Wanita Kejam Istri CEO Lumpuh

Wanita Kejam Istri CEO Lumpuh
Bersabarlah Sebentar


__ADS_3

Vivian tersadar dari lelapnya. Entah sudah berapa lama ia terlelap di kamar Niko. Vivian segera bangun karena teringat dengan kata-kata Reyhan. Ia juga tidak mau jika sampai Nyonya Lisa melihatnya tidur di kamar Niko. Vivian kemudian balik ke kamar Reyhan.


Di kamar Reyhan sudah gelap. Hanya cahaya temaram dari lampu tidur yang menerangi ruangan itu. Vivian dapat melihat siluet tubuh Reyhan yang berbaring di tempat tidur. Mungkin pria itu sudah tidur. Vivian berjalan mendekat ke tempat tidur dan mengambil sebuah bantal. Vivian memutuskan untuk tidur di sofa saja. Setelah melihat sikap Reyhan padanya tadi, Vivian cukup tau diri untuk menjaga jarak dengan suaminya.


*


Hari masih gelap, Vivian telah bagun dari tidurnya dan membersihkan diri. Tidur di sofa membuat tidur Vivian tidak begitu nyenyak. Vivian kemudian keluar dari kamar dan pergi ke kamar Niko. Masih pukul lima pagi, tentu saja Niko masih tidur. Karena tidak ada pekerjaan lain jadi Vivian memutuskan untuk pergi ke dapur membantu membuat sarapan.


"Loh, Vivian. Kamu sudah bangun ?" Nyonya Lisa tersenyum melihat menantunya pagi-pagi sudah bangun.


"Sudah." Vivian menoleh sebentar ke arah ibu mertuanya.


"Bagai mana tadi malam, apa tidur mu nyenyak ?" tanya Nyonya Lisa lagi.


Vivian hanya tersenyum menunduk untuk menyembunyikan rona di wajahnya. Ia tahu apa maksud dari pertanyaan itu.

__ADS_1


Setelah selesai membuat sarapan, Vivian kembali ke kamarnya. Ia melihat Reyhan sepertinya baru bangun tidur. Pria itu meregangkan otot-ototnya. Vivian masih mematung di depan pintu. Vivian teringat dengan kata-kata Nyonya Lisa saat di dapur tadi.


"Sebenarnya Reyhan adalah seorang yang lembut dan penyayang. Jika terkadang dia bersikap dingin dan kasar itu karena mungkin dia belum terbiasa. Mommy harap kau bisa bersabar sebentar."


Vivian menarik napas, memberanikan diri untuk menyapa Reyhan.


"Mas sudah bangun ?" Vivian menarik sudut bibirnya untuk tersenyum.


"Hem." jawab Reyhan singkat.


Saat Vivian kembali Reyhan sedang berusaha untuk memindahkan tubuhnya dari tempat tidur ke kursi roda. Vivian kemudian mendekat untuk menawarkan bantuan. Meskipun dalam hatinya sedikit takut. Takut jika Reyhan kembali menolak bantuannya dengan kasar.


"Bolehkah aku membantu mu ?" Vivian bertanya terlebih dahulu agar tidak membuat Reyhan marah.


Vivian tersenyum saat melihat Reyhan mengangguk. Ia pun segera memegang lengan Reyhan untuk mengangkat tubuh pria itu dan memindahkannya ke kursi roda. Vivian kemudian mendorong kursi roda Reyhan dan mengantarkannya ke kamar mandi. Setelah itu Vivian menyiapkan pakaian untuk Reyhan.

__ADS_1


Vivian lalu pergi ke kamar Niko untuk melihat anak asuhnya yang kini sudah menjadi anak sambungnya. Seperti biasanya, Vivian mengurus Niko, memandikan, memakaikan pakaian dan menyiapkan kebutuhan sekolah Niko. Setelah selesai dengan Niko, Vivian kembali ke kamar.


Apa dia belum selesai mandi ? batin Vivian saat melihat pakaian Reyhan yang tadi dia sediakan masih berada di tempatnya. Vivian melihat jam di dinding kamar. Sudah lebih dari setengah jam Reyhan ada di dalam kamar mandi. Hari juga sudah semakin siang.


"Mas, apa mas baik-baik saja ?" Vivian memilih bertanya karena takut terjadi sesuatu kepada Reyhan di dalam sana.


"Ya." sahut Reyhan dari dalam kamar mandi.


"Bisakah kau membantu ku ?" lanjut pria itu lagi.


"Bisa. Bantu apa mas ?" Vivian balik bertanya.


"Masuklah ke dalam. Pintu kamar mandi tidak di kunci." perintah Reyhan yang membuat Vivian terkejut.


"Hah !"

__ADS_1


__ADS_2