Wanita Kejam Istri CEO Lumpuh

Wanita Kejam Istri CEO Lumpuh
Ch.30


__ADS_3

Hampir setiap hari Tomy dan Vivian terlihat pergi makan siang bersama. Keduanya pun jadi semakin dekat. Hal itu tidak luput dari pandangan karyawan The Star lainnya. Mulai terdengar isu-isu perselingkuhan sang CEO dan anak magang.


"Vivian, tunggu!" panggil Rena ketika melihat Vivian yang berjalan masuk ke perusahaan.


Vivian pun menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Rena. "Hai, Ren."


Rena terburu-buru menghampiri Vivian dan menarik tangan temannya itu untuk duduk di kursi yang ada di taman perusahaan.


"Ada apa ?" tanya Vivian yang melihat Rena memicingkan mata ke arahnya.


"Aku mau tanya apa benar tentang gosip yang di bicarakan itu ?" Rena bertanya dengan nada serius.


"Gosip apa ?" Vivian mengkerutkan keningnya karena tidak tahu apa yang sedang di tanyakan oleh temannya itu.


"Astaga, Vi." Rena memutar matanya jengah. Vivian memang selalu tidak peka dengan sekelilingnya.


"Jangan bilang kalau kau tidak tahu orang-orang sedang membicarakan hubungan mu dengan pak Tomy." lanjut Rena lagi.


Vivian tampak tidak terlalu terkejut. Memang selama dua minggu ini ia menjadi lebih dekat dengan Tomy. Tapi ia sungguh tidak tahu jika mereka akan di gosipkan begini.

__ADS_1


"Apa benar kau dan pak Tomy memiliki hubungan ?" tanya Rena menyelidiki.


"Hah, itu tidak benar." Vivian segera menyangkal memiliki hubungan dengan atasan tempat mereka magang.


"Ya, selama dua minggu ini Pak Tomy sering mengajak ku untuk makan siang bersama karena ada beberapa hal yang ingin di terangkannya. Jadi aku tidak bisa menolak karena ini tentang pekerjaan." terang Vivian panjang lebar.


Rena menghela napas lega setelah mendengar keterangan langsung dari Vivian. Setidaknya temannya itu masih waras dan tidak menjalin hubungan terlarang bersama suami orang. Rena tidak ingin Vivian di cap sebagai pelakor.


"Baguslah jika begitu. Ingat ya jangan sampai tergoda kepada pak Tomy. Dia itu sudah punya istri." Rena memperingatkan temannya.


"Meskipun sulit mengingat pak Tomy itu tampan." lanjut Rena lagi dan keduanya terkekeh. Sejak awal Rena lah yang begitu mengagumi ketampanan CEO tempat mereka magang. Sedangkan bagi Vivian, suaminya jauh lebih tampan meskipun lumpuh.


Vivian menghela napas melihat ponselnya. Sudah dua minggu sejak Reyhan pergi ke luar negeri. Setiap hari Vivian mengirimkan pesan, namun Reyhan tidak pernah membalasnya. Begitu juga dengan panggilan telepon, tidak juga di jawab. Vivian hanya mendengar kabar dengan bertanya kepada Beni. Asisten suaminya itu selalu mengatakan jika Tuannya baik-baik saja dan sedang banyak kerjaan.


Lamunan Vivian seketika buyar saat suara Niko memanggilnya.


"Mommy, mommy." Niko berkali-kali memanggil Vivian sambil menggoyangkan lengan mommynya.


"Eh, iya sayang. Maaf, mommy melamun tadi. Ada apa ?"

__ADS_1


"Ini mommy, Niko sudah siap belajarnya." Niko menunjukkan buku pelajarannya kepada Vivian.


"Sekarang ayo tidur." Vivian membantu Niko membereskan meja belajar dan setelah itu membawa putra sambungnya itu ke tempat tidur.


Vivian kemudian mengambil buku dongeng untuk di bacakan sebagai pengantar tidur Niko seperti biasa.


"Mommy, kapan daddy pulang ?" pertanyaan Niko membuat Vivian mengurungkan untuk membuka buku dongeng di tangannya.


"Mommy tidak tahu, sayang. Mungkin setelah pekerjaan daddy selesai baru daddy bisa pulang." jawab Vivian sebagai mana yang biasa di katakan oleh Beni setiap kali ia bertanya kapan Reyhan akan pulang.


Wajah Niko tampak sedih mendengar jawaban Vivian. Mungkin Niko sangat merindukan daddy-nya seperti dia yang juga merindukan Reyhan.


"Bagai mana jika kita menelpon daddy sekarang ?" Vivian mencoba untuk menghibur Niko agar tidak sedih lagi.


"Benarkah ?" bocah itu tampak antusias mendengarkan perkataan mommynya.


Vivian lalu mengambil ponselnya untuk mengirimkan pesan kepada Reyhan terlebih dahulu.


"Mas, Niko merindukan mu. Bisakah kau mengangkat panggilan ku kali ini."

__ADS_1


__ADS_2