Wanita Kejam Istri CEO Lumpuh

Wanita Kejam Istri CEO Lumpuh
Penolakan Reyhan


__ADS_3

Vivian mengerjapkan mata beberapa kali ketika mendengar suara-suara dari dalam kamar mandi. Ia melihat jam di ponselnya, jam sepuluh malam. Vivian kemudian bangkit dari tempat tidur ingin melihat apa yang terjadi. Matanya tak sengaja melihat sehelai baju jas yang teronggok di lantai. Apa mungkin Reyhan sudah pulang. Sebelumnya baju itu tidak ada di sana.


Meskipun ragu tapi Vivian tetap melangkah menuju kamar mandi. Ia takut terjadi apa-apa pada Reyhan. Mengingat ia pernah melihat pria itu hampir jatuh saat akan mengambil sesuatu di lantai.


"Tuan, apa anda di dalam ?" Vivian memberanikan diri pura-pura bertanya. Padahal ia sangat yakin Reyhan ada di sana.


"Tuan, apa anda baik-baik saja ?" tanya Vivian sambil mengetuk pintu kamar mandi karena tak kunjung mendapatkan jawaban.


Beberapa saat kemudian pintu kamar mandi di buka dari dalam. Reyhan keluar dengan menggunakan kursi roda. Vivian kini menjadi canggung, tak tahu mau mengatakan apa. Reyhan sudah berganti pakaian dengan piyama tidur. Apa dia melakukan sendiri ? tapi bagai mana bisa ? tanya Vivian dalam hatinya.


"Tuan sudah pulang ? maaf saya tidak sadar." tanya Vivian untuk mengusir rasa canggung.


"Jangan panggil aku Tuan. Kita sudah menikah." Reyhan menggerakkan kursi rodanya menuju tempat tidur.


Jadi mau panggil apa ? batin Vivian.

__ADS_1


"Baik kalau begitu. Aku akan panggil mas saja." panggilan umum di sini seorang istri untuk suaminya. Vivian juga merubah kata saya jadi aku agar tidak terlalu kaku.


"Mas sudah makan ?" Vivian sekadar berbasa-basi dengan pertanyaan bodohnya. Tentu saja sudah makan karena ini sudah jam sepuluh malam.


"Sudah." jawab Reyhan singkat sebelum ia berusaha berdiri untuk naik ke atas ranjang.


Vivian yang masih berdiri di tempat semula, memperhatikan bagai mana Reyhan selama ini melakukan sesuatu. Vivian merasa iba melihat Reyhan yang kesusahan mengangkat tubuhnya. Ia kemudian segera menghampiri Reyhan dan memegang lengannya untuk membantu.


"Aku bisa sendiri. Tidak perlu mengasihani ku." Reyhan menarik lengannya yang di pegang Vivian begitu ia sudah duduk di tempat tidur.


Jujur saja meskipun tidak mencintai Reyhan, tapi Vivian merasa sedih dengan penolakan Reyhan. Karena saat ini Reyhan adalah suaminya. Bukan lagi majikannya.


Vivian kemudian berjalan ke sisi lain tempat tidur. Ia jadi ragu untuk kembali tidur di samping Reyhan. Akhirnya Vivian memilih keluar dari kamar. Sebaiknya malam ini ia tidur di kamar Niko saja.


Sementara Reyhan sendiri merasa bersalah karena telah bersikap seperti itu kepada Vivian. Padahal wanita yang baru tadi pagi ia nikahi hanya ingin menolongnya. Reyhan tidak suka di kasihani karena membuatnya merasa seperti orang yang lemah dan tidak berguna.

__ADS_1


"Mau ke mana ?" Reyhan menunjukkan sikap bossy nya seperti biasa.


Vivian menghentikan tangannya yang baru saja ingin memulas gagang pintu. Ia menjadi sedikit gamang mendengar nada bicara Reyhan.


"A aku mau ke kamar Niko." jawab Vivian gugup.


"Setelah itu kembali ke sini. Jangan tidur di kamar Niko." Reyhan seperti dapat membaca pikiran Vivian, yang berniat untuk tidur di kamar Niko.


"Nanti apa kata mommy kalau melihat mu tidur di kamar Niko. Biasanya mommy akan datang ke kamar Niko saat ia terjaga tengah malam." Reyhan memberikan alasan yang masuk akal agar Vivian tetap tidur di kamarnya malam ini.


Reyhan tau Vivian pasti merasa kecewa dan tersinggung saat dia menolak bantuan Vivian tadi.


Vivian berbaring di samping Niko. Menatap wajah malaikat kecil yang telah membuatnya merasa bahagia. Sejenak ia melupakan sakit hatinya pada Reyhan. Akhirnya Vivian bisa memiliki anak meskinya bukan terlahir dari rahimnya. Tidak apa-apa jika dia hanya sebagai ibu sambung, bukan ibu kandung.


"Terima kasih sudah jadi anak mommy." Vivian mengecup kening Niko dengan sayang.

__ADS_1


__ADS_2