nih nimang cucu" jawab Pak Ibrahim
"Ih Ayah ini halal aja belum udah main cucu aja" ujar Nurul menyenderkan kepalanya di pundak Pak Ibrahim dengan manja
Setelah bermusyawarah akhirnya dua hari setelah masa nadzor aku pun mengkhitbah Nurul, pernikahan ku hanya di hadiri beberapa tetangga ku dan tetangga Nurul, pernikahan sederhana namun sangat berkesan dihatiku karna kelak Nurul akan jadi ratu bidadari di dunia di di syurga untuk ku insya Allah.
Malam harinya aku duduk di muka rumah sembari menikmati teh hangat bikinan Nurul ditemani buku kitab para Ulama, selang beberapa saat Nurul kemudian keluar sambil menggendong Annisa.
Dengan seksama ku lihat tingkah laku mereka bak seperti anak dan Ibu kandang, tak ada sama sekali rasa canggung di antara mereka, dicium, di ajak ngobrol Annisa tertawa senang dengan kehadiran Nurul sebagai madrasah barunya.
Tapi yang bikin nyesek itu Nurul yang nyata sudah sah menjadi istri ku malah duduknya jauh padahal di sebelah ku ada kursi kosong tapi dirinya memilih duduk di lantai teras.
"Istri ku kok duduknya jauh banget, sini dong duduk di samping suaminya" pinta ku
Dengan malu malu Nurul pun menuruti permintaan ku, memang bener kata Ustadz wanita yang seumur hidup tak pernah kenal lelaki kecuali mahromnya(Ayah) pasti akan terlihat dari sikapnya yang malu malu ketika dekat dengan suami yang baru di kenalnya.
"Mas boleh ndak aku jujur sama kamu?" dengan tatapan sedih yang terpancar dari wajahnya
"Apa itu?"
"Tapi mas jangan marah yah" pintanya
"Insya Allah" jawab ku meyakin kan Nurul
"Mas kan tau, lelaki yang dekat dengan ku hanya Ayah, selama di pondok aku endak pernah yang namanya suka atau mengagumi seorang ikhwan pun apalagi berpacaran"
"Lantas?"
"Setelah menikah dengan Mas Abe kok rasanya lain yah Mas, beda halnya ketika berdekatan dengan Ayah"
"Wajar sih kita juga baru kenal kan sayang, butuh proses untuk mendekatkan diri satu sama lain" mencoba memberi pengertian karna takutnya Nurul menyesal telah menikah dengan ku
"Bukan itu Mas" bantah Nurul dengan ekspresi yang tadi sedih berganti tersenyum
"Loh kalau bukan terus apa dong?"
"Ketika dekat dengan Ayah aku merasa Syurga itu tingal beberapa langkah didepan ku sedangkan ketika dekat dengan Mas Abe syurga itu ada didepan mata ku" kemudian tersenyum dan tersipu malu
__ADS_1