
Serena menangis sendirian setelah bertengkar dengan Tomy. Sedangkan pria itu sudah pergi entah ke mana. Ia mengusap wajahnya yang sudah di banjiri oleh air mata. Dengan sekuat tenaga Serena membangunkan tubuhnya yang terasa remuk. Kemudian ia melangkah menuju ke kamar mandi yang ada di kamarnya.
Serena melihat tampilannya di depan cermin yang begitu menyedihkan. Sudut bibirnya berdarah akibat tamparan keras yang di layangkan oleh Tomy. Rambutnya berantakan karena di tarik dan perutnya terasa sakit setelah pria itu menendangnya dengan keras.
Selama hampir tiga tahun menikah, Tomy tidak pernah berbuat kasar seperti ini. Pria itu selalu memperlakukan dia dengan baik dan penuh kasih sayang. Tapi kini, Serena seperti tidak mengenali siapa Tomy sekarang.
*
Saat ini Vivian berjalan menuju dapur untuk menyiapkan makan malam. Ia tidak sengaja melihat Beni yang baru saja keluar dari ruang kerja Reyhan. Vivian pun segera memanggil asisten suaminya itu.
"Beni."
Pria itu langsung menghentikan langkahnya dan menunduk hormat kepada Vivian.
"Beni bisakah kita bicara sebentar ?"
"Ada apa, nyonya ?"
"Jangan panggil aku Nyonya. Kau membuat ku merasa tua."
__ADS_1
Beni tidak menanggapi perkataan Vivian. Tidak tahukah wanita ini jika ia memanggil Nyonya itu adalah perintah dari sang Tuan. Vivian kemudian mengajak Beni ke taman belakang karena ada sesuatu yang ingin di tanyakan kepada pria itu.
"Maaf, nyonya. Saya tidak berani menjawab. Sebaiknya anda tanyakan langsung kepada Tuan Reyhan."
Vivian menghela napas mendengar perkataan Beni. Ia sudah bisa menebak jika asisten suaminya itu tidak akan mengatakan apapun. Sepertinya dia harus mencari tahu sendiri karena Reyhan pun tidak mau mengatakan apapun padanya.
*
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Vivian sudah tiba di perusahaan The Star. Begitupun dengan Rena. Sebelum masuk kantor, Vivian mengajak Rena untuk bicara di taman perusahaan itu.
"Ren, kemarin kau cerita jika pak Tomy itu merebut istri orang. Memangnya kau kenal sama istrinya ?" tanya Vivian tiba-tiba.
"Memangnya kenapa ? sepertinya kau tertarik dengan kehidupan pribadi CEO kita. Udah mulai naksir ya ?" Rena menaik turunkan alisnya menggoda Vivian.
"Bukan begitu. Aku hanya penasaran saja. Pak Tomy itu tampan, kaya, pasti bisa mendapatkan gadis manapun. Kenapa juga harus merebut istri orang." kata Vivian.
"Entahlah." Rena hanya mengedikkan bahunya.
"Menurut cerita yang aku dengar nih, istri pak Tomy itu meninggalkan suaminya yang lumpuh dan anaknya yang masih bayi. Kemudian menikah dengan pak Tomy." lanjut Rena lagi.
__ADS_1
Seketika Vivian tercengang mendengar apa yang baru di ceritakan oleh Rena. Entah mengapa ingatannya langsung tertuju kepada Reyhan dan Niko.
"Siapa nama istri pak Tomy ?" tanya Vivian ingin memastikan.
"Nama Serena."
"Serena." sepertinya nama itu tidak asing di telinga Vivian.
Vivian kemudian mengingat-ingat beberapa kali ia mendengar pelayan di rumah Nyonya Lisa pernah menyebut nama itu. Vivian benar-benar terkejut dan menatap tidak percaya pada Rena setelah ingat jika Serena adalah ibu kandung Niko. Mantan istri Reyhan.
"Biasa aja ekspresinya." Rena terkekeh melihat wajah terkejut Vivian.
"Memangnya kau kenal dengan wanita yang bernama Serena itu ?" tanya Rena lagi dan Vivian menggeleng dengan cepat.
Tidak mungkin Vivian menceritakan tentang Serena yang meninggalkan Reyhan dan Niko. Lagi pula Rena tidak tahu jika sekarang dia sudah menikah dengan mantan suami Serena yang lumpuh itu.
"Sudah hampir jam delapan. Ayo masuk." Vivian mengajak Rena untuk masuk ke dalam perusahaan dan mengakhiri pembicaraan mereka tentang istri pemilik perusahaan tempat mereka magang sekarang.
Kini Vivian sudah tahu mengapa Reyhan begitu marah saat mengetahui jika ia magang di perusahaan The Star ini dan benar seperti dugaannya jika Reyhan ada hubungannya dengan perusahaan ini. Dengan pemiliknya.
__ADS_1