
Entah bagaimana caranya Vivian berhasil meretas data ponsel milik Tomy dengan chip itu. Yang jelas apa yang di perintahkan oleh Beni sudah Vivian lakukan.
Sekarang Vivian sudah tiba di rumah dengan di antar oleh Beni. Vivian tidak menginap di apartemennya karena tidak tega meninggalkan putra sambungnya yang sangat ia sayangi. Sejak akhir-akhir ini Vivian begitu sibuk dengan pekerjaannya mencari bukti kejahatan Tomy sehingga ia tidak punya banyak waktu untuk Niko.
"Mommy." sapa Vivian ketika melihat Nyonya Lisa masih duduk di ruang keluarga sendirian. Padahal sekarang sudah pukul sepuluh malam.
"Vivian, mommy ingin bicara sebentar."
Vivian mendudukkan tubuhnya berhadapan dengan Nyonya Lisa. Perasaannya tiba-tiba jadi tidak enak karena mendengar nada bicara Nyonya Lisa tidak seperti biasa.
"Ada apa, mom ?"
"Mommy melihat kau dengan seseorang tadi di hotel."
Deg
__ADS_1
Seketika air wajah Vivian berubah mendengar apa yang Nyonya Lisa katakan. Vivian tidak menyangka akan sampai seperti ini. Bagai mana ia akan menjelaskan semuanya.
"Ta tadi aku bersama teman." kata Vivian gelagapan.
"Jika hanya teman tidak mungkin sampai berpegangan tangan." tambah Nyonya Lisa mengatakan apa yang ia lihat tadi.
Vivian tidak bisa mengatakan apa-apa lagi untuk membela diri. Siapapun tidak akan percaya jika hanya berteman tapi bergandengan tangan dengan mesra.
"Mommy kecewa sama kamu, Vivian. Kau sama saja seperti Serena." kata Nyonya Lisa mengungkapkan perasaannya saat ini.
"Maafkan aku mommy." Vivian berhamburan memeluk kaki Nyonya Lisa sambil menangis. Selama ini Nyonya Lisa sangat baik kepadanya tidak mungkin ia akan mengecewakan wanita yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri. Tapi Vivian juga tidak bisa mengatakan yang sebenarnya.
"Ini tidak seperti yang mommy pikirkan. Aku bersumpah aku tidak pernah mengkhianati mas Reyhan, mom." kata Vivian masih dalam isak tangisnya.
"Mulai malam ini mommy ingin kau keluar dari rumah ini." dengan berat hati Nyonya Lisa mengusir Vivian.
__ADS_1
"Mommy." Vivian semakin erat memeluk kaki Nyonya Lisa.
"Kau tidak perlu mencemaskan Niko. Tentang pernikahan mu biarlah Reyhan yang membuat keputusan setelah dia kembali." Nyonya Lisa kemudian pergi meninggalkan Vivian yang masih menangis di lantai dengan keadaan yang menyedihkan.
Vivian tidak bisa berbuat apa-apa. Dia sadar dia bukan siapa-siapa di rumah ini. Atas kebaikan Nyonya Lisa lah dia bisa menikah dengan Reyhan dan menjadi ibunya Niko. Tapi sekarang Nyonya Lisa sudah membuat keputusan. Tidak ada alasan lagi untuk dia tinggal di sini. Meskipun sangat berat untuk meninggalkan Niko.
Waktu sekarang sudah hampir tengah malam. Vivian menenteng tasnya yang sudah lusuh keluar dari gerbang rumah mewah yang sudah satu tahun menjadi tempat tinggalnya. Vivian hanya membawa barang-barang pribadinya sebelum menjadi istri Reyhan. Sementara pakaian, tas, sepatu dan aksesoris yang ia dapatkan setelah menikah semuanya ia tinggalkan.
Vivian memutuskan untuk tinggal di apartemen sementara waktu sampai misinya selesai. Atau sampai Reyhan membuat keputusan. Ia sangat yakin jika Reyhan akan menceraikannya setelah suaminya itu kembali.
"Mengapa jadi seperti ini." Vivian menutup wajah dengan kedua tangannya.
Semua ini terjadi di luar rencananya. Ia tidak pernah terpikirkan jika Nyonya Lisa akan melihatnya dengan Tomy. Sekarang hanya Beni seorang yang menjadi harapannya. Setelah semuanya selesai Vivian akan meminta Beni untuk menceritakan tentang rencana yang mereka lakukan.
Semoga saja Nyonya Lisa dan Reyhan akan percaya. Setelah itu Vivian akan menerima apapun keputusan Reyhan.
__ADS_1